
Hari ini adalah hari sidang perceraian Gilsha dan Reza, tanpa orang tua dari Reza yang masih mengalami keterlambatan penerbangan menuju Indonesia.
Gilsha terduduk di kursi yang ada didepan hakim sebagai penentu perceraian mereka, menanti palu diketuk sembari mengelus perutnya, ditemani oleh Sela sementara di ujung sana ada Reza.
"Berdasarkan hasil keputusan majelis dan pengugat, dengan ini saudara Reza Arham Dirgantara dan saudari Gilsha Anindya Dwiantara, resmi bercerai!"
Tok!
Palu diketuk yang membuat sekujur badan Gilsha melemas, sekarang sudah benar-benar tidak ada harapan lain bagi Gilsha untuk mempertahankan pernikahannya.
Gilsha berdiri dari duduknya, semua sudah berakhir, tidak ada lagi yang bisa mereka pertahankan.
"Sabar yah Sha, gue percaya lo bisa dapat laki-laki yang lebih baik dari Reza," bisik Sela saat mereka berjalan keluar dari rumah.
"Aku bahkan udah gak punya air mata lagi, buat nangis La, aku udah kecewa bahkan saking kecewanya aku gabisa ngungkapin bagaimana perasaan kecewa itu," jelas Gilsha menatap nanar ke depan.
Mereka berdua kini sudah berada di halaman pengadilan agama itu sebelum Reza datang menghampiri mereka, tanpa mediasi, tanpa apapun mereka langsung resmi bercerai karena memang mereka yang menginginkan hal ini.
__ADS_1
"Mas akan memberikan harta gono-gini untuk kamu, jadi kamu tenang aja, kamu masih mempunya biaya hidup kedepannya," jelas Reza yang kini berada di hadapan mereka.
Gilsha ingin tertawa rasanya, semudah itu Reza menggadaikan sebuah perasaan dengan harta yang bagi Gilsha tidaklah penting.
"Aku tidak pernah menyesali apapun yang terjadi pada pernikahan kita, bahkan saat aku yakin pernikahan kita hanya retak bukan hancur, aku juga tidak pernah takut hidup tanpa kamu, tapi yang aku sesali adalah kenapa nasib anak dalam kandungan aku memiliki seorang ayah yang tidak ingin mengakui keberadaannya," jelas Gilsha. "Kamu simpan saja harta kamu Mas, kamu sudah melepas nasab anak ini dengan menuduhnya hasil Zina, jadi kamu sudah tidak ada hak untuk membiayainya kan?"
"Sekarang kamu bebas, tapi satu pesan aku, suatu saat kamu akan merasakan apa itu kesepian dan saat kamu sadar, kesepian itu ada bukan karena kita sendirian tapi karena kita sudah tidak lagi di inginkan, aku pamit, Mas."
Gilsha berjalan pergi bersama Sela meninggalkan Reza yang berdiri dihadapan mereka, menurut Reza kalau Gilsha tidak mau ya sudah.
Lagipula Reza tidak akan pernah mengakui anak itu, karena memang Reza merasa kalau itu bukan anaknya, walaupun Reza tidak menapik bahwa ia pernah melakukan itu dengan Gilsha.
•
Gilsha sangat butuh ibunya untuk memeluknya, memberinya kekuatan namun semua itu telah tiada, rasanya Gilsha sudah kehilangan tujuan hidupnya.
Tujuan hidupnya adalah agar ibunya sembuh, tapi ibunya malah meninggalkannya pergi begitu saja, sekarang Gilsha harus menanggung anak dalam kandungannya yang bahkan tidak di akui ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Gilsha pamit yah Ma, Gilsha bakal pergi dari kota ini, mungkin untuk waktu yang lama, Gilsha tidak bisa berada di tempat dimana Gilsha menaruh luka yang cukup dalam," bisik Gilsha memegang nisan sang ibu. "Gilsha akan terus mendoakan Mama, kalau ada waktu Gilsha akan ke pusara, Gilsha pamit."
Gilsha berdiri, dia sudah menentang tas dan membawa kopernya, sebelum pergi dia memang sengaja mengunjungi makam ibunya yang baru beberapa hari itu.
Gilsha tidak tahu apakah di kota baru ini, Gilsha bisa menemukan jati diri barunya atau memang dia harus berakhir dalam keterpurukan.
"Selamat tinggal, jangan menunggu aku kembali, aku tidak tahu kapan aku benar-benar kembali," Gilsha pergi pagi -pagi sekali.
Bahkan Sela, Reno dan Aris yang merupakan kawan dekatnya tidak tahu kemana dia pergi, melupakan semuanya dan menjalani hidup baru.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum.
Sedih banget jadi Gilsha