
Tik! Tik! Tik!
Suara hujan di luar sana cukup dingin malam ini, hanya beberapa orang yang terjaga malam ini, dan itu termasuk, Reza yang sedang duduk di atas sajadah di tengah ruangan.
Semenjak di bawa ke rumah sakit, kondisi Gilsha belum sadar karena memang kondisinya yang sedikit lemah, sedangkan Reza, seharusnya dia kembali ke ruangan ICU tapi dia tidak ingin.
Kini Reza sedang duduk bersilah, dia bangun jam dua pagi dan memilih melakukan sholat tahajjud, untung saja Reno pulang ke rumah untuk membawakannya sajadah.
"Ya Allah, jika memang kami masih di takdirkan bersama, jangan jadikan banyak penghalang sebagai penghambat, aku tahu, tidak ada ujian yang melebihi titik kemampuan manusia, tapi permudahlah langkah kami, jika memang ada nama ku dan nama Gilsha dia dalam lauhul mahfudz masing-masing," ujar Reza dalam doanya.
Tidak bisa dipungkiri, jodoh itu lauhul mahfudz penentunya dan kematian yang menjadi saingannya, Reza kembali melanjutkan doanya.
Ketahuilah Doa yang dilakukan pada saat orang lain tengah terlelap, ialah Doa yang sedang berjuang di langit dan berharap akan menjadi pemenangnya.
Ibarat Koneksi WiFi, jika banyak orang yang memakai, maka koneksinya akan melemah, tapi ini bukan tentang Koneksi WiFi.
Ini tentang doa yang dilambungkan ke langit, di saat tidak banyak doa lain yang menjadi saingannya, dan berharap doa kitalah yang menjadi pemenang untuk dikabulkan oleh Allah.
__ADS_1
"Ehm!"
Gilsha membuka matanya perlahan, dia tampak familiar dengan ruangan rawat yang khas dengan bau obat-obatan ini.
"M-Mas?"
Orang yang pertama yang ingin di cari Gilsha tentunya adalah Reza, Reza membalikkan badannya dan langsung berdiri kemudian berjalan ke arah Gilsha.
"Kamu sudah sadar, sayang?" tanya Reza meraih tangan Gilsha dan mengenggamnya erat. "Kamu, kamu gapapa kan? Maafin Mas yah, Maafin udah bikin kamu jadi gini."
Gilsha membuka pelan matanya yang masih setengah terbuka, ia mengangkat tangannya dan mengusap pelan wajah Reza. "Mas Reza, gapapa?"
"A-Aku gapapa kok, tapi kondisi kesehatan Mas Reza juga gak baik, Mas gak harus ngelakuin ini," ujar Gilsha, Reza tidak mendengarkan itu lagi dia mengecup tangan Gilsha berkali-kali. "Ini kenapa?"
Gilsha melirik bekas Bogeman Glen yang ada di wajah Reza, Reza memegang bekas itu dan merasa ngilu. "Gak usah mikirin ini, yang penting sekarang kondisi kesehatan kamu, sayang."
Gilsha hendak bangun dari tidurnya namun Reza menahan, walaupun ditahan Gilsha tetap bangun dan mengambil posisi duduk.
__ADS_1
"Mas, Gapapa kan? Ini luka-luka loh," Kini kedua tangan Gilsha mendekap wajah Reza, Perlahan air mata Reza jatuh, dia berlinang, rasanya dia sangat khawatir pada Reza.
Gilsha meraih Reza dan memeluknya, dia menidurkan kepala pria itu di kakinya serta mengusap pelan kepalanya. "Mas jangan nangis, aku gapapa kok."
"Mas gak tahu sayang, Mas nangis karena Mas bahagia kamu gak kenapa-napa, demi kamu Mas rela menukar nyawa Mas," Reza mengeluarkan semua keluh kesahnya. "Jangan tinggalin, Mas lagi yah."
"Mana mungkin aku ninggalin suamiku sendiri, aku cinta sama Mas Reza, bukan karena Mas siapa, tapi karena aku siapa saat aku ada di dekat Mas Reza," jawab Gilsha sembari terus mengusap rambut lebat Reza.
"Jangan tinggalin, Mas, sayang."
"Gak akan, Mas."
•
•
•
__ADS_1
Siapa yang naruh bawang~