
Gilsha langsung berlari ke mobil Reno dan Sela setelah meminta kepada Adnan untuk mengambilkannya izin untuk pergi ke rumah sakit tempat Reza di rawat.
Beruntungnya Reno dengan senang hati membantu Gilsha yang membuat Gilsha tidak bersusah-payah untuk mendapatkan izin tuk pergi.
"Udah pada siap semua kan, kita lewat jalan alternatif aja yah, kalau lewat tol gue takutnya malah macet," ujar Reno menyalakan mesin mobilnya yang membuat Gilsha dan Sela mengangguk setuju.
Mereka bertiga dilanda panik akan kondisi Reza yang mungkin saja tidak sedang baik-baik saja.
"Emang Mas Reza, sakit apa kemarin?" tanya Gilsha yang membuat Sela menghela napas panjang.
"Dia cuma deman plus kayak orang ngidam gitu, dia manggil nama lo, pas, gue Reno sama Aris samperin dia, kami nemuin dia di kamar mandi lagi pingsan, gue curiganya sih dia lagi Couvade Syndrome, makanya gue kaget pas tahu dia dibawa ke rumah sakit, gue kira cuma deman biasa," jelas Sela yang membuat Reno menajamkan insting pendengarannya.
"Tunggu, Couvade? Jadi bener kalau Gilsha hamil dan lo dah tahu La?" ujar Reno yang membuat Sela menutup mulutnya. "Kok lo gak cerita sama gue dan Aris."
"Udah, Udah Ren, gue emang minta ke Sela buat gak cerita, Mas Reza juga udah tahu kok kalau aku hamil setelah kami cerai," jawab Gilsha menengahi kedua sahabatnya.
Mendengar itu, Reno hanya bisa menganggukkan kepalanya, ternyata didalam persahabatan itu masih banyak rahasia satu sama lain yang belum mereka ketahui masing-masing.
Cukup lama mereka diperjalanan, seharusnya jika mereka lewat tol perjalanan bisa butuh waktu dua sampai tiga jam, tapi karena Reno memilih jalan pintas, mereka hanya memakan waktu satu setengah jam, sesampainya di kota mereka, Reno langsung mengarahkan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat mereka kerja sekaligus tempat Reza dirawat.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Reno langsung memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, mereka bertiga kemudian langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah sakit.
[Halo, Ris? Gue, Gilsha dan Sela udah di rumah sakit ini, Lo sama Reza dimana?]
Aris berhenti sejenak saat mereka ada dikoridor menelepon Aris untuk mengetahui titik lokasi mereka ada dimana.
[Reza masuk ICU, Lo ke ruangan ICU yang ada di depan ruangan Flamboyan, di ruangan ICU kamar pertama dari kiri]
[Oke, gue kesana!]
Setelah mendapat titik kordinasi dimana letak keberadaan Reza, Reno dan yang lainnya langsung berjalan ke sana untuk mencari keberadaan Reza dan Aris, sesampainya mereka di ruangan ICU Itu mereka tidak diperbolehkan masuk, sedangkan Aris berada di luar menunggu.
"Ren, Sha, La, untungnya lo pada cepet datang, Reza lagi di tangani di ICU soalnya ini dampak donor ginjalnya dulu," jawab Aris yang membuat ketiganya mendelik.
"Maksudnya?" tanya Gilsha yang membuat Aris mengajak ketiga sahabatnya untuk mengobrol di kursi yang ada di koridor.
"Jadi gini Sha, Reza tuh kena Penolakan Akut, ini sejenis Komplikasi jangka pendek sih, ini tuh jaringan tubuh Reza nyerang si ginjal donor karena dianggap benda asing, makanya semalam deman itu gejala awal, tadi pagi dia malah kejang makanya gue bawa kesini, dan dia di observasi di UGD langsung dipindahin ke ICU."
Mendengar penjelasan dari Aris menbuat hati kecil Gilsha terluka, dia tidak bisa membayangkan bahwa rentetan garis pendonoran ini juga berdampak ke kesehatan Reza, Gilsha kira hanya diri yang harus merasakan resiko komplikasi pada kehamilan karena hidup dengan satu ginjal ternyata Reza juga memiliki resiko yang sama.
__ADS_1
"Sha, sebelum tidak sadarkan diri, di UGD, Reza sempet nulis surat kalau sewaktu-waktu lo, bakal datang kesini," Aris mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya dan memberikannya kepada Gilsha.
Gilsha menerima kertas itu dan berdiri, berjalan agak jauh dari sahabat-sahabatnya untuk membacanya lebih dalam.
Gilsha membuka lipatan kertas itu dan membacanya, ini jelas tulisan tangan Reza yang sedikit rusak karena mungkin Reza menulisnya dengan gemetar karena sakit.
[Hai Gilsha, maaf sudah menghancurkan hidupmu lebih dari yang kau pikirkan, aku tidak pernah ada keinginan untuk itu, aku rasa aku tidak punya waktu banyak lagi untuk sekedar menatap wajahmu, simpan surat ini jika suatu saat aku akan benar-benar pergi, aku mencintaimu, dari dulu dan sampai sekarang masih sama, sebuah alasan membuatku harus bersikap kasar, tapi kau tahu? Aku tidak bisa mandi dipagi hari tanpa melihat wajahmu, tidur tanpa memastikan kamu sudah tidur dan pulang ke rumah tanpa memastikan kamu juga pulang, aku sering menunggu kamu pulang, memantau kamu dari jauh dari warung kopi yang ada di depan rumah sakit, terdengar lucu yah, saat aku pulang duluan, aku akan selalu memperhatikanmu dari jauh, aku juga tidak ingin menolak anak kita, aku mencintai kamu, anak kita, aku akan mengatakan sesuatu kepada kamu, mungkin sesuatu ini akan membuatku setelahnya tidak bisa menikmati nasi goreng buatan kamu yang aku santap diam-diam saat kamu sudah tidak di rumah, rasa bersalah membuatku harus bersikap agar kamu jauh dariku, kamu tahu, akulah sang penabrak lari oleh ayahmu, maaf sayang, kalaupun nanti kamu tidak ingin melihat wajahku setelah ini, aku harap kamu masih menganggap ku sebagai ayah dari anakmu]
Air mata Gilsha jatuh, kata-kata bernada apakah ini, benar-benar membuat hati Gilsha jatuh berkeping-keping.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1