Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 1


__ADS_3

Siang ini, di Stockholm, Artis besar yang bernama Luca Spark akan merilis album keduanya "Light Swan" secara besar-besaran di seluruh toko musik. Para pemilik toko musik dilarang memperjualbelikan copy an lagunya ke pasaran sebelum dia sendiri yang turun ke sana.


Belum sempat prolog cerita dirinya kering di bibir, sekumpulan remaja sudah menggerebek seluruh toko musik sebelum pukul 2. Bagaimana para pemilik toko musik dan jajaran pegawaianya tidak pusing, kalau para ABG mengantri sambil berteriak-teriak kegirangan.


Para pemilik toko yang lanjut usia merespon histeria kepanikan mereka dengan kepanikan.


"Joe!. Cepat ambil pembatas antrian. Kita harus kendalikan para remaja ini," tunjuknya ke pintu gudang.


"Segera, pak."


Joe berlari masuk ke dalam gudang. Dia mencari pembatas tali yang mengikat kuat di antrian sebagai tanda masuk keluarnya pengunjung yang membludak.


"Sebenarnya hari ini ada apa sih, pak ?. Kok warga Stockholm jadi kesurupan ?," tunjuk Joe pada remaja yang makin mengantri.


"Mereka kesurupan karena Luca Spark. Penyanyi pop blasteran itu. Anakku juga suka kok. Sampai dia membeli copy album pertamanya dan sedang berdiri di meja kasir untuk langsung meminta tanda tangannya."


"Berarti dia artis keren, pak."


"Iya, ya dong. Artis yang digemari anakku pasti keren."


"Tapi, kita jangan banyak ngomong dulu pak. Karena ada segerombolan ikan yang mesti kita antisipasi."


Joe menunjuk ke arah sekumpulan remaja perempuan yang kalap bergegas turun dari bus. Ketika seorang laki-laki yang memakai jaket kuning terang baru turun dari mobilnya. Dia tersenyum, melambai pelan pada sekumpulan remaja yang berbaris di depan toko dan berjalan dengan santainya ke dalam toko musik diiringi pria berbadan besar yang disebut bodyguard.


Dari seberang jalan, aku berdiri di trotoar menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Sambil menggendong sekantong kertas penuh barang belanjaan, aku berpapasan dengan mobil Heidi. Mobil merah yang berhenti di belakang garis penyeberangan diam menggeram menunggu lampu berubah kembali menjadi hijau.


Gadis pirang yang duduk di bangku kemudinya sontak membuka pintu kaca mobilnya. Dia berteriak memanggil namaku.


"Estelle!. Mau bareng ?." Dia melambai penuh senyuman padaku.


"Aku segera kesana."


Kedua kaki mungilku berlari menyeberang jalan dengan sangat semangat. Karena saking gembiranya, aku tidak memperhatikan warna lampu lalu lintas bergambar pejalan kaki. Warnanya masih hijau. Namun, beberapa langkah aku berlari ke arah mobil Heidi, warna lampunya berubah menjadi merah.

__ADS_1


Suara klakson dari semua mobil menunjuk ke arahku. Para sopirnya menyuruhku untuk segera masuk ke dalam mobil Heidi.


Para pejalan kaki, penjual roti keliling, para remaja yang mengantri berbaris di depan toko musik ikut mengubah arah pandangnya menuju ke arahku.


Kedua mata mereka menatap kebingungan pada seorang gadis yang berlari kecil. Bukan langkah manisku yang mereka perhatikan tetapi tingkah lakuku yang suka melanggar peraturan.


Sesampainya di dalam mobil Heidi, aku tertawa lepas. Kupangku belanjaanku di paha. Lalu, aku menyuruh Heidi untuk melajukan mobilnya.


Sama-sama pernah tinggal lama di Indonesia, Heidi sudah akrab dengan pelanggaran lampu merah yang mendarah daging disana. Bagi sebagian orang di Indonesia itu hal yang lumrah tapi, di tempatnya tinggal sekarang, Swedia tidak bisa menerima pelanggaran peraturan yang seperti itu.


Kakak Heidi adalah seorang polisi. Diego bekerja sebagai anggota polisi di Stockholm. Kudengar dari Heidi bahwa dia sedang bertugas menjaga keamanan toko musik di dekat El Lopez. Kawasan perumahan yang rata-rata ditinggali oleh orang spanyol, meksiko dan negara latin lainnya merupakan tempat tinggal keluarga Heidi. Kadang, di sela jam istirahatku, aku mampir kesana untuk sekedar menyapa.


Bahkan, hari ini, aku dan Heidi mampir ke toko musik untuk menyapa Diego. Laki-laki tinggi tegap berpakaian seragam polisi yang sedang berdiri polisi lain di depan toko tersenyum lebar melihat kedatangan kami.


"Apa kabar Kak Diego ?," sapaku ramah.


"Sangat baik, El," jawab Diego membalas pelukan adiknya Heidi.


"Jangan hari ini, Heidi. Aku sedang sibuk bertugas."


Diego tidak mengabulkan permintaan adik kesayangannya Heidi. Dia menyuruhku untuk menenaminya makan siang. Tapi, Heidi menolak saran kakaknya.


Heidi memiliki saran yang lebih baik dari saran jelek kakaknya. Dia berencana pergi dari hadapan kakaknya setelah lima dollar melayang ke telapak tangannya. Memang, uang tips yang biasa diterimanya di hari perayaan hari raya tidak patut diminta hari ini. Hukumnya menjadi halal saat adik meminta uang jajan pada kakaknya.


Temanku yang suka berbelanja masih berdiri tegap di depan kakaknya. Dia tidak akan pergi sampai uang jajan masuk ke kantongnya. Meskipun, orang yang menjadi prioritasnya sudah tiba di depan toko musik.


Orang yang dikawal Diego tidak asing bagiku, Heidi dan orang di Stockholm. Orang yang dikawal ketat dengan bodyguard itu tidak lain adalah Luca Spark.


Penyanyi favoritku yang tidak lain pernah sekilas kujumpai di depan toko musik di seberang supermarket tadi. Jaket kuning terang, lambaian tangan santai dan senyum manisnya adalah ciri khas yang melekat pada dirinya hari ini.


Aku sudah ratusan menatap wajahnya di layar ponselku. Jadi, aku tidak akan salah mengenali gambar tato wallet di lehernya itu.


Di Stockholm, hanya ada satu orang yang mempunyai gambar tato seperti itu. Setahuku, Luca lah, satu-satunya orang pertama yang berani menato dirinya diantara penyanyi lain yang membumi di Stockholm.

__ADS_1


Dilihat dari sisi fisik manapun, Luca bukanlah orang asli Swedia. Dia merupakan penyanyi berdarah campuran Spanyol dan Jerman yang kebetulan saja membumi terkenal di Swedia.


Dari keramahannya pada penggemar, kedua mata meneduh dan wajah yang oval simetris adalah ciri khas yang dimiliki Luca. Bahkan pada saat aku maju kehadapannya meminta tanda tangan. Dia langsung mengambil kertas yang kupegang.


"Apa kamu Luca Spark ?."


"Apa aku terlihat bukan dia ?," tanyanya. Dia memberikan selembar kertas yang sudah ditandatanganinya.


"Bukan bermaksud seperti itu. Tapi, bolehkah aku menanyakan satu hal ?."


"Silahkan," katanya. Dia menunggu pertanyaanku.


Sebenarnya bukan hakku menanyakan alasannya melemparku dari keranjang fansnya. Masalah ini kudapat darinya beberapa bulan yang lalu. Bukan salahnya bial dia melemparku dari keranjang karena mungkin aku yang bersalah. Tapi, jika tidak kutanyakan sekarang, mungkin aku tidak akan mendapatkan jawabannya dan berakhir bertanya-tanya seumur hidup.


Luca menjentik-jentikkan jarinya beberapa kali di depan wajahku.


"Kamu jadi bertanya atau tidak ?." Aku mengangguk.


Dengan mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Aku melontarkan pertanyaanku.


"Aku pernah memfollowmu di twitter. Aku juga sering menandai akunmu. Tapi, mengapa kamu memblokir akunku ?."


"Simple saja. Postingan twittermu yang menandai akunku sangat menganggu. Kamu terlalu usil. Jadi, aku putuskan untuk memblokirmu. Apa ada permintaan lain ?."


"Ada."


Aku langsung meremat kertas berisikan tanda tangannya di depan wajahnya. Lalu, dengan penuh percaya dirinya, aku melemparkan gumpalan kertas yang kuremat ke tempat sampah.


Terakhir, sebelum aku pergi dari hadapannya, aku menampar dirinya dan memakinya.


Aku kasihan kepada fansnya yang terus mendukung musiknya. Lagu-lagunya sangat tidak bermakna. Saat aku mendengarkan di playlist musikku, aku tidak merasakan perasaan apapun. Selain perasaan datar bercampur amarah karena telah diusir dari toko musik oleh Diego dan kawan-kawannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2