Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 5


__ADS_3

Rintik hujan yang turun di Stockholm sore ini deras sekali. Aku sudah janji akan datang tepat waktu ke apartement Luca. Tapi, tidak mungkin juga aku menerobos hujan deras penuh gelegar petir.


Kucoba mencari jalan lain dengan menghubungi Diego. Aku tahu pacar kerenku tidak akan keberatan mengantarku ke apartement Luca.


Denyut ponsel berdering terus menusuk berulang-ulang ke telingaku dengan sabar. Layar ponselku masih menempel di daun telingaku dan panggilan berakhir cepat setelah suara operator muncul. Apa yang sedang Diego lakukan hari ini ? Bukannya dia sedang berpatroli di jalana Stockholm. Harusnya dia sempat menjawab panggilan telponku. Walaupun hanya berkata "hai".


Karena Diego tidak bisa kuandalkan saat genting-genting begini, aku hendak menghubungi Heidi untuk mengatarku. Tapi, aku baru ingat kalau temanku ada ujian matematika di kampus.


Jika bukan aku sendiri dan tekad kuatku, mana mungkin aku sampai di depan gedung apartemen Luca dengan basah kuyup dan selamat. Mana aku harus memakai kalung pengenal, benar-benar sangat merepotkan. Terlebih lagi melapor pada satpam payah yang mencegatku kemarin. Please, jangan ingatkan aku moment insiden memalukan itu.


"Namaku Estelle Starlight. Aku ingin mengunjungi Luca," menunjukkan kalung ID pengenalku ke Pak Satpam.


"Welcome, miss."


Pak satpam membukakan pintu gedung apartemen lebar-lebar untukku. Dengan senyum ceria dan ramah, Ia menyruhku untuk meletakkan segala jenis barang yang basah kuyup terkena hujan di gatungan dinding setelah pintu keluar. Jaga-jaga saja agar lantai apartemen yang dijaganya tidak ikut basah juga. Kasihan pada pembantu yang mengepel setiap pagi disini.


Aku menurit pada saran pak satpam. Sebelum masuk dan menapaki kaki tangga, aku meletakkan dulu payung basah dan mantel basahku di gantungan depan.


Barulah, aku bergegas menuju ke kamar Luca. Kamar kedua paling kiri sebelah tangga, kubuka tanpa dosa.


"Maaf aku terlambat," sahutku memasuki kamarnya.


Aku menutup pintu kamarnya kembali, melepas sepatuku dan mengibas-ngibaskan rambutku yang basah.


Luca tidak menjawab salamku atau menoleh padaku untuk mendapatkan respect. Eh, dia malah sibuk mengobrak-abrik isi lacinya. Dia sedang mencari sesuatu, aku tidak tahu apa, tapi, setelah aku mendengar suara hairdryer dan diarahkan meniup rambutku, aku tahu apa maksudnya.

__ADS_1


Selama aku duduk mengeringkan rambut dan pakaianku, Luca memainkan musik. Dimulai dari menekan tuts-tuts piano, aku sudah tau apa yang dia mainkan.


Ketika aku tau lagunya, aku akan menyanyi. Kemudian mengomentari permainan musiknya. Tapi, saat lagunya dimainkan dengan piano, aku berhenti menyanyi dan berkomentar.


Aku mematikan hairdryer-nya. Lalu, menyuruhnya memainkan mutut kembali.


Pada saat hujan-hujan begini, akan lebih baik kalau dia menjadi pemain musik yang handal daripada menyanyi bagai burung bul-bul yang merusak kesetiaanku sebagai fansnya dulu. Sebal sekali, kalau Luca harus sembuh dalam waktu cepat. Biarkan saja dia begitu dulu. Toh, ujian Tuhan akan menyadarkannya untuk lebih menghargai bentuk perhatian kecil dari seseorang. Dulu, dia mana ada rasa bersyukur dan bergaul dengan orang lain ? Feelingku mengatakan sih tidak pernah. Aku mengangguk mengamini suara dalam hatiku.


...***...


Leonif merasa frustasi begitu mendengar suara permainan piano. Suara ketukan jari jemari di tuts piano tidak memberikannya kedamaian apapun, selain kebencian.


Segelas minuman dilemparkan ke perapian bersama dengan gelas kristalnya. Pria tua yang kaya dari hasil mengomentari kompetisi balet teringat pada Rosa. Wanita yang merawat Luca seperti anaknya sendiri tidak pernah berkata jujur bahwa dia hanya ibu angkat dan ibu sambung.


Frank juga bertanggung jawab pada kematian istrinya, Gaia Craig yang melahirkan Luca dengan susah payah. Karena Leonif menganggap Luca adalah malapetaka, dia memberikan bayi itu pada Dokter Frank dan Rosa agar merawat bayi itu dengan baik.


Hari ini, Leonif berpikir dan berbicara dengan gelas kristalya untuk menggunakanku mendapatkan Luca. Bagaimanapun juga, dia harus memanggil Leonif ayah dan Frank-Rosa dengan sebutan paman dan bibi. Rencana tersusun rapi dan terorganisir sudah dipikirkannya selama bertahun-tahun. Sudah lama sekali sejak Gaia meninggal dan Luca dititipkan.


...***...


Kakiku terasa lemas karena banyak bergerak. Aku beristirahat sejenak dan membiarkan Luca bermain satu lagu terakhir.


"Dimana kau belajar bermain piano ?." Luca berhenti bermain piano. Dia mengambil buku gambar dan spidol. Mulailah, pembicaraan satu pihak dengan benda mati.


'Juliard Music School.'

__ADS_1


"Kalau begitu, kau sangat berbakat, Luc. Kenapa kau tidak bermain musik untuk membayar tagihan dan menguploadnya di youtube ?. Aku yakin itu akan membantu," jawabku mengomentari tulisannya di kertas.


'Aku tidak bisa. Aku bisu.'


"Jangan buat kekuranganmu menjadi halanganmu, Luc. Kumpulkan keberanianmu. Kau itu king of pop. Selamanya begitu."


Luca berhenti menulis. Mendadak, dia menjadi bersemangat setelah kupuji. Permainan pianonya menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan saat aku mencoba balet, musiknya menjadi satu dengan irama langkahku.


Saking terhanyutnya dengan musik dan tarian, aku melupakan jebakan yang ada di kamar Luca. Ruangan kecil yang bersih dari tumpukan kertas nyatanya tidak pernah bersih dari benda tajam.


Aku berteriak dan jatuh ke lantai setelah merasa kakiku menginjak sesuatu. Sebuah klip kertas masuk ke telapak kakiku.


Aku berusaha untuk mengambilnya dengan tangan kosong tapi, Luca menghentikanku. Dia sigap memindahkanku ke tempat tidurnya, mengambil kotak P3K dan dengan perlahan mengeluarkan benda jelek yang payah itu keluar dari telapak kakiku.


Darah mengalir deras dari telapak kakiku. Seprai putih Luca terkena bercak darahku.


"Jangan beri apapun lagi, rasanya sangat sakit," telapak kakiku menjauh dari betadine yang akan dioleskan di luka itu.


Luca terdiam sejenak. Dia sedang mencari kesempatan agar aku tidak bergerak lagi dan bisa memberi betadine dengan tenang. Tapi, dia merasa geram saat aku terus menjauhkan kakiku dari betadine.


'Diamlah, Elle. Kenapa kau selalu membuatku repot, merasa diusili dan menguji kesabaranku.'


Luca menarik kakiku. Dengan paksaan, dia mengoleskan betadine di lukaku. Meski dia mendengar aku menjerit dan menangis kejar, dia terus melakukan niat baiknya dan membalut luka yang terbuka dengan kasa.


'Setelah pulang dari rumahku. Mampirlah ke dokter atau besok dan minggu depan, kau tidak akan bermain balet lagi.'

__ADS_1


Selembar peringatan dan nasehat yang ditulisnya dilemparkan padaku. Luca benar-benar pria yang kasar. Kenapa dia harus khawatir begitu sampai menyuruhku pergi ke dokter. Lagipula, lukanya luka biasa. Beberapa hari juga akan sembuh sendiri.


...***...


__ADS_2