
Dalam rintik hujan deras yang mengguyur Stockholm, aku bersusah payah membawa Luca ke rumah sakit. Kesadarannya hilang terus-menerus setelah dipukuli oleh tim balerinaku.
Dokter Rafael yang mendedikasikan dirinya untuk merawat Luca memintaku untuk menunggu di luar ruangan. Selama pemeriksaan di ruang UGD, aku terus memikirkan keadaan dirinya. Bagaimana jika dia mati dan aku yang harus bertanggung jawab ? Keluarganya akan menuntutku dan bisa jadi aku masuk penjara.
Heidi menyusulku ke rumah sakit. Kami berpelukan dan aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada kami.
Kopi hangat Starbucks yang diberikan Heidi mulai dingin saat aku terus saja mengoceh menceritakan kejadiannya. Heidi menyuruhku tenang agar Diego tidak khawatir padaku.
Perintah penugasan menertibkan demo para penari balet di depan gedung pertunjukkan sedang tidak kondusif. Teman-temanku memicu pemberontakan itu. Mereka ramai berkicau di twitter hingga terjadi perang antar fans dan organisasi pecinta balet. Akun baletku ramai menjadi perbincangan dan akun Luca terus menerima spam dan laporan pengeblokan.
"Kau harus tenangkan dirimu, El."
"Aku tidak bisa. Aku panik."
Heidi memelukku. Sahabatku yang masih satu kampung halaman denganku tidak bisa melihatku sedih. Para warga San Toledo dikenal dengan warganya yang peduli satu sama lain, terutama di daerah tempat tinggal kami.
Lampu ruang pemeriksaan Luca masih menyala merah. Heidi mengajakku pulang agar bisa berganti baju sebentar. Bahaya sekali, jika aku sakit dan terkena angin duduk.
Maksud menurut pada Heidi, dokter Rafael sudah keluar dari ruangan mencariku. Katanya, Luca mengalami patah tulang ringan. Kakinya hanya retak sehingga dia tidak bisa berjalan normal dalam waktu dekat. Jika bisa, dokter ingin agar keluarga Luca menemuinya segera.
Aku tidak tahu dimana keluarga Luca tinggal. Mungkin apartemennya bisa memberi informasi alamat atau bukti lain yang mengarahkannya pada keluarga Luca, kata Heidi memberi saran.
Dengan uang seadanya, aku berangkat menuju ke apartemen. Kamarnya ada di lantai kedua pintu sebelah kiri, aku tahu betul kemana kakiku melangkah.
Di atas tumpukan kertas di atas piano, di kursi, laci dan lemari pakaian, aku tidak menemukan secercah harapan tentang keluarga Luca. Hanya ada tas pinggang Luca yang tergantung di dinding yang belum kuperiksa, di dalamnya, aku menemukan dompet dan paspor. Kartu identitasnya hanya menunjukkan biodata singkatnya. Sedangkan paspor hanya berisikan kemana saja dia pernah liburan.
"Aku akan coba cari di internet," sahut Heidi. Dia mengambil KTP Luca dan mulai mencari keluarganya di web khusus.
"Kau yakin, kita bisa menemukan keluarganya Heidi ?," tanyaku ragu.
__ADS_1
"Tentu saja. Kakakku biasa melakukan ini."
Lima menit kemudian, rincian keluarga Luca muncul. Nama ibu, ayah, saudara, mantan pacar, produser musik sampai anjing kesayangannya semuannya ada. Alamat mereka berbeda tapi aku memilih pergi ke alamat dimana ayah dan ibunya tinggal.
Rumah orang tua Luca sederhana. Satu rumah ukuran sedang, halaman sempit dengan pagar tembok disekelikingnya dan ada pohon bonsai yang segar dipajang di sepajang jalan ke pintu rumah. Aku dan Heidi memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya.
Beberapa saat kemudian, pria tua yang bernama Frank dan istrinya Rosa membukakan pintu untuk kami.
"Apa kalian orang tua Luca ?."
"Ya, sayang. Kami orang tuanya." Aku antusias gembira.
"Bisakah kita ke rumah sakit ?. Luca sedang sekarat."
"Jika dia membutuhkan darah, pergilah ke Leonif Spark. Dia ayah biologisnya dan kami hanya orang tua angkatnya." Frank menutup pintu rumahnya.
Heidi dan aku tidak bisa berkata-kata lagi selain pergi ke rumah Leonif. Dia sedang memberi makan ikan koi di kolam belakang.
Lionel menoleh. Dia memberikan mangkuk pakan ikannya ke tangan Heidi.
"Apa yang bisa aku bantu ?"
"Luca, Tuan. Putra biologismu sedang sekarat di rumah sakit."
"Putra biologis ? Aku tidak pernah punya anak. Istri saja tidak ada."
Heidi memuntahkan semua pakan ikannya ke kolam. Buang-buang waktu saja menemui Leonil dan orang tua Luca. Karena, mungkin saja Luca sudah tewas sekarang.
Tidak bisa merasa berpikir jernih, aku menghubungi dokter rafael di rumah sakit. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Luca sampai aku harus mencari keluarganya. Sebenarnya, setelah didiagnosa patah tulang, Luca mengalami pendarahan. Darah O- sangat sukar ditemukan. Stok darah di rumah sakit dan palang merah belum ada.
__ADS_1
Kuceritakan laporan yang kuterima pada Heidi. Kami butuh darah O negatif agar Luca bisa selamat. Aku akan pergi ke rumah sakit tanpa bertanya tapi aku bergolongan darah A begitu pula dengan Heidi. Satu-satunya orang terdekat yang punya darah O- adalah Diego. Pernah suatu waktu dulu, saat Heidi dan Diego bermain, kakaknya pernah terluka dan kehilangan banyak darah. Hanya ayah dan kakaknya yang bergolongan darah O negatif.
Terima kasih karena sudah memberi berita bahagia Heidi. Aku akan segera menemui Diego ke pusat kerumunan massa pendemo di depan gedung balet teratai.
"Jangan nekat, El," cegah Heidi padaku yang ingin memanjat pagar kawat berduri.
"Tolong biarkan aku pergi. Ini demi Luca. Aku janji akan kembali."
Heidi membiarkanku meloncati pagar kawat berdiri. Susah payah aku masuk dan menerobos pendemo. Kepalaku beberapa kali terkena pukulan lengan orang sampai aku terjatuh tersungkur keluar dari kerumunan pendemo penuh lecet.
Diego, salah satu petugas polisi yang mencegah massa masuk ke dalam gedung melihat seseorang terjatuh dari kerumunan. Karena takut terinjak-injak dia keluar dari barisan dan menghampiriku.
"Kau tidak apa - apa ?," tanya Diego membantuku berdiri. "Elle !. Apa yang kau lakukan ?," menyeretku ke tepi setelah melihat wajahku.
"Aku membutuhkanmu, Amor. Rekanku Luca sedang butuh darah O negatif dan aku tau hanya kau yang bisa menyelematkannya."
"Di rumah sakit kan ada banyak, El."
"Sudah kucoba kesana. Dokter bilang stoknya habis."
"Maaf, El. Aku tidak bisa."
"Kumohon, Diego," memelas meminta pertolongannya. "Aku akan memakai cincinya."
"Baiklah, El. Aku setuju."
Diego meminta ijin dari ketua polisi yang bertugas. Dia berkata bahwa anggota keluarganya sedang sakit dan membutuhka donor darah segera. Jika tidak ditolong, maka satu nyawa yang mati akan membuatku bersalah dan makin sulit membujukku bertunangan dengannya.
Di rumah sakit, di ruang rawat, Diego terbaring di ranjang yang kosong di sebelah Luca. Pria yang begitu menyukaiku sangat berat memberikan darahnya untuk calon benalu tapi, membunuhnya lewat senjata lebih buruk dibandingkan rencana Tuhan yang terus-menerus membuat pria terbujur kaku disebelahnya mengalami kesialan terus-menerus.
__ADS_1
Diego menutup matanya saat selang infus mulai ditancapkan di tangannya dan mengalirkan darahnya ke tubuh Luca. Butuh proses beberapa waktu untuk transfusi darahnya, perawat harus ekstra kerja keras membuat Diego tidak tertidur. Satu saja dia berkedip dan Diego tertidur, dia akan susah mencabut selang donor darah dari tubuh pendonornya.
...***...