
Untuk kesekian kalinya, Luca membuka matanya tanpa diriku. Di rumah sakit, dia sendirian, mematap kosong langit-langit puti rumah sakit, menghirup bau pemutih dan mendesah kesal pada selang yang menempel di punggung tangannya.
Seorang perawat di bilik sebelah menyibak tirai Luca. Dia mengotak-atik selang infusnya, kemudian bertanya beberapa hal.
"Tuan Luca, anda merasa ada yang sakit ?." Luca menggeleng.
Kedua bahunya terangkat menurun. Tanganya sibuk mencatat perkembangan para pasien dan dia tidak ada waktu mengobrol lama dengan pria terbaring sendirian itu.
Para Dokter baru saja selesai rapat. Sekumpulan dokter dari macam-macam spesialis punya rencana membantu penyembuhan pita suara Luca. Sebab kesalahan operasi sebelumnya, ada bagian pita suaranya yang tergores sehingga mereka sepakat untuk mengoperasi ulang Luca.
Kali ini, ada program kartu sehat dari pemerintah Swedia, jadi Luca bisa menggunakannya untuk mengajukan operasi.
Sebelum itu, para dokter harus menemui Luca dulu demi memastikan niat mereka diterima atau tidak.
Dokter rafael dan dua dokter spesialis lainnya datang menghampiri di bangsal rawat Luca. Mereka berdiri mengelilingi tempat tidur Luca.
"Bagaimana keadaanmu ?," tanya Dokter Rafael.
Tangan Luca menjulur meminta bolpoin dan kertas. Alat komunikasi yang merepotkan membuatnya ekstra kerja keras menulis di tangan yang nyeri diinfus.
"Baik, dokter. Apa aku boleh pulang ?," menunjukkan tulisannya pada para dokter.
"Tidak, Lu. Kami harus melakukan beberapa operasi padamu."
"Operasi ?. Aku tidak mau. Wajahku masih baik-baik saja, dokter."
"Bukan wajahmu tapi pita suaramu." Dokter Rafael menunjuk lehernya sendiri.
Sudah jelas, dia akan masuk ke ruang operasi lagi. Hari ini juga Luca masuk ke dalam ruang operasi.
...***...
Keadaan berduka menyelimuti keluarga Lopez. Di hari bahagia Heidi dan ulang tahun neneknya, aku meneteskan air mata di depan lubang kubur Diego.
Diego Lopez. Kekasihku yang sangat aku cintai meninggal karena kecelakaan. Setelah mendonorkan darah pada Luca, aku sudah setuju dipinangnya. Aku tidak tau, jika hari itu adalah hari terakhir aku bertemu Diego.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu kapan dan dimana seseorang meninggal. Aku hanya tau bahwa yang ditinggalkan berpulang harus tabah dan merelakan.
Heidi menepuk pundakku beberapa kali. Senyum cerianya meredup dan aku harus mengajaknya menggobrol setelah acara pemakaman Luca.
Pemuka agama segera mendoakan Diego setelah para tukang galih lubur menyelesaikan tugasnya. Dalam komat- kamit do'a nya, aku mendengar bahwa dia mendoakan agar tenang di alam sana, mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan diterima segala kebaikannya. Aamiin.
"Heidi, bisa bicara sebentar ?." Aku mencegah Heidi yang melangkah menuju mobilnya yang terparkir di jalan pemakaman. Heidi menoleh.
"Ada apa, Elle ?."
"Aku mau jujur padamu."
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Aku tahu ini sangat berat bagi Heidi tapi aku harus menceritakan pendonoran darah Diego pada Luca.
Setelah aku menceritakan segalanya pada Heidi. Raut mukanya kusut. Dia menatap tidak percaya padaku. Lalu, memberikan umpatan setelah apa yang telah aku lakukan.
Ceroboh. Sangat Ceroboh. Diego tidak pernah memberi darahnya pada siapapun. Berbagi kebaikan dengan donor darah di palang merah saja tidak pernah. Sebagai adiknya, Heidi tidak tau mengapa kakaknya sangat membenci hal itu.
Jika Diego mau mendonorkan darahnya, itu bagus. Artinya, sebelum kakaknya meninggal ada pahala kebaikan besar yang ditabungnya.
...***...
Dokter Rafael keluar dari ruang operasi dan lampu berubah menjadi hijau. Para perawat dan beberapa dokter berjalan keluar bergantian dari ruangan untuk membersihkan diri.
Di depan pintu sudah ada Lionif yang menunggu kabar terbaru. Ayah biologis Luca sedang memantau apakah anaknya lebih baik dari sebelumnya.
"Dokter!. Tunggu sebentar." Lionif mencegah Dokter Rafael.
"Ada apa, pak ?," melepaskan maskernya.
"Bagaimana keadaan Luca ?. Dia bisa bicara ?."
"Operasinya sudah berhasil. Kita hanya perlu menunggunya siuman." Dokter menepuk bahu Leonif dan dia mengangguk.
Dua jam setelah operasi, Luca dipindahkan ke ruang rawat. Leonif, Frank dan Rosa ada di dalam ruang rawat Leonif untuk berjaga-jaga jika anaknya tiba-tiba siuman.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadinya jika kita jujur." Rosa memijat-mijat kepalanya.
"Tenanglah, Rosa. Dia harus bisa menerima kalau aku ayahnya." Leonif naik pitam.
"Tapi, dia masih anakku," kata Rosa.
"Meski dia tidak pernah memanggilmu ayah. Masih mau berharap dia kembali ke rumahmu ?."
Frank mengakhiri perdebatan istri dan saudaranya. Sekali skak matt, Leonif dan Rosa terdiam sejenak.
Jari-jemari Luca tergerak meminta respon. Rosa segera menghampirinya dan Frank berlari keluar memanggil Dokter.
Rosa terus saja mencium tangan Luca penuh haru. Dia menyesal telah membuangnya dari rumah karena kecelakaan yang merusak karirnya.
Agar Leonif tidak jadi mengambil Luca, Rosa mulai bersikap manis dan membujuk Luca.
"Berhenti, Rosa!." Leonif cemburu.
"Ada apa dengan dirimu itu ?."
Belum Rosa menjawab, Dokter Rafael dan Frank keburu masuk. Mereka segera menghampiri Luca da mengecek keadaannya.
Senter Dokter Rafael melihat bahwa pita suaranya sudah diperbaiki. Beberapa hari lagi, dia sudah bisa berlatih bicara. Sebelum hari itu tiba, dokter melarang pada orang terdekat untuk membicakan panjang lebar sebuah masalah.
Leonif tidak peduli. Kerinduan pada Luca tidak bisa dibendung lagi. Dengan percaya diri, dia berkata bahwa Luca adalah anaknya dan mereka harus segera pulang ke rumah. Kedua orang tua Luca yang telah merawatnya sejak kecil ikut angkat bicara. Mereka mendebat tidak akan memberikan anaknya pada siapapapun termasuk pada ayahnya sendiri.
Terkesan egois, Rosa dan Frank menginginkan Luca untuk menjadi anaknya. Selama anak itu singgah dalam dekapnya, hidupnya berubah. Dia tak lagi makan roti gandum tanpa selai seperti dulu. Sekarang, dia makan ayam dan daging setiap hari dengan uang tabungan Luca.
Menyanyi adalah hobinya sehingga Luca tak pernah sadar uang tabungannya habis perlahan-lahan. Dihabiskan ayah ibunya untuk hal positif tidak masalah tapi uangnya digunakan untuk keburukan.
Setengah uang tabungan Luca digunakan untuk mengurus pembebasan anak kandung Rosa dan Frank yang bernama Fanta, untuk keluar dari penjara Oklahoma. Kasus membunuh pacarnya sendiri pada saat tidur bersama menyeretnya ke pasar berlapis yang mendakwanya mendapatkan hukuman dua puluh tahun penjara. Sudah merasa bosan merawat anak angkatnya, Rosa dan Frank mulai merindukan anak kandung yang bisa menjaga keluarganya.
Bukan hanya untuk membebaskan Fanta, Rosa dan Frank menggunakan uangnya untuk mencelakakan Diego. Pikirmu, mengapa seorang polisi mau mendonorkan pita suara dan kecelakaan masuk jurang adalah murni. Kalian salah, Frank dan Rosa lah yang mendalangi kejadian itu. Struk menyewa orang bayaran sekian ratus dollar ditunjukkan Rosa pada semua orang.
Dokter Rafael yang mendengar pengakuan diri kejahatan itu hanya bisa diam sambil merekam.
__ADS_1
...***...