
Untuk pertama kalinya, Leonif makan malam bersama putra kandungnya. Bayi laki-laki yang terus menangis digendongannya dulu, kini menjelma menjadi pria yang tampan dan tangguh.
Luca seperti Gaia. Ia akan memilih makan salmon atau sajian ayam kala makan malam tiba. Meski hanya menunjuk menunnya saja, Leonif sudah tau bahwa didepannya sekarang adalah setengah bayangannya dan Gaia. Andai saja, istri tercintannya masih hidup, dia pasti bangga melihat anaknya pernah menjadi king of pop di Swedia.
"Kau mau tambah lagi ?." Leonif melihat gelas vodkannya kosong.
Luca meletakkan garpu dan pisaunya di atas salmon. Dia mengambil menu dan menunjuk menu minuman air putih.
Leonif mengerti. Tangannya melambai memanggil pelayan. Dia meminta segelas besar air putih untuk Luca. Tidak boleh ditambahkan lemon atau jeruk apapun. Itu sangat tidak baik bagi perut seseorang.
Saat tiba-tiba Leonif mendadak berubah menjadi lembut padanya. Luca curiga. Apalagi tantangan yang akan diberikan Leonif padanya, mungkinkah dia dipecat atau dituntut menunjukkan kreasi musik baru padanya.
Entahlah. Luca tak mau memikirkan hal itu. Dia ingin fokus makan malam dulu. Lagipula, Leonif belum bertanya tentang itu. Jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan.
...***...
SURPRISE !!!
__ADS_1
"Happy Birthday, Amor!."
"Happy Birthday, Elle."
"Selamat ulang tahun, sayang."
Ibu dan ayah mencium pipiku bergantian. Ucapan mereka yang terakhir benar-benar menyulutkan hatiku. Aku tak lagi ingin marah-marah pada Diego. Sebaliknya, aku malah meloncat girang ke pelukannya.
Semua orang mulai bersorak. Mereka berkomentar bahwa aku dan Diego sangat cocok. Anggota keluargaku dan teman-temanku meramal akan ada undangan peresmiaan hubungan dalam waktu dekat.
Meski aku berjalan dengan bantuan tongkat, Diego tetap memperlakukanku spesial. Pria asli spanyol yang punya senyum lesung tidak perlu memapahku pelan tapi langsung menggendongku ke kursi yang menghadap kue ulang tahun.
Tiba waktunya meniup lilin, aku membuka mataku dan meniup lilin yang menyala hingga padam.
...***...
"Luca, apa kau sakit ?." Luca menggeleng. "Lalu, kenapa kau berkeliaran di rumah sakit ?."
__ADS_1
Sangat susah berkomunikasi dengan orang normal bagi Luca, dia harus membawa buku saku dan bolpoin kemana-mana.
'Aku hanya mengantarkan Elle ke rumah sakit. Kakinya terluka. Aku khawatir dia akan terkena tetanus,' sahut Luca lewat tulisan. Dia menjulurkan buku sakunya ke hadapan Lionif.
"Maksudnya, dia tidak bisa menari lagi ?." Dahi Lionif mengernyit. Luca mengambil buku sakunya dan menulis lagi.
'Keadaannya tidak buruk. Lusa, aku akan mengantarnya lagi ke rumah sakit.'
"Baguslah, aku bangga padamu. Kau partner yang baik."
Leonif menyuruh Luca untuk menghabiskan vodkanya. Sementara dia akan menghabiskan steak sapi medium rare yang dipesannya.
Selepas potongan terakhir masuk ke dalam mulut Lionif, dia segera mengambil uang dan meletakkan di mangkuk. Biasanya para pelayan restoran akan mengambilnya disana.
Sambil memakai mantelnya, Lionif mengajak Luca menggobrol santai. Pria tua kurus yang masih kelihatan awet muda terus menasehati Luca untuk tak putus asa di jalan sebab jalannya masih jauh. Untuk masuk ke jajaran king of pop. Dia harus mencabut akar masalah hidupnya. Mungkin dia harus mengobati kebisuannya itu.
Luca menjabat tangan Lionif dengan tegas. Sebelum masuk ke bis merah bertingkat, dia ingin memperbaiki imagenya di hadapan Lionif. Dia harap, dia bisa berbaikan dan Lionof bisa terus bersikap baik padanya.
__ADS_1
Segera, setelah Luca naik dan bus merahnya berjalan. Lionif melambai sekali. Air matanya menetes keluar. Dia segera menghapusnya, berlari masuk ke mobilnya dan pergi di tengah gelapnya malam.
...***...