Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 17


__ADS_3

"Gaia ! Gaia!"


Seorang wanita berambut gelap yang sedang duduk di atas batu melirik kedatangan Dokter Rafael. Telapak tangannya terangkat.


"Ada kabar apa, Rafa ?"


"Luca sudah mendapatkan suaranya kembali. Bisakah aku pulang ke istriku ?"


"Baiklah."


Gaia merapikan helaian kain putih yang menutupi tubuhnya. Dia bangkit dari batu dan para pelukis yang berjajar melukis wajahnya mengemasi canvasnya.


Dokter Rafael menggeleng malas. Wanita awet muda yang menumpang di rumahnya selama bertahun-tahun membuatnya makan hati.


Sudah diberitahu berulang kali agar Gaia menghentikan hobi melukis dirinya sendiri. Tapi dia tidak pernah sekalipun mendengarkan nasihatnya.


Saat dokter tiba di rumah, petugas bank mengantarkan tagihan kartu kreditnya. Salon, pedicure, manicure, konsultasi kecantikan. Jenis tagihan macam apa itu.


"Jangan berlebihan. Itu hanya tagihan."


"Aku akan jual rekaman ini demi menghidupi kita."


Gaia mengambil ponsel dokter di meja dan mendengarkan rekamannya sambil rebahan di sofa memakan anggur.


Topik bahasan di rekamannya sangat menarik. Tentang pengakuan Luca si anak Leonif. Jadi, dia baru sadar kalau Luca ada. Lalu kemana saja dia selama bertahun-tahun terakhir.


...***...


Luca merasa sesak melihatku bicara dengan dokter spesialisnya. Dokter muda yang memberikan arahan kesehatan Luca memang tampan tapi aku tidak ada niatan untuk menggodanya.


Aku pergi ke rumah sakit dan menengok Luca, semata-mata untuk memastikan apakah Diego benar-benar memberikan bantuan lain pada Luca.


Cacatan rekam medis menunjukkan ada kesalahan operasi pada pita suaranya sehingga harus dioperasi ulang. Kebetulan yang sedang dioperasi pada Luca adalah milik Diego. Para dokter menayangkan keputusan mereka yang mengambil bagian dari tubuhnya tanpa ijin.


Seminggu lagi, baru bisa mulai bicara padaku. Aku lebih was-was seminggu ke depan. Apa yang akan terjadi padaku tidak boleh melebar sampai ke anggota keluargaku yang lain.


Setelah bertanya-tanya dengan dokter, Luca boleh pulang ke apartemen setelah ada ijin dari dokter rafael. Bagaimanapun juga dokter itu yang pertama kali memberikan ide operasi pita suara pada para dokter.


Aku mengerti.

__ADS_1


...***...


Dokter Rafael memeluk istri dan anak-anaknya dengan erat. Vatikan bukan kota yang ramah dan dia harus berhati-hati pada kemungkinan kejahatan dan isu bermesraan di depan publik yang haram.


Alnemon dan kedua anaknya merasa senang, dokter rafel menemukan dimana mereka disembunyikan. Melewati hari-hari tanpa orang yang dicintai disisinya terasa sangat berat.


Gaia sangat tahu bagaimana rasanya terpisah dari orang yang dicintainya. Lionif sangat kesepian dan Luca tidak tahu siapa ibunya.


Sehari mengetahui dirinya telah menikah dengan Leonif, Gaia berusaha hamil. Pada waktu itu, dia berusaha agar memiliki keturunan secepat mungkin, melahirkannya dan pergi.


Untungnya ada dokter Rafael yang bersedia membmung rencananya. Tepat saat Gaia melahirkan Luca, dia menyuruh dokter Rafael untuk menukar identitasnya dengan pasien sebelah yang meninggal.


Gaia sudah mentransfer sejumlah uang dari rekeningnya pada hari itu sehingga Dokter Rafael mulai berusaha sekeras mungkin menyelesaikan tugasnya.


Tidak butuh waktu lama, Dokter Rafael segera mengabari Gaia bahwa Leonif berduka atas kehilangan dirinya.


Setelah bertahun-tahun berlalu, kini, Gaia akan pergi ke luar rumah. Menyaksikan Leonif dari jauh.


"Aku sudah menyalin rekamannya," menunjukkan flashdisk oranye dari sakunya.


"Bagus, dokter. Bisakah kita melakukan rencana selanjutnya ?" Dokter Rafael mengangguk.


...***...


Cherly masih menjadi primadona di kelas. Gerakan baletnya luwes dan memberikan kesan tegas pada maknanya. Disusul, Maria, manta penari tango yang mengajak Cherly berduet balet.


Aku dan teman-teman balerinaku yang lain berdiri di pinggir kelas. Kami mulai berbisik melihat Maria dan Cherly saling menatap benci dalam gerakan balet.


BRAK !


Cherly menabrak kursi. Kakinya terkilir dan kami segera membantunya.


"Cher, kamu tidak apa-apa ?" Maria mendekat.


"Berhenti disana ! Kamu membuat kakiku patah!"


Nyonya James melihat kelasnya sudah mulai tidak kondusif. Petugas 911 masuk ke dalam ruang kelas balet dan membawa Cherly ke rumah sakit untuk perawatan. Sementara Cherly pergi, kami melanjutkan latihan balet kami.


Berapa lama lagi aku mengulangi gerakan yang sama ? Sudah temponya pelan. Aku tidak bisa bicara dengan teman disampingku dan punggungku mulai sakit saat aku meringkuk.

__ADS_1


Nyonya James mana peduli pada rasa sakit yang diderita balerina, dia terlalu sibuk menjamu kedatangan Lionif. Aku tidak tau mengapa dia datang lagi ke kelas. Bukannya kompetisi sudah selesai ? Aku menatapnya dari kejauhan.


"Aku sudah pensiun dari panggung balet di Inggris, Leo," sahut Nyonya James.


"Tenanglah. Kamu bisa memilih muridmu untuk bersamaku."


"Bagaimana kalau Elle saja ?"


Lionif memutar kepalanya ke arah penari balet. Kedua matanya mulai mencari penari angsa yang berduet dengan putranya kemarin. Aku harus segeta ditemukan sebelum segalanya menjadi sangat terlambat.


Leonif tidak memilihku menjadi penari utamanya. Pilihannya berpindah ke Maria. Gadis yang membuat Cherly patah tulang pada sesi latihan tadi membuat para balerina di kelas sedikit jengkel padanya.


Sampai mana dia mengetahui tentang balet ? mungkin dia hanya tahu gerakan dasar dan beberapa jenis gerakan dalet dari pertunjukkan di televisi.


Maria mendengar dirinya diremehkan. Langkah balet yang dipertunjukkan di depan leonif sukses membawanya ke panggung bergengsi di Inggris. Sekali lagi kuucapkan selamat dari neraka, dia menang.


Di ruang ganti, setelah pelajaran usai, Maria menghampiriku. Kami menggobrol dan mulailah perdebatan sengit bergema diantara kami. Sambaran saling melecehkan dan saling menjelakkan gerakan satu sama lain membuat Nyonya James cemas.


Sebentar lagi Leonif datang, jika dia mendengar ketidakakuran antar balerina. Leonif aman mencari kelas balet yang muridnya lebih kondusif dan menurut. Tidak seperti di kelas Nyonya james yang selalu gagal mendamaikan musuh bebuyutan di sekolahnya.


"Hentikan kalian berdua!" Nyonya James masuk ke ruang ganti dan menegurnya.


Aku dan Maria berhenti berdebat. Kami saling membelakangi dan Nyonya James menyuruh kami saling berhadapan.


"Cepat minta maaf."


"Maaf." Maria mengulurkan tangannya dulu. Aku menyambut uluran tangannya dan mengusap-usapkan telapak tanganku ke celana.


Bagi Nyonya James, tugasnya mendamaikan dua orang sudah selesai. Kini baginya untuk pulang ke rumah dan memasak bagi keluarga. Sejak aku dan Maria bertengkar, jam makan malamya molor.


Maria melambaikan tangan pada Nyonya James tapi, merengut benci kepadaku. Maria sangat tidak menghargaiku. Dia tidak benar-benar minta maaf barusan. Kalau begitu caranya, aku tidak akan meminta maaf lagi pada Maria.


Seusai Maria pulang, nyonya James pamit pulang padaku. Dia menyuruhku untuk segera pulang karena udaranya dingin.


Salju mulai turun di Swedia. Aku merapatkan jaketku. Pikirku, aku akan berlari menerobos hujan salju ini. Namun langlahku terhenti setelah mendengar suara serak-serak basah laki-laki.


Sejenak aku pikir itu Diego, tapi setelah aku berbalik, Luca sedang berdiri dibelakangku tersenyum bahagia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2