Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 9


__ADS_3

Makan kemarin malam benar-benar memotivasi Luca. Pria bisu yang biasanya frustasi di pagi hari beranjak menjadi superhero. Dia kembali menulis lagu, bermain musik dan melukis dengan sapuan kuas di canvanya. Dia akui lukisannya sangat jauh dari kemampuan pelukis lainnya yang sudah terpajang di galeri.


Kegiatan Luca hari ini tidak akan jauh-jauh dari kegiatan membangkitkan hobi lamanya. Dia akan mencoba latihan menyanyi lagi, mulai dari dasar yaitu latihan vokal a, i, u, e, o. Ya, meski dia mendengar suaranya serak-serak, setidaknya ada kemajuan dibanding kemarin yang tidak ada suara sama sekali.


Sejak ibu ayahnya tak peduli lagi, perusahaan musik labelnya juga tidak. Luca bertekad untuk memulai semuanya dari nol. Kali ini dia akan memulai awal karirnya dari atas panggung pertunjukkan balet bersamaku. Kenapa harus malu menjadi penggiring musik balet, saat kamu bisa menjadi yang terbaik disana.


Satu jam setelah sarapan, lima lembar lagu tercipta. Dia mencoba menumpahkan ide lagunya ke dalam musik. Jika dicampur dengan beberapa not mungkin akan ada perbedaan, apalagi jika ada komparasi san kombinasi tentunua akan sangat menarik dan mengasah keterampilan menulis lagu yang pernah dia kuasai selama bertahun-tahun.


...***...


"Keep walking, stance and around."


Diego terus membimbingku untuk berjalan tanpa tongkat, menjaga keseimbangan dengan cara berpegangan padanya dan memutar sesekali jika aku kuat.


Satu kali latihan, aku hanya bisa berjalan. Dua kali latihan, aku sudah bisa berjalan dan menjaga keseimbangan bersama Diego. Latihan ketiga, aku sudah bisa memutar tubuhku, menumpukan satu kaki yang tak terluka tapi masih memegang erat tangan Diego.


Sesekali, tidak apa bukan, jika aku bercengkrama dengannya demi kebaikan. Aku salut, dia mengambil cuti satu hari untuk menemaiku latihan.


Keluarga Sanchez tak mempermasalahkan kami. Mereka malah senang keturunan spanyol akan berbesan dengan keturunan Perancis. Mereka benar-benar akan merayakan pesta besar-besaran jika benar terjadi.


"Sudah cukup, Ego. Aku lelah," melepaskan rangkulan lenganku dilehernya. Aku mulai berkeringat dan butuh duduk sebentar.


Diego berlari ke dapur. Diambilnya segelas air putih, segelas jus jeruk dan satu bungkus snack keripik kentang. Bahan makanan dan minuman yang dibawanya dari lemari dapurku akan benar-benar merusak istirahatku dengan damai.


"Segelas air putih segar untukmu," memberikan segelas air. "Satu gelas jus jeruk untuk polisi yang sering membolos dan satu bungkus keripik kentang untuk alasan polisi yang membolos demi balerina yang sakit."


Aku merebut sebungkus keripik kentang dari tangannya. Sekaligus saja, aku menarik Diego duduk disebelahku. Maaf saja, bila jus jeruknya sedikit tumpah. Noda jus di celana abu-abunya tidak akan dihujat orang-orang kecuali dia keluar dari kamarku dan berteriak bahwa aku telah sengaja menumpahkan jus jeruk di celananya.

__ADS_1


"Apa yang akan kita lakukan setelah satu bungkus keripik kentang habis ?," pikir Diego sambil mengunyah keripik kentang.


"Latihan lagi," jawabku mengambil satu sloce keripik kentang lagi dari bungkusnya.


"Sedikit membosakan, amor. Aku mau kita ke kota mencari gulali. Kalau tidak, kita hanya berputar-putar di kota dan mengobrol."


Diego pandai sekali merayu. Jilid manja dalam dirinya belum hilang sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Untungnya aku juga punya hati penuh semangat romansa untuk menampung manjanya.


Setuju. Setelah aku berlatih balet satu kali putaran, aku akan jalan dengannya. Sedikit keringat yang mengucur dari pori-pori tubuhku harus kuguyur dengan air penuh sabun. Kalau Diego tidak keberatan, dia bisa mencari bajunya yang tertinggal di kamarku. Sudah kulipat dan kusimpan wangi di tumpukan pakaianku di lemari. Kuperingatkan padanya!. Jangan sampai salah mengambil potongan pakaiannya.


"Ego, giliranmu!." Diego melongok melihatku berbalutkan handuk pink dengan rambut yang masih setengah basah.


"Belissimo. Kau memang cantik, amor. Aku tak salah memilihmu," kata Diego yang hendak menyentuh lenganku yang licin.


"Jangan coba!," memundurkan langkahku ke belakang. "Masuk ke kamar mandi atau aku akan berteriak ?!."


Diego mengangkat kedua tangannya. Dia masuk ke kamar mandi dan aku segera memanfaatkan momen itu untuk berganti baju.


Lima belas menit kemudian, Diego keluar dari kamar mandi. Dia masih berbalutkan handuk sepinggang. Sedikit kebingungan karena pakaiannya tertinggal diletakkan di sembarang tempat, untungnya aku menemukannya di atas meja riasku.


Kulemparkan setelan pakain kasual ke arah Diego. Untuknya dia sigap dan segera berlari masuk ke kamar mandi lagi.


Setelah memupuk bibirku dengan lipstik nude, aku merasakan sepasang tangan yang memelukku dari belakang bagai sabuk. Tidak perlu terkejut, itu Diego, dia tidak akan berbuat hal senono kecuali mengelap lipstik berantakan di pinggiran bibirku.


"Kau sudah siap ?."


"Ya, Ego."

__ADS_1


Aku langsung memegang tangannya dan kami berdua meluncur di jalanan kota Stockholm dengan riang. Senyumku terus merekah sepanjang dia menceritakan lelucon.


Sudah kubilang kalau Diego itu cocok jadi pelawak. Eh, dia malah menjadi anggota polisi. Tak apalah, namanya mencoba peruntungan, kita tak tau apa yang akan terjadi di masa depan nanti.


Selama dalam jalan penuh canda tawa, aku dan Diego tak berhasil menemukan gula kapas. Tapi, kami menemukan gulali lolipop.


Diego baik sekali. Dia memberikan satu lolipop untukku. Tapi dia sendiri malah membeli tachos. Dimana ada spanyol di tanah jajahan, disitulah dia berlabuh.


Aku sampai tertawa diri melihat kebiasaanya. Diego memang suka makan dan jalan-jalan. Lalu, aku melihat sisi Diego yang lain di jalan-jalanku kali ini.


Pria kerenku menyempatkan dirinya mengunjungi pameran lukisan jalanan. Aku cukup terkesan. Karyanya keren semua.


Dari ujung kiri sampai ujung kanan terakhir, macam-macam lukisan dipajang, tapi, Diego lebih suka lukisan berlian putih yang dikelilingi bunga mawar kering dengan background biru gelap mengelilinginya.


"Pak, aku mau lukisan itu. Tolong dibungkus," tunjuk Diego pada lukisan berlian, mawar dan background biru gelap di tengah itu.


Aku berheti menjilati lolipopku. "Kenapa pilih yang itu ?."


"Aku suka saja. Lagipula, kemarin 'kan ulang tahunmu. Jadi ini hadiahnya." Diego memberikan sejumlah uang yang ditukar dengan lukisan dari si penjual. Dia memberikan lukisan itu padaku.


Tanpa alasan dan kata-kata lagi, aku langsung memeluk dirinya erat-erat.


Saat aku berpelukan dengan Diego, penjual lukisan menghampiri seorang pria yang duduk di bangku, tidak jauh dari lapak jualannya.


"Tuan Spark. Ini hasil penjualan lukisanmu." Dia memberikan hasil penjualan lukisan berornamen berlian dan bunga kering pada pemiliknya.


Pria bertopi hitam mengangguk. Dia mengambil uang penjualan. Kemudian dia pergi dari taman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2