
Semalam, Luca begadang dengan seteko kopinya. Musisi yang turun tahta dari panggung hiburan itu mengaku sudah mulai tidak bisa tidur karena aku. Suara hatinya terus menggaum-ngaumkan ketelodoran barang-barangnya di lantai yang menyebabkan aku cuti beberapa hari dari latihan balet.
Bukan salahnya, jika clip kertas yang tergeletak di lantai menganga ke atas, kalau dia tau lebih awal, dia pasti akan mendepak clip kertas yang jahanam itu. Begitupun juga aku yang salah juga karena kurang berhati-hati. Sudah kukatakan tidak apa-apa kepadanya waktu itu tapi, dia memaksa akan membawaku ke rumah sakit. Aku menolak karena sisa uangku akan kugunakan untuk makan esok pagi dan membayar tagihan air.
Luca terus merasa gelisah. Rasa bersalahnya membuatnya frustasi. Kedua tangannya terus memukul-mukul kepalanya, hati dan pikirannya. Setengah badanya lebam karna dirinya sendiri. Merasa fisik dan rohaninya tidak baik dan kurang sehat, Luca memutuskan untuk mengunjungiku.
Sedikit informasi, Luca memang tidak tahu dimana aku tinggal tapi dia berusaha mencarinya. Situs internet tidak pernah buta. Apalagi koneksi internet di Swedia sangat terbuka untuk mencari identitas seseorang. Jejak digitalku terpampang nyata dan jelas di dalam peta internet. Semua orang bisa mengaksesnya termasuk Luca. Akhirnya, dengan kemudahan akses internet yang diberikan pemerintah, Luca mengakses semua informasi tentang diriku. Mulai dari biografi, riwayat pendikan, riwayat pekerjaan, alamarku, nomor kamarku, letak kamarku dan sampai tetanggaku pun dia tahu siapa namanya, pekerjaannya dsn berasal darimana. Seperti hidup dalam bayangan Rusia, aku tidak tahu bahwa semua informasi pribadiku bisa diakses oleh siapapun.
'Rosevelt Apartment No. 87.'
Luca mencatat alamat yang tertera di layar komputernya. Kemudian, dia pergi dari kamar apartemen kecilnya.
...***...
Di rumah, aku sedang menonton film bersama Diego. Kami tertawa bersama, sedih bersama dan menangis sendirian. Hanya aku yang menitikkan air mata saat Allie dan Noah meninggal bersama di masa tua. Sungguh akhir film romantis yang mengharukan.
"Hentikan mutiaramu, El." Diego melemparkan kotak tisu disampingnya ke arahku. Sedangkan dia masih sibuk memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.
"Akhir yang sedih sekali. Allie dan Noah harusnya tidak mati di akhir. Film macam apa itu ?," sahutku mengambil bungkus CD film The Notebook di meja. Aku mengelap air mataku. Kemudian, aku mendengar suara pintu terketuk.
__ADS_1
Kutinggalkan Diego untuk sesaat. Setelah aku beranjak dari sofa, dia mengganti film The Notebook dengan film Angel Has Fallen. Polisi yang sedang cuti bertugas sedang ingin memancing adrenali liarnnya naik. Maklum saja, Fast and Furious versi terbaru masih belum dirilis di bioskop.
Saking memancing adrenalinnya, suara tembakan dari film itu membuatku tersentak. Suara tembakan bertubi-tubi dari televisi membuat soundtrack kedatangan Luca ke rumahku jadi suram. Pasangan musisiku yang sedang cuti bersuara sedang apa ke apartemenku ?. Aku rasa, sekarang, bukan waktu yang tepat untuk menggobrol.
Kusambut saja kedatangannya dengan ramah. Aku menyuruhnya duduk. Sedangkan aku, akan menghilang dari hadapannya sejenak untuk membuatkan segelas teh hangat.
"Luca, tehmu pakai gula atau tidak ?." Luca menggeleng.
"Amor, ambilkan aku selai kacang." Diego tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan. Telunjuknya menunjuk laci atas dapurku.
"Ada lagi yang ingin aku ambilkan ?," tanyaku yang sudah mengambil sekaleng selai kacang.
"Tidak, Amor. Antarkan selainya padaku dan urus tamumu."
"Duduk yang tenang saja. Aku akan mengusirnya dari rumahku," mendorongnya duduk bersantai di ruang tamu. Aku memberikan secangkir teh hangat di tanganku ke tangannya. Kemudian, aku langsung mengeksekusi Diego keluar dari rumah.
Pacarku yang keren, penyabar dan sedikit bodoh tidak pernah cemburu pada kedatangan Luca. Padahal, pria manapun akan cemburu kalau pacarnya mengusir dirinya untuk tamu laki-laki. Pikirannya pasti kemana-mana. Ada yang berpikir selingkuhan dan ada juga yang berpikir simpanan. Benar-benar pikiran yang menjijikkan.
"Luca!. Mari kita menggobrol. Maafkan dengan gangguan kecil tadi," kataku gugup. Aku berlari ke depan televisi, mematikan filmya dan mengambil bantal kursi.
__ADS_1
Setelah aku duduk santai berhadapan dengan Luca, aku langsung mengoceh menceritakan apa yang kulakukan hari ini, siapa Diego, apa hubunganku dengannya dan apa yang terjadi disana sangatlah familiar. Luca tidak perlu berkata apapun selain duduk menatapku diam.
Sebenarnya aku takut, dia jadi pendiam seperti itu, bisa saja dia mengomel kalau aku ini cerewet atau aku terkesan menjadi pusat perhatian yang mencoba untuk tidak membuatnya marah. Lepas dari itu, aku terkejut dengan sikapnya.
Luca berdiri dari kursinya. Tangannya meraih bantal duduk yang kupangku di paha. Kemudian, menaruh bantal lembut di kakiku yang masih diperban.
"Ya Ampun, kau tidak usah melakukan itu," jawabku mengibas-ngibaskan tangan di ruang kosong antara kakiku dan kepalanya yang tertuntuk.
Luca mengerti apa maksudku. Dia mengambil kertas dan spidol. Lalu, mengatakan maksud kedatangannya kemari.
Katanya, dia akan mengantarku ke dokter. Berjaga-jaga jika luka yang kuperban akan menyebabkan tetanus. Jika itu sampai terjadi, dia pasti yang akan menjadi pihak paling bersalah dibandingkan lainnya. Karena bagaimanapun juga kaki lembut yang terluka itu mengalami insiden di kamar apartemennya yang kecil.
Memang, susah-susah gampang membujukku pergi ke dokter. Dari kecil, aku tidak mau pergi ke dokter karena aku takut disuntik. Siapapun yang hidup di dunia ini juga takut merasakan rasanya jarum suntik yang masuk ke dalam kulit. Aku tidak mau membayangkan hal itu.
Siang ini, aku duduk di bus bersama Luca. Orang-orang yang berada di dalam bus sibuk dengan dirinya sendiri. Bermain musik kecil-kecilan mengetuk-ngetuk bangku bus, membaca buku, mendengarkan lagu lewat earphone, memperhatikan jalan dan melamun sepertiku. Sepanjang perjalanan, aku merasa lemas sekali, aku kehilangan semangat. Aku terus berdoa agar dokter tidak menyuntikku atau memberikanku infus selang karena luka di kakiku.
Suara dehaman rem bus menyadarkan Luca. Beberapa orang turun di halte yang sama denganku. Luca sudah berdiri, dia berjalan duluan tapi, aku masih jalan pincang turun dari bus.
Turun dari tangga bus saja, aku merasa nyeri. Rasa ngilu yang menusuk kakiku benar-benar tidak tertahankan lagi. Peganganku di pintu bus terlepas. Aku terjun bebas menuju dasar trotoar tapi, langsung tertangkap oleh pelukan Luca.
__ADS_1
Berpelukan dengan Luca, rasanya seperti angin menyapu dedaunan kering yang terjatuh dari rantingnya, aku memeluknya erat dan menatapnya sesekali sampai aku dilepaskan dari pelukannya dan kami mulai bertingkah sok tidak saling kenal.
...***...