Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 11


__ADS_3

Ini harinya. Hari selasa malam rabu, di ruang kelas balet, aku meregangkan kakiku bergantian, kepalaku menunduk dan sesekali mengambil nafas.


Lima meter di depanku, Nyonya James dan Leonif duduk manis bersandingan menunggu pertunjukkan tarianku.


Ujung bolpoinnya berulang kali mengetuk-ngetuk kertas yang ditempel di atas papan data kayu. Di pangkuan Leonif, sudah ada lembaran penilaian tarianku.


"Show me the dance!."


Aku mengangkat kepalaku tegak. Melemaskan kedua bahuku, melambai-lambaikan lenganku bergantian dan menoleh ke kiri sambil mengangguk pelan.


Ketukan awal permainan musiknya segera masuk mengiringi langkah baletku. Kaki kiri melangkah ke depan, sedikit berjinjit dan kedua lengan merentang ke atas menyatu bagai leher angsa.


Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Aku terus berhitung dalam hati menghitung langkahku di lantai. Bayangan tubuhku terpantul lemah gemulai. Seperti aku masuk ke dalam simponi alunan musik, aku menutup mata sambil menampilkan raut muka yang bercerita.


Nyonya James menoleh pada Leonif. Guru kelasku berbisik pada bentuk improvisasi ekspresi wajahku. Katanya dalam suara kecil, aku menambahkan jiwa dan emosional pada tarianku. Jika ada pengamat kompetisi balet meloloskan diriku, pangkatnya akan segera terancam.


Kedua mata lembut Leonif segera melotot marah mendengar laporan Nyonya James. Dia menyelipkan bolpoin di sela jepretan papan datanya.


"Hentikan, Elle!," teriak Leonif.


Aku menghentikan langkah tarianku di tengah. Nafasku tersenggal-senggal. Dahiku mengeluarkan keringat. Sedangkan Luca menatap penasaran pada situasi tak nyaman ini.

__ADS_1


"Ada yang salah, pak ?."


"Jangan berikan ekspresi berlebihan. Penari balet harusnya tidak menaikkan emosinya di atas dua kelopak mata." Leonif menghampiriku. Dia menyentuh bahuku bergantiaan.


"Maafkan aku, pak. Bisakah aku ulangi lagi ?," tanyaku sedikit takut.


"Tidak perlu. Kita langsung ketemu saja di panggung balet teratai di Stockholm."


Leonif berbalik meninggalkanku. Nyonya James yang barusaha menjebakku sedang kebingungan mencerna keputusan master balet itu. Sudah susah payah dia mengolah kesalahan emosi menjadi alasan agar aku turun dari panggung kompetisi balet teratai di Stockholm.


Dari dalam kelas, aku mengintip Nyonya James yang mengejar Leonif ke pintu keluar gedung. Dia kelihatan sedang susah payah membujuk Leonif agar merubah keputusannya.


Sementara aku berada dalam keheningan di dalam ruang kelas, mendadak, aku mendengar alunan lagu El Perdedor yang dipopulerkan Enrique Iglesias dan Marco Antonio Solìz menyerbak di seluruh ruangan.


Tapi, sudah terlambat, aku merasakan jari jemari Luca yang menyatu dengan sepuluh jariku secara perlahan.


Memang benar, aku tidak melihatnya di depan wajahku, tapi, aku merasakan, dada bidangnya menabrak punggungku dari belakang dan dengan santainya, dia mengangkat kedua telapak kakiku di atas punggung kakinya. Lalu, kami mulai melakukan langkah tarian yang tak ernah dilihat Leonif maupun mata orang lain.


Selama alunan lagu El Perdedor terus tergiang memenuhi ruangan, aku terus mengatur langkahku bersahutan dengan Luca. Tak kusangka, dia penyanyi yang sombong dan bisu ini bisa juga melakukan dansa kecil.


Gerakan tari yang terus menyentuh bahu, pinggang dan kaki menyuruh aliran darahku untuk memukul-mukul jantungku berdetak lebih cepat lagi. Sepetinya tubuhku menyuruhku untuk membuktikan bahwa keringat yang bercucuran dari dahiku harus menetes di kaos abu-abu Luca atau setidaknya disapu lembut oleh jari jemari Luca.

__ADS_1


"Apa yang sudah terjadi ?." Aku melepaskan kedua lenganku yang menyandar dibahunya.


Dengan sedikit gagap dan penuh ragu, aku berlari keluar dari ruang kelas. Kemudian menuju ke kamar ganti.


Maksud hati ingin menghilangkan deguban jantung ini, Diego malah datang kepadaku membawakan seikat bunga.


"Selamat, amor. Kamu lolos ke tahap akhir," peluknya erat dan mencium pipiku.


"Makasih, amor," mengambil seikat bunga yang dijulurkan padaku. "Kamu tidak kerja ?."


"Tentu saja, polisi ini sedang bertugas. Aku kebetulan lewat dan berpapasan dengan Nyonya James di jalan."


Luca keluar dari ruang kelas sambil mengelap keringat. Pacarku tersayangku Diego yang melihat sesosok laki-laki keluar dari ruangan sama denganku penuh keringat yang bercucuran membuat kepalan Diego melayang ke wajahnya.


Tuhan!. Tolong maafkan aku karena tak bisa mencegah polisi bertugas memukul seseorang. Sudah kubilang padanya untuk tidak main pukul melihat laki-laki yang dekat denganku. Akhirnya jadi berantakan di rumah sakit kan.


Dokter jaga yang menangani Diego dan Luca tak bisa berbuat banyak, kecuali mengancam menyuntikkan cairan penenang pada mereka berdua. Diego terlalu emosi sehingga aku harus selalu berada disisinya agar tidak memangsa Luca.


'Maaf ya,' sahutku tanpa suara pada Luca. Dia merespon dengan anggukan.


Obrolan kami berakhir dengan perawat yang menarik kelambu putih pembatas antar pasien.

__ADS_1


...***...


__ADS_2