Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 18


__ADS_3

Di bawah atap restoran, di pinggiran Stockholm, aku menabrakkan gelasku pelan pada gelas Luca. Pria yang masih memakai bantuan tongkat berjalan memberi tahuku bahwa operasinya berhasil.


Luca meletakkan gelasnya di meja. Tangannya beranjak mengambil buku saku dan bolpoin di saku jaketnya. Kemudian, dia menulis perasaannya.


"Aku sembuh, El!" menyodorkan buku sakunya padaku. Aku tersenyum.


"Selamat, Luca. Berarti kamu kembali lagi ke studio dong,"


Luca menarik buku sakunya. Dia menulis semua kata yang ingin dia ucapkan. Sebuah komunikasi yang terus berulang.


"Begitulah,"


"Apa manajermu tidak kaget ? Suaramu 'kan berubah, Luc ?"


"Memang sedikit berubah. Tapi, jujur saja aku sangat menyesal telah berbohong padamu kalau aku mengambil pita suara Diego."


Luca tertunduk malu. Raut wajahnya sedih sekali. Seakan-akan dia telah melakukan perampokan bank.


"Kenapa kamu ceritakan itu padaku ?"


"Karena aku harus berterima kasih padamu, Dokter Rafael dan Diego yang memberikan pertolongan padaku. Di nafas terakhirnya, Diego sendiri yang mengatakan pada dokter bahwa dia ingin menjadi pendonor organ setelah dia meninggal."


Tak bisa kupercaya, Diego menjadi pendonor organ ? Sejak kapan dia berpikiraan seperti itu. Tidak kasihan kah dia pada ayah ibu Lopez yang sangat jelas menolak tubuh anaknya menjadi uang.


Aku tidak tau seberapa banyak uang yang masuk ke rekening Diego setelah ia tiada. Mungkin jumlahnya sudah ribuan Euro. Yang jelas, keluarganya akan senang dan sedih menerima kenyataan bahwa Diego menjadi kaya setelah tiada.


...***...


Di bank, Heidi dan keluarganya melongo melihat isi rekening Diego yang melonjak drastis. Angka nolnya terlalu banyak.


Ibu Lopez sampai pingsan melihat jumlah uang itu.


"Heidi, apa kamu tau darimana uang ini berasal ?" tatap Ayah Lopez curiga pada angka nol yang terlalu banyak.


"Tidak, ayah. Mungkin kakak melakukan pekerjaan sampingan,"


"Apa dia menjadi perampok agar kaya ? Maksudku adalah apakah dia menjadi keduanya ? Polisi dan perampok ? " Heidi hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


Manajer bank Stockholm memanggil keluarga Lopez untuk masuk. Pria tua yang bernama Pak Bank memberikan hadiah utama berupa satu buah mobil keluarga. Kunci mobil Honda Odyssey Touring Elite warna silver jatuh ke tangan Tuan Lopez. Beruntung sekali keluarga itu.


Bak tertimpa pohon emas, keluarga Lopez juga mendapatkan bonus lainnya di Bank Stockholm. Buku rekening Diego diperbaharui. Dia dipindahkan ke bagian deposito. Tujuannya agar mereka masuk ke dalam pelanggan terbaik Bank Stockholm.


Di hadapan customer service, keluarga Lopez diam. Mereka sedang melihat wanita cantik yang sedang sibuk menginput data di komputer.


"Mau sekalian dibuatkan kartu kredit ?"


"Kami sudah punya," jawab Ayah Lopez.


"Visa card, mungkin pak ? Kebetulan kami baru meluncurkan visa card terbaru. Biayanya lebih murah."


"Tidak, Nona. Kami hanya mau mengambil hadiah kami."


Customer service segera memproses pencairan dana tiga ribu euro atau sekitar lima puluh satu juta rupiah untuk dibawa pulang. Keluarga Lopez tidak sabar belanja ke mal sambil berkeliling kota dengan mobil barunya.


Dua puluh menit kemudian, uang tiga ribu euro dari rekening Diego cair. Teller memberikan buku tabungannya dan segeralah, keluarga Lopez melakukan aksi jalan-jalannya.


...***...


Merasa kesusahan meladeni Luca yang masih bergantung pada buku saku, aku menyuruhnya untuk tidak menulis lagi.


"Cobalah mengatakan satu hal," Luca menggeleng.


"Tidak ada salahnya, Luc. Aku bisa membantumu," sahutku lagi.


Aku sudah seperti ibu yang mengajari anaknya bicara. Mulutku mengatup, mengeluarkan satu kata yang terus diulang-ulang.


Telingaku agak gatal saat suara serak-serak basah milik Diego menyerobot masuk ke telingaku begitu saja. Aku malahan berpikir tidak berhadapan dengan Luca tapi dengan Diego.


Terus menerus mengajari bicara ternyata melelahkan juga. Aku harus minum segelas air putih lagi.


Pukul 15:00. Ini waktunya bagiku untuk kembali ke tempat latihan balet. Aku yakin Nyonya James dan teman-teman lainnya menungguku latihan. Jujur saja, aku masih tidak percaya, Leonif memilih Mary untuk pergi ke Inggris.


Kalau Luca ingin seharian di restoran, tidak apa-apa. Aku akan pergi. Kelihatannya dia merasa nyaman saat menatap makanan sendirian.


Tangan Luca mencegahku pergi. Kode fisik yang menyuruhku untuk tetap tinggal kubalas dengan debat kilat. Luca tidak mengerti. Aku harus pergi latihan balet. Jika dia merasa keberatan, dia pergi ke tempat lain. Tapi, tidak perlu memegang tangan seperti ini. Kita tidak tau apa yang sedang mengintai di meja paling pojok.

__ADS_1


Seorang pria memotret kami dengan ponselnya. Pria itu yakin fotonya akan nenjadi viral saat Luca sedang memegang tangan perempuan. Itukan dapat menjadi bukti kuat bahwa Luca memang berbohong akan status dirinya di internet.


Dalam sekejap, foto itu menyebar dan trending di wall internet. Papan trending dengan hastag lucalies jelas membuatku jadi sasaran perhatian saat tiba di kelas balet.


"Apa ini benar ?" Nyonya James menunjukkan foto berpegangan tangan di internet.


"Itu bukan saya, Nyonya James,"


"Berhentilah berbohong. Kamu di skors."


Nyonya James menskorsku hanya karena foto itu. Apa dia gila ? Itu hanya bentuk perhatian biasa yang umum di depan publik. Mengapa hanya karena menolong Luca hidupku yang jadi terbalik ? Aku perlu berpikir.


Duduk sendirian di taman tidak membantu apa-apa. Aku hanya melamun lalu menangis.


Selembar sapu tangan direntangkan dipahaku. Lembaran kain tipis warna putih yang menyerap bulir-bulir mataku membuat tangisanku jadi bahan tertawaan.


"Boleh aku duduk ?" Buku saku disodorkan di atas sapu tangan. Aku menghapus tangisku.


"Ya, kamu boleh duduk,"


"Mengapa kamu menangis ?" Luca mengembalikan catatannya.


"Aku di skors."


Sudah susah berjalan, Luca masih merasa dia menyalurkan karmanya padaku. Kalau dia tidak memegang di tanganku di restoran tadi. Aku tidak akan menjadi trending di Stockholm dan akun Luca juga tidak akan diserbu komen penggemar.


Cobalah melepaskan dan berpikir positif. Luca mengatakan dalam cacatannya. Dia baru saja mendapat pelajaran dari jatuhnya karirnya. Kalau ketenaran bukan apa-apa selain perilaku kita sendiri.


Pria yang masih memakai tongkat jalan itu baru sadar kalau album barunya tidak terjual laris karena perilaku buruknya sendiri. Kehilangan pita suara karena kecelakaan, membeli pita suara seseorang dan hidup pas-pasan adalah akibat dari perbuatannya.


Kalaupun skorsing terjadi padaku, itu bukan salahku. Itu salah Luca.


Untuk menebus perasaan bersalahnya, dia ingin mengajakku menenangkan diri di North Stockholm. Dia dengar kawasan hijau disana sangat cocok untuk menjernihkan pikiranku.


Namun, lagi-lagi, rencana peleburan sesal itu batal setelah aku melihat kaki luca yang masih diperban dan pita suaranya yang masih dalam pengobatan.


Jika tidak keberatan, aku akan menemaninya menjalani pengobatan ke rumah sakit. Lagipula, aku yang bertanggung jawab pada pengobatannya selama ini.

__ADS_1


Luca mengangguk setuju. Dia senang ada seseorang yang menemaninya.


...***...


__ADS_2