Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 21


__ADS_3

Denis harap Luca segera berubah. Keputusan menjadi orang lain yang melawan kodrat Tuhan itu tidak baik.


Saat melihatku selesai beribadah. Hatinya merasa tergerak. Seperti ada setruman listrik statis yang menjalar kuat di dalam relung hatinya. Apa namanya ? Dia tidak kunjung menemukannya di google.


"Sedang apa ?" menegur Luca yang sedang main hp di dalam gereja.


"Mencari sesuatu," sahutnya sibuk menekan satu per satu link yang menjelaskan gejala debaran itu.


Denis menggeleng tidak mengerti. Maksud Luca apa ? Mencari sesuatu di google akan gejala penyakit itu sangat tidak akurat. Beberapa hari yang lalu, dia melakukannya. Sakit perutnya bertambah parah dan dia langsung opname.


Karena penasaran, Denis bertanya lagi pada Luca. Kali ini pertanyaannya lebih rinci.


"Kamu sedang mencari konten ?" sandarnya di punggung kursi panjang. Dia melihat jemaat gereja bergantian menyalakan lilin.


"Tidak," geleng Luca.


"Sudah diputuskan ? Mau jadi gay atau normal ?"


Terbesit begitu saja. Pemikiran menjalin komunikasi dengan orang sejenis menganggu konsentrasi Luca. Bagaimana dia bisa mengangguk iya kalau di depannya tepat tiga meter dari tatapannya ada aku yang sedang berjalan menuju ke pintu keluar.


Mata yang tertunduk malu, senyum tipis dan langkah mungil yang sedang berjalan melewatinya tidak bisa Luca hindari. Berkat bantuan keuangankulah, suaranya bisa kembali berkicau. Namun, dia malu untuk menyapa.


Sudah terlanjur mengatakan pindah ke rumah lamanya. Dia tak sanggup menjawab pertanyaan lain yang akan kuajukan.



"Den, berbaliklah ke arahku," kata Luca panik. Dia melihatku sudah dekat ke arahnya.


"Apa ?" tanyanya bingung.


"Balik badan, Den!"


Punggung lapang Denis menatap wajah Luca. Teman baru Luca ini santai saja membelakangi temannya. Memang penasaran ada apa dan kenapa sih, tapi, saat dia beranjak ingin menoleh, Luca menjitak kepalanya.


Woi! Denis mengumpat kesal.


Aku yang melihat dua orang laki-laki sedang ribut di gereja hanya melirik sekilas. Bukan urusanku bila sebentar lagi banyak jemaat yang akan menegurnya.


Abaikan saja, Elle.


...***...

__ADS_1


Di depan pintu masuk gereja, perempuan tinggi kurus dengan mobil merah yang dijadikan sandaran punggungnya sedang menoleh ke kanan kiri mencari seseorang.


Sudah tiga puluh menit, ia berdiri di bawah sinar matahari tanpa sunblock. Entah seberapa belang kulitnya menyerap uv matahari.


"Heidi!"


Aku melambai dari depan pintu gereja. Kusenyumi saja dia dari kejauhan. Hitung-hitung mengurangi omelannya yang kadang pedas bak cabe rawit.


"Maaf ya, agak lama," mendorongnya masuk ke mobil.


"Lama banget, El. Aku terbakar nih," keluh Heidi. Dia sudah duduk di belakang kemudi sambil menyetel pendingin di depan jok mobil.


"Oh, iya ?" menarik lengan kirinya. Memutar sedikit ke kanan dan ke kiri mencari bercak kemerahan. Ciri yang biasa dialami orang yang terlalu lama terpapar sinar matahari.


Heidi mendorong tanganku yang meranjah itu. Tidak ada kemerahan alias bercak. Sekujur tangannya panas. Hanya itu.


Sepanjang perjalanan dari gereja menuju mall. Heidi tidak berkata sepatah katapun. Aku mulai curiga, ia benar-benar marah padaku.


Aku mencoba memancingnya dengan berita gosip idolanya, Eminem. Rapper Amerika Serikat yang pernah berkolaborasi dengan Rihanna adalah dewa bagi Heidi. Setiap kami pergi, selalu ada lagu full eminem


di radio mobilnya. Hari ini pun, aku masih mendengar lagu "Not Afraid" dari Eminem di putar di mobilnya.


Pada saat kami sedang asyik diskusi Eminem. Sekilas info tentang Luca melesat bagai nyamuk. Ingin kutepuk radio itu tapi aku sadar. Itu milik Heidi.


Kalau kutepuk penuh kekuatan. Tangannya yang bakal menamparku sampai babak belur.


Penyiar radio 76.90 FM mengabarkan Luca menjadi gay. Dari mana paparazi mendapatkan info konyol begitu. Aku menggeleng-geleng tidak percaya sambil tersenyum.


"Jangan sedih ya. Luca jeruk makan jeruk," sindir Heidi.


"Eh ! Maksudnya apa ?" menekan klaksonnya panjang. Lalu, dia menepikan mobilnya.


Suara sirine polisi terdengar nyaring di kedua telingaku. Suara itu datang dari belakang mobil dan, Wala! Seorang polisi patroli mengetuk kaca mobil disampingku.


Akhirnya, Heidi dan aku keluar dari mobil. Kami berdua berdiri sejajar di trotoar. Sambil menunduk malu, kami mendengar omelan pak polisi karena berhenti dan klakson mendadak.


"Sudah tau kesalahan adik-adik apa ?" tunjuk pak polisi berkumis dengan gagang kacamatanya bergantian pada kami.


"Salah kami apa ya, pak ?" sahutku mengangkat kepala.


"Membunyikan klakson dan menabrak mobil saya," menunjuk bamper depannya yang ringsek.

__ADS_1


Masalah kecil berpelanggaran ringan seharusnya bisa diselesaikan dengan "fulus". Banyak sudah anggota polisi yang Heidi sogok agar bisa lepas dari tuntutan hukum. Denda lima ratus ribu lebih berfaedah dibelikan batagor daripada menyumbang pembangunan negara. Begitu pikir Heidi.


Hari ini kami tidak bernasib mujur. Polisi patroli berkumis yang menegur kami menolak diberikan tunjangan ganti rugi. Menurutnya, Heidi harus ditilang. Kalau masih mau menolak mobilnya langsung diderek. Kusaksikan sendiri di depan mataku tanpa kedip.


"Ini semua salahmu, El," melipat kedua tangannya dan cemberut marah.


"Salahku ?"


"Kalau kamu tidak mengklakson panjang karena Luca. Kita tidak akan berjalan kaki sampai rumah."


Duh! Jadi tidak enak hati. Karena emosionalku, sahabatku jadi pejalan kaki.


Kutawarkan lima puluh ribu untuk ongkos pulang naik kendaraan umum tetapi dia menolak dengan alasan tidak menerima pemberiaan.


Cara kedua, menemaninya jalan kaki sampai ke rumahnya. Meski akibatnya pahaku akan membesar setelah olahraga dadakan ini, aku ikhlas menerimanya. Karena setelah kupikir-pikir, benar juga. Ini memang salahku.


...***...


Kediaman Denis dan Rosa nampak ramai. Banyak tetangga kamar apartemennya yang sengaja datang untuk bertemu Luca. Mereka bersalaman, berfoto bersama dan makan-makan.


Di tengah pesta, ada seorang pria yang beranting mendatangi Luca. Dandanannya nampak feminim dengan bedak dan lipstik. Sebelum dia menatap targetnya, dia cek sound bau mulut di telapak tangan.


Rosa melihatnya dari jauh. Bahunya naik turun menatap jijik pada pria berbedak di samping Luca.


Sebelum terlambat, Rosa bergegas kesana. Dia menitipkan nampan kuenya di salah satu tamu. Kemudian merentangkan tangan kirinya sebagai pembatas antara Luca dan si banci.


"Eh, berhenti disitu!" cegah Rosa.


"Permisi, saya mau menemui Luca," katanya.


"Iya boleh tapi jangan genit ya," timpal Rosa memperingatkan. Dia mengangguk.


Tamu feminim laki-laki yang melewati garis pembatas tangan Rosa berjabat tangan dengan Luca. Awalnya mereka berbincang-bincang biasa. Namun, lama-kelamaan, gerak-geriknya mencurigakan.


Dia berbisik ke telinga Luca sambil tersipu malu. Mencoba untuk merangkul lengan temannya, pensiunan penyanyi itu merasa risih. Memang tidak secara langsung dia bilang benci pada laki-laki feminim tetapi wajah canggung Luca mengisyaratkan diq tidak nyaman.


Hanya sekali gamparan, Rosa berhasil melemparnya ke pojok ruangan. Tepat di atas meja yang terbelah menjadi dua.


Dalam keadaan terlentang setengah sadar, dia mengatakan alasannya pada Rosa kalau dia ingin bergaul dengan Luca karena punya kesamaan penyimpangan kodrat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2