
"Siapa diantara kalian yang sakit ?."
Aku langsung menujuk Luca. Sedangkan dia sendiri menunjukku balik. Apa-apa an Luca itu ? Harusnya dia sadar diri.
Dokter Rafael membenarkan kacamatanya. Sekarang, dia sudah tau mana yang sakit. Pertama, di barisan paling atas, dia menulis namaku dan di baris kedua ditulis nama Luca. Bagus sekali, aku merasa sudah sakit seperti anak kembar bersamanya.
Tangan Dokter menunjuk ke ranjang periksa. Luca langsung menarikku berdiri. Pelan-pelan, dia menuntunku ke ranjang periksa. Lalu, membantu merebahkan badanku di ranjang.
Sebelum dia pergi duduk di depan meja dokter, tangannya mengenggamku. Kode perhatian darinya agar aku tidak gugup sangat tidak berefek. Aku masih gugup dan menjerit begitu stetoskop dokter menempel ke dadaku.
"Tidak apa-apa, Nona. Aku hanya memeriksa saja." Dokter Rafael dicegah Luca. Pria yang masih tidak bersuara menyeret perhatian dokter ke kakiku yang diperban.
Apa-apa'an si Luca. Mengapa dia memanggil dokter ke luka diperban itu ? Jadinya aku akan disuntik, bukan ?.
Dokter Rafael mengangguk paham. Tidak perlu memakai stetoskop untuk luka seperti itu. Dokter spesialis penyakit dalam yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah sakit sangat paham bagaimana mengganti perban dan menjahit sedikit di bagian kakiku yang terluka.
Sekitar sepuluh menit, dokter bekerja mengobati lukaku. Telapak kakiku sudah lebih dari sebelumnya. Aku diberikan tongkat jalan oleh dokter Rafael agar aku tidak suka membenturkan telapak kaki yang diperban di lantai.
Untuk sementara waktu, aku dilarang menari balet, jogging maupun kegiatan lain yang melibatkan perjalanan jauh dan intensif. Tujuannya untuk mencegah agar otot kakiku tidak gampang berubah dan goyah dalam masa perawatan.
Setelah aku diperiksa, kini giliran Luca yang kupaksa periksa. Aku tidak mau sakit sendirian kalau dia juga tidak mau periksa.
Dokter Rafael curiga pada Luca. Saat diperiksa, pria itu tidak mengeluarkan suara.
"Nona, dia sakit tenggorokan ?," tanya dokter padaku.
"Tidak, dok. Dia bisu," sahutku.
__ADS_1
Dokter menatap wajah Luca. Jari jemarinya meraba leher dan dia temukan tidak ada gejala kebisuan seperti benjolan atau kelemasan otot leher yang biasa diderita pasiennya yang bisu.
Agar lebih yakin, dokter menyuruh Luca membuka mulutnya. Sinar senternya melihat bahwa pita suara luca sedang bengkak. Seperti terkena benturan benda keras yang mengenai tenggorokannya.
"Teman anda tidak bisu, nona. Pita suaranya sedang istirahat."
Luca bangun dari ranjanh periksa. Pria yang berwajah lebih ceria bergegas menyusul dokter dan duduk disampingku.
"Saya sarankan agar Luca segera melakukan terapi pita suara. Sementara itu, saya akan resepkan obat. Minum teratur dan datang 3 hari lagi." Dokter Rafael menyobek resep yang ditulisnya saat sedang bicara pada kami.
Luca mengambil sejumlah uang dari dompetnya. Hanya tertinggal beberapa lembar uang untuk makan malam sampai besok.
Dia rasa, dia akan mengambil pekerjaan di pertunangan Lex dan manajernya.
Selesai mengambil resep dan dokter menerima uangnya, kami berdua berjalan keluar. Dokter yang sadar akan kepergian kami mendadak memanggil kami kembali untuk suntikan vitamin, khusus untuk diriku.
Jarum suntik diketuk-ketukkan pelan dengan jarinya, dokter ingin memastikan tidak ada cairan yang menyangkut di sisi-sisinya. Aku melihat jarum tajam pipih sedang menusuk lenganku. Tanganku sontak menarik lengan jaket Luca dan dia hanya melihatku menahan rasa sakit.
...***...
Leonif datang menginjak rumah besarnya. Pria tua tinggi kurus yang menyimpulkan lengan sweaternya di depan dada dan di bawah leher melambai tegas pada Frank dan Rosa.
"Apa yang membawamu kemari ?," tanya Frank.
Rosa sedang menuangkan teh rosela merah ke tiga cangkir kosong secara bergantian. Diletakkannya teko pelan-pelan di meja, kemudian, dia duduk disamping suaminya menatap Leonif penuh curiga.
"Frank ?," tegur Rosa pada Leonif yang sangat menikmati seduhan teh rosela.
__ADS_1
"Aku kagum teh buatanmu mirip seperti teh buatan ibu kita," puji Leonif.
"Jangan berbelit-belit, katakan maksudmu kemari." Frank mengulangi pertanyaannya tadi.
"Dengan penuh rasa bersalah, aku ingin meminta maaf perlakuanku bertahun-tahun lalu pada kalian. Sungguh, aku sangat menyesal dan aku ingin memperbaikinya."
"Apa ?." Rosa membersihkan telinganya yang kotor. Dia tidak percaya Leonif mengucapkan kata maaf.
"Aku ingin Luca memanggilku ayah. Aku ingin dia pulang."
Rosa dan Frank meneguk teh rosela merah tanpa gula. Mereka memakan sandwich selai blueberry hingga dua potong demi mencoba percaya bahwa Luca akan kembali ke ayah kandungya. Lalu, mereka akan menjadi pasangan tua yang menyedihkan.
...***...
Sepulang dari rumah sakit, aku dan Luca kepergok Diego. Pacarku menatapku benci. Secara sengaja, dia menggendongku pergi dari sisi Luca dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Ego, kita ?."
"Pulang."
Diego segera menancap gas mobilnya. Mobil sedan putih yang memberi tumpangan padaku melaju kencang meninggalkan rumah sakit.
Mobil itu sudah jauh hingga aku kepikiran bagaimana keadaan Luca disana. Apa dia baik-baik saja ? Kartu metronya ada di tasku. Tidak mungkin dia akan naik kendaraan umum. Mungkinkah dia nekat jalan kaki pulang ke apartemennya.
Setelah aku pergi jauh, Luca berencana naik transportasi umum atau jalan kaki. Tidak ada gunanya jika dia naik taksi yang bisa membuatnya kelaparan esok pagi.
Demi mempertahankan sesuap nasinya esok pagi, pria itu terpaksa menerima tumpangan dari Leonif. Pengamat kompetisi ballerina nasional di Stockholm membawanya pergi dengan dalih ingin membicarakan pekerjaan.
__ADS_1
Beruntungnya, Luca menurut.
...***...