
"Maaf, anda siapanya Luca?"
Perempuan jalang yang duduk di resepsionis menanyakan hubunganku dengan pasien bisu disampingku.
Tidak bisakah dia mengenali, aku dan Luca. We're just friends ! Seperti lirik lagu yang dinyayikan Anne Marie.
Beruntung, hari ini, aku masih diberkati kesabaran. Melihat Luca kesakitan saat di suruh bicara. Aku jadi meringis kesakitan sendiri. Meski jauh, aku merasakan penderitaannya.
"Sorry, Miss. Minggir sebentar bisa ? Masih ada pasien lain yang harus saya layani," sindir resepsionis jalang yang melirikku bergeser menjauh dari meja bulat kekuasaannya.
Eh, siapa juga yang ingin berlama-lama dekat dia. Menyentuh mejanya saja aku tidak sudi. Berhubung ini menyangkut masalah pengobatan Luca, aku memilih mengalah.
Setelah menunggu setengah jam, pintu ruangan pemeriksaan Luca dibuka. Para dokter, perawat dan mesin-mesin medis dikeluarkan dari ruangan steril yang menyandera temanku itu.
Pria beruban paling depan yang menggiring para tenaga medis dibelakangnya memanggilku. Dokter Rafael mengatakan untuk tidak menemui Luca saat ini. Karena, dia ingin membicarakan beberapa keluhan dan perkembangan pasiennya.
Aku mengangguk pelan mengiyakan perintah dokter. Langsung setelah dibubar barisan oleh Dokter Rafael, para tenaga medis yang mengekorinya memilih pergi ke ruangan lain. Ada pasien mereka yang harus ditangani. Selain menyelesaikan masalah pengobatan mantan artis remaja itu. Sedangkan aku berjalan ke ruangan konsultasi pribadi bersama Dokter Rafael.
Ruang konsultasinya masih sama. Putih, bersih, steril dan bau antiseptik yang pekat. Hidungku mulai ngilu saat dokter menurunkan suhu pendingin ruangan.
"Kedinginan, Elle ?" tatapnya pada kedua telapak tanganku yang terus menggosok satu sama lain.
"Tidak, Dok," gelengku pelan.
"Ada hal serius yang ingin aku bicarakan," menarik kursi empuk beroda di belakang meja. Dia duduk dan mengambil satu map pemeriksaan bertuliskan nama Luca.
"Silahkan, Dok. Saya menyimak."
Berdasarkan pemeriksaan dua puluh menit yang lalu, pembengkakan pita suara Luca berhasil mereda. Para dokter di rumah sakit sudah memberikan obat generik khusus untuk menurunkan rasa sakitnya. Namun, pita suara yang didonorkan padanya sepertinya akan bermasalah. Jika Luca meluruskan niatnya untuk kembali bermusik.
Harusnya, berita ini adalah berita baik. Reaksi Dokter Rafael yang menundukkan kepala. Memberi wajah sedih mulai membuatku kepikiran aneh-aneh. Memangnya, apa yang akan terjadi bila Luca kembali bermusik lagi. Bukannya itu bagus ? Dengan begitu hidupku kembali normal dengan tetap menghujatnya.
Sambil membuka ponsel, mengecek akun twitterku yang masih diblokir, aku menanyakan beberapa hal pada Dokter Rafael.
__ADS_1
"Kapan dia bisa kembali bermusik, Dok ?" kataku berpendapat.
"Secepatnya."
Kalau begitu ceritanya, makin baik saja. Aku harus segera undur diri dari hadapan Dokter Rafael. Hati ini sudah tidak sabar untuk memberikan berita keren ini pada si Luca. Semoga setelah sampai sana, dia berloncat kegirangan dan malah tambah semangat untuk sembuh; harapku.
Sesampainya di ruang perawatan Luca, aku melihat ada sepasang laki dan perempuan sedang berdiri di samping ranjang rawatnya. Wajah mereka tidak familiar. Rambut blonde madu, mata biru, tinggi dan busana yang mereka kenakan bermerek mahal. Kalung rapper emas yang dipakai menggantung hingga ulu hati membuatku yakin mereka dari keluarga kaya.
Perkenalkan, dia Lex. Supermodel trending wall youtube alias mantan pacar Luca. Kedatangannya kemari untuk mengambil sampah hatinya kembali ke rumah besarnya di South Montrel. Kawasan rumah elit bagi kalangan selebritis, model dan jenis manusia lain yang gaji dari pekerjaannya lebih dari lima ratus juta.
Mendengar Luca akan dipulangkan. Aku protes.
"Aku minta uangku dikembalikan," lawanku memotong pembicaraan dua insan pendosa itu.
Lex memicingkan mata padaku. Satu alisnya terangkat. Sedangkan pria disebelahnya menghampiriku dan mencekal lenganku.
"Hentikan, Som!" bentak Luca. Aku, Lex dan pria sangar disebelahku melepaskan tangannya.
"Dia temanku, Lex. Kumohon jangan ganggu dia," kata Luca memohon.
Kedua mata Lex memutar. Permintaan mengesalkan dari Luca, mau tidak mau dia kabulkan. Demi mantannya, dia rela menyuruh Som untuk melepaskanku.
Agak mengherankan memang, ketika Lex tiba-tiba kembali menemui Luca. Bukannya Pena Pedas mengabarkan kalau dia menipu Luca dan menikahi managernya ? Akun instagram gossip itu mana mungkin memberikan berita non akurat. Kalau pengikutnya sudah jutaan. Sebagai netizen, aku percaya dengan berita julitan.
Diam lagi seperti main patung-patungan. Aku dan Som sedang berlomba tatapan. Kira-kira siapa diantara kami yang sanggup bertahan mendengarkan kicauan pertengkaran dan penuntutan hak dari Luca.
Dari awal, Lex mengotot agar Luca kembali bermusik. Album terakhirnya kemarin tidak menghasilkan keuntungan kecuali, ribuan dan ratusan ribu komentar aduan dari para fans.
Kekuatan penyanyi fanatik, rela melakukan apapun agar bisa bertemu idolanya. Fans Luca malah berbalik. Para remaja, fans besar yang mengisi jajaran pendengar setia lagu-lagu Luca mundur satu per satu. Mereka berpikir penyanyi Luca sudah pensiun dari dunia yang membesarkan namanya itu.
"Kembalilah bernyanyi, Luc. Kau akan untung nantinya," bujuk Lex.
Pria bersuara indah itu menunduk sedih. Dia sedang memikirkan apa yang akan terjdi jika suara yang tidak pernah olah vokal akan mendatangkan banyak uang.
__ADS_1
December segera tiba dan Lex tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Tur. Suaminya sudah tidak lagi menjadi manajer Luca. Dia seorang produser musik. Jika Luca benar-benar serius, tentunya kartu nama Lex yang sengaja ditinggalkan di atas meja akan sangat membantu.
"Bagaimana menurutmu ?"
Luca menaikkan kepalanya setelah Lex pergi.
"Bagaimana menurutku ?" menunjuk diriku sendiri sambil berjalan menghampirinya. Aku duduk di tepi ranjang rawatnya.
"Apa aku harus menyanyi lagi ?"
"Bernyanyi itu datang dari hati. Kamu adalah musik itu, Luc," memegang pipi kanannya dan tersenyum menatapnya.
Aku benci berada di situasi ini. Ada beberapa alasan khusus mengapa harus dia sendiri yang memutuskan untuk kembali bermusik atau tidak. Dia yang menjalaninya. Tak pantas bila Luca mencari jawaban pada perempuan dihadapannya yang sengaja membunuh hati dan perasaannya sendiri. Karena banyak mendapat rasa kecewa, kesal dan malas, aku jadi malas melibatkan perasaanku dalam membantu orang lain. Perasaan ini sudah banyak dipermainkan. Jangan sampai, apa yang terjadi padaku juga terjadi pada Luca.
...***...
"Hambar! Kurang Manis!"
Shidiq membentak Arohi. Penyanyi amatiran yang dibawa suami Lex ke studio musik.
Perempuan dari Nagar itu merasa ketakutan di dalam ruang rekaman. Ia ingin melanjutkan dan mengulangi lirik lagunya tetapi, Lex memerintahkan semua orang di ruang rekaman keluar kecuali dia dan istri.
"Ada perubahan ?"
"Tidak ada," geleng Lex.
"Sia-sia saja kita kesana," sesal suaminya.
Lex tersenyum mendengar keluhan suaminya. Memang itu yang dia rencanakan. Untuk membangkrutkan Luca, menjebaknya dan mengambil hartanya lagi. Agar cepat kaya, untuk apa gelar sarjana akuntansinya jika tidak diterapkan untuk menimbang setiap kesempatan.
Sebentar lagi, Luca akan menghubunginya. Lex harus lebih bersabar.
...***...
__ADS_1