Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 2


__ADS_3

Heidi mengatakan padaku agar tidak memikirkan ucapan Luca. Menurutnya, aku ini terlalu baik untuk disakiti penyanyi sombong sepertinya.


Mungkin Heidi benar, aku tak seharusnya mengidolakan Luca. Harusnya, kuidolakan saja Presiden Donald Trump yang terkenal se-Amerika itu. Toh, Swedia tidak seramah dan sebebas Amerika.


Disini, aku tidak bisa melanggar aturan seenanaknya. Kami harus berbaur dengan orang-orang, ijin dan buat jadwal ketemuan sampai aturan kerja berangkat awal pulang awal.


Aku benar-benar merindukan kampung halamanku, Spanyol. Negara yang punya tachos itu sangat ramah dan penuh kebudayaan. Di jalanan, aku bisa menari bersama para pengamen, tapi disini, aku hanya bisa berjalan-jalan di trotoar sambil mengumpat mengutuk Luca.


Karena sakit hati ditolak olehnya dan diusir dari jumpa fans, aku mendoakan dirinya agar celaka. Apapun bentuk karmanya, aku mau kecelakaan itu terjadi sekarang. Lebih cepat lebih baik.


...***...


DUAR !.


Aku tersentak mendengar suara ledakan. Kulepaskan dua cabang earphone ku, kemudian, berlari menuju mobil yang bertabrak menjadi satu di tengah perempatan.


Semua orang panik, ada yang memanggil ambulan, pemadam kebakaran, polisi dan sisanya mencoba mengeluarkan korban yang terjebak disana. Satu-satunya pemandangan yang bisa kulihat adalah keajaiban.


Sopir truk minuman yang menabrak mobil sedan hingga hancur keluar dari kursi pengemudi dengan gagah. Pria tua itu hanya terluka di bagian kepala. Sikunya lecet dan jalannya agak pincang.


"Minggir!. Menjauh dari TKP!."


Polisi datang ke tempat kejadian perkara, sekumpulan pria berseragam hitam yang membawa tongkat pemukul dan handy talky memukul semua orang mundur. Mereka memberikan arahan agar tidak menyetuh apapun selama para aparat mengevakuasi korbannya.


Keadaannya sangat kacau sekali. Heidi yang baru membeli donat dan cola menyerobot kerumunan orang agar bisa berdiri disebelahku.


"Apa yang kau lakukan, El ?." Heidi melihat mobil rusak parah di depan matanya.


"Aku tidak melakukan apapun."


"No way!. Kau pasti melakukan sihir sampai menyeret priamu, bukan ?."


Apa kata Heidi ? Aku melakukan sihir hingga menyeret priaku. Maksudnya, Luca ?. Mana mungkin dia ada di dalam mobil sedan yang remuk parah itu. Dia 'kan seharusnya sedang bersenang-senang dengan para fans di toko musik, pikirku.


"Luca!. Apa dia baik-baik saja ?," teriak histeris remaja perempuan. Dia langsung mengeluarkan kamera ponselnya merekam evakuasi seorang pria penuh darah dari dalam mobil sedan, yang tidak lain adalah Luca.

__ADS_1


"Pelankan suaramu, bocah!," ketus Heidi. "Dia tidak akan mendengarmu!"


Heidi terlalu keras mengomeli remaja itu. Hati remaja itu seperti roti. Sekali remat pasti langsung hancur dan tak berbentuk lagi. Beda denganku dan Heidi, yang walaupun dihina seperti itu pasti akan kembali ke keadaan normal.


...***...


"Oh Mein Gott !. Apa salah dosaku, Frank ?!." Wanita bersweater hijau menangis di pelukan suaminya.


"Luca akan baik-baik saja. Dia punya berdarah Jerman." Frank menepuk-nepuk punggung istrinya pelan.


Tetap saja, ibu Luca histeris. Ibu mana yang mau anaknya celaka dan menghadapi kritis di rumah sakit. Membayangkannya saja tidak pernah.


Sedikit informasi bahwa ibu Luca sangat panik pada hal-hal yang menyangkut anaknya. Tidak peduli apakah baik-buruk. Rapi-berantakan atau sehat dan sakit. Frank yang berperan sebagai tameng Rosa, ibu Luca, hanya bisa menasehati dan terus men-support ibu Luca agar tidak menangis lagi.


...***...


Di ruang operasi, para dokter sedang berusaha mengeluarkan pecahan kaca yang menyangkut di leher Luca. Sangat sulit dan memang tidak masuk akal, para dokter baru menangani kasus kecelakaan terparah yang melibatkan pecahan kaca yang tersngkut disana. Tapi, bagaimanapun juga, benda itu harus dikeluarkan dan nyawa pasien tetap selamat.


Lampu operasi meredup. Lampu berubah menjadi hijau dan dokter keluar menemui keluarga pasien.


"Bagaimana keadaannya, dok ?."


"Luca sudah melewati masa krisisnya. Dia selamat." Ibu Luca berjingkrak senang. "Tapi, kami harus menyampaikan kabar buruk, ibu."


"Ada apa, dokter ?."


"Kami segenap tim dokter yang menanganu Luca dengan terpaksa menyatakan bahwa Luca tidak bisa bicara. Benturan dan pecahan yang mengenai tenggorokan juga mempengaruhi pita suaranya. Sudah kami usahakan untuk operasi tapi kondisinya masih belum stabil."


"Apa dia bisa pulih ?."


"Bisa, pak. Kemungkinan besar dia akan bisu sementara waktu. Harap bersabar, ya."


Pukulan keras memukul kedua orang tua yang renta itu. Mereka tidak bisa melakukan apapun, selain mendoakan yang terbaik bagi Luca.


Dijelaskan sedekat dan sesabar manapun, Luca pasti akan terluka. Anaknya akan sadar, dia tak bisa bernyanyi merdu lagi.

__ADS_1


Pacarnya, Lex yang membesuknya bersama manajer dan keluarga label musiknya mengaku terkejut bahwa Luca cacat. Penyanyi terkenal, raja pop negeri vikings, kini tak bisa mengeluarkan bunyi-bunyian kecuali mengatup-ngatupkan mulutnya seperti ikan koi.


"Aku pikir kita putus saja, Luc. Aku tahu ini menyakitkan tapi, aku tidak tahan bersama orang cacat. Karirku sebagai model papan atas akan dipertaruhkan disana. Maafkan aku."


Lex pergi dari rumah sakit. Pacar kesayangan Luca pergi seperti kupu-kupu yang tidak menemukan nektar. Tanpa rasa bersalah, dia langsung bergandengan dengan pria lain yang tidak lain adalah manajer Luca sendiri.


Manajer Luca dan Lex sehati. Mereka tidak mungkin menerima lagi dan berkarir dengan Luca bila penyanyi itu tidak mengeluarkan album baru.


Dengan sangat terpaksa, manajer dan keluarga label musiknya mengundurkan diri. Para karyawan dipecat dan gedung rekaman musiknya dijual.


Para media segera mencatat perubahan besar hidup Luca. Di internet, surat kabar dan radio, semua channel membicarakan tumbangnya karir Luca akibat kecelakaan. Para fans menyayangkan insiden tersebut dan terus memberi dukungan agar dia bangkit.


...***...


PRANG !.


Luca melempar nampan makannya ke lantai. Bubur ayam irisan seledri di atasnya, segelas air putih dan obat-obatan disana dibuang begitu saja tanpa pikir panjang.


Ibunya yang baru saja datang, mengomeli dan menyalahkan Luca.


"Mengapa kau buang makanan dan obat-obatan itu ?," tunjuk ibunya penuh amarah.


Luca terdiam. Pria yang masih duduk di ranjang rumah sakit dengan infus yang masih terpasang membuang muka ke ibunya.


"Bagus sekali!. Selain bisu, kau juga tidak mendengar ibumu. Cerdas sekali, Nak," sahutnya.


Luca menggerakkan jarinya. Dua jari telunjuknya menyilang di arahkan ke ibunya. Dia bilang agar ibunya diam.


"Aku tidak akan diam. Punguti obat itu. Atau, bayar sendiri tagihan rumah telunjukku


...***...


Darah mengucur deras dari telunjukku saat aku memunguti pecahan piring di lantai. Aku segera mencucinya di wastafel, memberinya betadine dan membalutnya dengan hansaplas.


Aku tidak tau kenapa aku ceroboh begini. Padahal membawa dua piring kotor ke wastafel cucian, hanya saja, aku berpikir kenapa bisa terluka seperti itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2