
Segelas kopi, satu porsi sup hangat dan sebotol sirup apel sangat cukup memberi Luca tenaga lebih untuk berpikir. Dari tadi, pensilnya terus mencoret not-not yang salah di kertas musik.
'Aku harus menyelesaikan satu lagu untuknya.'
Luca memaksakan ide buntunya di kertas musik. Dia sudah mencari referensi membuat lagu di internet, mengikuti step by step-nya, tapi, tetap saja dia frustasi.
Lembaran-lembaran not lagu yang salah berserakan di lantai. Dengan seenaknya, telapak kakinya menginjak kertas itu menjadi keset. Mirip perumpamaan menghina diri sendiri.
...***...
Selama Luca sibuk mencari ide di kamar kecilnya, aku sudah satu langkah lebih maju mempelajari langkah baletku. Latihan kemarin memotivasiku untuk terus latihan gerakan sulit yang membuatku cemas.
"Berhentilah, El!. Istirahatkan kakimu!." Heidi melempar kulit kacang ke kakiku yang sedang kuistirahatkan sembilan puluh derajat di tiang horisontal.
"Dia benar," sahut Diego mendukung. "Istirahatkan kakimu. Aku tidak ingin kakimu patah."
Diego menghampiriku dan mencium pipiku. Anggota polisi setempat yang mengusirku beberapa tempo hari yang lalu menjadi sangat manis di hari sabtu. Bukan karena dia cuti, itu karena efek sabtu malam minggu yang sakral bagi semua pasangan di seluruh dunia.
"Nanti malam kita wisata kuliner, yuk," ajak Diego.
"Aku tidak bisa. Hari ini aku sibuk latihan," tolakku.
"Jangan sombong begitu, Elle. Sesekali berikan asupan vitamin c pada pacarmu."
Heidi tertawa melihat respon penolakanku pada kakaknya. Ini bukan pertama kali aku menolak menikmati sabtu malam minggu bersama Diego. Mengapa Diego menjawab manja begitu ?.
Aku bertanya akan maksud vitamin c yang dimaksud Diego. Mungkin selain nama-nama vitamin dalam kesehatan ada vitamin lain yang merajalela di dunia ini.
Heidi yang kekinian menjawab maksud vitamin c yang disebut kakaknya. Jadi, vitamin c yang dimaksud Diego adalah vitamin cinta. Sudah berapa lama Diego dan aku menikmati waktu berdua ? Sangat jarang sekali. Kami berdua bahkan sibuk berkarir masing-masing.
Karena merasa pembicaraan kakak adik itu menjadi melantur, aku berangkat menuju tempat latihan.
Di kelas, Leonif, Nyonya James dan Luca yang duduk di depan piano sudah menungguku.
"Perlihatkan tarianmu, Nak !," kata Leonif padaku untuk segera mengeksekusi latihan.
__ADS_1
"Ya, pak."
Suara alunan piano menggiring Nyonya James dan Leonif duduk. Mereka melihat gerakan tarian baletku, mendengarkan musik dan memahami makna yang coba kugambarkan.
Nyonya James terhanyut menikmatinya. Dia tersenyum ceria. Tapi, Leonif tidak, dia kelihatan kesal dan kecewa.
"Hentikan musiknya!," bentaknya. Aku berrhenti menari begitupun denga Luca.
Leonif menghampiriku. "Kau harus pertahankan tarianmu. Jaga langkah kakimu." Aku mengangguk tegas dengan keringat dingin.
"Dan kau musisi!," menunjuk Luca kesal. Dia menghampirinya, kemudian berkata, "Kau harus fokus memainkan musikmu. Not musikmu tidak tepat. Buat lagi dan aku akan datang seminggu lagi untuk melihat pertunjukkanmu. Jika gagal, aku pastikan, kau akan benar-benar menggelandang."
Leonif mengerut kesal. Dia keluar diikuti Nyonya James sambil membanting pintu. Kuintip dari jendela latihanku, guru baletku sedang mencoba membujuk Leonif yang marah-marah.
Sementara di dalam kelas, Luca menendangi piano yang membantunya bermain.
"Hentikan, Lu!. Kau melukai kakimu sendiri!." Aku menghampirinya dan menyeretnya menjauh dari piano besar.
'Lepaskan aku !. Kau tak berhak menyentuhku atau bahkan menasehatiku.' Sekali lagi, Luca berlari pergi dari hadapanku dengan kesal.
...***...
"Maaf, Nona. Anda tidak diperbolehkan masuk kecuali ada janji."
Satpam apartemen Luca mencegahku masuk. Petugas keamanan itu tidak bisa mencegahku begitu saja karena aku lupa meminta ijin pada Luca.
Beruntungnya, ada penghuni apartemen disana yang berbaik hati menyatakan dirinya telah membuat janji denganku. Meski aku tidak tahu namanya, dia berkata kalau aku bisa meminta bantuannya lagi. Tinggal mengetuk pintu nomer 57, dan, walla !. Aku tahu dimana dia tinggal.
Terima kasih kepada orang asing yang menjelma bak malaikat itu. Kalau aku tidak bertemu dengannya, entah apa yang akan aku lakukan di apartemen yang seluas gedung apartemenku yang lama.
Saking senangnya mengucap rasa syukur kepada Tuhan telah dipertemukan dengan orang asing berhati malaikat, aku hampir saja melupakan tujuanku apa tujuan kemari, yaitu menemui Luca. Salah seorang disana pernah menceritakan pada pria kamar nomer 57 bahwa ada penghuni baru yang pindah di apartemennya. Jarak kamarnya tidak terlalu jauh. Sesuai petunjuknya, Aku harus naik dua tangga dan di kamar urutan kedua sebelah kiri setelah tangga ada orang yang kucari tinggal disitu. Ternyata benar, di pintu itu ada jajaran tiga pintu kamar.
Kuketuk pintu kamar kedua dari sebelah kiri tangga. Aku menunggunya beberapa menit tapi tidak ada respon. Jadi, sangat terpaksa, aku masuk ke kamarnya tanpa ijin.
Jangan pernah berpikir aku akan membobol kamar untuk masuk, karena pintu itu memang tidak terkunci sebelum aku datang.
__ADS_1
"Luca, kau ada di rumah ?." Aku masuk ke dalam kamarnya mengendap-endap.
Suasana kamarnya sangat mencekam. Cahaya matahari sangat minim, kertas bertebaran dimana-mana dan aku menginjak kuas cat yang basah.
Seorang pria yang sedang melukis di balkon beranjak dari kursinya. Dia meletakkan kuas dan paletnya. Kemudian, beranjak masuk mencari sumber suara kuas yang patah.
"Jangan marah, Lu. Aku tidak sengaja," kataku tersenyum nyengir.
Luca tidak marah atau kesal. Dia malah mengambil dua kursi, segelas air putih, buku bergambar dan spidol.
'Mau apa kau kesini ?,' baca Elle dalam hati pada tulisan di kertas gambar yang ditujukan padanya.
"Aku kesini untuk menyapamu saja."
Luca merobek kertasnya dan menulis lagi.
'Tidak mungkin!. Kau kesini pasti untuk mengolokku, bukan ?.'
"Demi Tuhan!," kuteguk segelas air hingga habis. "Aku kesini murni untuk berkunjung saja. Silaturrahmi, Luca."
'Katakan dengan jujur, El. Aku tidak akan marah.'
"Baiklah jika kau memaksa. Aku datang kesini untuk tujuan kompetisi balet. Jadi, aku kesini untuk memastikan bahwa kita harus melupakan masa lalu kita di internet. Aku sangat tau, ingatan para pria sangat lemah, jadi, lupakan saja ya."
'Itu saja ?.'
"Masih ada lagi. Aku ingin kau membuat musikmu dengan tenang. Bagaimana jika aku latihan menari dan kau membuat musik ?. Apa kau keberatan ?."
'Tidak. Datanglah ke apartemenku besok sore. Pukul empat.'
Aku membaca kalimat terakhir yang ditulisnya. Sebelum aku benar-benar pergi dari kamarnya, dia memberiku id pengunjung. Kartu yang harus dikalungkan dengan pita kuning memberiku tanda kalau aku tamu di apartemen itu.
Dia berpesan untuk tidak melepaskan id itu di apartemen apapun yang terjadi.
...***...
__ADS_1