Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 13


__ADS_3

Baik antara Luca, aku dan para penari balet, semua sedang merasa canggung di belakang panggung. Mereka saling menguatkan satu sama lain agar gerakan mereka tak ada yang salah. Padahal, kompetisi tarian balet tak sesulit itu, pikirku.


Sambil menunggu giliran namaku dipanggil, aku terus mengawasi Luca. Awas saja kalau dia lupa potongan simponi di atas panggung. Jika itu sampai terjadi, aku akan mencabut biaya pengobatannya di rumah sakit.


"Estelle!." Panitia acara menghampiriku. "Naiklah ke panggung. Sekarang giliranmu."


"Terima kasih."


Aku beranjak dari kursi tunggu para balerina lalu, menggeret Luca naik ke atas panggung. Mantan musisi yang pemalu itu tidak bisa disuruh jalan sendiri, karena saat aku melakukannya, kakiku terluka.


Setibanya di atas panggung, tepat di belakang kelambu merah. Aku melepaskan tanganku dari Luca.


Sebelum kelambu merah terbuka, aku memberikan wejangan. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sebaik-baiknya emosi disembunyikan pasti akan keluar juga.


"Luc, ini pertemuan terakhir kita. Aku mohon jangan kacaukan malam ini." Luca mengangguk.


Pria yang memakai setelan hitam rapi ingin mengambil buku saku dan bolpoin dari saku jasnya. Tapi, aku menampalnya.


"Ladies and gentlemen, Mari kita sambut dengan meriah. Peserta nomor tujuh, balerina Elle dan pemain pianonya, Luca Spark."


Suara gerakan kelambu merah membuka ke kanan kiri segera memperlihatkanku yang sudah berdiri di tengah panggung bersama Luca. Suara riuh piuh tepukan menonton menggema di seluruh ruangan. MC yang sedang berdiri di kiri depan panggung mulai berjalan ke pinggir mempersilahkan, aku untuk maju ke depan.


Kurasakan lampu sorot sedang menyinari seluruh tubuhku. Di titik poin tengah, otot lemas menariku sudah tau aku mau mulai menari dari mana. Sementara aku menyiapkan langkah pembukaan. Luca sedang bergerak menuju ke piano. Dia duduk disana, meregangkan sepuluh jarinya dan mulailah permainan indah dari tuts pianonya.


Gerakan balletku tidak jauh beda dari latihan. Sama seperti latihan di depan Leonif kemarin, pada saatku kakiki berjinjit, kepalaku menoleh ke kiri dengan pandangan menurun dan kedua lenganku menjadi satu seperti leher angsa.


Luca langsung memainkan pianonya. Dia terus menekan tuts-tuts piano sampai akhir gerakan baletku.

__ADS_1


Setelah suara piano berakhir dan aku juga sudah menyelesaikan gerakan, suara riuh piuh penonton sekali lagi menggema di seluruh ruang aula. Mereka tersenyum, bersiul dan sedikit berbisik mengamini kalau Luca memang banting setir menjadi pemain musik kalangan bawah setelah kecelakaan.


Di depan panggung sudah ada tiga juri ballet terbaik di Stockholm. Dari kiri, ada Mary Störm, pemain balet senior yang sudah keliling dunia; sebelahnya lagi ada Dayat Moscher, komposer muda dari Asia yang tidak lain adalah pemilik apartemenku yang dulu; terakhir, Lionif Spark, pengamat kompetisi balet yang sudah duluan melihat penampilanku sekaligus dia juga yang menyarankan Luca menjadi bayanganku.


"Wah, penampilan yang memukau sekali. Estelle dan rekannya bisa berdiri disamping kiri saya. Para juri, kami persilahkan komentarnya."


Aku sudah berpikiran tak karuan saat Mary mulai mengetuk-ngetuk mikrofonnya. Jangan sampai dia berkata di kompetisi balet tidak perlu pemain musik tambahan.


"Estelle Starlight, kamu dari Stockholm ?," tanya Mary.


"Ya, mam," jawabku.


"Sudah berapa lama bermain balet ?."


"3 tahun, mam."


"Pertunjukkan tadi sudah bagus. Ketukan kakinya juga pas. Terus pertahankan, bellà." Aku mengucapkan terima kasih. Komentar Mary sangat positif.


"Pemain musik menganggumu. Aku sangat menyayangkan harus mengurangi poinmu."


"Terima kasih," jawabku dengan nada kecil.


Bagian terakhir yang merusak hampir semua komentar adalah Leonif. Dia tak perlu banyak chit chat lagi karena dia pasti akan berkata malaikat telah turun.


"Angel has fallen, kamu pemenangnya." Lionif berdiri dari kursinya. Menunjukku dengan ujung bolpoinnya.


Pengamat kompetisi balet yang suka mencuri perhatian mendapat apresiasi penonton. Suara tepuk tangan terus saja menggema sampai MC meminta waktu untuk menayangkan dukungan dari twitter.

__ADS_1


Paulina @missmoment - 3 j, membalas @baletteratai, aku tau dia akan kembali. Dukungan untukmu @lucaspark .


Dex @spinxmesir23 - 3j, membalas @baletteratai, #1 untuk Estelle dan Luca.


Obe @obeobe - 2j, membalas @baletteratai, vote for best dance. Elluca send to 8629.


Cody Simpson @codysimpson - 2j, membala @baletteratai, raise up for Luca. Tunjukkan kemampuan terbaik, sobat. Kami mendukungmu.


Jelly Bean @jugheadsister - 2j, membalas @baletteratai, 5 love.


Sparkers @lucasparkfans - 1j, membalas @baletteratai, Kami akan lakukan yang terbaik untukmu, Luca. Fans mu masih hidup. Kami sangat mencintaimu.


Gray @spotgray - 1j, membalas @baletteratai, Aku tak sabar melihat mereka memegang piala kemenangan.


Coe @youngman - 1j, membalas @baletteratai, Nomer 7 tetap di hati.


Zendaya @zendayaunoficiall - 1j, membalas @baletteratai, Good dancer and nice song. Proud of you.


Nicky Red @demondwife - 1j, membalas @baletteratai, suamiku harus melihat tarian ini. Kami sudah sering latihan dan dia terus menginjak kakiku.


Dela @lovepoppy - 1j, membalas @baletteratai, Luca ku bisa menari ?. Tolong, aku ingin teriak sekarang.


dan masih banyak lagi ratusan caption dan balasan untukku di twitter yang terus melayang di layar besar panggung pertunjukkan.


Sepertinya, meski Luca sudah turun dan menanggalkan mahkota king of pop, nyatanya dia bisa menggaet banyak vote dukungan di kompetisi balet.


Karena kompetisi balet ditentukan dari vote, aku optimis pada perolehan suara yang terus naik. Posisiku dari urutan tujuh naik ke nomer 6, nomer 5 terus ke aras dan pada hitungan mundur, vote-ku terus melawan Juan dan Maria di urutan satu dan Wala !. namaku dan Luca naik ke posisi satu.

__ADS_1


Balon-balon dari atas mengguyur panggung. Pita dan remah-remah kertas berkelip juga turun bagai hujan yang mengguyur seluruh badanku. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa, setelah menerima piala emas kompetisi balet dari tangan Maria. Ingin aku menangis haru tapi aku sadar kalau piala dan kemenangan harus dibagi dengan rekanku Luca.


...***...


__ADS_2