Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 14


__ADS_3

Setelah MC mengumumkan namaku dan Luca menjadi pemenang kompetisi, belakang panggung sudah mulai gaduh. Para belerina bertepuk tangan dan bersuka cita atas kemenanganku. Mereka sadar bertepuk tangan untuk pemenang tidak ada ruginya, karena sama saja, tepuk tangan dan ucapan selamatnya nanti akan kembali kepada mereka masing-masing.


"Teman-teman lihat!," sahut Balerina nomer 1 menunjukku dan Luca yang membawa piala ke belakang panggung. "Elle dan Luca sudah datang. Selamat ya." Balerina bersamalan denganku dan Luca


"Selamat, Elle!" Balerina urut nomer 3 menyusul, dia langsung memelukku.


"Terima kasih, Nana dan Rica," jawabku pada mereka berdua bergantian.


Setelah Nana dan Rica, mulailah keributan lain di belakang panggung tercetus. Balerina lain yang tadinya diam dan hanya melihat juga ikut-ikutan memberi pelukan dan ucapan selamat. Mereka saling bergantian melakukannya padaku.


Kecuali Luca, pasangan penampilan baletku yang menjadi alasan aku mendapat vote terbanyak tidak digubris oleh balerina lain. Padahal, dari segi mana pun, Luca punya paras tampan yang cocok dijadikan postingan di instagram atau akun media sosial mereka yang lain. Bagaimana pun juga, Luca pernah mencicipi bagaimana rasanya jadi public figure yang terus disorot kamera.


Karena aku mulai sesak dengan perhatian kemenangan, aku mengarahkan perhatianku pada Luca. Moga-moga saja, para teman balerinaku bisa memindahkan kehangatan dan cinta mereka kesana.


"Aku bukan penari balerina tunggal, teman-teman. Aku tampil berpasangan dengan Luca. Dia adalah penyebab kenapa aku menang," melirik Luca yang berdiri tidak jauh dariku.


Para balerina yang tadinya senyum sumringah menoleh berubah cemberut dengan cepat. Mereka tak lagi penasaran dengan teknik baletku tapi, mulai penasaran kenapa Luca dibawa-bawa.


"Kau tidak serius kita suruh kesana 'kan ?" tanya balerina 2.


"Aku tidak pernah menyuruh kalian kesana. Tapi, coba beri dia penghargaan kecil," sahutku. "Sama seperti aku, dia juga seniman."


"Elle, kau murah hati sekali. Setelah apa yang dia pernah lakukan padamu. Kau masih memaafkannya ?" skak balerina 5.


"Maaf, teman-teman. Perbuatan apa yang pernah dia lakukan padaku ya ?"


"Dia pernah mengeblok akun twittermu tanpa dasar, Elle," sahut balerina 4 kesal. Dia menunjuk Luca tanpa melihat. "Kami menyimak ceritamu saat latihan balet dulu." Semua balerina mengamini perkataan balerina 4.


"Aku setuju dengan balerina 5. Kelakuan pengecutnya tidak pantas untuk kita maafkan," kata balerina 2 mengepalkan tangannya.


"Ayo, gadis-gadis. Tunjukkan pada dia. Kita tidak lemah," provokasi balerina 6.


Balerina lain berbalik punggung menghadap Luca. Teman-temanku sangat kesal mendengar keputusanku yang memaafkan saling blok itu. Tadinya aku tidak sengaja menceritakan kejadian itu. Sumpah demi Tuhan!.


"Sudah lama banget kita tidak latihan kardio nih. Serang teman-teman!."


Balerina 6 mengangkat tangannya. Dia berlari ke arah Luca, mengejarnya bersama balerina lain. Kemudian mengerubunginya rapat seperti semut sambil marah-marah.


Aku melihat dari kejauhan Luca bingung sekali. Dia ketakutan. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi, teman balerinaku terburu membuang buku saku dan bolpoinnya.

__ADS_1


Kelakuan bengis dari teman-temanku pada Luca membuat para petugas kompetisi berlarian ke belakang panggung, termasuk para juri.


Para kru kompetisi menghampiri kerumunan balerina yang terus berteriak keras mengerubungi Luca. Mereka terus memakinya sampai orang kru yang mencoba memisahkan mereka dari Luca, ikut tergerus ke dalam kerumunan.


Menyadari situasi akan semakin runyam, ketua kru menghubungi polisi. Sementara kru lain akan berjaga-jaga jika ada hal buruk di luar kendali terjadi.


"Situasinya semakin buruk. Apa yang terjadi pada Vlad ? " sahut kru kompetisi melihat temannya dipukuli para balerina.


"Aku tidak tahu. Semoga dia tidak terkena banyak pukulan," do'a kru lainnya.


Ketua kru kompetisi mengumumkan kabar baik. Polisi akan datang kesini segera mungkin.


Untuk mengurangi kepanikan, dia menyuruh para juri yang ikut menonton segera pulang. Bagaimanapun keselamatan mereka adalah tanggung jawabnya.


Ketua kru dan beberapa anak buah mengantarkan ketiga juri keluar dari pintu gedung lainnya.


...***...


Kantor polisi Stockholm menerima kabar dari saluran laporan darurat bahwa keributan besar terjadi di gedung balet teratai. Inspektur polisi menyuruh anggotanya untuk bergerak ke lokasi segera.


"Males banget sih harus ke TKP sebelum donat habis," eluh Josh yang masih memakan setengah donat coklatnya.


"Benarkah ? Terima kasih, Diego."


Josh, Diego dan semua anggota polisi sedang menuju ke TKP. Mobil polisinya melaju cepat melanggar lalu lintas.


"Kita harus berhenti dulu," protes Josh yang melihat lampu penyeberangan jalan yang dilewatinya berwarna hijau.


"Ini bukan waktunya memperhatikan itu, Josh. Fokus saja pada tugas kita."


Diego membanting setir ke kiri. Mobilnya melaju memasuki gedung balet teratai dan polisi segera masuk menggerebek tempat itu.


...***...


Para kru kompetisi mencoba untuk membujuk para balerina yang meledak marah untuk mundur. Tapi, mereka selalu saja gagal dengan balasan tamparan keras atau dorongan yang membuat kru jungkir balik di lantai.


"Polisi sudah datang! " Inspektur polisi melaporkan kedatangannya pada ketua kru.


"Syukurlah, anda datang pak. Cepat Selesaikan masalahnya," menunjuk kerumunan balerina marah.

__ADS_1


"Ya Tuhan ! Aku tidak sanggup melawan kaum wanita. Tapi, aku akan coba."


Inspektur polisi menyuruh anggota polisi menyerang ke arah kerumunan. Mereka menangkap satu per satu balerina. Sesekali mereka terkena amukan dan injakan kaki tapi, mereka berhasil membawa para balerina menjauh dari lokasi untuk tenang.


Saat balerina sudah dipisahkan dari Luca, aku meletakkan pialaku di meja dan berlari menuju Luca. Keadaan pria itu sudah tak karuan. Dia terduduk lemas dan berkeringan. Wajahnya mulai memucat karena terlalu lama menahan ketakutan.


"Luca, jangan pingsan dulu ya," sahutku padanya. Aku mengambil stok air mineral di kardus yang tak jauh dari tempatku.


Luca tidak merespon. Dia ingin mengangguk tapi terburu pingsan dan merebahkan kepalanya padaku.


Aku mulai panik tak karuan. Aduh, Luca pakai acara pingsan segala, protesku dalam hati.


"Teman-teman, tolong bantu aku," teriakku meminta tolong pada satu anggota kru paling dekat.


Satu balerina yang dicekal polisi berhasil lari dari anggota polisi. Diego yang sadar balerina yang dicekalnya kabur berusaha berlari mengejarnya yang ingin menyerang korban lagi.


Ketika Diego berhasil menangkapnya, dia melihat aku yang sedang sibuk membantu Luca yang pingsan. Kepala pria di bahuku ?Sangat jelas membuatnya ingin memukul pria asing itu.


Jadinya dia mengerti kenapa para balerina yang anggun menyerang Luca. Kalau urusannya melibatkan aku dan partnerku yang terlalu dekat itu, Diego sehati dengan mereka.


Saat dia menggabungkan balerina tangkapannya dengan balerina lain, Diego mulai berbisik pada salah satunya.


"Kau sudah bekerja sangat bagus, nona balerina."


"Terima kasih. Kalau kau tidak datang."


"Jangan salahkan aku, nona. Salahkan ketua kru kompetisi yang menghubungi kami."


"Memangya apa salah pria itu ?"


"Dia memblokir teman kami di twitter. Jadi kami berusaha membantu teman lemah kami untuk balas dendam."


"Kenapa kau menyerangnya begitu. Tinggal blokir balik akunnya di twitter bisa kan ?. Kalau perlu ajak satu Stockholm untuk melakukannya."


Balerina yang ditangkap Diego mengerti. Kenapa dia malah buang-buang tenaga dengan protes langsung pada orangnya ? Kalau gerakan shadow-nya bisa membuat orang itu makin terpuruk.


Kekacauan berakhir cepat setelah provokasi Diego. Dia sadar para balerina anggun hanya tersulut emosi. Setelah pulang dari sini dan mandi, mereka pasti akan lupa dan kembali normal seperti biasanya.


Sementara Diego dan tugasnya selesai, dia dan anggota polisi lainnya akan kembali bekerja. Untuk kedekatakanku dan Luca, bisa diurusnya setelah pulang bekerja.

__ADS_1


...***...


__ADS_2