
Hari berikutnya, aku baru saja memasang lukisan pemberian Diego di dinding kamarku. Kuperhatikan sejenak makna lukisan itu tapi, semakin kuperhatikan, aku semakin pusing.
Kuhempaskan pandanganku dari lukisan itu. Aku akan pergi ke wastafel dapur untuk mencuci piring kotor kemudian bersiap pergi ke rumah sakit.
Karena momen vitamin c kemarin bersama Diego, kakiku jadi tidak sakit lagi. Sekarang, aku sudah bisa meletakkan piring-piring bersihku ke rak sambil berlatih menari balet.
...***...
Luca sudah selesai bersiap-siap. Rambutnya sudah rapi, lukisan buatannya yang digulung sudah masuk ke dalam tas ransel dan jam tangannya sudah menunjukkann pukul sepuluh.
Apalagi yang ingin dia tunggu. Ini waktunya bagi Luca untuk berjalan di jalanan penuh keriangan. Dia akan tersenyum sepanjang perjalanan sambil menari sesekali. Lagu bahasa latin, colgando en tus manos, yang dinyanyikan Carlos Baute dan Marta Sànchez masih menari-menari di telinganya. Lagu berirama santai dan semangat itu membuat hatinya mekar bagai remaja yang baru jatuh cinta.
Bagaimana tidak bertingkah bagai remaja, Luca suka melakukan pelanggaran jalanan. Dia menyeberang jalan di sembarang tempat. Biasanya orang Swedia akan taat aturan tapi, dia melanggar aturan itu hanya untuk menuju ke apartemenku lebih cepat.
__ADS_1
'Olla, Elle. Buenos Dias.' Luca bertekuk lutut sambil membuka gulungan lukisan yang dibawanya di dalam tas ranselnya.
Aku cukup terkejut pada perubahan sikapnya itu. Berulang kali aku mengetuk-ngetuk dahiku sendiri dan menggoyang-goyangkan kepalaku. Mungkin itu halusinasiku.
Aku salah besar. Ternyata itu benar-benar Luca, aku menghampirinya, mengambil kertasnya dan menggulungnya.
"Bisa kita bicara sebentar ?." Luca bangun dari bertekuk lututnya.
"Bisa kau jelaskan kenapa ini bisa dijukan padaku ?. Tolonglah Luca. Jangan buat aku menjadi penggemarmu lagi."
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mengajukan keluhanku pada Dokter Rafael. Kutunjukkan kakiku yang bisa menari dengan baik dan jalanku juga normal. Sang dokter yang berpengalaman senang melihat perubahanku.
Perban yang membalut kakiku segera dilepaskan. Dokter memeriksa lukanya dan dia hanya perlu menepelkan hansaplast untuk menutup bekas luka yang masih basah. Khawatir debu jalanan memperburuk kondisi lukaku.
__ADS_1
Perhatian dokter terarah pada Luca. Dia sangat menunggu keputusan apa yang akan diambil si mantan musisi itu. Dokter berharap terapi pita suara bisa dilakukan dengan segera.
Kulihat Luca menunduk sedih mendengar saran Dokter Rafael. Aku jadi tidak tega memarahinya seperti itu pagi tadi. Biasanya kalau Diego tidak bicara denganku, aku akan memegang tangannya untuk menenangkannya. Kalau itu berhasil pada Luca berarti rumus itu juga berarti untuk yang lainnya.
"Luca setuju menjalani terapi pita suara, dok. Persiapkan semuanya. Kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mendukungmu."
Luca melihat perhatianku padanya. Saat aku memegang tangannya sambil meyakinkan dokter, Luca mulai membuat monolog dalam diamnya.
'Dia peduli padaku. Bagaimana bisa aku mencampakkan suara kecilnya di media sosial saat itu ?. Kalau saja aku bertemu lebih awal sebelum perang main blokir media sosial dan mengusirmu dari jumpa fans di toko musik, mungkin ceritaku dan ceritamu berbeda. Aku sadar, kehilangan pita suara adalah akibat yang kutrima setelah mencelakai niat gadis baik sepertinya.'
Suara hati bermonolog Luca segera terhenti setelah aku melepaskan cengkaman tanganku darinya. Dia juga melihat bahwa aku sedang bersepakat dan berjabat dengan dokter. Katanya, sebelum Luca mulai berpisah denganku, terapinya akan dimulai setelah kompetisi balet diadakan.
Sebelum aku benar-benar berpisah dengan Luca di rumah sakit, aku memberanikan memeluk dirinya. Pelukan itu bukan apa-apa selain pelukan kepedulian.
__ADS_1
...***...