Culpa Corazon

Culpa Corazon
Bab 20


__ADS_3

Seperti biasa, saat matahari terbit, mataku tenggelam. Sabtu ini, aku malas sekali harus bangun pagi.


Kulirik tipis, jam dindingku masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Masih ada waktu untuk kembali ke dunia mimpi. Sembari menunggu bel rumahku berbunyi menunggu kedatangan pak pos.


TING TONG !


Kedua mataku membuka pelan. Aku segera beranjak dari tempat tidur. Sambil berjalan sempoyongan setengah mengantuk, kutarik pintu rumahku dan langsung mengambil paket yang dibawa seseorang di depan pintu rumah.


Bodoh amat dia mau minta tips atau foto bareng. Toh, ketenaran skandalku dengan Luca sudah berakhir. BYE! Dunia fana. Aku memonolog panjang dalam hati.


Duduk di belakang meja dapur sambil menyeruput teh hijau perlahan-lahan membuat rasa kantukku menghilang. Pagi ini, aku belum ada rencana keluar kemana. Jadwal mingguan di kalender ponselku kosong bersih, tidak ada catatan. Biasanya ada saja secuil harapan agar aku tidak menjadi penghuni rumah seharian.


TRING!


Satu pesan masuk diterima 📩


Heidi Ke mall, yuk!


Satu alisku terangkat. Sahabat seperguruanku ingin ke mall jam tujuh pagi. Petugas kebersihan saja belum menyapu. Apalagi satpamnya yang biasa membuka parkir mallnya.


Heidi, jangan aneh-aneh deh. Kita masih ada di Stockholm. Biasanya mereka akan buka lebih awal kalau memang ada shift kerja darurat. Toko buku langgananku sering melakukan itu. Tapi, kalau mall, aku ragu, dia buka pagi sekali.


Kukirimkan pesan balasan pada Heidi.


Room Chat


Heidi


Ke mall, yuk!


^^^Elle^^^


^^^Jam 10 aja. Masih belum buka.^^^


Heidi


Kelamaan.


^^^Elle^^^


^^^Gak lama kok.^^^


^^^Kamu olahraga dulu aja.^^^


Heidi


Gak jadi deh. Lain kali aja. Padahal mau pamer mobil baru.


Oh, jadi maksudnya itu. Heidi mau pamer mobil. Kalau masalah hibah dana yang merenggut pacarku dari dunia ini. Aku tidak tertarik.


Aku merasa aneh. Naik mobil dari pengorbanan Diego sambil karaoke ceria di dalamnya. Tidak mungkin bila aku dan Heidi diam masam selama perjalanan ke mall. Biasanya kami memang liar kalau ditinggalkan berdua saja.


Karena Heidi kecewa aku menolak ajakannya. Aku mengunjungi Luca ke apartemennya.


Sudah kutekan bel berulang kali tapi penghuninya tak kunjung keluar.

__ADS_1


"Orangnya sudah pindah, miss" sahut seseorang yang sedang membuka pintu kamarnya tepat disebelah kamar Luca. Aku menoleh padanya.


"Pindah ?" kataku mengulang.


"Iya. Subuh tadi, saat aku mau pergi jogging, dia pergi dengan koper. Masuk saja ke kamarnya. Mungkin ada sesuatu untukmu," sarannya. Aku mengangguk.


Benar kata orang tadi. Pintu kamar Luca tidak dikunci. Sangat mujur masuk ke kamar orang tanpa ragu begini.


Kelihatannya Luca benar-benar pindah. Ruangannya kosong. Hanya ada lembaran koran bekas yang tercecer di lantai. Juga, masih ada perabotan asli dari kamarnya yang tidak ia bawa.


Kucoba untuk berkeliling ke sekitar kamar, toilet dan balkon. Tidak ada jejak pesan untukku kecuali, memo yang ditempel di daun pintu.


Terima kasih sudah membantu. Uang ganti rugi ada di bawah vas. Aku pindah ke Montreal Condominium. Berkunjunglah kalau sempat. - LUCA.


Kuremat kertas memo itu hingga tak berbentuk. Tanganku mengepal. Seolah-olah aku ingin meninju orang dan barang yang ada di sekitar. Ingin aku melempar vas bunga ke lantai. Lalu, aku menemukan seamplop kertas berisikan cek siap cair dengan nominal dua ratus juta.


Main Gott! Bisa kaya dalam semalam aku. Uang ini bisa membayar sewa rumahku di apartemen. Lebih-lebih lagi, bisa membayar uang semesterku yang masih menunggak.


Segera, aku berangkat ke Bank Stockholm untuk mencairkan cek itu. Teller di bank memberiku setumpuk uang dan memberikan beberapa lembar surat yang harus ditandatangani sebelum keluar dari bank.


Alih-alih, aku membawa tumpukan uang dari bank sebanyak dua ratus juta. Aku memasukkannya ke dalam rekening. Bahaya membawa uang besar secara tunai di jalan umum. Bisa-bisa aku dirampok seperti di film-film.


"Lagi ketiban rejeki, miss ?" ejek Teller bank memindahkan tumpukan uang ke samping bill counter.


"Iya," tatapku pada tumpukan uang yang sedang dihitung dengan bantuan mesin.


"Kerja apa, miss. Kalau boleh tau ?" Mar memasukkan tumpukan uang lain ke dalam bill counter. Masih banyak gepokan uang yang harus dihitung lagi.


"Mahasiwa," sahutku jujur.


Mar tidak sesumringah saat bertanya tadi. Pekerjaannya pengangguran alias mahasiswa bisa mendapat uang ratusan juta. Dia saja yang pekerjaannya jadi teller, gajinya tetap masih saja kekurangan dana. Di sela-sela menghitung tumpukan uang, Mar ingin mencuri satu gepok uangku. Lagipula aku kan tidak tau. Tapi, kalau dipikir-pikir CCTV 'kan tidak bisa bohong.


Semoga saja. Uang dari rekeningku tidak terendus oleh ayahku.


...***...


Tumpukan kertas dilemparkan selembar demi selembar ke perapian. Di depannya duduk seorang pria yang menatap kesal pada karangan lagunya yang tak kunjung laku terjual.


Sudah dua tahun, dia menulis lagu. Namun, tetap saja. Dia ditolak mentah-mentah para label musik.


"Denis, sampai kapan kau akan membuat rumah kita bertambah panas ?"


Seorang wanita yang memakai jubah handuk menghampirinya. Ia menukar segelas minuman hangatnya dengan setumpuk kertas di tangan Denis.


"Hei! Mau kau apakan ?" sahut Denis gelagapan. Dia mencoba merebut lembaran kertas itu dari tangan jahanam Rosa Singh.


"Bakar aja langsung," membuang tumpukan kertas dalam sekejap ke perapian.


Denis geram. Tolonglah. Untuk urusan karir musiknya, biar dia yang membereskan. Teman sekamarnya tidak perlu ikut campur.


Pikirannya bertambah sesak setelah dia membuka pintu. Ada seseorang yang membawa koper sedang berdiri di depan kamarnya.


"Siapa ?" tanya Rosa dari dalam kamar.


"Tamu," teriak Denis dari depan.

__ADS_1


Mendengar ada tamu, Rosa segera bergegas menuju pintu. Dia akan sangat senang sekali jika ada orang yang mau menjadi teman curhatnya selain Denis yang menyebalkan.


"Alamatnya susah ya ?" tanya Rosa. Dia langsung menyeret masuk orang itu ke dalam kamar.


"Ya. Aku tersesat di pintu sebelah tadi," jawabnya.


"Duduk saja yang santai. Aku mau mengambil minuman," meletakkan kopernya di samping sofa.


"Tidak perlu repot," tolaknya.


"Jangan begitu. Ini 'kan rumahmu juga. Katakan mau minum apa. Gratis kok," bujuk Rosa.


"Soda saja," pesannya.


"Sekalian sprite, ular," timpal Denis sambil mengejek Rosa. Wanita itu hanya mendengus kesal.


Denis duduk diseberang penghuni baru. Tampangnya lumayan. Bersih, putih dan berewok tipis. Sikapnya juga malu-malu seperti perempuan. Apakah dia sudah tidak lurus lagi ? Soalnya ada satu anting yang dipakai di telinga kirinya.


"Kamu gay ?" tanya Denis to do point.


Pria yang menerima sekaleng soda dari Rosa mendadak melihatnya kaget. Ini pertama kali dia mendapati pertanyaan yang langsung mengarah begitu ke arahnya.


Kadang ini aib besar baginya. Karena ketidaknormalan inilah, dia jadi punya fans yang sengaja dibencinya. Pokoknya segala hal yang menyangkut perempuan yang terkoneksi dengannya, dia akan mundur. Sekarang, saat dia mencoba untuk membuka lembaran baru. Ada seseorang yang mengingatkannya pada aib itu.


"Kok diam ? Kamu beneran gay ya ?" meneguk sprite dinginnya.


"I-iya," jawabnya malu.


Rosa yang berada di tengah-tengah situasi ini memilih untuk diam tanpa protes.


"Begitu rupanya. Namamu siapa ? Alice ?" kata Denis memilih namanya acak. Dia menggeleng.


"Luca," sahutnya lembut.


Waduh. Kaget bukan kepalang. Musisi yang menjadi inspirasinya selama ini mendadak singgah di rumahnya. Ingin tinggal sekamar pula. Denis ingin mengucap syukur dan mengadakan selamatan untuk keberuntungan ini.


Rosa harus membuat nasi kebuli untuk merayakannya. Denis menyuruhnya belanja sekarang juga. Sementara dia akan mencoba menggobrol santai dengan Luca. Ia sangat penasaran mengapa artis ini berbelok dari kodrat.


Usut punya usut, ternyata Luca memiliki trauma. Sejak diputuskan Lex dan kebisuan sementara yang membuatnya bangkrut, dia tak mau mengenal lagi perempuan. Malas sekali harus berhubungan dengan makhluk Tuhan yang menjadi penyebab dan akibat dari perubahan.


Denis terenyuh mendengar ceritanya. Ia sampai mengambil lembaran tisu untuk menyeka air matanya.


"Kamu beneran berubah ?" tanya Denis memastikan.


"Aku tidak serius," gelengnya. Dia mencopot anting di telinga kirinya.


"Ha ? Maksudnya gimana ? Belum paham," kata Denis.


"Aku masih lurus, Den. Peran ini hanya kumainkan untuk menjadi tenar saja. Kamu tau 'kan tahun ini banyak orang yang seperti itu menjadi terkenal," katanya.


Musisi keren ini sepertinya kurang beribadah. Bagaimanapun melawan kodrat Tuhan tidak baik. Apalagi mempermainkan status ini.


Sebelum Rosa menseriusi perkataan Luca. Denis mengajaknya pergi ke gereja. Di dekat apartemennya ada gereja terkenal yang konon katanya bisa mengabulkan permintaan.


Denis harap setelah Luca datang ke gereja ini. Dia bisa sadar.

__ADS_1


Pada saat mata tertutup memanjatkan do'a, Luca melihatku beranjak bangun dari kursi panjang di depannya. Tampak cantik dengan gaun putih dan kucir kuda. Dia mulai sadar mengapa dia harus berhenti memainkan status mencintai seorang pria itu.


...***...


__ADS_2