
'Harusnya, aku tidak lewat persimpangan itu. Harusnya, aku ikut saran sopir pribadiku, bukannya berita kemacetan lalu lintas di internet. Aku yakin, jika aku, terjebak macet, aku pasti akan baik-baik saja.' batin Luca.
Seorang pria terkenal sepertinya tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima semuanya dengan ikhlas. Ada saatnya manusia ada di atas dan ada saatnya pula manusia ada di bawah. Seseorang tidak bisa menyalahkan keadaan untuk segalanya.
"Pak, semua sudah saya hitung. Kami bersedia membeli kamar anda di kondominum ini dengan harga yang anda ajukan."
Petugas properti menyadarkan lamunan Luca. Petugas yang baru selesai menghitung nilai setiap perabotan di kamarnya memberikan selembar dokumen jual beli kamar di kondominium. Harganya sudah dia tulis dan Luca tinggal menandatanganinya saja.
Sekarang, Luca tidak tinggal di kondominium mewah. Dengan satu tas besar dan pakaian yang menempel, dia berjalan-jalan di udara dingin mencari tempat tinggal baru.
Karena dia bisu, dia kesulitan menanyakan dimana ada tempat tinggal yang layak. Harganya tidak harus mahal, yang penting bisa ditinggali dan nyaman.
Patut diacungi jempol, dia menemukan satu kamar di gedung apartemen tua tanpa bertanya pada seseorang. Dia hanya menulis kata seperlunya di kertas untuk berkomunikasi dan tawar menawar harga kamar yang disewanya.
Untungnya pemilik apartemen tua sangat baik. Dia tidak keberatan Luca tidak bersalaman dengannya. Baginya yang terpenting sekarang, kamar di gedung apartemennya penuh.
Sejak ada yang bunuh diri di kamar yang Luca tinggali, tidak ada seorangpun yang mau menginap disana.
...***...
Sengaja, Aku melewatkan kuliahku di jam terakhir. Ada latihan kelas balet yang harus aku hadiri, tepat sebelum pukul tiga sore.
Bangunan setinggi lima kaki dari batu bata oranye menyambut kedatanganku dengan hangat. Bukan bangunan itu yang hanya ramah menerimaku tapi orang-orangnya juga.
Nyonya James menghampiriku. "Kau tepat waktu, Elle. Sudah siap dengan tarianmu."
"Aku rasa tidak, Nyonya," jawabku lesu.
"Sudah kubilang rajin-rajinlah berlatih. Pengamat kompetensi balet akan datang kemari. Dia sudah di ruangan. Cepat ganti bajumu dan lakukan tugasmu."
Nyonya James mengusirku ke ruang ganti. Baru saja, aku datang dengan tubuh kedinginan. Lalu, semenit kemudian, dia menyuruhku memakai pakaian tipis, ketat berwarna merah muda pucat dan sepatu ballerina yang masih kusimpul rapat di kakiku.
"ELLE!. Cepatlah!."
"Baik, Nyonya!."
Ya ampun, Nyonya James sangat tidak sabaran. Dia sampai mendobrak pintu ruang ganti dan mengangkat alisnya agar aku segera menuju ke ruang latihan.
__ADS_1
Sesampainya disana, aku melihat semua teman-temanku sudah menunjukkan langkah tari baletnya. Pria tua yang terus berteriak membentak, memberi motivasi dan menyentuh bagian tubuh ballerina yang memiliki gerakan kurang kuat dan lemas adalah pengamat kompetisi ballerina.
Namanya Leonif. Asli Rusia. Penyuka Balet. Benci makan tachos dan satu-satunya pengamat kompetisi ballerina yang langsung datang ke tempat latihan balet untuk memilih sendiri penarinya.
"Masuk ke barisan!." Leonif menggertakku yang masih berdiri di depan pintu agar berlari masuk ke jajaran balerina yang menari.
"Lemaskan gerakan kalian, tunjukkan yang terbaik dan buktikan kalian bisa pulang bersama Leonif," sahut Nyonya James.
Aku terganggu sekali dengannya. Langkah tariku yang lemah gemulai dan santai tetap konsisten meski Leonif terus saja melewatiku dan menatapku dari segala sisi dengan pandangan buruknya.
Musik terus diputar dan kami harus terus menari. Pada saat seorang pria masuk ke ruangan, Leonif menyuruh Nyonya James menghentikan musiknya. Akhirnya, kami bisa beristirhat dan melemaskan kaki.
"Perhatian, ballerinaku!. Aku mengundang penyanyi muda nan berbakat seperti Luca Spark untuk bergabung bersama kita." Leonif mengumumkan penuh semangat.
Apa ?. Apa aku tidak salah dengar ?. Luca akan bergabung bersama tim balerina murahan kami. Itu seperti penghinaan baginya.
'Aku tidak mungkin menyanyi untuk para gadis. Mereka balerina. Kupu-kupu cantik yang terhipnotis musik sangat tidak cocok untukku,' batin Luca.
Leonif sangat salah memilih dirinya. Ayah biologisnya yang masih berkecimpung di arena tarian tentunya akan sangat kecewa anak biologisnya tidak bisa menyanyi apalagi berbicara.
Pada saat Nyonya James memberikan mirofon ke Luca, Adelaide bereaksi.
"Silent!," Leonif mengheningkan ruangan dengan sekali teriakan.
"Apa benar, Nak. Kau tidak bisa menyanyi lagi ?." Luca mengangguk. "Bahkan bicara ?."
Nyonya James terlalu memaksakan kehendaknya. Luca benar-benar tak bisa bicara. Mulutnya terus dipaksa mengatup-ngatup seperti ikan koi. Tanpa ada suara.
Leonif menundukkan kepala. Dia berjalan bolak-balik, berpikir sesuatu dan akhirnya, dia menemukan solusinya.
"Baiklah, ladies. Luca tidak akan menyanyi tapi, dia akan memainkan musik untuk kita. Panggung kompetisi balet semakin ketat setiap tahunnya. Aku mau, pemain musik dilibatkan dalam tarian kalian."
Semua teman balerinaku saling berbisik. Mereka mengamini Luca sebagai pemain musik mereka. Tapi, tidak sedikit pula yang menggeleng kecewa akan kemampuan permainan musiknya.
Leonif dan Nyonya James menyadari keadaan semakin kalut. Jadi, agar kelas cepat berakhir, dia segera mengumunkan siapa yang akan mewakili pertandingan balet ke panggung Stockholm.
Bahu yang disentuh Leonif tidak akan terpilih menjadi perwakilan. Hanya yang tidak pernah disentuh Leonif saja yang akan maju mewakili kelas ini.
__ADS_1
"Estelle Starlight, silahkan maju ke depan."
Aku berkeringat dingin, namaku dipanggil pria tua keras kepala itu. Apa yang akan aku lakukan didepannya sangat tidak berbuah manis. Tatkala dia mengkomplain semua gerakan lemahku di sesi latihan tadi.
Leonif memerintahku untuk berkolaborasi dengan Luca. Besok, dia akan datang lagi ke kelas untuk melihatku menari mengikuti alunan musiknya.
...***...
Kelas bubar. Aku berpamitan balik pada teman balerinaku yang memilih pulang duluan.
"Estelle, selamat ya," ucap Cherly yang baru saja menutup pintu lokernya.
"Makasih, Cherl." Aku memakai stocking hitam bergantian di kedua kakiku.
"Berlatihlah yang keras, Cacha!. Aku tidak sabar melihatmu menari di panggung Stockholm."
Cherly memberiku ucapan selamat atas terpilihnya diriku di kompetisi nasional. Biasanya dia yang akan maju dan tampil di panggung besar seperti itu tapi, dia memundurkan diri dari kompetensi setelah mengemban tugas menjadi pewaris bisnis ayahnya.
Kudengar sangat jelas suara Cherly memaki seseorang di depan pintu ruang ganti, aku segera memakai highellsku dan mengecek keluar.
"Ada apa, Cherly ?," menatap wajah Cherly yang marah dan melihat Luca yang berhadapan dengannya.
"Pria ini penguntit," menunjuk Luca. Berhati-hatilah, Cacha!. Kau perlu mengawasinya."
"Makasih, Cherl."
Perempuan tinggi berambut merah panjang berjalan keluar dari gedung latihan balet. Nyonya James dan Leonif juga sudah pulang duluan tadi sebelum kami. Sekarang, hanya tersisa aku dan Luca saja disini.
"Hey, kau mau minum kopi ?." Aku bertanya ramah.
'Gadis sok akrab ini mengajakku minum kopi. Aku tidak akan pergi dengannya. Meh!,' jawab Luca dalam hati.
Aku tidak mengerti. Luca diam saja.
"Kau tidak usah malu. Aku yang traktir."
'Memaksa sekali. Aku bilang tidak ya tidak. Kenapa dia tidak mengerti diamku ?.'
__ADS_1
Luca tidak menjawab pertanyaanku. Pria jelek itu memilih berlari pergi tanpa jejak pesan. Sedangkan aku menyusulnya pergi ke arah pulang yang berlawanan.
...***...