
' Gila bukan kepalang. Pria yang memukulku tadi sangat posesif. Sekilas, aku bisa tau, kalau kepala pria yang terus dielus Elle adalah pacarnya. Aku sangat penasaran, kenapa dia bisa bertahan dengan pria berpangkat yang suka main pukul.'
Monolog suara hati Luca tak ada gunanya lagi setelah aku memberanikan diri datang padanya. Dengan wajah menyesal, aku mengatakan permintaan maaf Diego. Pacarku memang seperti itu. Aku harap dia mengerti kalau pendidikan militer menjadi seserang menjadi keras dan bisa dibilang terlalu 'peka'.
Luca tersenyum menanggapi permintaan maafku. Lagi pula, yang dilakukan Diego itu wajar. Kalau dia jadi Diego juga pasti sudah memukul sambil memakinya.
Sebelum kami bicara lebih jauh lagi, Luca menunjuk buku sakunya dan pena di meja rumah sakit. Aku mengambil. Kemudian memberikan padanya.
Luca menuliskan sesuatu. 'Maaf, aku tak sengaja membuatmu gelisah.'
"Aku yang harusnya minta maaf karena memberimu pelukan kemarin."
'Bukan itu, Elle. Aku minta maaf karena mengajakmu menari tadi.'
Aku mengangguk saja. Tidak pernah ada gunanya berdebat dengan Luca. Kalau kupaksakan, nanti, lebam di tepi bibirnya akan terasa sakit.
Setelah perawat selesai menulis nama pasien di depan ranjang Luca, Dokter Rafael mendatanginya. Dia menyapa dan mengajakku berbicara.
"Kenapa bibirmu biru begitu ?. Habis berkelahi ?." Dokter Rafael melewatiku. Dia memeriksa wajah Luca.
"Dia dipukul pacarku, Dok." Aku mengaku.
__ADS_1
"Terkena tenggorokannya ?."
Aku menggeleng ragu. "Coba dokter lihat sendiri saja."
Senter kecil dari sakunya sedang menerawang mulut Luca. Dokter sedang memeriksa tenggorokan Luca dan mengatakan bahwa tenggorokannya tak apa. Pita suaranya masih tetap.
Mumpung Luca berada di rumah sakit, Dokter Rafael langsung memasukkan nama Luca ke dalam daftar pasien terapi pita suara. Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba saja, aku kena tagihan pengobatannya di kasir.
Biayanya cukup mahal. Kalau ditotal dengan tagihan Diego, setengah tabungan habis dalam satu hari. Wajahku langsung lesu setelah membayar. Diego yang sudah menungguku di dalam mobil tidak bertanya apa-apa, selain mengantarku sampai ke apartemenku dengan selamat.
Pesan-pesan Diego sebelum dia mencium pipiku dan membiarkanku keluar dari mobil adalah untuk tidak menduplikat kunci kamar apartemenku pada siapapun. Kalau aku ketahuan menduplikat kuncinya, sepuluh polisi akan berjajar di sekitar gedung apartemenku.
...***...
"Naikkan lampunya sedikit ke atas," arahnya pada petugas pemasang lampu di lantai atas barisan bangku VIP. Petugas itu menurut.
"Sudah pas, bos ?."
"Mantap."
Tom beralih ke arah tirai-tirai merah yang menggantung di sisi kanan kiri pinggir panggung. Menurutnya, tirai merah yang agung harus diganti dengan yang baru. Warna merah pudarnya sangat mencolok dari kejauhan.
__ADS_1
Setelah mengomentari tirai, dia melupakan bangku-bangku penonton. Dengan cepat, dia berlari menuruni panggung menuju ke arah bangku penonton.
Pada saat dia sedang berlari menuju kesana penuh semangat, Leonif masuk ke dalam ruang pertunjukan. Langkah kakinya lemas tapi tidak sampai terseok-seok. Tom tahu benar penyebab wajah lesu sahabatnya itu.
"Ada masalah lagi ?," komentar Tom setelah Leonif duduk di salah satu bangku penonton.
"Setiap hari di hidupku adalah masalah."
"Jangan begitu, Nif. Terkadang kamu harus tersenyum saat dunia mengadilimu. Ada saatnya kamu bangga bahwa karma adalah jalan menuju pertobatan."
Saran Tom ada benarnya. Leonif harus segera bertobat. Sudah puluhan tahun, dia tidak pergi ke makam Gaia. Padahal, kuburannya tidak jauh dari pusat kota Stockholm.
Keberanian mengunjungi makam Gaia tak akan pernah dia lakukan kalau Luca belum memanggilnya ayah. Sebagai suami yang menderita di akhir hidupnya, dia perlu membuka foto di dompetnya dan menatap wajahnya dalam waktu lama.
...***...
Tatapan lama pada sebuah foto juga terjadi pada Luca. Foto hitam putih seorang perempuan cantik disanggul yang memperlihatkan setengah wajahnya membuat Luca penasaran. Pasalnya, hanya foto itu yang diambilnya dari selimut bayinya di gudang.
Kadang Luca berpikir bahwa foto perempuan cantik itu adalah ibunya Rosa di waktu muda atau, ada orang lain yang dekat dengan hidupnya.
Selama menatap fotonya, Luca menitikkan air mata secara tak sadar seperti layaknya Leonif yang baru saja menghapus aliran air matanya di pipinya. Agar tak kelihatan lemah, dua laki-laki yang berada di tempat berbeda memasukkan foto itu di dalam dompet mereka masing-masing.
__ADS_1
...***...