
angela menatap tajam ke arah marisa, sedangkan marisa masih syok mendengar ucapan kalau bastian sudah mempunyai istri jantungnya terasa berhenti sejenak,
ia merasa kini dunianya hampa, tatapannya kosong, angela yang tadinya marah pada marisa kini ia mendadak kasihan melihat marisa yang tengah ke sakitan,
tubuhnya mulai roboh, angela yang melihat itupun segera menolongnya, dan meminta bantuan untuk membawanya ke dalam taksi,
sementara itu di tempat lain dinda tengah duduk di kursi panjang yang berada di depan danau kecil, ia berlalu menuju danau kecil yang terletak tidak jauh dari supermarket itu,
ia di sana sambil menangis, bastian kini sudah berada di depan dinda, namun dinda tidak mau menatap bastian sama sekali rasanya hati dia hancur melihat bastian bersama wanita lain,
"din maafin aku, semua yang kamu lihat gak bener din maafin aku, " mohon bastian sambil membungkuk di depan dinda yang tengah menangis,
"kamu pergi dari sini atau aku yang pergi, " ancam dinda dengan suara yang serak karena menangis,
Tiba-tiba ponsel bastian berbunyi, bastian langsung membuka pesan masuk ke ponsel nya dan ternyata itu adalah dari pihak rumah sakit,
memberitahu nya kalau marisa kini drop dan dia harus harus segera ke rumah sakit,
"kenapa harus sekarang lagi, " umpat bastian kesal, kenapa harus ia yang di panggil,
"kenapa?, di suruh sama marisa lagi, " ledek dinda sambil tersenyum kecut,
anjar datang ke antara mereka dan menepuk pundak bastian, "pergi aja, biar dinda gue yang urus, " ucap anjar
bastian menatap ke atas ke wajah anjar, lalu ia berdiri ia memeluk anjar dan berbisik, " tolong jaga dinda, aku akan segera kembali, " bisik nya sebelum akhirnya pergi dari sana walau dengan langkah yang ragu, ia tetap melangkahkan kakinya,
anjar menatap kepergian bastian sebelum akhirnya duduk di samping dinda,
"gak usah nangis, kamu belum tau yang sebenarnya, " ucap anjar santai sambil Menyilang kan kakinya,
"kau ini apa sih, aku sedang tidak mau di ganggu!, kau pergi saja!, lagian semuanya sudah jelas di mataku dia bersama wanita lain, " balas dinda tanpa menatap ke arah anjar,
"kenapa?, bukannya kau juga sekarang tengah duduk dengan lelaki lain, dan bastian mengijinkan nya, " balas anjar santai,
"ini beda, aku duduk dengan adik ipar ku, sedangkan dia jalan bersama wanita lain, " ucap dinda dengan kesal,
"kau salah, kau ini belum dewasa juga yah, makannya kalau mau nikah itu harus udah dewasa dulu biar ngerti, " ucap anjar sambil menatap ke arah dinda,
__ADS_1
"aku udah dewasa kok, " ucap dinda tak mau di salahkan,
"kalau kau dewasa kau harus mendengar kan penjelasan bastian terlebih dahulu, bukannya marah-marah, " ucap anjar,
"penjelasan apa?, "
"ya kau tanya pada bastian lah, aku tidak tau, karena itu bukan aku, " balas anjar acuh sambil kembali menatap ke arah depan,
"tapi kalau memang dia selingkuhannya bagaimana?, " ucap dinda khawatir,
"berarti tebakan kamu benar, " balas anjar,
"ah kau ini, " frustasi dinda sambil mengacak rambutnya sendiri,
"memang benar kan?, "
"iya juga sih, " balas dinda sambil mengangguk,
"ya sudah ke rumah sakit yuk, " ajak anjar,
namun tiba-tiba kepala dinda mendadak pusing dan juga mual, dinda yang akan berdiri pun mendadak duduk kembali
"aku tak tau, tapi kepalaku sakit sekali, " ucap dinda sambil terus memegang kepala nya,
"ya sudah kita periksa kondisi mu, kita ke dokter, " anjar membantu dinda menaiki mobilnya dan pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi dinda,
setelah sampai di rumah sakit, anjar turun dan langsung membawa dinda masuk,
setelah melakukan pemeriksaan anjar dan dinda kini tengah menunggu tesnya, dan kini dokter yang memeriksanya sudah mendapatkan hasil nya,
dokter itu duduk di hadapan mereka, " selamat mba, mba hamil, " ucap dokter itu sambil memberikan surat hasil tesnya,
"ah yang benar dok" dinda benar-benar senang mendengar hal itu, ia kini menatap ke arah anjar tak percaya,
"kau mau punya anak, " ucap anjar yang juga senang,
"selamat yah kalian sebentar lagi menjadi orang tua, " ucap dokter itu memberi selamat,
__ADS_1
"dia bukan suami saya dok, dia adik ipar saya, " ucap dinda
"baiklah maafkan saya, habisnya kalian ini serasi sekali, yang cewek cantik dan yang cowok tampan, " balas sang dokter,
"kau tau pak bastian, " tanya dinda,
"tau, siapa yang tak mengenal lelaki tampan seperti dokter bastian, " ucap dokter yang kebetulan dia adalah seorang perempuan,
"nah itu suami ku, " ucap dinda sambil tersenyum,
"yang benar saja, ah aku harus memberi selamat pada nya, " girang dokter itu,
"dok, tolong jangan dulu beritahu dia dulu yah, " mohon dinda,
"kenapa?, ini kabar yang bagus loh, perlu di beritahu lah, " ucap dokter itu heran,
"belum waktunya, " ucap Anjar mencoba menjelaskan,
"baiklah, aku tidak akan memberitahu nya, " ucap dokter itu sambil menutup mulutnya menggunakan tangan sebentar,
"ya sudah kami pamit yah, " pamit anjar sambil berjalan ke luar dari ruangan itu,
"kau tau wanita yang tadi, bukannya marisa adalah teman keluarga mu, kau pasti tau dong siapa dia?, " tanya dinda sambil terus berjalan,
"yah setau ku dia sakit, ibuku yang memberi tahu semua itu, dia terkena kanker stadium terakhir, " jelas anjar,
"dan aku pikir sebenarnya bastian adalah dokter nya, awalnya namun kayaknya marisa jatuh cinta pada bastian, ia menganggap bastian perhatian itu karena sayang pada nya, padahal kan itu hanya sebagian dari pekerjaan nya, aku tau itu dari ibu ku sih, tapi aku tidak tau kalau dokter nya adalah bastian karena orang tua marisa tak pernah memberitahu, " sambung anjar,
dinda dan bastian tak sengaja melewati ke tempat di mana orang tua marisa tengah mengobrol dengan bastian, di depan ruangan UGD,
"tapi saya tidak bisa kalau saya harus menerima cintanya, itu bukan kerjaan saya" ucap bastian,
"bas, saya minta tolong pada mu, anak kami sudah tidak punya banyak waktu, aku mohon bastian tolong buat hari-hari terakhir berwarna, " mohon ibunya marisa sambil menangis,
"tapi saya tetap tidak bisa, saya sudah punya istri, ada hati yang harus saya jaga, kalau ibu mau pecat saya, saya tidak papa, pecat saja saya, saya tidak bisa melakukan hal yang mampu membuat istri saya terluka lagi, " kekeh bastian,
"bas, saya mohon saya akan berikan apapun yang kau mau, kau mau rumah sakit ini silahkan kau ambil tapi tolong berikan anak kami kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dunia terlebih dahulu, " pinta ibunya marisa, sambil menangis histeris,
__ADS_1
"bu saya tidak butuh rumah sakit ini, kalau hati belahan jiwa saya sampai terluka, saya minta maaf Bu, saya mohon tolong mengerti saya, saya tidak bisa melakukan hal ini, " ucap bastian sambil melepas tangan ibu kinar, dan membuka jas putihnya,
saat bastian akan pergi ada sebuah tangan menariknya dan membawanya kembali ke hadapan ibunya marisa yang tengah menunduk,