Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
33,Pulang dari Rumah sakit


__ADS_3

ini adalah hari dimana dinda kembali pulang ke rumahnya, awalnya sherly dan yang lainnya akan menjemput dinda namun bastian dan dinda menolaknya,


takutnya merepotkan, lagi pula dinda dan bastian berniat bermain ke taman yang berada tak jauh dari rumah sakit itu, dinda ingin merehatkan pikirannya yang sedang kacau ini,


kini mereka sudah sampai di taman itu, mereka duduk berdampingan di kursi putih panjang yang berada di sana, dinda menyenderkan kepalanya di pundak bastian,


"kita kapan ngomong sama kakak ku, kalau kita akan pindah ke Korea Selatan?, " tanya dinda,


"kita bicarakan ini besok aja sama kakak kamu, dan juga orang tua kamu, bukannya besok orang tua kamu akan ke rumah yah, nengok kamu, " balas bastian,


"bilangnya sih gitu, tapi kayaknya cuman mamah aku deh, soalnya papah katanya masih ada kerjaan di luar negeri, " ujar dinda sambil menatap dan tersenyum ke arah bastian,


"mau es krim gak?, " tawar bastian,


"boleh, yang banyak yah beliin nya, " ucap dinda sambil menegangkan posisi duduknya,


kini bastian pergi ke arah penjual es krim itu, sementara dinda ia tetap menunggu di sana, ia juga memainkan ponselnya,


setelah beberapa menit akhirnya bastian datang membawa dua es krim yang satu langsu ia berikan pada dinda, saat itu dinda langsung menyimpan ponselnya lalu mengambil es krim dari bastian,


"mau nyobain punya aku gak?, " tanya bastian,


"boleh, " balas dinda,


kini bastian menyodorkan es krim nya ke depan dinda, baru saja dinda akan menjilat es krim itu bastian malah mengotori hidungnya dinda dengan es krim itu,


"ayang, kotor, " teriak dinda tak Terima, ia langsung mengolesi wajah bastian menggunakan es krim punya dirinya,


"ah kamu mah, " ucap bastian saat dinda selesai mengolesi wajahnya,


"awas kamu yah, " sambung bastian sambil berlari mengejar dinda yang kabur,


"sayang, jangan Lari-lari aku capek, " teriak bastian,


"massa, " ledek dinda sambil memeletkan lidahnya ke arah bastian,


"yang, berenti napa, kamu baru abis oprasi, " teriak bastian khawatir,


dinda tiba-tiba berhenti sambil memegang perutnya, ia langsung duduk di tanah, "yang sakit, " rintis dinda sambil memasang muka kesakitan,


bastian langsung ke dekat dinda dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, "kamu kenapa?, " panik bastian sambil memegang tangan dinda


"perut ku sakit yang, " balas dinda, dengan suara yang terbata-bata.

__ADS_1


"aku kan udah bilang, jangan lari-larian kamu kan baru abis oprasi, " kesal bastian kenapa dinda ini kalau di bilangi gak mau nurut,


"ya kan tadinya aku cuman mau main sama kamu, " balas dinda merasa bersalah,


"ya udah kita ke rumah sakit lagi, " ucap bastian, saat bastian akan mengangkat dinda, dinda malah tertawa membuat bastian bingung,


"dih kok malah ketawa, " heran bastian, ia jadi menurunkan kembali dinda,


"aku boong, " jawab dinda sambil tertawa puas, ia berhasil mengerjai bastian,


"ah kamu mah gak lucu tau, " kesal bastian,


"kamu panik sayang, uh sayang ku, " rayu dinda sambil memeluk bastian,


"yang kok aku mendadak pusing yah, " ucap bastian sambil memegang kepalanya,


"pasti boongan, buat balas dendam yah, " balas dinda tak percaya,


"serius yang pala aku pusing, " ucap bastian menyakinkan dinda,


"ya udah kalau kamu pusing kita ke rumah sakit, " balas dinda sambi berdiri dan menarik bastian,


"ah yang, kamu panik ke, " kesal bastian karena ia gagal prank dinda,


"sayang, kamu tuh gak berbakat buat jadi artis makannya kamu gak bisa akting, " ucap dinda sambil merangkul bastian dan kembali duduk di kursi putih,


"dih kamu kenapa lari, " ucap bastian tak Terima,


"ih kamu yang duluan, kamu kan yang ngotorin hidung aku, " ucap dinda tak mau kalah, kini mereka saling melayangkan tatapan tajam,


"ahhh pokoknya kamu yang salah, " rengek dinda sambil memoyongkan bibirnya, dan berpura-pura menangis,


"iya, aku yang salah, kamu yang benar, " pasrah bastian sambil memeluk dinda,


"nah gitu dong, " senang dinda, ia juga membalas pelukan bastian,


"pulang yuk, kita kan harus siap-siapin barang-barang, " ajak bastian sambil melepas pelukannya,


"ya udah yuk, " setuju dinda, kini mereka berdua pun pergi dari taman itu,


di tempat lain, Daniel tengah bersama sherly di sebuah rumah makan, mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya,


tadi sherly pergi ke kantor Daniel untuk mengajaknya makan siang, entah kenapa hari ini ia ingin sekali makan siang bersama dengan suaminya itu,

__ADS_1


"yang besok anterin aku ke dokter kandungan yah, " ucap sherly, sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu,


"iya sayang, besok juga aku kayaknya gak bakalan masuk kantor deh, " balas Daniel sambil mendekatkan wajahnya ke arah sherly,


"ouh iya, kita sekalian beli barang-barang buat anak kita gimana?, " sambung Daniel,


"yang masih lama, kandungan aku itu baru 4 bulan, " balas sherly.


"gak papa, " kekeh Daniel,


"tapi yang kita belum tau kelaminnya apa, lagian aku gak mah tau dulu biar kejutan nantinya, " ucap sherly,


"tapi kan bisa kita beli bajunya yang bisa di pakai sama cowok cewek, lagian kalau masih kecil mah kan gak papah, " Daniel tetap bersikeras,


"ya udah lah terserah kamu, " pasrah sherly,


di tempat lain angela tengah bersama anjar, ia sudah yakin dengan keputusannya, mungkin dengan ini ia mulai akan bisa melupakan dinda, ia tidak mau semakin dalam mencintai dinda karena itu akan sangat tidak baik bagi dirinya sendiri,


ia tengah bersama angela di restoran miliknya, mereka duduk saling berhadapan,


"angela, gue cowok yang gak suka basa-basi, mau gak lu jadi istri gue, " ucap anjar langsung ke intinya, ia tidak mau bertele-tele,


angela tidak percaya dengan apa yang anjar katakan, matanya bahkan hampir keluar dari tempatnya, jantungnya serasa ingin loncat ke langit,


"kamu bilang apa?, " tanya angela meyakinkan sekali lagi,


"kamu mau gak nikah sama aku?, " ucap anjar meyakinkan angela,


"aku mau, " jawab angela ia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini,


"makasih yah, " ucap anjar manis, sambil memegang kedua tangan angela,


rasanya bagaikan ada sambaran petir di siang bolong saat tangan anjar memengnya, rasanya tangan itu tak ingin angela lepaskan kembali, ia ingin memiliki sang pemilik tangan itu untuk bersamanya dan terus memegang tangannya walau saat susah sekali pun,


"acara tunangan kita, aku ingin di buat sederhana aja yah, soalnya mendadak kalau kamu gak mau sih juga gak papah berati terserah kamu mau acara yang kayak gimana," ucap anjar,


angela masih tidak percaya, ia bahkan mengangap ini hanya mimpi, " gue gak mimpikan?, " tanya angela,


anjar tersenyum lalu mencubit pipi angela, "ah sakit, " rintis angela,


"berarti gak mimpi, " balas anjar,


"ah ternyata iya, " girang angela,

__ADS_1


"oh iya masalah pertunangan, kita sederhana aja gak papa kok, kita undangnya sodara dan temen deket doang, " sambung angela,


kini angela dan anjar saling berpelukan, "aku akan mulai hidup baru, maafin aku yah angela, saat ini aku memang belum mencintaimu tapi aku yakin aku akan bisa mencintai mu karena kamu orang baik, sama kayak dinda, " gumam anjar dalam hati saat memeluk angela,


__ADS_2