Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
31,Panik


__ADS_3

anjar sudah di depan rumah dinda namun rumahnya di kunci, membuat ia kebingungan bagaimana caranya ia masuk, sampai akhirnya ia memutuskan untuk naik dan masuk lewat balkon kamar dinda yang berada di lantai dua,


dengan susah payah, akhirnya ia berhasil masuk ke rumah itu, dan ia juga melihat dinda sudah pingsan dengan darah di mana-mana,


anjar langsung saja menggendong dinda dan membawanya turun, saat sudah di depan pintu keluar ia tidak sama sekali menemukan kunci, membuat ia dengan terpaksa mendobrak pintunya, karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari kunci,


anjar menidurkan dinda di kursi penumpang, sementara ia menyetir mobilnya ke rumah sakit terdekat,


di perjalanan anjar terus berdo'a, ia berdo'a semoga dinda dan anaknya bisa di selamatkan, ia tidak habis pikir kenapa cuman ada dinda di sana,


sementara itu tepat setelah kepergian anjar dari rumah itu sherly dan yang lainnya datang, mereka kaget saat melihat pintu rumahnya terbuka,


saat turun dari mobil mereka langsung berlari ke kamar dinda, saat mereka berada di kamar dinda mereka lebih di kagetkan lagi karena banyak darah di kamar itu, mereka semua semakin bingung,


"del, dinda nya mana?, " panik angela,


"ya udah cari sana!" titah Della,


mereka mencari dinda ke setiap sudut kamarnya, ia juga mencari ke tempat lain,


"gak ada, " ucap sherly,


kini mereka ada di ruang tamu,


"gue cuman nemu HPnya doang, " ucap Della, sambil mengacak-acak rambutnya,


"apa Jangan-jangan, " ujar angela mengangtukan ucapannya,


"ah jangan mikir yang aneh-aneh deh, " balas sherly,


"tapi di sana banyak darah, " ucap angela nyolot,


"bastian, telpon, " titah Della,


sherly langsung mengambil ponselnya dan menelpon bastian, namun lagi-lagi ponselnya mati,


"gak bisa di hubungin, kayaknya ponselnya mati deh, " ucap sherly yang baru saja menelpon bastian,


"ah kemana lagi tu anak, " panik Della,


kini mereka bertiga sudah sangat panik dengan dinda yang tidak mereka temukan di rumahnya tersebut,


"anjar, mungkin aja tadi dinda nelpon dia, " entah darimana Della malah terpikir tentang anjar,

__ADS_1


"ah ada benernya juga, " angela menyetujui apa yang Della ucapkan ia langsung saja menghubungi anjar,


"hallo, jar, " rupanya anjar langsung mengangkat telpon dari mereka,


"iya apa?, " tanya anjar, di sebrang telpon,


"lu tau dinda di mana?, " tanya angela, Della dan sherly langsung duduk di samping angela untuk mengetahui obrolan mereka,


"oh, dinda lagi sama gue, di rumah sakit, kayaknya tadi dia jatoh deh, " jawab anjar,


"apa jatoh, " kaget ketiganya,


"iya, kalau mau ke sini gue kirimin alamatnya yah, " ucap anjar,


"kita ke sana sekarang, " angela langsung mematikan telponnya dan langsung mengajak Della dan juga sherly untuk ke rumah sakit,


setelah sampai di rumah sakit mereka langsung berlarian menuju ke tempat yang anjar maksud, saat sampai di sana mereka langsung duduk di dekat anjar,


"kondisi dinda gimana?, " tanya Della panik,


"tadi dokter bilang dia harus di oprasi, tapi pihak rumah sakit minta keluarga harus tanda tangan dokumen nya dulu, gue juga udah coba telpon bastian tapi gak di angkat, " jawab anjar prustasi,


"kita juga tadi coba hubungin bastian tapi gak aktif, " ujar Della,


yang di setujui oleh mereka, sherly langsung menghubungi Daniel, dan untung nya Daniel bisa di hubungi,


di kantor Daniel tengah mengadakan miting dengan karyawan nya, namun tiba-tiba ia mendapat telpon dari sherly,


"sebentar yah saya mau mengangkat telpon dulu, siapa tau penting, " ucap Daniel sambil pergi meninggalkan ruangan miting,


"apa sayang?,aku lagi miting, " ucap Daniel gemas,


"yang ke rumah sakit yah, dinda, gawat yang, cepetan, " panik sherly dari sebrang tepon nya,


sontak Daniel kini menjadi panik "dinda kenapa, ada apa?, yang jelas dong yang?, " ucap Daniel,


"pokoknya kamu cepetan ke sini!, " pinta sherly, ia langsung mematikan telponnya,


Daniel masuk ke ruangan miting nya dengan ke adaan panik, " miting hari ini kita sudahi dulu, soalnya ada hal yang lebih penting yang harus saya urus saat ini, untuk miting selanjutnya nanti saya kabari dulu, kalau ada hal yang penting kalian kasih tau pada sekertaris ku dulu, " ucap Daniel panjang lebar,


kini Daniel langsung pergi keluar dari kantor nya, ia langsung bergegas menuju rumah sakit yang sudah sherly kirimkan alamatnya,


di tempat lain bastian merasa tidak enak hati ia dari tadi terus memikirkan dinda, namun ia juga tidak enak pada marisa, karena ini adalah hari terakhir nya marisa ada di sini,

__ADS_1


"bas, bentar lagi aku akan pergi, jangan kangen yah, " ucap marisa sambil tersenyum,


"dih, gak akan pernah, " canda bastian,


"ah kok gitu sih, " ucap marisa sambil cemberut,


"biarin, " singkat bastian,


"ok, kalau gitu aku juga gak akan kangen sama kamu, " balas marisa sambil bersedekap dada,


"bodoamat, " ujar bastian,


"ihhh kok gitu sih, " geram marisa sambil mencubit perut bastian,


"sakit tau, " ucap bastian saat perutnya di cubit oleh marisa,


orang tua marisa hanya tersenyum melihat kedekatan mereka,


"biarin abisnya jutek, " balas marisa sambil cemberut,


"gak kok, nih aku gak jutek, " bastian menggelitik marisa,


"bas, udah bas aku capek ketawa mulu, " ucap marisa sambil ketawa karena geli,


"makannya diem, jangan cubit aku, " kini bastian berhenti menggelitik marisa,


dan kini sudah saatnya marisa pergi, marisa menatap sedih pada bastian, "bas, aku gak tau aku akan bisa lagi natap kamu atau enggak, tapi asal kamu tau aku akan tetap bawa rasa ini sampai kapan pun, " ucap marisa,


"Mar, jangan sakitin hati lu sendiri li harus bisa buka pintu hati lu untuk orang lain, agar lu gak sakit hati mulu, " balas bastian sambil mengacak-acak puncak rambut marisa,


"gue pergi yah, " pamit marisa sambil berjalan bersama orang tuanya, pergi meninggalkan bastian,


bastian hanya tersenyum menatap kepergian marisa, saat marisa sudah tidak bisa ia pandang lagi, ia berbalik berniat untuk pulang


kini di hatinya ada rasa senang namun juga ada rasa sedih, ia senang karena marisa sudah tidak lagi menggangu hubungannya lagi, namun ia juga sedih dengan kondisi marisa,


saat ia sudah dalam mobil ia baru sadar kalau ponselnya mati, " lah kok mati sih, perasaan tadi full kok baterai nya, "heran bastian ia merasa tadi baterai nya penuh,


saat ia menghidupkan ponselnya ia mendapat kan banyak pesan masuk, ia membuka pesan masuk dari anjar,


" bas, dimana pun lu berada plis, baca pesan gue, ini nyangkut dinda, lu ke rumah sakit sekarang dinda butuh lu, "


pesan yang di kirimkan anjar pada nya, kini ia panik, ia juga membaca alamat yang anjar kirimkan padanya,

__ADS_1


bagaimana bisa ini terjadi, ia membawa mobilnya sangat kencang bagaikan orang yang kerasukan pikirannya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi saat ini,


__ADS_2