Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
32,Penyesalan


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit, bastian langsung berlari ke ruangan yang di beritahukan anjar padanya, setelah berada di sana Daniel langsung menarik kerah baju bastian,


"lu kemana aja?, " tanya Daniel dengan sangat marah,


"tenang, jangan ribut di sini, " sherly menenangkan Daniel, ia menarik tangan Daniel yang sama sekali tidak bergeming,


bastian tampaknya menyadari kesalahannya, ia hanya bisa diam tidak mau mengelak karena ini memang salahnya


"lu tu gimana sih, gak bisa ngurusin adik gue lu?, " tanya Daniel masih dengan amarah yang sudah naik,


"udah Nil, ini bukan waktunya untuk berantem, " anjar melerai mereka, dan akhirnya Daniel mau mengalah, ia duduk di samping Della , lalu sherly ikut duduk di samping Daniel mencoba menenangkan Daniel,


"dinda di mana?, " tanya bastian panik,


"dinda di dalem, lu masuk sana, dia butuh lu, " titah angela sambil menepuk punggung bastian,


dengan langkah yang ragu bastian melangkahkan kakinya menuju ruangan dinda, saat ia masuk ia bisa melihat kalau dinda tengah menangis,


bastian langsung pergi memegang tantang dinda lalu meminta maaf, " sayang maafin aku, aku gak bisa ada saat kamu butuh, " ucap bastian,


dinda masih dengan tatapan kosongnya, sekarang tangisannya semakin kencang, "anak kita, bas, anak kita, " ucap dinda sembari sesenggukan,


"aku minta maaf, " Lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut bastian,


dinda bangun dari duduknya, " gak ada yang perlu di salahin bas, ini memang udah jadi takdir aku, aku mungkin belum siap di kasih anak sama Tuhan, makannya Tuhan ambil lagi anak kita, " ucap dinda, dengan air mata yang masih mengalir, ia sudah menghapus air matanya namun air matanya tetap saja mengalir, membasahi pipinya,


bastian memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap ke arah dinda, ia duduk di depan dinda,


"yang aku minta maaf, " ucap bastian lirih,


"bas, aku udah bilang aku udah Terima kok, apa yang terjadi saat ini, bas jangan salahin diri kamu gitu dong, " balas dinda sambil memegang pipi bastian dengan kedua tangannya,


"tapi aku salah, kalau aja tadi HP aku gak mati, mungkin aja anak kita masih bisa aku selamatin, " ucap bastian menyesal,

__ADS_1


"sayang, ini udah terjadi, gak ada yang perlu di sesali, Tuhan tau yang terbaik untuk kita, " ucap dinda, ia berusaha berpikir dewasa, walau sebenarnya hatinya memang rapuh,


"tapi aku tetep salah, kalau aja aku tadi gak nganterin marisa ke bandara, " ucap bastian kesal, ia kesal pada dirinya sendiri,


"udah sayang, " dinda menarik tubuh bastian ke pelukannya, kini bastian menangis di pelukan dinda,


"sayang aku tau kamu pasti merasa bersalah, aku juga sama sayang aku merasa bersalah kalau aja aku tadi hati-hati mungkin ini gak akan terjadi, " ucap dinda sambil mengelus rambut bastian,


"tapi ini tetap salah aku, " kekeh bastian,


dinda melepaskan pelukannya dan memegang tangan bastian, " yang jangan kayak gini, kalau kamu kayak gini aku akan semakin sedih, udah yah jangan nangis lagi, apalagi menyesali apa yang sudah terjadi, " dinda menghapus air mata di wajah bastian, menggunakan tangannya,


bastian menciun tangan dinda, " aku janji, aku gak bakalan buat kamu kayak gini lagi, " janji bastian, kini ia kembali memeluk dinda,


"ini baru bastian yang aku kenal, " ujar dinda sambil tersenyum, dan membalas pelukan bastian,


kini bastian melepaskan pelukannya, " aku mau bilang sama kamu, gimana kalau kita pindah rumah yuk, aku udah pikirin ini jauh-nauh hari, " ucap bastian,


"pindah rumah," kaget dinda,


"tapi itukan gak mudah, lagian emangnya ada yah uangnya buat pindah ke sana?, " balas dinda,


"sayang, aku udah pikirin itu mateng-mateng, mana mungkin aku mau pindah ke sana kalau gak punya uang, " ujar bastian sambil mengelus rambut dinda,


"kalau aku sih terserah kamu, " pasrah dinda, ia akan mengikuti apapun keinginan bastian, kalau itu memang baik untuk mereka,


"papah aku punya perusahaan di sana, aku juga udah bilang sama papah aku, dan papah aku bilang perusahaan nya yang ada di Korea Selatan mau ia kasih buat kita, " ucap bastian,


dinda kembali memeluk bastian, " papah mu baik banget yah sama kita, " ucap dinda,


"makannya, aku sayang banget sama dia, " balas bastian,


kini mereka tidur di sana berdua, walau tempatnya sangat kecil namun mereka nyaman-nyaman saja, mereka tidur saling berpelukan,

__ADS_1


sementara itu di luar mereka masih menunggu dinda, "kalian pulang aja biar gue yang nungguin dinda di sini, " titah Daniel,


"sayang kan udah ada bastian, kita pulang aja yuk, kamu kan pasti capek dari kantor langsung ke sini, " ucap sherly sambil memegang tangan Daniel, ia khawatir dengan kondisi Daniel,


"iya, kita pulang aja dulu, " timpa angela,


"ya udah kalian pulang aja, gue mau nungguin mereka dulu, " ucap anjar,


Tiba-tiba bastian ke luar dari ruangan itu, "kalian pulang aja semuanya, dinda udah gak papah kok, " ucapnya,


Daniel bangkit dari duduknya lalu berdiri tepat di depan bastian dengan tatapan yang sulit di artikan, " jaga adik gue baik-baik, jangan pernah tinggalin dia, " ucapnya dingin, lalu ia pergi dari sana dan menarik sherly untuk pulang bersamanya,


mereka yang melihat itupun langsung bernafas lega, pasalnya ia takut kalau Daniel akan melukai bastian,


"ya udah kita juga pulang yah, " pamit Della, lalu ia juga menyuruh angela agar pulang bersamanya,


sementara itu anjar masih dia di tempatnya, bastian ikut duduk di sampingnya, anjar yang sadar ada yang duduk di sebelahnya, hanya menatap nya sekolah untuk melihat siapa yang duduk di sana,


"makasih, " ucap bastian,


"untuk nganter dinda ke sini, sama-sama, " balas anjar, ia menyenderkan badannya ke senderan kursi,


"bukan cuman itu, gue juga mau berterimakasih untuk lu udah sadarin marisa, " ucap bastian,


"oh, gue cuman bicarakan apa yang ada di otak gue waktu itu, " balas anjar,


"lu udah bantu banyak hal, sekali lagi makasih, " ucap bastian,


"udah lah, lagian juga gue ngelakuin itu buat dinda bukan buat lu, jadi gak usah bilang terimakasih, pusing pala gue lu bilang makasih mulu, gak ada kata lain apa?," ucap anjar,


"gue juga tau itu buat dinda, tapikan gue cuman mau mewakili aja, "


"ya udah, gue kan udah bilang iya, "

__ADS_1


"gue pulang dulu yah, jagain dinda baik-baik, jangan ngerepotin gue mulu makannya, " sambung anjar, ia bersalaman ala lelaki dengan bastian, sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah sakit itu,


__ADS_2