Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
24,Daniel tau


__ADS_3

saat sedang enak memakan es krim tiba-tiba dinda melihat seseorang tengah berduaan di taman itu, dengan cepat ia menarik tangan kakaknya untuk segera pergi dari sana,


namun seperti nya Daniel keburu melihat apa yang dinda lihat, Daniel mematung di tempatnya, sambil mengangkat kan kedua alisnya sebagai isyarat, "ada apa, "


dinda menunduk karena ia terlambat menarik kakaknya untuk pergi dari sana, bahkan es krim Daniel juga jatuh karena tarikan tiba-tiba dari dinda, namun es krim dinda sudah habis,


"ada apa?, dia selingkuh?, " tanya Daniel sambil mengangkat dagu adiknya agar menatapnya,


"tidak, jangan salahkan dia kalau kakak mau salah kan, salahkan aku saja, karena aku yang menyuruh bastian melakukan itu, " ucap dinda, sambil kembali menunduk,


"apa maksud nya?, " Daniel semakin bingung saja dengan situasi ini,


"aku akan jelaskan nya nanti, di sini bukanlah tempat yang baik, jika terdengar oleh orang itu tidak baik, " ucap dinda sambil kembali menarik kakaknya, masuk ke dalam mobil,


dengan terpaksa Daniel mengikuti adiknya masuk ke dalam mobil, bagaimana pun perkataan adiknya ada benarnya juga,


setelah berada di dalam mobil Daniel belum juga menjalankan mobilnya, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi,


dinda menatapnya sekilas sebelum akhirnya memalingkan kembali tatapannya, ke arah depan,


"wanita yang tadi bersama bastian itu adalah pasiennya, " ucap dinda pelan,


"pasien, memangnya pantas seorang pasien berduaan di tempat umum dengan dokter nya sendiri, apalagi dokter nya itu sudah punya istri, adik ku lagi, " balas Daniel sambil tersenyum kecut,


"kamu taukan siapa dia?, " tanya dinda,


"perempuan yang bersama bastian?, "


"iya, "


"seperti nya aku pernah melihatnya, " ucap Daniel sambil berpikir,


"oh aku tau, aku pernah melihatnya saat di rumah sakit, saat aku mengantar sherly ke rumah sakit, " sambung Daniel,


dinda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan juga bastian, tapi Daniel tetap tidak bisa menerima keputusan dinda saat ini, walau bagaimana pun bastian itu manusia,


"kakak gak setuju dengan apa yang kamu lakukan, " ucap Daniel sedikit tegas,

__ADS_1


"kak, aku tau apa yang aku lakukan saat ini, aku juga sudah memikirkan kemungkinan terbesar ke depan nya akan seperti apa, " kekeh dinda, ia merasa keputusannya sudah benar,


"din, bagaimana pun bastian itu manusia, dia akan bersama wanita itu tiap hari kau taukan hati manusia seperti apa, sekeras apapun kita memperjuangkan sebuah hubungan, itu akan tetap kalah jika dengan orang yang selalu ada di dekatnya, " ucap Daniel,


"aku tau kak, sudahlah ini sudah menjadi urusanku, sekarang kakak antar kan saja aku ke rumah mamah kinar, " balas dinda, ia tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi,


"baiklah jika itu mau kamu, kakak cuman tidak mau terluka, " balas Daniel itu menjadi percakapan terakhir mereka dalam mobil,


hingga beberapa menit berlalu sampailah mereka di rumah kinar, dinda turun duluan namun Daniel juga ikut turun, " kak, kakak pulang aja, aku gak papa kok, " ucap dinda


"tidak, kakak akan ikut dengan mu, " balas Daniel datar,


dinda pun membiarkan Daniel ikut dengannya, mereka berdua pun masuk ke rumah itu,


setelah masuk ke rumah itu, bersama anjar karena tadi ia yang membukakan pintu masuknya, kini mereka di antar ke dapur dimana kinar berada,


saat melihat kinar dinda langsung memeluknya dengan erat,


"sayang mamah udah kangen sama kamu, " ucap kinar sambil melepas pelukan dinda,


"dinda juga kangen sama mamah, oh iya mah dinda ke sini sama kak Daniel, " balas dinda sambil menunjuk ke arah Daniel,


"oh iya besok adalah hari ulang tahun bastian yah, " ucap kinar, yang di balas anggukan kecil oleh dinda,


"mah aku ke kamar dulu yah, " ucap anjar sambil berjalan naik ke kamarnya,


"ya udah sana, nanti kamu ke sini lagi temenin kakaknya dinda, " balas kinar,


"iya mah, " ucap anjar sambil terus melanjutkan jalan nya,


setelah di kamar anjar menatap pantulan dirinya di cermin besar yang berada di samping lemari pakaian,


"din, gue suka sama lo, kenapa sih lo selalu ada di saat gue berusaha keras buat lupain lo, dan buang rasa yang gue miliki, " gumam anjar sambil terus menatap ke arah cermin,


"andai bastian buka kakak gue din, udah gue bunuh dia, karena udah nyakitin dan buat lu menderita din, gue gak sanggup liat lu nangis hanya karena lelaki, " lanjutnya,


sementara itu bastian kini tengah menunggu marisa yang berada di kamar mandi, bastian menunggu marisa di depan pintu masuk ke kamar mandi umum,

__ADS_1


setelah selesai dari kamar mandi marisa langsung menarik bastian untuk pergi berjalan-jalan lagi,


ia memegang tangan bastian dengan sangat erat, seakan akan ia tidak mau kehilangan bastian,


"bisa gak, gak usah pegangan, " risih bastian sambil menatap marisa malas,


"bastian, kenapa sih biarin napa, istri kamu gak ada di sini kan, " balas marisa sambil tersenyum,


"pulang yuk, capek, " ucap bastian datar,


"ya udah yuk, aku juga capek mau istirahat, " marisa menyetujui ucapan bastian dan mereka pun pergi pulang,


di dalam perjalanan pulang marisa terus menerus menatap ke arah bastian, membuat bastian risih dengannya,


"lu bisa gak, gak usah natap gue kayak gitu, " risih bastian sambil menatap sekilas pada marisa,


"ah kamu tuh gimana sih, yang gimana kalau kita tunangan aja yuk, " ucap marisa mendadak,


bastian yang mendengar ucapan itu langsung mengerem mendadak mobilnya, bahkan sampai mobil yang di belakangnya hampir menabrak mobil bastian,


setelah menghentikan mobilnya mendadak bastian langsung menjalankannya kembali dan membawa mobil itu untuk menepi, setelah menghentikan kembali mobilnya di pinggir jalan ia langsung menatap tajam pada marisa,


"lu jangan bicara yang aneh-aneh, " tegas bastian sambil menatap tajam pada marisa,


"bastian aku gak aneh kok, aku cuman mau tunangan sama kamu, " balas marisa santai sambil tersenyum,


"berani kamu bicara itu sekali lagi, aku gak akan pernah mau ketemu sama kamu lagi, " ancam bastian, wajahnya terlihat sangat marah,


"ya ampun apa salahnya aku mau tunangan sama kamu?, "


"lu gila yah, pantesan kalau lu gila, jadi lu gak tau salahnya di mana" balas bastian sambil tersenyum kecut dan memukul setir mobilnya,


"lu jangan kita selama ini gue diem aja karena gue takut sama orang tua lo, dengerin gue baik-baik, gue gak butuh pekerjaan gue, gue bisa kok kerja di tempat lain, kalau bukan karena dinda gue gak sudi sama lo di sini, " sambung bastian,


"ok, gue bercanda, lu tenang aja dinda emang lebih sempurna di banding gue, gue tau kok bahkan Tuhan aja gak sayang sama gue, " balas marisa dengan nada suara yang ia tinggikan,


"bagus kalau lu sadar, lu gimana Tuhan mau sayang sama lu, kalau lu gak bersyukur sama apa yang dia beri, " balas bastian,

__ADS_1


"maksudnya?, "


"Tuhan kasih lu pria yang sayang sayang Banget sama luh, tapi lu malah sia-sia kan dia, dan malah mau sama gue, yang jelas-jelas udah punya istri ,gila kan luh, " ucap bastian sambil kembali menyalakan mobilnya dan mengantarkan marisa,


__ADS_2