
bastian menatap tak percaya pada yang menariknya, orang itu pun memakaikan ia kembali jas yang berwarna putih yang sempat ia buka,
"sayang aku gak papa, kau adalah dokter, dia lebih pantas bersama mu saat ini, di lebih membutuhkan mu, dari pada aku, " ucap dinda, yah yang menariknya adalah dinda sendiri,
dinda berbalik menatap ke arah ibunya marisa dan menghapus air matanya, menggunakan tangannya,
"anak mu akan mendapatkan apa yang ia inginkan, " ucap dinda, suaranya agak goyah, ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh,
"tapi yang, " ucap bastian di potong oleh dinda,
dinda tersenyum ke arah bastian, "tadi kau bilang tidak mau melakukan ini karena ku kan?, sekarang aku menyuruh mu melakukan ini, " ucap dinda tegar,
"yang satu ini marisa butuh kamu untuk menyemangati nya, " sambung marisa,
Tiba-tiba ibunya marisa memeluk dinda sambil Menangis, "aku minta maaf pada mu, " ucap ibunya marisa,
"tante, aku akan mengijinkan bastian merawat anak mu juga mengijinkan bastian untuk mengisi hari-hari nya, " ucap dinda sambil melepas pelukan ibunya marisa,
"tapi kenapa yang?, " bastian heran dengan apa yang di lakukan dinda,
"sayang aku gak papa kok, lakukan saja, aku akan baik saja di sini, " ucap dinda berusaha menyakinkan bastian,
"kau masuk, rawat marisa sekarang juga, aku gak papa, aku akan pulang bersama anjar, " lanjut dinda,
"tapi kenapa kamu melakukan ini?, " bastian masih tak habis pikir,
"aku wanita, aku bisa juga berada di posisi marisa, aku tau ketika aku di posisi marisa hanya kau lah satu-satunya tempat dia bersandar, pergilah, " titah dinda,
anjar berada di belakang mereka, entahlah saat ini ia mesti bahagia atau sedih, di sisi lain ia sedih melihat dinda sedih namun di sisi lain ia bahagia karena hubungan dinda dengannya akan lebih dekat,
kau tau bukan, waktu yang paling tepat masuk ke dalam hati seseorang adalah saat orang itu kehilangan,
"aku mohon, " ucap marisa sambil memohon pada bastian, ibunya marisa pun ikut memohon pada bastian,
dengan terpaksa ia mengiyakan ucapan mereka, ia kembali masuk ke ruangan marisa yang terbaring lemah dengan segala kabel membelit tubuhnya, langkah bastian sangatlah berat, sebelum akhirnya bastian sudah tidak nampak lagi,
setelah melihat bastian pergi dinda terduduk lemas sambil menangis ia tak kuat menahan air matanya yang sedari tadi mau keluar,
ibunya marisa duduk di sebelahnya, "sayang Terima, " ucapnya sambil merangkul dinda dan memeluknya,
dinda membalas pelukan ibunya marisa, ia menangis di pelukannya, "saya hanya manusia biasa, yang juga masih punya hati, " ucap dinda sambil melepaskan pelukannya,
"kau mau apa?, akan ku kabulkan semua permintaan kamu karena kamu sudah mengabulkan permintaan saya, " ucap ibunya marisa sambil menatap dinda,
"tante saya ikhlas melakukan ini, saya tidak mau apa-apa, " ucap dinda sambil menunduk,
"kau anak yang baik, " puji ibunya marisa,
__ADS_1
dinda terdiam, ia tau kedepannya ia akan melihat bastian suaminya tengah bersama orang lain, iya harus menyiapkan hatinya, terlebih lagi ia kini sedang hamil ia harusnya tidak boleh banyak pikiran,
dinda bangkit dari duduknya dan berpamitan untuk pulang,
"tante saya pulang yah, " pamit dinda, sambil menarik tangan anjar untuk ikut pulang dengannya,
setelah sampai di mobil anjar tidak langsung menyalakan mobilnya ia malah terdiam sambil menatap ke arah dinda,
"kenapa tidak jalan?, " tanya dinda,
"kau yakin dengan ucapan mu tadi?, " tanya anjar ia tidak yakin kalau dinda akan sekuat yang dinda ucapkan tadi,
"aku tidak tahu, kita lihat saja nanti, " ucap dinda acuh,
"kau ini bagaimana, kau tau tidak kau sedang hamil muda, kau jangan banyak pikiran, " tegas anjar,
"sudah lah kau ini bawel sekali, aku mau pulang, aku mau menenangkan pikiranku yang kacau ini, " pinta dinda,
anjar langsung membawa dinda pulang ke rumahnya, setelah sampai di depan rumah dinda, dinda langsung turun dan meninggalkan anjar, bahkan ia tidak menegur anjar sama sekali,
karena anjar khawatir jadi ia memutuskan untuk mengikuti dinda dari belakang, ia tidak mau dinda melakukan hal yang membuat dirinya sakit,
dinda terdiam di depan pintu masuk, anjar pun ikut terdiam, dinda berbalik ke arah anjar,
"kenapa kau mengikuti ku?, " tanya dinda heran,
"aku hanya ingin memastikan kamu masuk dengan selamat, " alasan anjar,
bastian masuk ke rumah dinda, saat ia masuk ia melihat angela, sherly dan Della tengah duduk dengan wajah cemas di ruang tamu,
"kalian kenapa?, " heran dinda,
tanpa menjawab mereka bertiga langsung berjalan dan memeluk dinda, dinda kini semakin heran dengan kelakuan mereka,
dinda melepaskan pelukan mereka yang membuatnya susah bernafas, " kalian ini kenapa sih?, " tanya dinda sekali lagi,
"kita udah tau soal bastian, angela yang ngasi tau, " balas Della,
"oh, udah lah, " balas dinda acuh sambil berjalan ke arah sofa, setelah sampai ia langsung duduk di sofa nya, sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi,
mereka yang berdiri pun ikut duduk bersama dinda, mereka masih menatap dinda penasaran, mereka ini antara peduli dan ingin tau yang sebenarnya,
"marisa sakit, " ucap dinda tiba-tiba sambil menatap kosong ke depan,
"gue tau kok, masalah ini, tapi gue minta maaf belum sempet bilang sama lo, " ucap sherly,
dinda langsung menatap kasar ke arah sherly yang tengah menunduk, "maksudnya?, " tanya dinda,
__ADS_1
"iya semalam gue gak sengaja ketemu bastian yang lagi diem di ruang sana, pas gue mau ngambil air ke dapur, dan akhirnya gue samperin deh, dan dia ngomong sama gue kalau dia lagi bingung, " jelas sherly,
"terus sekarang gimana?, " tanya della,
"gue ngizinin bastian buat deket sama marisa, selama penyembuhan, " jujur dinda sambil memutar bola matanya malas,
"lu yakin, lu gak takut kalau bastian bakal suka sama dia, " ucap angela,
"gue yakin bastian gak akan berpaling, " yakin dinda, yah walau dalam hati kecilnya ia tetap merasa takut,
"jangan terlalu percaya, " ucap sherly,
"gue setuju, " setuju angela,
"dan ada kabar baik juga, " ucap dinda sambil tersenyum,
"apa?, " penasaran Della, sherly dan juga angela,
"gue hamil, " ucap dinda sambil tersenyum, dan mengelus perutnya,
"ah beneran luh, barengan dong kita, " ucap sherly sambil tersenyum bahagia,
"bastian tau kalau lu hamil?, " tanya Della,
"gak, gue mohon ama kalian jangan kasih tau di yah, gue gak mau dia semakin gak mau rawat marisa kalau dia tau gue hamil, " pinta dinda,
"oh iya kalian jaga dinda yah, soalnya kata dokter kandungannya lemah, jangan buat dinda banyak pikiran, " ucap anjar tiba-tiba,
"perhatian amat lu, " ledek Della,
seketika angela menatap tajam ke arah anjar,
"kan dinda itu kakak ipar gue lah, seharusnya gue perhatian ama dia, " alasan anjar, pada lah alasan sebenarnya bukan lah itu,
angela kembali tersenyum dan menatap ke arah lain, setelah mendengar penjelasan dari anjar,
"oh iya sorry yah, gue gak bisa nganter lu ke supermarket, lu ama angela aja ke supermarket nya, " titah dinda pada anjar,
yang di balas anggukan kecil oleh keduanya,
"berangkat sekarang yuk, " ajak anjar,
"yuk, " setuju angela,
"eh gue nitip dong, nih daftar nya, " ucap dinda sambil memberikan daftar belanjaan nya pada angela,
setelah menerima daftar belanjaan dari dinda, angela dan anjar pun pergi ke luar,
__ADS_1
"din lu kenapa ngizinin bastian sih, " Della masih tidak habis pikir,
"karena gue manusia, " balas dinda singkat, ia mengubah posisi nya menjadi tidur di sofa dengan paha sherly yang menjadi bantalnya,