Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
28,Mandul?


__ADS_3

di rumah dinda sudah siap dengan persiapan yang sedari tadi ia lakukan, ia hanya tinggal menunggu bastian pulang, kini hari sudah mulai malah, Daniel dan juga lintang sudah pulang,


dinda tengah duduk di sofa, sambil mencoba menghubungi bastian, namun tak kunjung di balas atau di angkat oleh bastian,


"gak bakal di angkat, " ucap lintang yang melewat ke depan dinda, ia akan menuju ke dapur,


"emangnya kakak tau bastian lagi ngapain?," tanya dinda, sambil menatap ke arah lintang,


"gak, " bohong lintang, ia benar-benar tidak tega melukai perasaan adiknya, jadi lebih baik nanti dia tau sendiri dari orangnya,


lintang kini sudah berada di dapur dengan yang lainnya untuk makan malam, " si dinda gak mau makan malah bareng kita aja gitu?, " tanya angela,


"tau ah, pusing mikirin si bastian mulu tu anak, " ucap lintang,


"yang kok gitu sih, " kesal Della,


"abisnya cowok kayak bastian masih aja tu anak pertahanin, udah tau dia sama orang lain, " ketus lintang,


"ya kan itu juga bukan ke inginan dia yang, " balas Della,


"ah makan aja sih, kenapa malah ribut mulu, " risih Daniel,


"jangan ribut di meja makan bisakan?," sinis angela sambil menyuapkan nasinya,


mereka semua pun melanjutkan makanannya tanpa keributan, sementara itu dinda kini tengah menunggu kepulangan bastian, sambil duduk dan memainkan ponsel nya,


ia juga menghubungi bastian, namun tidak di angkat, dinda mencoba berpikir positif mungkin saja bastian sedang sibuk,


namun ini sudah cukup malam, bastian belum juga pulang, lintang duduk di samping dinda,


dinda yang melihat lintang duduk di sampingnya dan menghadap ke arah lintang, sambil menatap penuh selidik padanya,


"kak, tadi siang ke mana?, " tanya dinda, sambil menatapnya dengan tatapan selidik,


"emangnya kemana, ya kerja lah, " balas lintang sambil menghindari tatapan dinda,


"jangan bohong kak, ikut aku dulu yuk kak, " dinda menarik lintang ke kamarnya,


setelah sampai di kamar dinda langsung mendudukan lintang di kasurnya, dengan posisi yang saling berhadapan,


"kenapa sih?, malah di bawa ke sini?, " heran lintang,


"kak kakak, tadi siang jalan sama siapa?, " tanya dinda serius,

__ADS_1


"memangnya sama siapa?, " bukannya menjawab lintang malah bertanya kembali pada adiknya,


"kak, kalau aku tau aku gak bakalan nanya, " ucap dinda kesal,


"kak tatap mataku, aku nanya serius kak, " ucap dinda sambil memegang kepala lintang agar menatap ke arahnya, pasalnya sedari tadi ia tidak mau menatapnya,


"iya kakak jujur, tadi kakak pergi bareng mila, temen kakak, " jujur lintang,


"temen, masa temen sedekat itu, " dinda tidak percaya dengan apa yang di katakan lintang,


lagi lagi lintang menghindari tatapan dinda, " terus kamu sendiri kenapa biarin bastian sama marisa?, " bukannya menjawab ucapan, lintang malah mengalihkan pembicaraan nya,


"kak, kakak gak usah tanya hal itu, kakak udah pasti tau jawabannya, sekarang aku mau tanya sama kakak, aku gak bakal bilang sama kak Della kok, cuman kak aku minta kakak bilang sama aku, " jelas dinda, ia hanya ingin tau apa yang terjadi,


"aku bosen sama Della, kakak juga lagi ada masalah sebenarnya sama Della, tapi kakak gak pernah punya niatan buat ninggalin dia, " jawab lintang,


"masalah apa?, aku tau ini bukan urusan aku, tapi kak aku cuman gak mau kalian berpisah, itu aja, " ucap dinda khwatir,


"Della mandul, " ucap lintang sambil menunduk,


"apa?, " kaget dinda ia tidak percaya dengan apa yang lintang katakan,


"dia juga minta aku buat pergi aja ninggalin dia, karena dia gak bisa kasih kakak keturunan, " lanjut lintang,


"kakak udah bilang yah, kalau kakak gak bakal ninggalin dia, tapi dia tetep nyuruh kakak buat pergi, di bahkan kalau di kamar gak pernah bicara sama kakak, dia suka langsung tidur, kalau kakak tanya, kakak jadi butuh temen buat curhat, dan temen kantor kakak mila mau jadi temen kakak, dan akhirnya sampai sekarang kita temenan, " jelas lintang panjang kali lebar,


"kenapa kakak gak bilang aja sama aku, kak, aku udah gede aku pasti jadi pendengar setia kok kak, " ucap dinda,


"ya udAh lain kali kalau ada masalah bilang yah sama aku, kakak jangan sungkan, walau bagaimana pun aku tetap adik kakak, " lanjut dinda,


lintang mengangkat kan kepala nya dan memeluk dinda dengan sangat erat, " makasih yah, mau dengerin curhatan kakak, " bisik lintang di telinga dinda


"kak, kakak harus punya pendirian yah, kakak juga harus bisa jelasin sama della kalau kakak cinta sama dia, mungkin aja Tuhan belum mau memberikan kesempatan buat kalian, anggap saja Tuhan masih ingin kalian menikmati masa berdua kalian, " balas dinda sambil mengelus punggung kakaknya,


lintang melepaskan pelukannya dan menatap wajah dinda, "sekarang lu udah makin dewasa aja, " ledek lintang sambil tersenyum manis,


"makasih yah, udah kasih gue solusi, adik tersayang, " ucap lintang sambil mengacak-acak rambut dinda,


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar dinda, dinda dan lintang langsung berjalan untuk membuka pintu,


"sayang, " ucap dinda saat melihat ternyata bastian lah yang mengetuk pintunya,


"abis ngapain aja kalian berduaan?, " tanya bastian dengan ekspresi yang susah di artikan,

__ADS_1


"apaan sih yang, " balas dinda,


"ih inget, adik gue lu pikiran gue mau ama si dinda gak yah, dia mah rata gitu, " balas lintang sambil berlari dari sana,


"eh, kakak kurang ajar, " kesal dinda sambil menatap tajam kepergian lintang,


"ke bawah yuk, " ajak bastian,


"oh iya lupa, aku kan udah siapin sesuatu buat kamu, " ucap dinda sambil memukul keningnya, dan tersenyum ke arah bastian,


mereka pun turun menuju ruang keluarga, setelah sampai di sana mereka langsung duduk,


"maaf yah, seadanya, " maaf dinda,


"asal dengan kamu semua yang sederhana akan jadi hal yang sangat istimewa di mata ku, " ucap bastian manis sambil memgecup kening dinda singkat,


dinda tersenyum dan sangat bahagia, " kita tiup lilin yuk, " ajak dinda, sambil menyalakan lilin nya dan menyodorkan kue itu ke depan bastian untuk bastian tiup,


"kamu buat permohonan dulu, " ucap dinda, bastian pun menutup matanya dan memohon,


"Tuhan aku ingin semua masalah ini cepat berakhir, aku juga ingin segera punya anak, " pinta bastian dalam hati, kini ia kembali membuka matanya dan meniup lilinya,


setelah selesai meniup lilin dinda memotong kue nya dan menyuapi bastian, namun ia malah sengaja menyuapi bastian ke hidungnya bukan malah ke mulut,


"ah, kamu mah muka aku jadi jelek, " rengek bastian sambil menangis bercanda,


"kayak badut di lampu merah tau gak, " ucap dinda sambil tertawa,


bastian membalas dinda ia mengambil krim di kue nya lalu ia oleskan ke kening dinda, " hahaha, emang enak, " ledek bastian,


"ayang make-up aku luntur, " teriak dinda,


"abisnya ngapain lakuin itu coba, " balas bastian acuh,


"nih aku beliin bungan, sama buka aja sendiri, " titah bastian sambil memberikan bunga dan kotak kecil berwarna merah pada dinda,


"kan kamu yang ulang tahun kok aku yang di kasih kado, " heran dinda,


"gak mau, ya udah sini, " bastian akan mengambil kembali apa yang ia berikan pada dinda,


"eh gak jadi deh, sini, " dinda merebut kembali hadiahnya dari tangan bastian, sambil cengegesan,


"kan kamu belahan jiwa aku, jadi kamu juga ulang tahun, " ucap bastian,

__ADS_1


"ya udah ni kado buat kamu, tapi maaf yah kalau gak sebanding dengan apa yang kamu beliin," dinda memberikan kadonya pada bastian,


__ADS_2