
kini Bastian sudah berada di rumah ayah nya, ia berjalan ke luar dari mobil yang ia taruh di halaman rumah itu,
ia berjalan menuju pintu masuk, ia membunyikan bel rumah itu setelah beberapa detik menunggu akhirnya pintu itu di buka oleh sang pujaan hatinya,
"eh kamu udah pulang aja, " ucap dinda sambil menyalami bastian yang baru pulang kerja,
bastian pun mencium kening istri nya itu, sebelum akhirnya dinda membawa bastian masuk dan duduk untuk beristirahat terlebih dahulu,
"kenapa kamu gak suka aku pulang lebih awal?, " tanya balik bastian,
"ya enggak, ya aku seneng cuman kan heran aja, " balas dinda, kini mereka sudah sampai di ruang keluarga di sana juga ada kinar dan juga anjar yang tengah sibuk dengan aktivitas nya masing-masing,
"eh ternyata kamu sayang, " ucap kinar lembut saat melihat bastian dan dinda berjalan ke arah nya,
kini bastian duduk di samping kinar, " yang aku ambilin air dulu yah buat kamu, " ucap dinda sambil berjalan menuju ke arah dapur,
setelah beberapa menit dinda pun kembali lagi, dengan membawa segelas air putih untuk bastian,
"nih yang kamu minum, " ucap dinda sambil menyodorkan segelas air minum yang ia bawa,
bastian pun menerimanya dan langsung meminumnya, dinda kembali mengambil gelas yang sudah kosong itu dan menyimpannya ke dapur,
"papah belum pulang mah?, " tanya bastian pada kinar,
"belum, kayaknya bentar lagi pulang deh, soalnya udah sore, " balas kinar,
sementara anjar hanya menatap mereka berdua tanpa ingin ikut bicara atau mengobrol dengan mereka, tampang anjar berubah saat kedatangan bastian,
kini dinda sudah kembali dan duduk di samping bastian,
"yang pulang dari sini ke pasar malam dulu yuk, " ajak dinda sambil tersenyum manja ke arah bastian,
"iya, tapi jangan lama lama, aku capek, " balas bastian sambil menatap ke arah dinda,
"iya suami ku tercinta, " dinda senang permintaan nya di setujui oleh bastian, kini dinda berada di pangkuan bastian,
ia menyenderkan Kepala ke bahu bastian dan bastian pun merangkul dinda sambil mengelus pundaknya,
__ADS_1
"ah kalian ini bikin aku iri aja, kalian gak bisa yah mesra-mesraan nya di entarin dulu, " canda anjar sambil menatap sekilas ke arah mereka,
satu bantal berhasil mendarat dengan sempurna di wajah anjar,
"makannya cari pacar jangan ngejomblo mulu, ke buru bulukan tau rasa lu, " ucap orang yang melempari nya bantal,
dinda dan kinar pun tertawa, dan mengangguk menyetujui ucapan dari bastian,
"ouh iya aku sodara loh, gini aja gimana kalau aku kenalin kamu ama dia, " usul dinda,
"kayaknya boleh di coba tuh, mamah udah pusing nyariin jodoh buat dia, dia mah nolak mulu, banyak alasan segala bilang ini nya kurang lah, itunya kurang lah, " ucap kinar, ia mulai lelah mencarikan orang yang cocok buat anjar,
"kalau cantik kaya lu si boleh, " balas anjar sambil tersenyum,
"cantik kok dia iya kan yang?, " jawab dinda sambil berbalik menatap ke arah bastian,
"ya mana aku tau, aku kan gak pernah liat dia, " balas bastian,
"iya juga si yah, " ucap dinda sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal,
"iya, " balas anjar,
suara bel di rumah itu kembali berbunyi,
"itu pasti papah, mamah bukain pintu dulu yah, " ucap kinar sambil berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintunya,
"ya udah yang, ke kamar dulu yuk aku mau itu dulu sama kamu, " ucap bastian genit sambil menarik dinda untuk menuju kamar, yang ayahnya Khusus berikan pada bastian, jika berkunjung ke rumah itu,
kini bastian dan dinda sudah berada di kamar itu, dinda yang akan menutup pintu kamar itupun di peluk dari belakang oleh bastian, bastian menaruh dagunya di pundak dinda,
"yang, " ucap bastian Lembut tepat di telinga dinda,
"apaan sih, " balas dinda, dinda merubah posisinya menjadi menghadap ke arah bastian,
kini mereka saling bertatapan, sebelum akhirnya bastian menarik tubuh dinda menjadi lebih dekat dengan dirinya, bastian memeluk dinda dengan erat,
"yang, kamu kok jadi aneh gini, " dinda merasa ada hal yang aneh pada bastian,
__ADS_1
"aku cuman lagi kangen aja, " balas bastian dengan ke adaan masih memeluk dinda,
"kamu gila yah?, kamu baru gak ketemu sehari sama aku udah kangen aja, biasanya juga suka di tinggalin, " ucap dinda sambil berusaha keras melepas pelukan bastian sepertinya dinda sudah sudah bernafas, ia terlalu erat di peluk oleh bastian,
"yang lu mau bunuh gue, lepasin gak, gak bisa nafas, " kesal dinda,
"ouh iya maaf, " kini bastian melepaskan pelukannya dan membawa dinda untuk duduk di kasur bersamanya,
"yang jangan tinggalin aku yah, walau nanti kedepannya kita akan ngadepin masalah yang besar banget sekalipun, " ucap bastian penuh dramatis,
"kamu sehat kan?, " dinda masih bingung dengan tingkah suaminya itu,
"ya sehat lah, makannya aku nanya kaya gitu, "
"kamu tau gak, saat aku nikah sama kamu itu, aku bukan hanya nyerahin jiwa aku untuk kamu tapi juga dengan seluruh hidup ku, aku berjuang untuk bersama mu itu tidak mudah, makannya aku tidak akan pernah dengan mudah pergi meninggalkan mu, " balas dinda,
bastian pun tersenyum mendengar balasan dari dinda,
"aku akan memaafkan semua kesalahan mu, terkecuali perselingkuhan, ketika kamu jatuh cinta untuk yang kedua kalinya itu adalah pertanda kalau kamu sudah tidak mencintai ku, karena kalau kau masih mencintai ku, kau tidak akan jatuh cinta pada orang kedua, " sambung dinda,
"ouh iya satu hal lagi, dan aku akan mengikhlaskan mu pergi dengan orang yang kau cintai, " tambah dinda,
kini bastian memegang wajah dinda yang lalu ia dekatkan pada wajahnya, "aku sayang sama kamu, aku gak akan mengecewakan mu, karena aku juga sudah berjanji pada Tuhan akan mencintai mu sampai mati, " balas bastian,
"ah udah ah yang, malah sedih sedihan, hidup itu jalanin aja, gak usah di rencanain dari sekarang, hati manusia itu bisa berubah kapan aja, mending kita ke luar makan malam, udah lapar ni perut ku, " balas dinda yang mengacaukan suasana,
bastian harus sedikit bersabar menjadi suami dinda,
namun pada kenyataannya ini sudah waktunya makan malam,
mereka berdua pun turun dan berjalan menuju meja makan, yang ternyata di meja makan sudah pada siap untuk makan malam,
"ya ampun sayang cepetan duduk di sana, kirain pada kemana, " ucap kinar sambil mempersilahkan dinda dan bastian duduk,
bastian dan dinda duduk berdampingan, mereka makan bersama, setelah makan malam dinda membantu kinar dan pembantu rumah tangganya membereskan meja makan dan juga piring piring,
setelah selesai membereskan meja makan dinda dan bastian pun berpamitan untuk pulang pada kedua orang tuanya itu,
__ADS_1