
saat bastian membuka jadi dari dinda terlihat bastian sangat bahagia, ia bahkan tak percaya dengan apa yang ia lihat, tak sadar ia menjatuhkan air matanya,
"ini bener kan?, " bastian mencoba meyakinkannya sekali lagi,
"ngapain aku boong gak ada kerjaan amat hidup ku, " balas dinda sambil tersenyum dan memeluk bastian,
"ah sayang, kenapa baru bilang sekarang, sejak kapan kamu hamil?, " bastian membalas pelukan dari dinda,
"kan biar kejutan, aku sengaja mau bilang sekarang, " balas dinda sambil melepaskan pelukannya perlahan,
di tempat lain, anjar kini tengah bersama marisa di balkon kamar marisa, anjar berniat menjenguk marisa, walau sebenarnya alasan sebenarnya bukan itu,
mereka duduk sambil menatap langit malam yang begitu indah, banyak bintang-bintang yang berserakan di langit, di tambah dengan satu bulan yang sangat indah,
"Mar, lu bahagia hidup kayak gini?, " tanya anjar tanpa menatap ke arah marisa, ia tetap menatap ke arah langit,
"maksudnya?, " marisa tidak mengerti ucapan anjar, kini ia mengganti posisinya menjadi menghadap ke arah anjar,
"gue tau Mar, sebenarnya lu gak bahagiakan hidup kayak gini?, " bukannya menjawab anjar malah bertanya lagi membuat marisa tambah bingung,
"hidup kayak gimana sih maksud lu, gue pusing tau gak, " kesal marisa, kenapa sih anjar selalu berbelit belit,
"iya, sok bahagia, gue tau kok di hati kecil lu saat ini lu ngerasa bersalah tapi lu coba nutupin ini semuanya, bukan karena dinda nya yah, lu ngerasa bersalah karena lu rebut kebahagiaan bastian, " jelas anjar sambil menatap ke arah marisa,
"gue bahagia kok, gak ngerasa bersalah, bastian juga gak masalah kan, lagian waktu gue di dunia ini kan udah tinggal beberapa hari lagi, " balas marisa sambil memalingkan matanya,
__ADS_1
"lu tatap gue, mar bastian juga berhak bahagia, lu seharusnya buat sesuatu yang istimewa agar saat lu pergi bastian dapat mengenang lu, " ujar anjar,
"tapi gue sayang sama dia, gue mau sama dia, gue pengen dia, " balas marisa, kini matanya mulai berkaca-kaca,
"gue juga tau, tapi lu harus mikir juga perasaan dia Mar, lu harus inget bagaimana pun dia itu cinta mati sama dinda, " ujar anjar, sambil mengganti posisi duduknya jadi menatap ke arah marisa,
"tapi gue gak peduli, " acuh marisa
"gue yakin hati kecil lu peduli, " kekeh anjar,
"Mar, gue kasih tau yah, melihat orang yang kita cintai berbahagia itu jauh lebih baik daripada memaksa seseorang deket sama kita, namun pada kenyataannya kita tau kalau dia itu hanya terpaksa sama kita, " lanjut anjar sambil menekankan kata terpaksa,
"lu tau gak, awalnya bastian gak mau nurutin permintaan ibu loh, bahkan sampai ibu loh mohon-mohon pun dia gak mau, tapi dinda datang dan bilang sama bastian kalau dia yang nyuruh buat nurutin kemauan ibu loh, barulah bastian mau, " sambung anjar,
marisa kini sudah tidak bisa menahan air matanya, " se istimewa apa sih dia, sampai-sampai banyak banget orang yang sayang sama dia, apa kurangnya gue sama dia, " ucap marisa sambil menangis,
"tapi-tapi, " ucap marisa terbata-bata,
"Mar, lepasin bastian, lu harus bisa, terkadang jatuh cinta itu bukan harus tentang memiliki kan, melihat seseorang yang kita cinta bahagia walau bukan sama kita juga itu termasuk jatuh cinta, " ucap anjar pelan,
"tapi gue butuh waktu buat ngelepasin dia jar, " ucap marisa dengan suara seraknya,
"gue tau melepaskan seseorang itu butuh waktu, gue yakin lu orang yang kuat, lagian lu tuh sama gue, gue juga jatuh cinta sama orang yang udah gak bisa gue milikin, tapi gue gak pernah ada niatan buat rebut dia, karena gue yakin kalaupun dia sama gue belum tentu dia bakalan bahagia, " jelas anjar sambil membayangkan wajah dinda yang selalu memenuhi pikirannya,
marisa menatap ke arah anjar, " siapa orang nya? , " tanyanya penasaran,
__ADS_1
"lu gak perlu tau, " balas anjar sambil tersenyum,
"gue janji deh bakal ngelepas bastian tapi besok yah, soalnya malam ini gue masih mau mimpiin dia dalam tidur gue " balas marisa sambil sedikit tersenyum,
anjar menarik tubuh marisa kepelukannya, marisa pun membalas pelukan anjar, mungkin ini memang jalan satu-satunya lagi, ia harus melepaskan orang yang ia sayang demi kebahagiannya,
anjar juga melakukan ini semata-mata untuk mengembalikan kebahagian dinda, ia sudah tidak tega melihat sebuah luka di matanya dinda, walau ia selalu terlihat tersenyum di depan semua orang, namun sorot mata tak kan pernah bisa bohong,
sementara itu di kamar Della tengah melihat pantulan dirinya di cermin rias di kamarnya sambil menangis, lintang yang baru saja masuk dan melihat istri nya itu menangis pun langsung datang menghampiri Della,
Della yang sadar akan kehadiran Lintang segera menghapus air matanya, dan tersenyum ke arah lintang,
lintang berdiri dan berjongkok di depan Della, sambil memegang kedua pipi Della yang basah karena habis menangis,
"jangan nangis yah, kan aku udah bilang, aku gak bakal ninggalin kamu, " ucap lintang sambil tersenyum,
"tapi, " ucapan Della terpotong oleh ucapan lintang,
"gak ada tapi-tapian, aku cinta sama kamu dan gak akan pernah berpaling, sayang Tuhan itu baik sama kita, mungkin aja kita belum pantas dikaruniai anak, kamu tau banyak loh orang yang di bilang mandul tapi setelah beberapa usaha yang mereka lakukan mereka bisa kok dapat anak, " jelas lintang sambil bangun dan memeluk della,
Della membalas pelukan lintang, " aku cuman merasa kalau kamu juga ingin kayak dinda, soalnya tadi aku liat kamu liatin dinda dan juga bastian, " ujar Della,
"aku cuman ikut bahagia aja sama mereka, walaupun mereka punya masalah tapi mereka masih bisa bersama, aku seneng liat dinda bisa jadi anak yang sangat dewasa, ia gak egois aku bangga, " ucap lintang sambil melepas pelukannya dan mengajak della untuk tidur, siapa tau kan mereka di karuniai anak kalau mereka giat buat anaknya,
di tempat lain angela kini tengah berdiam merenungi dirinya, ia tau kalau sebenarnya anjar tidak menyukai nya karena setiap bersamanya dirinya anjar selalu terlihat kalau ia tidak nyaman,
__ADS_1
namun ia sangat mencintai anjar, ia orangnya baik dan juga sopan pada perempuan tidak dengan mantan-mantannya angela yang selalu berlalu tidak sopan padanya, ia bingung dengan perasaan nya saat ini,
ia bingung kalau ia tetap di Indonesia ia akan terus jatuh dalam perasaan nya, namun kalau ia pulang lagi ia akan merasa rindu pada anjar, kini ia mengacak-acak rambut nya lalu menutupi wajahnya karena frustasi,