Cupu Fake 2

Cupu Fake 2
30,Jatuh


__ADS_3

Matahari sudah terbit, ia telah menggantikan pekerjaan bulan di hari ini, dinda terbangun saat matahari sudah menyilaukan matanya,


ia menatap ke arah jam dinding yang berada di samping kanannya, setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, setelah selesai mandi dan juga shalat, kini dinda beranjak ke suaminya,


ia mengecup singkat keningnya bastian, lalu membangunnkan nya perlahan, " yang bangun udah pagi"ucap dinda di telinga bastian,


bastian membuka matanya perlahan lalu duduk di depan dinda, ia mengecup kening dan kedua pipinya, "ayang bau, mandi dulu sana" ucap dinda sambil berdiri dan menarik bastian agar mandi,


di ruang makan Daniel dan yang lainnya sudah siap tinggal menunggu bastian dan dinda turun, setelah menunggu beberapa menit akhirnya mereka turun berbarengan dan duduk di kursi biasanya,


beberapa menit berlalu kini Daniel lintang dan bastian sudah selesai dan akan segera berangkat kerja, "aku berangkat yah sayang, " pamit bastian sambil mengelus perut dinda, dan mencium keningnya,


setelah melihat suaminya masuk ke dalam mobil kini dinda masuk kembali ke mobilnya dan pergi ke dapur untuk beres-beres,


"din mau ikut gak, kita mau ke mall nanti, " ucap Della saat melihat dinda yang baru datang,


"males ah, tapi gue nitip makanan yah, " ucap dinda, bukannya membantu yang lainnya dinda malah duduk di kursi,


"kenapa lu?, lemes banget?, " tanya sherly yang sedang menyapu, ia melihat dinda seperti sedang sakit,


"tau badan gue lemes banget, " balas dinda pelan,


"ya udah istirahat aja sanah, " titah angela yang sedang mencuci piring,


"ya udah gue ke kamar dulu yah, kalau kalian mau berangkat kunci aja pintunya, " ucap dinda sambil berjalan menuju kamarnya, ia rasa kepalanya sangat pusing hari ini, di tambah badannya sangat lemah,


"kenapa tu anak?, " tanya Della sambil menatap kepergian dinda,


"mungkin dia pusing aja kali, biasa kalau orang hamil kan suka kayak gitu, " balas angela acuh,


"oh, " balas Della, sambil kembali melanjutkan aktivitas nya,


di kamar dinda langsung membaringkan tubuhnya, setelah beberapa menit dinda tidur, sherly dan yang lainnya juga sudah pamit pada dinda,


ia merasa ingin ke kamar mandi, ia berjalan dengan ke adaan lemas suhu badannya naik, setelah berada di kamar mandi, ia mencuci wajahnya saat ia akan mengambil handuk, Tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh

__ADS_1


"ahhhhh, " teriak dinda, ia terjatuh dan terduduk di lantai, ia merasakan kesakitan yang luar biasanya di perutnya,


ia juga pendarahan, dengan tenaga terakhir ia keluar dari kamar mandi dan mencoba mengambil ponselnya di meja rias, saat sudah berhasil mengambil ponselnya orang yang ia hubungi pertama adalah bastian,


namun rupanya setelah beberapa kali ia hubungi bastian sama sekali tidak mengangkatnya, dinda kembali menghubungi Sherly namun rupanya ia juga tidak bisa di hubungi, ia juga mencoba menghubungi Della dan angela namun mereka sama saja tidak mengangkat nya,


dinda mulai pasrah dengan apa yang terjadi tubuhnya mulai hilang kesadaran, namun ia teringat seseorang, ia mengambil kembali ponsel nya yang sempat ia banting,


ia menelpon anjar, kesempatan terakhir nya,


"hallo, " ucap dinda dengan suara yang menahan rasa sakit,


"din, lu kenapa?, " khawatir anjar saat mendengar suara dinda,


"tolongin gue, gue jatuh di kamar mandi, " ucap dinda namun rupanya ia sudah tidak kuat lagi, ia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, ia pingsan,


"din, hallo din, dinda, " ucap anjar yang semakin panik, anjar mematikan telpon nya, ia sedang berada di restoran nya,


anjar segera berlari menuju mobilnya untuk mengecek ke adaan dinda, ia membawa mobilnya sudah seperti orang yang kesetanan,


sebelum ke taman marisa mematikan ponsel bastian terlebih dahulu saat bastian akan ke kamar mandi, ia hanya bermaksud tidak mau diganggu saja,


kini mereka sudah berada di taman saling berdampingan, " bas, semalem ada orang yang datang ke rumah gue, dan dia udah berhasil nge luluhin hati gue, " ucap marisa tanpa melihat ke arah bastian, ia menatap lulus ke arah depan,


tak ada suara yang bastian keluarkan dari mulutnya, " bas, sore nanti gue bakal pindah ke Amerika, gue berharap di sana gue bisa lupain lu, dan nyembuhin penyakit gue, gue sadar apa yang gue lakuin ini salah, " lanjut marisa,


bastian tepat diam, ia tidak mau berbicara, " bas, gue sayang sama lu, makannya gue ingin liat lu bahagia, gue sadar buat bikin lu natap gue lebih dari 5 detik saat gue bicara aja susah, apalagi buat lu jatuh cinta sama gue, gue gak akan bisa, " lanjut marisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca


bastian mulai luluh ia bahkan mulai melihat ke arah marisa yang sedang menunduk,


"gue egois, dan sekarang gue bakal ngelepas lu, dinda emang pantas buat lu, gue semper benci sama dia, tapi ada orang yang bisa buat gue sadar kalau misalnya dinda itu memang baik, dan pantas buat lu, " kini marisa sudah tidak bisa menahan air matanya,


bastian merasa kasihan pada marisa, ia memeluk marisa, namun marisa melepas pelukan itu, "bas, jangan buat gue berubah pikiran, jangan peluk gue, kalau lu lakuin hal manis sama gue, itu akan membuat gue semakin berat ngelepas lu, " ucap marisa, ia memberanikan diri menatap bastian,


"akhirnya lu ngerti, tapi gue mau berterimakasih sama lu, karena akhirnya lu mau berubah," akhirnya bastian angkat bicara,

__ADS_1


"lu gak usah berterimakasih sama gue, gue kayak gini karena adik lu, gue tau kok dia lakuin itu semalam karena dinda, gue tau anjar suka sama dinda, tapi karena dia lebih mentingin kebagian dinda, jadi dia lebih baik memendam dan membiarkan dinda bahagia sama lu, " ucap marisa sambil menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya,


"anjar?, suka sama dinda?, " heran bastian, ia merasa kalau itu aneh,


"iya, lu gak pernah sadar akan hal itu yah, padahal gue yang jarang ketemu aja tau, " balas marisa,


"bas, bentar lagi gue mau ke bandara anterin gue yuk, buat yang terakhir kalinya, gak papa kan?, " pinta marisa sebagai permintaan terakhir nya,


"coba dari dulu lu gak terus maksa gue, mungkin gue gak akan benci sama lu, " ucap bastian sambil memukul kening marisa pelan,


"ah sakit bas, ya udah mau gak?, "


"iya, "


"ya udah pulang ke rumah gue dulu yuk, ngambil koper nyokap sama bokap juga pasti udah nungguin di sana, " ajak marisa sambil berdiri dan pergi menuju mobilnya,


"ya udah, yuk, " bastian menyetujui permintaan marisa, mereka berdua pun berjalan menuju rumah marisa, baru setelah itu mereka akan pergi ke Amerika,


di mall sherly baru menyadari kalau ada panggilan masuk dari dinda beberapa kali, tadi mereka habis dari Timezone dulu, jadi mereka ke asikan main game di sana,


"hey, si dinda kenapa yah, kok nelpon gue bayak banget, " heran sherly,


"bentar, " Della mengecek ponselnya,


"ke gue juga nelpon, " angela juga mendapat telpon dari dinda,


"gue juga ada, " ucap Della ia juga mendapat telpon dari dinda,


"kok gue ngerasa ada sesuatu yang terjadi sama dinda yah, " sherly mulai khawatir sama dinda,


"gue telpon lagi deh, " Della mencoba menelpon dinda beberapa kali, namun tak ada jawaban dari dinda,


"pulang yuk, gue ngerasa ada hal yang gak beres nih, " ajak angela, ka merasa kalu dinda tidak sedang baik-baik aja,


"ya udah yuk, " akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, dan mengecek ke adaan rumah,

__ADS_1


__ADS_2