
setelah pulang dari rumah kinar, Daniel dan dinda berniat pergi ke supermarket dulu ada yang mau mereka beli,
kini mereka sudah berada di supermarket dan mencari barang yang mau mereka beli, " din mau beli apa lagi sih?, " tanya Daniel pasalnya saat ini dinda masih mencari sesuatu untuk ia beli padahal keranjang nya sudah hampir penuh,
"biarin napa kak, aku malam ini mau makan-makan, mau nonton film Holywood Marvel yang Avenger endgame, " balas dinda acuh, sambil terus berkeliling mencari snack apalagi yang harus ia beli,
"mau sama siapa nontonnya?, " tanya Daniel,
"sendiri juga gak papa, "
"ya udah kalau mau sendiri makanannya cukup segini aja gak usah cari lagi, " geram Daniel,
"kalau aku mau lagi gimana?, " balas dinda sambil mengangkat kan sebelah alisnya,
"ah ya udah terserah kamu, " balas Daniel pasrah,
setelah berkeliling di supermarket kini dinda sudah selesai belanja nya, mereka juga sudah di dalam mobil,
di dalam mobil juga dinda memakan satu snack nya, " suapin napa, "pinta Daniel pada dinda,
" manja, ambil aja sendiri, " balas dinda acuh,
"kamu mau mati, gara-gara aku gak merhatiin jalan malah ngambil snack kamu, " balas Daniel sinis,
"ya udah iya, gitu aja marah, " balas dinda sambil menyuapi kakaknya,
"kak, aku kalau sama kakak berdua gini jadi inget masa lalu yah Kak, tapi ada yang beda sih, " ucap dinda mengantung,
"apa, "
"ya dulu kan kakak itu orangnya dingin banget, bahkan kadang aku ragu lo kak buat curhat sama kakak, tapi sekarang bawel nya mengalahkan ibu-ibu komplek perumahan, " canda dinda sambil menekankan kata bawel,
"bisa aja lu bambank, " balas Daniel sambil tersenyum,
"emang kenyataannya kayak gitu, oh iya kak, kakak suka sama sherly suka dari apanya, aku tuh kepo gitu kak, " ucap dinda sambil mendekatkan wajahnya ke arah Daniel,
"ah kepo lu, " balas Daniel sambil tertawa kecil,
"kak ayok dong kak, cerita napa, sama ade kakak satu satunya ini, kalau kak lintang mah gak usah di anggap la yah, kan gak ada orang nya juga, " bujuk dinda sambil memelas,
__ADS_1
"emang cinta itu butuh alasan, " bukannya menjawab ia malah bertanya balik pada dinda,
"ya perlu lah kak, aku tuh kadang bingung sama orang yang bilang kalau cinta itu gak perlu sebuah alasan, kita kan sebelum cinta sama seseorang itu pasti suka dulu dong, ada sesuatu hal yang menarik gitu dari diri nya, yang membuat kita memperhatikan nya, " balas dinda, sambil kembali ke posisi awal dan menatap ke arah depan,
"setelah memperhatikan ke istimewa dia, barulah kita cinta sama dia, tapi yang bilang cinta itu gak butuh alasan kenapa kita mencintai, dia itu kadang tidak sadar dengan apa yang ia suka dari pasangannya, " lanjut dinda,
"udah dewasa aja lu bocah, " ucap Daniel sambil mengacak-acak rambut dinda,
"ah kak, rambut aku rusak, kemarin abis dari salon, " rengek dinda yang rambutnya di acak-acak oleh Daniel,
"kamu gak boleh lebih dewasa dari kakak, " canda Daniel,
"tapi emang kenyataanya gitu kan?, kadang aku juga bingung sama skenario cinta, " ucap dinda,
"tiap orang itu memiliki skenario yang berbeda beda, fase nya juga berbeda-beda, " balas Daniel,
"ya udah sekarang jawab aku, kakak suka apanya dari sherly?, apa yang sepesial dari sherly menurut kaka?, " dinda kembali menanyakan soal itu pada Daniel,
sebelum menjawab ucapan adiknya yang sangat kepo ini Daniel menarik nafasnya terlebih dahulu, " kakak suka sama dia karena dia orangnya baik, cantik, sopan, bisa buat kakak nyaman," jawab Daniel sambil tersenyum,
"kalau kamu kenapa suka sama bastian?, " Daniel bertanya kembali pada dinda,
"apa?, "
"karena dia mampu merubah pola pikir aku dari yang aku benci sama dia jadi cinta, dia buat aku tau percaya pada pernyataan kalau benci bisa jadi cinta dan begitupula sebaliknya, " balas dinda penuh perasaan, ia sangat mencintai bastian, sampai kapanpun rasanya akan seperti itu,
"ah udah, kok malah jadi bucin sih, " ucap Daniel, mereka juga kini sudah sampai di depan rumahnya,
mereka turun dengan Daniel yang membawakan belanjaan dinda, dan kini mereka sudah masuk dan membawa belanjaan ya ke ruang makan,
dan menyimpannya di meja makan, mereka berdua langsung duduk di sana, dengan Della dan sherly yang tengah masak untuk makan malam,
ini hari sudah mulai sore, mereka berdua juga tadi makan siang di rumah kinar,
"bantuin masak sana, " titah Daniel pada dinda,
"males kak, aku capek, " keluh dinda, ia sedikit lelah pasalnya ia tadi juga di rumah kinar sudah masak dan bikin kue bolu walau kue milik dinda tadi gosong, karena malah di tinggal nonton TV,
"manja, cepetan, " Daniel menarik adiknya untuk ikut masak, namun tiba-tiba dinda mendadak mual dan pergi ke kamar mandi,
__ADS_1
Daniel yang melihat itu langsung mengejarnya karena khawatir, ia belum tau kalau dinda sedang hamil,
"din, lu kenapa?, masuk angin?, kita ke rumah sakit yuk, " khawatir Daniel, ia mengetuk pintu kamar mandi dari luar,
sherly yang akan mengantarkan air ke meja melihat Daniel tengah panik di depan kamar mandi, ia langsung saja menghampiri Daniel dan bertanya,
"yang kamu lagi ngapain sih?, " tanya sherly,
Daniel langsung menatap ke arah sherly, " dinda mendadak mual, aku mau bawa dia ke rumah sakit tapi dia gak keluar-keluar, " panik Daniel, ia tidak mau kalau adik kesayangan nya kenapa-napa,
"dia baik-baik aja kok, " balas sherly santai,
dinda pun keluar dari kamar mandi dan menatap ke arah Daniel yang sedang panik, " kak kenapa tu muka keringet abis maraton?, " tanya dinda,
"lu kenapa?, " tanya Daniel,
"gue gak kenapa-napa kak, " balas dinda santai,
"terus tadi mual-mual kenapa?, "
"ya ampun kak, aku tuh lagi hamil, " jawab dinda,
Daniel langsung memeluknya ia bahagia kalau adiknya ternyata tidak papa,
"ah lebay amat sih, " ucap dinda sambil melepas pelukan Daniel,
"tapi kak jangan kasih tau bastian yah? , " pinta dinda,
"kenapa ini berita bagus loh, " heran Daniel,
"kak uda deh nurut aja kenapa sih, " ucap dinda,
"ya udah iya, " pasrah Daniel,
"ya udah ah aku ganti baju dulu, " ucap dinda sambil pergi dari sana,
sherly memegang lengan Daniel, sambil mengelus-elus tangan Daniel,
"kamu sayang banget yah sama dia?, " tanya sherly,
__ADS_1
"kamu gak usah tanya itu, kamu udah pasti tau kan jawabannya apa, " ucap Daniel sambil berjalan menuju meja makan kembali, ia berniat untuk membantu sherly masak,