
" *Reiji kembali...!"
Triakan mengema di sekitar kastil reiji berjalan cepat meningalkan ayahnya yang kini sangat marah padanya.
" Cukup reiji kembalikan!!" Ujar Lecht memberikan mantra sihir membuat reiji kaku.
" Lepaskan Lecht!"
Reiji memberontak ia melepaskan sihir dengan sihir lagi.
" Lecht aku harus mencarinya!"
" Apa yang kau pikirkan? Apa di zaman kita kekurangan wanita hingga kau bersikap seperti ini!" Guman Lecht kesal.
" Lecht kau harus tau, di tubuhnya tertanam benih clan kita aku harus mencarinya..." Guman reiji datar.
" Apa yang maksud? Apa kah kau...?"
" Yah benar... Aku melakukan nya dan aku harus mencarinya karna bisa jadi itu sudah tumbuh walaupun tidak aku ingin bersamanya!" Reiji memohon padanya.
" Pergilah!" Jawab pasrah Lecht.
Di jaman modern.
Hakaze tecengong melihat rumah mewah yang kini ia tempati, para pemuda barusan membawanya pergi berkunjung ke salah satu wanita yang teryata wanita itu adalah adik dari ibunya sendiri..
Membaringkan tubuh nya pada kasur king size, Hakaze memainkan sihir-sihir kecil yang ia pelajari bersama duyung lan
" Bagaimana keadaan mereka yah?
Haku aku kangen!!" Hakaze menenggelamkan wajahnya pada bantal.
" Song haku!"
Hakaze terpelanjak kaget saat mendegar suara yang ia kenali berada di depannya, reiji berdiri gagah di depan nya membawa pedang pemburu iblis yang legendaris.
" Reiji?"
" Bagaimana apa kau senang berada di dunia mu? Ini sudah 3 tahun sejak kepergian mu," ucap reiji dengan penuh penekanan di setiap kalimat nya.
" Tiga tahun?"
" Kenapa kau berada di sini reiji? Tanya Hakaze penasaran.
" Aku masuk melalui mimpimu, namun jurus ini hanya bisa di pakai sekali jadi katakan di mana kau berada..?"
" Tidak- apa kau akan menyusul ku? Jangan harap?" Bentak Hakaze marah.
Reiji geram melihat kekeras kepala Hakaze gadis itu belum berubah sama sekali batin reiji tersenyum pilu.
" Reiji tolong lupakan aku, aku tak ingin jadi vampire aku hanya ingin jadi diriku sendiri...!"
." Kau ingin kembali pada nya? Apa dia akan menerima mu? Apa kau layak Hakaze?
Apa kau masih mengigat malam itu? Detik-detik itu saat kau merasakan nya," ancam reiji sengit membuat Hakaze terdiam.
Menolak kekuatan reiji gadis itu menahan serangan pikiran reiji mengunakan sihir, di lain tempat kini reiji tengah terbanting ke arah tembok...
Dhuarr...!!!
Tembok seketika hancur reiji menghantam pepohonan sampai pohon itu tumbang,
Reiji Tersenyum miris memegang dada nya bagaimana bisa ia di kalahkan oleh gadis yang sepadan dengan nya apa ia harus lebih berlatih menguasai berbagai ilmu lagi? Bukanya ia sudah menjadi orang terkuat di clan nya?
Hakaze terbangun dari tidurnya, napas nya tersedak-sedak karna terlalu banyak mengeluarkan tenaga baginga tenaga ada lah yang paling sulit di serap dalam kondisi lemah seperti sekarang di lihat hari sudah pagi mentari sudah menampakkan dirinya menebus pada jendela gorden putih di dalam kamar..
Usai makan, Hakaze berserta salah satu kepercayaan ibunya melanjutkan pembicaraan yang telah lama tertunda, sementara itu bibi nya hanya menatap Hakaze teringat akan kenangan pahit kakaknya.
" Hakaze hime?
Ibumu memberikan nama itu tak kusangka kau mau memakainya, dulu ibumu meningalkan mu di era itu hongaria abad pertengahan hanya untuk memenuhi pangilan sang kakek yang dalam keadaan sekarat jadi mungkin nona tersiksa di sana,"
" Paman tolong jangan bahas hal yang lalu
Bagiku sudah cukup untuk bertemu dengan kalian!" Ujar Hakaze sedu berbohong.
Haku bagaimana keadaanmu?
" Paman! Aku sudah kembali apa yang masih di cemaskan oleh ibuku?"
" Ramalan tentang nona di katakan bahwa nona akan meninggal muda. Nona tak akan bertahan terjatuh dalam spiral kegelapan yang tak ada habisnya," jelas nya.
" Jangan khawatir karna bagaimana pun aku masih lah anak dari pohon zaskuen penyihir terkuat di Hongaria," Hakaze menenangkan pak tua dengan kata barusan walaupun hatinya masih gundah tak menentu.
Hakaze berlalu dari sana menenggelamkan dirinya dalam kekuatan spiritual yang tak segaja ia temukan di dekat anak tunas pohon zaskuen
Aku berharap semua nya berakhir menenangkan.
******
Seandainya saja
Hari ini Hakaze memutuskan untuk berkunjung ke makam ibunya yang berada di Hongaria, dengan menaiki pesawat.hakaze sampai di bandara Hongaria memang sedikit aneh ia mengenal barang dan alat cangih dunia modern begitu berbeda dengan keadaan di Hongaria pada waktu itu..
Hakaze menyiyir jika di hitung mungkin usia nya Sekarang sudah ratusan tahun, namun bagaimana pun ia anak yang lahir dari waktu yang berbeda jadi usia adalah hal tabu baginya.
Dengan di ikuti beberapa bodyguard yang sudah lebih dulu berada di Hongaria. Hakaze melangkah kan kakinya menuju ke pusara ibunya yang kini tengah berada di depan matanya sunguh sayang aku tak bisa melihat wajah ibuku
Hidupku kenapa seperti ini tuhan apa tak ada bahagia untuk ku kenapa semua nya hanyalah kesakitan? Tuhan kenapa aku memiliki hidup berbeda dengan yang lainya?
Meletakkan sebuket bunga pada batu nisan ibunya, Hakaze mengusap nisan dengan melantunkan doa khusu setelah itu ia menyuruh pada bodyguard miliknya untuk pergi.
" Ibu? Aku ingin memanggil-mangil nama mu namun kenapa kau lebih dulu tiada sebelum aku sempat memangilmu kenapa?" Hakaze jatuh terduduk di depan makam ibunya.
" Buk! Apa kamu tau aku selalu kesepian dan kata-kata ku bagaikan sangkar aku tak ingin menjadi anak yang plin-plan tak bisa membuat keputusan Seperti mu..!"
" Seandainya saja aku tak pernah lahir mungkin aku tak akan merasakan sesakit ini," curhat Hakaze.
" Seandainya saja aku hanyalah anak gadis biasa yang mengetahui bagaimana rasa nya di cintai?"
Hakaze memutuskan.meningalkan makan
Tanpa ia sadari bunga mawar yang ia bawa bergerak di selingi dengan terpaan angin menerpa dedaunan.
Dari kejauhan terlihat seorang tengah celingukan merasakan hawa yang samar-samar ia rasakan namun menghilang begitu saja..
__ADS_1
Sihir adalah salah satu kekuatan spiritual yang banyak di inginkan banyak orang karna dengan sihir akan terlahir serangan dan ilmu yang sakti
Namun mereka tak tau bagaimana sihir bisa menghancurkan perasaan bahkan meminta sebuah tumbal dan balasan yang setimpal.
Di lubuk hatiku yang paling dalam memiliki sihir sama saja dengan menjatuhkan diri dalam spiritual yang tak ada habisnya..
Namun semua terlambat darah dan dagingku sudah lekat dengan sihir dan sampai kapanpun aku akan menjadi seorang penyihir, walaupun aku mati nisan ku akan di ingat sebagai penyihir dan makam ku akan berbeda dari yang lainya jiwa ku akan terus bergentayangan mencari wadah yang baru. Lagi dan lagi ...
Ada satu pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada mereka namun sangat sulit di ucapkan.
" Jika aku mati apa yang akan bibi lakukan?"
Mereka tidak langsung menjawabku, hanya bergelut dalam pikiran yang dalam mungkin pertanyaan ku begitu sulit namun aku ingin tahu apa jawabannya.
Apalagi kekuatan sihir yang semakin lama ku serap di bumi, semakin memberontak meminta penghalang baru ada kemungkinan aku akan mati juga
" Bibi kenapa diam..?"
" Hakaze kau pasti akan hidup..!" Bls bibinya
" Tergantung...!"
" Nyatanya ibuku juga mati kan?"
" Kematian adalah hal mutlak Hakaze
Kami para bangsa manusia tak memiliki umur yang panjang,"
" Salah!
Karna kebenaran nya ibuku mati karna sihir
Kalian berbohong padaku,"
" Apa maksudmu?"
Bibi nya memegang dada sakit...
" Maksudku adalah bibi membunuh ibuku dengan ilmu hitam!" Delitan tajam memhuat bibi nya terdiam.
Wajah pucat basi kini terlihat tubuh bibi Hakaze bergetar ketakutan,
" Jangan menuduh ku Hakaze,!"
" Aku serius.. bibi iri padanya
Walaupun sangat rapih jangan lupakan aku adalah putri dari pohon zaskuen semua sihir telah ku kenali termasuk sihir lemah mu," sindir Hakaze.
Bibi Hakaze tak begitu mengerti akan apa yang di katakan keponakan nya namun yang pasti dia bukan musuh lemah seperti ibunya yang bisa dengan gampang ia jebak dan mati dengan mengenaskan.
*******
Terungkap
" Kenapa hanya diam?"
Hakaze semakin memojokkan bibi satu-satunya yang ia miliki. Bibi Hakaze kaget bukan main,
Mataku melotot terlihat pola bintang membuat yanhui berjalan mundur ketakutan.
Aku mendekat...
" Kenapa kau membunuh ibuku?"
Pisau melayang-layang di udara, memutari tubuh Hakaze di iringi tanaman rambat yang menjulang tinggi siap menusuk siapin kapan saja.
" Jawab aku,"
SPRASS
Darah berembes dari tubuh yanhui ketika pisau melukai pahanya, ia gemetar ketakutan menghadapi keponakan yang ia pikir bisa di kendalikan dengan mudah.
" Ma-aaf a-ku h-hanya i-iri!" Jawab yanhui gemetar.
" Dosa mu!
Yanhuo berusaha menghindari tatapan mata merah dari hakaze karna semua nya mengandung sihir...
" Aku iri karna ibumu selalu di sayang !" Yanhui merangkak berdiri.
" Kau harus tau Hakaze, setelah kepergian ibumu dia mencarinya kesana-kemari seperti orang kesetanan bahkan aku hnya di abaikan...!"
Hakaze tersenyum pelan terlihat bahwa ia mulai prihatin.
"Bibi yanhui sihir ilmu hitam itu tak cocok untuk mu jangan mengorbankan ibuku untuk Sihir itu," guman Hakaze menatap mata yanhui dalam-dalam>
" Apa yang kau lakukan?" Yanhuo ketakutan mata nya membelotot seakan akan keluar dari tempatnya, darah berembes dari kedua kelopak matanya.
CLANG
Pisau berjatuhan, Hakaze mengambil satu dan mengarahkan pada yanhui dengan sekali tebasan mengenai jantung.
Yanhui kehilangan banyak darah dan tewas di tempat, Hakaze membuat kuburan dan memakannya dengan tatapan sedu ia berjalan melangkah pergi bahkan kesedihan yang aat menyakitkan kenapa ia tak bisa mengeluarkan air mata sedikit pun? Kenapa?
" Kenapa perut ku rasa nya sakit?"
Memegang perutnya Hakaze merasa seperti tubuhnya di sobek dari dalam, dari samping terlihat seorang berjubah hitam muncul dengan hawa menakutkan mendekat ke arah Hakaze..
Hakaze menoleh menganga menatap sosok yang tak ingin ia temui malah berdiri di depan nya,
" Kau kenapa di sini?" Tanya Hakaze penasaran.
Jubah hitam tertebak angin melambai-lambai
Dia memeluk ku dari belakang, taring nya mencuat tajam lalu-
CTAK
Aku meringis sakit. Mencekal lengan reiji kuat" rei-ji " akhirnya taring reiji menembus leher ku lagi namun sekarang bukan menghisap darah saja melainkan menanamkan virus vampire pada ku apa aku akan jadi vampire?
Tenggorokan ku rasa nya panas reiji menghentikan hisapannya lalu mengelap sisa darah pada sudut bibirnya. . Dia meminum darahku sangat rakus. . Aku terbatuk-batuk tenggorokan ku panas ingin minum,
" Aaaaaa"
" Jangan di tahan, ayo minumlah!" Reiji memegang wajah ku menujuk ke arah leher
__ADS_1
Pemburu darah reiji mengoda ku untuk meminum nya aku ingin minum tapi jika aku minum maka aku akan menjadi vampire.
" Jangan... Menjauhlah aakkk..." Hakaze kesakitan.
" Minumlah jangan di tahan," guman reiji penuh perasaan...
" Jangan memaksa ku!
" Jika kau menahan nya kau bisa mati,"
" Aku tidak mau jadi vampire!"
" Darah ku sangat lezat," goda reiji membuat Hakaze semakin di makan hasrat nya.
Untuk kedua kalinya air mata keluar dari pelupuk mataku, aku merangkul leher reiji dan
" Ctakk" taring yang ntah sejak kapan sudah aku miliki menusuk ke pemburu darah reiji meminumnya dengan rakus sekarang aku bukanlah manusia aku adalah vampire.
" Jangan takut," reiji meringis sakit namun masih memeluk ku kuat agar tak berhenti menghisap darahnya.
Aku tersadar saat darah reiji sudah hampir ku habiskan, aku merasakan detak jantung ku dan ternyata sudah tak berdetak aku sudah mati
Aku melepaskan gigitanku dengan banyak penyesalan.
*****
Kepemilikan
Hari sudah berganti setelah kejadian itu pernikahan di adakan dengan meriah semua bangsa vampire di jaman modern menghadiri acara kebahagiaan putra mahkota clan yaron yang akan menjadi raja setelah ayah nya turun tahta.
Aku terbangun di pagi hari. .
Kepalaku rasa nya pusing,
Aku membuka mataku terlihat kamar yang selalu aku tempati dulu mungkinkah ini Hongaria abad pertengahan?
Aku segera menyilabkan selimut, yang aku inginkan segera pergi ke zaman modern lagi
Aku tak ingin bertemu haku yang mengetahui keadaan ku sekarang. .
Setelah selesai mandi aku membuka jendela ku ucapkan kata sihir namun kamar ini terlalu tinggi di tambah formasi reiji membuat ku tak mungkin bisa menembus nya begitu saja.
Graaak!!
Pintu terbuka aku langsung menoleh ke samping, reiji berdiri dengan gagah di depan ku
Pakaian kebangsawanan melapisi tubuh bagus nya.
" Bersiaplah hari ini ayah turun tahta!" Printah reiji pada istri nya.
Istri paksaan
Hakaze menganguk, beberapa pelayan masuk membawakan gaun dengan beberapa aseksori tambahan mereka mendandani ku seperti seorang purri raja saja..
" Ratu sangat cantik!"
Pelayan memuji kecantikan Hakaze yang bisa membuat reiji tergila-gila padanya
" Terima kasih!"
Aku berjalan menuruni anak tangga, Lecht menatap ku sekilas lalu memberikan aba aba agar semua tamu diam..
Dua pelayan mengekori ku dari belakang
Ku tatap reiji yang kini tengah duduk penuh karisma dalam balutan jubah kebesaran bangsa vampire ku lihat para bangsawan yang memakaian pakaian berelas berwarna gelap kebanyakan warna hitam.
Mereka duduk di bawah sedangkan di depan ku ada tangga berbalut emas dan disanalah reiji duduk dengan gagah menopang sebelah dagunya.
Wajahnya dingin dan tampan...
" Kemarilah...!"
Aku berjalan menaiki tangga ke arah reiji, sekarang statusku adalah istri dari reiji
Sebelum reiji membuangku atau bosan padaku aku harus bertahan Aku berjalan menaiki anak tangga para vampire menghormat padaku,
" Bawa kemari!" Printah reiji
" Baik yang mulia,"
Dua pelayan muncul membawa tiara berlian, reiji mengambilnya lalu memakaikan pada Hakaze yang langsung menunduk seketika ntah kekuatan apa yang membuat tubuhnya tunduk di hadapan mahkotadi depan nya.
Reiji memakai kan pada kepala ku lalu tersenyum melihat ke arah ku " cantik!" Guman nya pelan namun masih dapat ku dengar.
" Hidup yang mulia ratu!!
" Hidup yang mulia ratu!!"
" Hiduo yang mulia datu!!"
Sorak gembira menghiasi aula kini aku terdiam mereka bilang aku ratu?
Reiji mendudukkan dirinya pada singgasana
Dan menghentikan sorak kebahagian mereka
" Kau duduk bersamaku!"
" Ngak"
Dengan cepat dia menarik tanganku.
" Aakh!"
Aku duduk di salah satu paha reiji, dia merangkul pinggangku dan menatap ku lembut sekaligus tajam.
" Ingatlah kau akan selama nya menjadi milik ku kita akan selalu bersama melewati kehidupan abadi ini," bisik reiji penuh kasih sayang di telinga Hakaze.
Aku langsung membuang muka.
" Semua nya dengar . . Mulai sekarang dia adalah milikku . .dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sedikit pun . . Hormatilah ratu kalian seumur hidup kalian,"
" Baik yang mulia!"
Semua memberi hormat pada kami*.
__ADS_1