
***Semenjak kedatangan ku ke dunia ini
Dan semenjak aku menjadi ratu kini aku bisa membuka waktu dan bolak-balik antara dunia ku dan dunia dimana reiji berada sekarang reiji lebih memberiku banyak kebebasan membuat ku tak terlalu bosan karna bisa menjalankan urusan ku sebagai seorang manusia biasa di zaman ku.
Perlahan kelopak mataku terbuka menampakan iris merah yang redup, ku lihat ke Samping terpampang wajah reiji yang masih terlelap dalam tidurnya aku beranjak dari ranjak menuju ke kamar mandi..
Seandainya aku bukan vampire sekarang, seandainya aku bisa menjadi manusia biasa mungkin aku akan sangat bahagia dan seandainya posisi reiji adalah haku mungkin hidupnya akan lebih menyenangkan . . Aku tak tahu bagaimana masa depan ku nanti bersama monster tua ini kedepannya?
Aku menenggelamkan tubuhku pada kolam bunga, ku rileks kan tubuhku yang baru saja selesai bertempur aku langsung tersentak kaget saat kurasakan sentuhan lembut.
"......!"
" Kau bisa sakit! Jangan terlalu sering membasahi rambut mu!" Ucap nya pelan.
" Aak. . Ok!"
" Baguslah"
" Reiji bisahakah aku pergi ke kerajaan ku?
" Untuk apa kau kesana?"
" Nada bicara mu sunguh tak enak di dengar,"
Reiji langsung terdiam.
" Apa yang kau harapkan dari kerajaan yang telah rata dengan tanah? Apa kau ingin menemui jendral itu yang sekarang bertugas di sana?" Selidik reiji dengan tampang tak suka.
" Hmm..!"
" Apa kau lupa itu semua pilihan mu," guman reiji pergi dari sana.
Aku langsung bergegas mengambil pakaian ku dan memakaian nya, memang benar apa yang di katakan reiji ini semua adalah pilihan nya
Namun aku tak ingin terus berlarut dalam penyelesalan aku harus bertemu dengan nya.
Aku berjalan ke arah ruangan Lecht dan membuka pintu, terlihat Lecht kini tengah memejamkan matanya aku tau bahwa dia mengetahui kedatangan ku namun kenapa Lecht egan membuka matanya sedikit pun.
Lecht perlahan membuka matanya,
" Aku tau apa yang kau inginkan...!"
" Bisakah tetua membantu ku?" Tanya Hakaze penuh harap.
" Apa yang bisa kamu berikan pada ku sebagai imbalan?"
" Apapun asalkan aku bisa mencapai nya,"balas Hakaze pelan.
Lecht menyerigai kejam lalu berdiri di hadapan Hakaze,
" Berikan reiji anak!"
" Ke-kenapa?"
" Karna mu dia bisa lebih menghargai hidup nya . . namun aku khawatir jika suatu saat nanti kau akan memberontak . . !"
" Memberontak?"
" Reiji tak akan mati termakan umur, namun kau adalah manusia yang di ubah olehnya cepat atau lambat kau akan bosan dengan hidup mu kau bisa saja membunuh dirimu sendiri dengan sihir
Sedangkan reiji akan abadi kecuali ada yang sangup memegal kepala dan menusuk jantung nya namun kau adalah penyihir kehidupan abadi bisa kau relakan untuk dirinya..." Lecht menatap ku tajam.
" Saa itu terjadi. . Mungkin reiji akan sangat sedih," Lecht menekan aura kekuatan nya
" Hakaze berikan dia anak!"
" Aku tak sangup!" Blas Hakaze.
" Tolong kau berikan harapan dia untuk hidup jangan biarkan dia sendirian,"
Hakaze terdiam sunguh ia tak bisa melakukan hal yang di inginkan Lecht, namun ia tak sangup jika tak bertemu dengan haku karna bagaimanapun pun haku adalah manusia yang akan mati seiring berjalan nya waktu.
" Berikan aku waktu 100-200 tahun lagi" Hakaze berusaha menawar dengan Lecht,
Lecht menganguk menyangupi kesepakatan di antara kami,
" Apa kau yakin mampu?"
" Kenapa?"
"Melahirkan keturunan vampire sangat sulit bagi orang yang dulu nya manusia..."jelas Lecht.
Aku menunduk namun untuk haku ia bisa melakukan apa saja
" Kau mungkin akan mengalami kerusakan rahim ataupun kehilangan nyawa!"
" Tetua Lecht janji adalah janji," balas Hakaze.
Lecht sedikit bisa bernapas lega, ia menunjuk ke arah jendela menyuruh agar Hakaze melompat dari sana perempuan cantik itu menganguk dan melompat keluar.
*****
Pernikahan haku
" Tap"
Aku berhasil mendarat di kerajaan taka di mana haku berada, ku susuri jalanan ibu kota menatap hamparan lautan manusia yang telah lama telah ku lupakan . .
Aku cukup heran karna sepanjang jalan banyak arak-arakan bahkan jalanan pun di hias apa ada kabar mengbahagia kan di kerajaan tak ingin mati penasaran aku bertanya ke salah sati warga
" Permisi ! Maaf ini ada acara apa yah?" Ujar Hakaze lembut.
" Ouh, nona apa tidak tahu? Jendral song akan menikah sekarang," balas nya.
" Jendral song?! Song haku?"
"Benar!!"
" Terimakasih"
Hancur sudah hati dan tekad yang telah lama ia pertahankan sudah hancur berkeping-keping, kenapa haku tega menikah dengan orang lain?
Kenapa dia tak berusaha untuk mencarinya kenapa?
Hakaze menghilangkan, membuka portal yang menyambung antara dirinya dan kerajaan taka,
Terlihat dari kejauhan jendral seh tengah berdiri di depan orang yang membawa tandu pernikahan di iringi dengan haku yang berdandan begitu gagah dan tampan.
Syuh
Boom
Angin topan menghamburkan tandu pernikahan,
Haku melompat segera menyelamatkan istrinya
Haku menatap geram ke arah penonton yang panik sekaligus ketakutan cuaca yang semula cerah kini menjadi bertopan bahwa guntur saling bersautan.
Hakaze berdiri di depan haku dengan amarah yang telah memuncak serta kekecewaan.
Haku kaget!!!
" Ha- Hakaze hime?" Haku yang kepergok menikah di depan Hakaze merasa bersalah.
" Kenapa kau melakukan nya?" Tanya Hakaze.
" Karna kau yang pertama meningalkan ku jangan lupakan itu,"
Aku menunduk tak berani melihat wajah haku memang benar ini semua ulah nya bukan salah haku karana menyakiti nya.
" Putri lihatlah aku!;
Aku tak berani menatap haku,
" Jangan abaikan aku lagi,"
Haku memeluk ku erat dan kuat, sedangkan alia istri dari haku hanya diam saja karna sedari awal pernikahan ini untuk memancing kemunculan Hakaze namun hatinya terasa sakit
"Lepaskan aku! Aku tak layak bagimu semongga kau bahagia haku," Hakaze berjalan pergi dari sana .
" Kenapa kau selalu pergi sampai kapan kau seperti ini?" Ujar haku marah.
" Jangan lupakan dia adalah ratuku...!"
Haku mendongkrak terlihat reiji berjalan ke arah mereka dengan jubah yang melambai-lambai tertebak angin.
" Kau lagi...!"
" Yah, ini adalah aku!!"
Reiji tersenyum sinis ke arah haku merangkul bahu nya kuat. Reiji memamerkan kepemilikan nya pada Hakaze dengan mengecup kening Hakaze lembut.
" Nona Hakaze ! Kenapa anda sangat kejam.pada tuan haku?
Padahal tuan selalu mencari nona seperti orang kesetanan hanya untuk memenuhi keingin tahuan rumor yang beredar bahwa nona sudah menjadi seorang vampire!!" Alia mengeluarkan kalimat yang selama ini ia tahan karna kepergian Hakaze membuat haku menjadi pesimis.
" Alia! Semongga bahagia," Hakaze menghela napas aku terlalu egois karna mengininkan hal yang ku tingalkan dan aku sangat serakah karna aku banyak orang terluka aku tak pantas lagi bersama haku pikir Hakaze.
" Nona jangan bicara sembarangan!"
Alia memang senang namun ia tak enak merasakan aura kekecewaan haku yang mendalam ke arah nya.
*******
Karena kamu Manusia
Alia menduduk memegang tangan haku yang kini begitu dingin.
" Terimakasih ratu. .
" Untuk apa?"
" Telah memutuskan hubungan mu dengan haku," jawab takut alia.
__ADS_1
" Sampai jumpa'"
" Tunggu Hakaze,!" Haku menghalangi Hakaze membuat reiji geram sedangkan Hakaze menyuruh Hakaze untuk diam.
" Ada apa lagi?" Tanya Hakaze bingung.
" Hakaze ayo kita mulai dari awal lagi, aku akan menceraikan alia!!"
Deg
Jantung alia terasa sakit baru saja menikah haku sudah berbicara seperti itu,
" Aku tak bisa!"
" Kenapa?
" Karna aku tak pantas untukmu, aku bukan lagi perawan!" Jujur Hakaze walaupun sangat sakit.
" Kau mencintai nya?"
" Ti-tidak!" Jawab Hakaze jujur.
Reiji sudah mulai di kuasai amaran sudah bertahun-tahun dan tak ada sedikitpun perasaan yang terbalas sunguh memang benar hati wanita memang beracun.
" Aku tak peduli," haku memelas.
" Kau adalah manusia seiring berjalan nya waktu pasti akan termakan umur, sedangkan aku adalah vampire sekarang aku adalah permaisuri dari clan Themere yang akan bosan, saat kau mati maka aku akan sendiri lagi walaupun begitu aku masih berharap aku juga manusia namun kenyataannya berbeda," Hakaze terdegar pahit
" Haaah," haku mendunduk sedih dalam kalimat Hakaze terkandung banyak sekali kesedihan.
Hakaze berjalan ke arah alia dan memberikan sebuah kalung ke arah nya, yah itu adalah kalung yang dulunya di berikan haku pada nya.
" Ambillah!*
" Tapi inikan?"
" Ini milikmu alia... Sampai jumpa lagi
Jika ada waktu lagi kita akan berjumpa lagi!!" Ucap hakaze dengan senyuman kecil.
" Kami tidak akan melupakan ratu! Karna di dunia ini orang berambut merah hanyalah putri Hakaze
Yang sekarang menjadi ratu bangsa Themere!!" Ujar alia membuat Senyuman masam pada bibir Hakaze.
" Suamiku ayo kembali! Tak baik jika ratu Themere meningalkan istana selama ini," ajak nya ke arah reiji yang menganguk.
Memang benar apa yang di katakan Hakaze, mereka memang mengenal dari balik kepalsuan justru aku akan pergi selamanya,
Kepergian reii dan Hakaze di ingat kaum manusia, teryata gadis berambut merah yang mereka kenali sebagai putri kerajaan taka menjadi orang yang memimpin bangsa Themere yang menghancurkan kerajaan mereka,
Kabut mengitari semuanya kerajaan taka di rundung sedih amat dalam khusus nya haku
Tak mengira orang yang di cintai malah yang memberikan cinta dirinya untuk orang lain.
*50 tahun berlalu. .
Hakaze termenung di jendela menatap ke alam khayalan, ingatan nya masih berputar pada saat-saat bahagia dirinya dengan haku dulu
Hakaze memegang kepala nya ia bagaikan istri yang tak memiliki moral jelas sekali sudah bersuami namun di hatinya masih ada orang lain.
Terpaan angin membuat siulan hangat di malam itu, Hakaze menopang pipi dengan satu dagu
Angin menerpa kulitnya dengan sepoi-sepoi. .
Kunang-kunang berterbangan membuat suasana yang begitu indah sekali.
Naluri vampire ku langsung waspada saat merasakan ada gerakan yang mengarah pada nya benar saja beberapa besi hampir melukai ku
Namun dengan cepat ku tangkis.
Di balik kegelapan muncul sosok beramput kuning dengan jubah khas kebangsawanan menatap ku dengan dingin. .
“ Tetuaa Lecht bukan nya anda sedang pergi ke zaman lain?" Tanya Hakaze gugup.
Lecht mendelik tajam“Apa kau kesepian...?"
“ tentu..."
" Hakaze apa kekuatan inti pohon zaskuen masih ada di tubuhmu?" Tanya Lecht bingung.
" Yah! Kemunculan tunas pohon zaskuen mungkin sedang mempersiapkan wadah baru . . Tenang saja kekuatan itu akan musnah dari tubuh ku..." Guman Hakaze.
" Ingat janji mu...."
Janji
Hakaze menganguk pelan dan berpamitan untuk pergi dari sana, Hakaze menuju ke ruangan reiji
Tanpa mengetuk pintu Hakaze membuka nya kasar terlihat reiji tengah tertidur di kursi kebesaran miliknya, Hakaze mendekat membuat reiji perlahan membuka matanya
Gaun Hakaze melambai-lambai bagaikan api
Penampilan Hakaze jauh berbeda sekarang.
“ Reiji..."
“ Jika kau orang lain pasti sudah di bunuh karna tak hormat padaku. . Untung saja istriku jika tidak kau...."
Hakaze memotong ucapan reiji “ Kau suka anak perempuan atau laki-laki?" Tanya Hakaze dingin
“ Kenapa?"
" Jawab saja..."
Menghela napas pelan reiji memaksa Hakaze melihat dirinya “ Semua nya sama asal kan dia darah daging ku laki-laki atau perempuan yang penting dia sehat serta dapat menemani ku
Menjadi buah dari hati kita..." Jelas reiji.
Hakaze turun dari meja lalu berjalan menjauh
Ia membuka pintu“ Besok malam datang ke taman sari..." Hakaze menutup pintu membuat reiji kebingungan.
Esok nya . .
Sesuai janji reiji datang ke taman sari, di mana tempat itu ia siapkan untuk Hakaze yang di penuhi banyak bunga dan juga ada air terju replika dari tempat duyung lan. .
Tempat untuk Hakaze mandi, di sisi lain nya ada kamar yang sangat besar dan tak pernah di pakai untuk pertama kalinya Hakaze mengajak membuat reiji sedikit penasaran...
KREK
Pintu terbuka pelan,
Mata reiji langsung melonggo melihat Hakaze tengah meminum darah dengan menopang kepala dengan satu tangan. . Paha putih terlihat
Membuat sesuatu terbangun dari diri reiji.
Reiji mendekat ke arah Hakaze yang sudah mempersiapkan kencan romantis untuk mereka
Hakaze mendudukkan dirinya di samping Hakaze dengan cepat wanita itu memegang bahu reiji“ Yang mulia bisakah kamu membuka pakaian mu..." Goda Hakaze.
Glukk..
Reiji meneguk ludah nya dari kapan benda kenyal itu semakin membesar terasa di tulang punggung nya.
“ Apa aku perlu melepaskan sendiri yang mulia..."
Hakaze sudah mulai meraba-raba tubuh reijj yang terdiam.
Reiji mencekal lengan Hakaze membuat gelas darah tanpa segaja pecah, reiji mengunci penggerakan Hakaze dengan satu tangan“ Jangan menggodaku..."
“ Benarkah, apa kau tak ingin memulai Nya?" Tanga Hakaze dengan mengembunkan sebelah pipinya.
Reiji mengacak-acak surai hitam nya bingung.
“ Kenapa kau jadi seperti ini..."
Hakaze tersenyum lalu membuka jubah putih dan hanya meninggalkan piama tepis di tubuhnya yang sudah membuat reiji bergetar terespon.
“ Reiji asalkan kau mau memberikan ku ke bebaskan antara dunia manusia dan dunia ini
Aku akan menjalankan tugas sebagai ratu dan istrimu . . Kau juga bisa meminta padaku jika kau ingin namun berjanjilah jika lahir seorang anak biarkan dia memilih antara menjadi penyihir Zaskuen atau vampire!!! ....
" Tidak...!!!
Hakaze langsung terdiam “ kenapa?'
" Karna dia harus menjadi pewaris tahta..."
Hakaze kesal ia beranjak dari ranjang, namun belum melangkah ia teringat akan janji yang di ucapkan pada Lecht.
Reiji merlirik Hakaze diam-diam siap Hakaze begitu berubah dan tak beres ia yakin pasti ada hubungannya dengan tetua Lecht.
“ Kenapa berhenti...!!" Ujar reiji menyindir.
“ Yang mulia tidak kah kamu menginginkan ku?"
Lepas sudah hasrat reiji ia melempar tubuh Hakaze ke ranjang, detak jantung kencang membuat Hakaze tak tenang walaupun ini bukan pertama kalinya...
" Jangan meminta ampun dan menjerit
Bahkan sampai mencakar punggungku..." Ejek reiji.
Hakaze berdecih sebal“ Bukan nya dulu kau memaksa ku bahkan membuat ku pecah perawan... Kau bagaikan orang kesetanan..." Membayang kan waktu dulu membuat Hakaze meneguk ludah takut.
" Karna aku takut jika song haku yang akan merebut mu pertama kalinya..."
Hakaze ingin bertriak namun ia tahan membuat reiji mengangkat sebelah alis nya heran.
Hakaze tersenyum mengejek ke arah nya.
" Ada apa? Apa sekarang teknik mu sudah karatan?"
" Dulu dada mu tak sebesar ini heh...!!"
" Kenapa memang nya?
Bukan nya kau yang selalu menyentuh nya..
__ADS_1
" Sudahlah, kita akhiri semua ini..."
" Ada apa? Apa sekarang kau lemah?
Tak seganas dulu aku suka seseorang yang tahan lama... Teknik mu sudah karatan reiji..." Ejek Hakaze menegadah ke belakang ke arah sandaran ranjang.
Tangan reiji bergerak dengan licah mengosok lalu mengoyak ....
Reiji menyerigai tajam“ Ini kau yang minta..."
Di malam itu burung pun malu melihat kedua pasangan yang tengah di mabuk kasmaran, triak an Hakaze membuat reiji semakin bergairah
Malam itu reiji merasa bahwa Hakaze sudah mulai menerima nya... Jus sirsak berceceran dimana-mana sesuatu yang hangat masuk kedalam tubuh Hakaze.
" Cepat atau lambat kau akan menerima ku..." Riiji memungut gaun Hakaze yang sudah sobek akibat nya, terlihat Hakaze sudah tidur dengan pulas.
49 tahun kemudian . .
" Hoekkk . . Hoekkk . ..
Hakaze mendadak mual dan muntah, di lihatnya wajah nya begitu pucat para pelayan kebingungan melihat kelakuan sang ratu yang mondar-mandir kedalam toilet.
Di lorong koridor reiji mendadak khawatir mendegar bahwa Hakaze beberapa kali pingsan tak ingin mati penasaran reiji pun masuk kedalam kamar kami, di lihatnya Hakaze tengah terbaring di sertaii beberapa dokter jaman modern serta beberapa tabib ( yah, nama nya ratu pasti bakalan di pentingin...)
Para dokter yang ada di sana mendadak mundur beberapa langkah, reiji berdiri di samping ranjang ku di lihatnya wajah Hakaze sangat pucat.
" Dia kenapa?" Tanya reiji marah
" Tuan!!!
Ratu sedang mengandung, usia kandungan nya baru 2 minggu..." Ucap dokter dengan takut-takut.
Mata reiji seketika membulat hampir seratus tahun ia menunggu kabar baik itu dak akhirnya semua terjadi tanpa di sangka sangka...
' Akhirnya aku akan jadi ayah ' batin reiji senang.
Reiji tetap mempertahankan epresi dingin nya mencoba bersikap kalem di hadapan para dokter.
" Tapi tuan.. usia ini sangat rentang keguguran aku harap ratu tak bekerja terlalu berat ataupun merasakan depresi...!!"
" Hmmm
Kamu ambilah hadiah nanti di ruang kerja ku...?!"
" Baik yang mulia..."
Semua orang pergi dari sana terkecuali reiji yang tengah berbahagia.. ia melangkah pergi dari sana, Hakaze mulai membuka matanya di lihatnya ruangan yang amat berbeda dengan yang ia tempati sekitar ruangan di hiasi bunga tak seperti kamar nya dulu karna reiji tak menyukai bunga. Di samping ranjang terlihat banyak aseksori dengan berbagai model
Aku merasakan perut ku agak berat di lihat ku reiji tengah memeluk ku seakan tak ingin melepaskan nya.
" Apa ada yang kau inginkan?" Tanya reiji saat membuka matanya.
" Kamar ini??"
" Akan jadi kamar kita, kamar yang dulu terlalu sempit aku akan bosan...!!'
Hakaze mendudukkan dirinya “ Kau sangat aneh sekali..."
Hakaze menatap ke arah langit-langit “ Aku ingin taman bunga dengan banyak bunga mawar putih dengan bunga mawar merah. . Lalu di sisi nya dihiasi bunga higanbana," ucap hakaze tanpa sadar.
Reiji beranjak dari ranjang meninggalkan Hakaze sendiri. .
Usut punya usut reiji langsung membuat taman seperti yang di inginkan Hakaze. Hakaze ingin semua mashion di kelilingi bunga namun di hentikan oleh reiji membuat Hakaze langsung pingsan membuat reiji merasa bersalah
Hakaze belum mengetahui kehamilan nya karna reiji merahasiakan hal itu dirinya terlalu takut jika Hakaze akan mengugurkan kandungan nya
Sampai akhirnya Hakaze merasa perut nya semakin membesar dengan cepat ia menemui reiji. . Dia bertanya apa yang terjadi reiji bungkam, lalu Hakaze mulai marah
Dengan pasrah reiji memberitahu kehamilan Hakaze membuat gadis itu diam seribu bahasa pantas saja reiji selalu bersikap aneh ( memanjakan ) teryata....
Hakaze terdiam tanpa epresi lalu ke taman bunga yang kini hampir di dominasi oleh warna putih dan merah!
Dari belakang ada seseorang menepuk bahu Hakaze dan berbicara beberapa kata
Hakaze menganguk pasrah
Jemari nya memetik tangkai bunga mawar mengumpulkan pada pot bunga ia membawa ke kamarnya Hakaze menusuk jemari dengan duri mawar membuat darah menetes dari tangan nya*.
100 tahun berlalu. .
" Ibuuu . . Ibuuu!"
" Reika?"
Seorang anak lelaki berusia 8 tahun berlari menerjang ke arah wanita cantik yang kini tengah berdiri di taman.
" Ibuu kenapa kau baru kembali . . Apa kau lupa pada anak mu?" Tanya nya dengan mengerucut kan bibirnya lucu.
Hakaze tersenyum mengelus surai merah putranya, dengan mata ungu milik ayahnya begitu mengitimidasi pangeran Themere tertampan.
" Karna ibu bosan dengan kastil ini . .
Reika pergilah cari tetua Lecht!"
" Kamu sangat tampan reika bahkan ayah mu tak bisa lagi narsis karna kamu lebih tampan darinya " hakaze mengulur senyum lembut memegang pipi reika.
Hakaze meningalkan reika putranya, dari kejauhan reiji tengah mengawasi dengan senyuman aneh mendegar kalimat yang di lontarkan hakaze memang seratus tahun berlalu Hakaze dapat hamil melahirkan seorang putra yang bahkan sangat sulit di lahirkan. . Masih terbayang rasa sakit melahirkan keturunan vampire membuat tubuh nya sedikit rusak namun tidak fatal.
Reika di besarkan dengan banyak nya peperangan serta kedisiplinan agar mewarisi tahta selanjutnya, makanya Hakaze lebih menjauh dari putra nya sendiri.
Lecht yang mengetahui kedekatan ibu dan anak yang semakin lama merengang, selalu menghibur cucunya.
" Buka mulutmu lebih lebar reika. .?" Antusias.
" Tetua Lecht ada apa?"
" Aku ingin melihat taring mu,"
" Heeem," seakan tidak mau tapi reika menurut.
Lecht menatap taring cucunya dengan bangga lalu mengelus surai merah milik nya.
" Kau semakin mirip ibumu!!"
" Benarkah?" Tanya reika penasaran.
" Jangan menyerah untuk mendapatkan hati ibumu,!" Nasehat Lecht membuat reika menganguk.
Ke esokan paginya Hakaze meminta reika mengikuti dirinya berkunjung ke tempat ia lahir yaitu kerajaan Taka, di kawal beberapa orang termasuk reiji yang turun tangan menyiapkan perjalanan mereka.
Hanya butuh satu hari hingga akhirnya mereka sampai di kerajaan taka.
Hakaze mendekat ke arah anak yang kini tengah bermain di taman.
" Permisi! Apa kakek mu ada?" Tanya Hakaze berjongkok di depan anak itu.
" Kakek?"
" Hei bocah ibuku tanya kau harus jawab?" Bentak reika tak sabaran.
" Reika diam!" Tegur ibunya kasar.
" Ba baik..."
" Jangan membuat ibumu marah..!" Ucap reiji menenangkan putra nya.
Dari dalam istana muncul wanita paruh baya,
Wajahnya sudah keriput bahkan untuk berjalan pun sangat sulit.
" Yang mulia raja Themere. .
Yang mulia ratu Themere?" Dia menghormat ke arahnya.
" Jangan sungkan alia!"
" Apa kalian ingin melihat haku? Maaf tapi dia sudah meningal beberapa tahun yang lalu..!" Pengakuan alia membuat Hakaze tersentak
" Tidak apa-apa!!"
Reiji menurunkan reika dari pangkuan nya anak itu mendekat dan bersembunyi di balik tubuh ibunya...
" Ratu, dia adalah?" Tanya alia heran.
" Putra ku! Reika yaron isdoville..!"
" Salam pangeran mahkota," mereka serentak menghormat ke arah reika.
Reiji mendekati Hakaze menyuruh nya untuk berhenti berharap, Hakaze membalikkan badan nya sebelum itu ia tersenyum ramah.
" Jangan takut aku berjanji selama 100 tahun bangsa clan Themere tidak akan menyerang kalian..." Guman Hakaze.
" Kalian para manusia, menjadi kuatlah dalam kurun waktu yang ku berikan," reiji menimpali.
" Kami mengerti...!"
Mereka bersujud berterima kasih walaupun dalam hati masih ada ketakutan akan kepunahan umat mereka masing-masing.
" Reika ayo pulang"
" Baik buk!"
" Takdir adalah takdir ," reiji mengecup pipi reika Pelan.
Hakaze membuat lubang hitam di langit seetika mereka terhisap ke dalam pormasi sihir,
Cinta terkadang tak membuahkan hasil yang sesuai namun jangan korbankan semua untuk cinta karna belum tentu mereka akan bertahan
Kita hanya akan semakin di makan harapan
Namun kasih sayang akan selama nya abadi walaupun raga sudah mati dan nyawa sudah melayang.
Hakaze menyandarkan tubuhnya pada dada bidang reiji, menatap tingkah reika yang tersenyum gembira melihat jaman modern.
" Buk lihatlah ini bagus!"
" Dia mirip seperti mu...!" Ucap reiji menunjuk reika yang asik bermain.
Hakaze mengeleng pelan lalu tersenyum ke arah reiji" dia lebih mirip dengan mu."
" Haah . . Benarkah ?"
__ADS_1
Reika tertawa ke arah ibu dan ayahnya saat
Mendegar ucapan kedua orang tua nya seandainya saja ibu bisa bersikap ke ibuan selamanya batin reika bernarap***.