
" Tidak ku sangka kau sudah berubah, siapa yang membuat mu sehingga menjadi seperti ini. Aku akan berterima kasih kepadanya … ." Batin Ivan yang tersenyum bahagia dan terselip rasa terimakasih atas orang yang telah mengubah Olivia menjadi sosok orang yang hangat.
Ivan pun kembali ke meja kerjanya, sedangkan Olivia yang sedang berjalan jalan mencari pekerjaan pun melihat ada sebuah Caffe yang membuka lowongan pekerjaan, karena itupun ia langsung mendatangi Caffe tersebut.
Sesampainya ia di Caffe itu, ia pun bertemu dengan pemilik Caffe itu dan bertanya." Permisi apakah disini sedang membuka lowongan pekerjaan?" tanya Olivia kepada pemilik Caffe kecil tersebut.
" Iya … apakah anda berminat untuk bekerja disini," pemilik Caffe itu pun mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Olivia kemudian pemilik toko itu menawarkan Olivia untuk bekerja disitu.
" Iya," jawab Olivia dengan semangat mengiyakan ajakan sang pemilik toko.
" Ohh kalau begitu anda sudah boleh bekerja disini hari ini," ucap Si pemilik Caffe kepada Olivia dan menerima sebagai pegawai di Caffe itu.
" Terimakasih Pak," ujar Olivia yang senang.
" Ini seragam kerjamu," ucap Si pemilik Caffe sembari memberikan seragam kerja khas Caffe tersebut.
" Ohh … Terimakasih," jawab Olivia yang menerima pemberian seragam dari sang pemilik Caffe.
Setelah menerima seragam khas Caffe itu, Olivia pun langsung menggantikan pakaiannya dengan seragam Caffe tersebut, setelah selesai mengganti pakaian nya ia pun langsung bekerja.
Tidak berapa lama ada dua orang pria yang datang ke Caffe tersebut, dan ketika itu ingin memesan sesuatu dan memanggil pelayan Caffe. Olivia pun yang bekerja sebagai pelayan Caffe di sana langsung mendatangi dua orang pria yang ingin memesan tadi lalu bertanya apa yang ingin mereka pesan.
" Aku pesan tiga Coffee ya," kata salah satu pria itu kepada Olivia.
__ADS_1
" Baik, silahkan tunggu sebentar," ucap Olivia disertai anggukan kepala dan kemudian pergi dari meja dua orang pria tadi untuk membuatkan pesanan yang mereka minta.
Tidak berapa lama Olivia pun kembali ke meja dua orang pria itu dengan membawa tiga gelas Coffee yang mereka pesan. Tiba-tiba Valdo pun datang ke Caffe itu dan bergegas menuju meja dimana ada dua orang pria misterius tersebut.
" Maafkan aku karena terlambat, apakah kalian sudah menunggu ku sangat lama Rian Syahrul," ujar Valdo sembari duduk di salah satu kursi yang ada di meja disitu.
" Tidak … kau tidak terlambat, lagipula pesanan kami baru saja datang," jawab Rian dengan kepala yang di gelengkan pelan.
" Kami tidak tau apa yang ingin kau pesan jadi kami hanya memesan Coffee untukmu," timpal Syahrul kepada Valdo.
Olivia yang melihat itupun hanya terdiam sembari memegangi tray yang berisikan tiga Coffe milik Rian Syahrul dan Valdo. " Apa … bukankah itu Valdo, ternyata pria brengsek ini juga memiliki beberapa teman. Tidak salah juga dia sama seperti ku mempunyai tiga orang sahabat dan salah satu di antaranya menghilang." Batin Olivia sembari melihat ke arah mereka bertiga.
Valdo pun menoleh dan melihat ke arah Olivia berada dan dia tidak menyangka kalau Olivia sudah berhenti menjadi seorang wartawan. " Ternyata Olivia bekerja di tempat ini … benar juga dia sudah berhenti dari pekerjaannya karena kejadian waktu itu, apakah sekarang dia sudah baik baik saja." Batin Valdo yang sedikit terkejut melihat keberadaan Olivia disana.
" Valdo … apakah kalian saling mengenal?" tanya Syahrul heran karena sedari tadi dia hanya memperhatikan Valdo melihat ke arah pelayan Caffe yang membawakan Coffee mereka.
Valdo dan Olivia yang mendengar pertanyaan tersebut dengan serentak. Valdo berkata," Iya." dan Olivia berkata," Tidak."
" Yang mana dari perkataan kalian yang harus kamu percaya, satu orang mengatakan iya dan satunya mengatakan tidak," ujar Rian dengan disertai tawa kecil di bibir nya.
" Sebenarnya kami-" seketika Olivia memotong pembicaraan Valdo. Dan berkata," Ee … sebenarnya kami mungkin hanya selintas saling tau saja, hanya seperti itu saja. Baiklah saya permisi dan silahkan nikmati minuman anda," jawab Olivia sembari meletakkan Coffee di meja satu persatu dan kemudian pergi dari meja itu meninggalkan Rian Syahrul dan Valdo dan kembali ke tempatnya.
" Hmm … apakah wanita itu baik baik saja, seperti dia snahat tidak menyukai mu Valdo … apakah kau mempunyai masalah dengannya?" tanya Rian ke Valdo dan sedikit melirik Olivia.
__ADS_1
" Ee … kurasa begitu, tapi ya sudahlah abaikan saja lagipula itu tidak terlalu penting bagiku. Baiklah bagaimana kabar kalian kenapa kalian mengajak ku untuk bertemu," ujar Valdo yang memindahkan topik ke arah lain.
" Emm … sebenarnya beberapa tahun ini kami telah kembali ke Jerman, jadi kami kembali kemari hanya untuk bertemu dengan dirimu dan kami juga meminta cuti beberapa minggu disini," jawab Syahrul yang menjelaskan kedatangan mereka kemari.
" Apa, kenapa kalian tidak memberitahu ku kalau kalian sudah kembali ke Jerman, lalu bagaimana dengan anggota angkatan udara kalian apakah tidak apa apa kalian meninggalkan nya," tanya Valdo yang sedikit terkejut dengan perkataan Syahrul bahwa mereka sudah kembali ke Jerman dan bertanya tentang anggota Angkatan Udara mereka.
" Kami sudah lama meninggalkan angkatan udara, jadi itu tidak apa apa. Sekarang kami bekerja di suatu perusahaan jadi karena itu kami bisa berada disini," jelas Rian kepada Valdo.
" Ohh ternyata begitu," jawab Valdo singkat.
Mereka pun berbincang bincang sambil mengungkit tentang masa lalu mereka ketika mereka pertama kali bertemu sampai mengungkit tentang Andi. Olivia yang mendengar nama Andi dari pembicaraan mereka pun langsung menghayati dan mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka dari tempat ia berada.
Sedangkan Valdo yang mendengar nama Andi pun tampak murung. Rian berkata," Valdo … apakah kau masih memikirkan tentang menghilangnya Andi," tanya Rian kepada Valdo dengan nada nya yang lemah lembut.
" Sudahlah Valdo … berhentilah memikirkan dia, kau tau apa yang akan terjadi jika kau menyelidiki tentang dirinya bukan? pahamilah hal itu!" ujar Syahrul dengan sedikit memperingati Valdo untuk tidak menggali kembali tentang menghilangnya Andi.
" Ya aku tau," jawab Valdo singkat dengan raut wajahnya yang sedih dan cemas.
" Ternyata dia sangat mengkhawatirkan temannya, aku berpikir bahwa dia bersikap biasa biasa saja tentang temannya tetapi dia bisa menyembunyikan sikap nya yang khawatir dan sedih itu." Batin Olivia yang melihat raut wajah Valdo dari jarak yang tidak terlalu jauh itu.
" Hei Valdo, bukankah diantara kami bertiga kau adalah yang paling muda, berapa umurmu sekarang?" tanya Rian kepada Valdo sembari mencairkan suasana di saat itu.
" Aku tidak semuda yang kalian bayangkan, bahkan umurku saja sudah 23 tahun dan sekitar dua minggu lagi umurku akan bertambah menjadi 24 tahun, apakah itu yang kalian katakan muda," jelas Valdo yang merendahkan dirinya kalau sudah tidak muda lagi.
__ADS_1