
Valdo yang tiba-tiba saja datang melihat pemandangan Olivia yang sedang di dekati oleh seorang pria, ia lalu berjalan ke arah Olivia lalu menarik nya ke pelukannya sambil menatap dingin pria asing yang ingin mendekati Olivia itu.
"Apa yang kau lakukan pada Olivia, apakah kau sudah bosan hidup? kau pilih antara dua, ingin ku kuliti hidup-hidup atau ku jadikan pajangan untuk melengkapi koleksi ku," ujar Valdo dengan nada suara nya yang berat dan tatapan matanya yang dingin.
"Sudahlah Valdo, dia baru saja menghampiri ku jadi dia belum sempat berkata apa-apa. Lagipula kita harus berangkat sekarang, kalau begitu mari kita pergi jangan pedulikan pria itu," kata Olivia menenangkan Valdo dan kemudian mengajak nya pergi melihat jadwal penerbangan nya lagi.
"Hahaha' malang sekali nasib ku di ancam oleh seorang wanita, dan di ancam lagi oleh kekasih nya. Apalah salah ku ini, hari ini adalah hari ketidakberuntungan ku," ujar pria asing itu sembari melihat ke arah perginya Valdo dan Olivia.
****************
Beralih ke Olivia dan Valdo yang ingin melihat jadwal penerbangan sekali lagi, tetapi sebelum sempat melihat jadwal mereka mendengar pemberitahuan suara.
"Para penumpang yang memesan tiket menuju Swiss silahkan memasuki pesawat karena pesawat akan segera landas. Sekali lagi kami beritahukan kepada para penumpang yang memesan tiket menuju Swiss silahkan memasuki pesawat karena pesawat akan segera lepas landas."
Mendengar pemberitahuan itu Olivia dan Valdo langsung bergegas menuju tempat Check-in dan melewati tempat pemeriksaaan barang di karenakan mereka tidak membawa barang apapun.
Mereka lalu memasuki pesawat dan duduk di tempat duduk mereka, tidak berapa lama pesawat pun lepas landas tanpa ada kendala sedikitpun. Olivia dan Valdo terbang menuju Swiss, perjalanan mereka menuju ke Swiss sekitar satu hari satu malam.
****************
Satu hari setelah keberangkatan mereka akhirnya sampai ke Swiss, Valdo lalu mengeluarkan ponsel nya dan menelpon seseorang sedangkan Olivia yang sangat kagum melihat keindahan kota Swiss sangat tidak menyangka kalau dia bisa sampai ke Kota yang sangat indah itu.
"Wah Valdo, apakah kau tinggal di kota seperti ini. Wow itu sangat luar biasa." ujar Olivia yang kegirangan melihat suasana di bandara Kota Swiss.
"Olivia jangan pergi kemana-mana, tetaplah berada di dekat ku," ucap Valdo yang khawatir kepada Olivia yang akan menghilang dari pandangannya, karena sedari tadi dia berjalan kesana dan kemari.
"Baiklah-baiklah … sebenarnya siapa yang kau hubungi?"
"Aku menghubungi seseorang untuk menjemput kita di bandara, walaupun aku mengganti ponsel dan nomor telpon ku tetapi aku masih menyimpan nomor telpon nya. Jadi aku berharap dia mengangkat telpon dari ku."
"Lantas bagaimana jika seandainya dia tidak mengangkat telpon dari mu?"
__ADS_1
"Aku percaya kalau dia pasti akan mengangkat telpon dari ku."
Olivia tersenyum mendengar omongan Valdo dengan nada bicara nya yang sangat yakin bahwa orang yang di telpon nya itu pasti akan mengangkat telpon darinya. Sedangkan Valdo hanya berfokus pada seseorang yang ia telpon.
"Kau sangat percaya diri, apakah seperti ini rasa percaya mu kepada ayah dan kakak mu kalau mereka akan berubah dan mengakui kesalahan mereka. Pantas saja kau sangat kecewa." Olivia menatap lembut Valdo yang sedang fokus menelpon.
Tiba-tiba seseorang yang sedang Valdo hubungi mengangkat telpon nya, Valdo langsung menyalakan speaker ponsel nya. "Apakah sudah di angkat?" tanya Olivia berbisik pelan. Valdo tidak mengatakan apapun ia hanya menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan Olivia.
Orang yang di telpon itu langsung bicara tanpa ragu. 📞"Halo, dengan siapa dan dari mana anda mendapatkan nomor telpon saya?" tanya orang itu yang heran dari mana Valdo mendapatkan nomor telpon nya.
📞"Ini aku, Valdo."
Sontak orang yang berada di sambungan telpon itu terkejut dan langsung mengatakan. 📞"Tuan Muda! apakah benar anda adalah Tuan Muda Valdo, Tuan Muda kami."
📞"Hmm' Ya, sudah berapa lama aku tidak menghubungi mu Paman Kevin, hampir 10 tahun bukan?"
Olivia hanya bisa diam dan mendengarkan pembicaraan Valdo dan dengan orang yang berada di telpon itu yang Valdo panggil dengan sebutan Kevin itu dan memperhatikan wajah Valdo yang seperti ingin menangis melepaskan rindu.
📞"Ya aku baik-baik saja, huhh … sebaiknya kita langsung berbicara ke intinya saja. Jemput aku di bandara dan kita akan berbicara secara langsung, aku tau kalau mereka berdua sudah pergi bekerja."
📞"Tapi Tuan disini ada-" Sebelum Kevin menyelesaikan perkataan nya Valdo langsung mematikan sambungan telpon tersebut.
"Hei' kenapa kau mematikan sambungan telpon nya, dia baru saja ingin mengatakan sesuatu," ketua Olivia yang sedikit kesal dengan sikap Valdo kepada orang yang bernama Kevin itu.
"Itu tidak penting," jawab Valdo yang tidak peduli sama sekali akan hal tersebut.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu tidak penting, haihhh … aku sudah bingung melihat mu, kau selalu bertindak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran mu, bukan di dalam hatimu. Aku berharap kau bisa membedakan mana perkataan hati dan yang mana perkataan pikiran mu sendiri, huhh' kalau begitu aku akan menelpon kakak ku kalau aku sudah sampai di Swiss."
****************
Beralih ke Kevin disaat Valdo mematikan sambungan telpon nya. "Tuan muda …" lirih Kevin yang sedikit merasa tidak enak.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri Kevin. "Asisten Kevin ada apa, siapa yang baru saja menelpon mu?" tanya wanita itu kepada Kevin.
"Ohh maafkan saya Nyonya Vania, saya tidak melihat anda."
"Iya tidak apa-apa, aku bertanya siapa yang baru saja menelpon mu."
"Oh ini tu-" Kevin langsung menghentikan omongannya dan berkata di batin nya. "Tidak mungkin aku memberitahukan ini adalah telpon dari Tuan Muda Valdo."
"Tu' apa?"
"E'e ini adalah telpon dari tukang servis mobil," jawab Kevin yang gugup.
"Ha? tukang servis mobil, untuk apa dia menelpon?"
"A'aa dia mengatakan kalau dia tidak bisa menyervis mobil bulan ini."
"Oh ternyata begitu."
"Ya. Lalu Nyonya Vania apakah anda mencari saya?"
"Ya, sebentar lagi Tristan akan pulang dari sekolahnya, jadi jemput dia di sekolah."
"Ohh kalau begitu saya berangkat sekarang, saya permisi." Kevin meninggalkan Vania sendiri lalu berjalan keluar dan menaiki mobil kemudian pergi menuju bandara.
Tidak berapa lama kemudian Kevin sampai di bandara, ia lalu melihat kiri dan kanan mencari sosok Valdo di kerumunan orang ramai. Mata Kevin berfokus ke arah kanan melihat dengan teliti apakah di sana ada sosok Valdo.
Secara tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang, sontak Kevin terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang menepuk pundaknya itu.
...****************...
Seseorang yang dulu sangat di sayangi pergi dan menghilang tidak memberikan kabar apapun, tapi secara tiba-tiba pulang dan berada di hadapan mu. Bagaimana bisa air mata mu tidak akan menetes karena hal itu …
__ADS_1