
"Ada apa, apakah Olivia sudah pulang? dan kenapa wajah Chika keliatan sedih?" tanya Ivan melihat wajah Chika yang matanya berkaca kaca.
"Emm' Olivia sudah pulang, dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Chika dia sedih karena Olivia tidak menjawab perkataan nya," jawab Anggi dengan senyuman melihat Chika.
"Ohh jadi begitu." Ivan pun berjongkok di hadapan Chika. "Jadi apakah Chika ingin menjenguk Bibi ke kamarnya." Chika menganggukkan kepalanya.
Ivan lalu membawa Chika menuju kamar Olivia, setelah sampai Ivan mengetuk pintu kamar Olivia. "Tok … tok … tok …" Ivan mengetuk pintu kamar Olivia.
"Olivia, apakah kau ada di dalam," ujar Ivan sembari mengetuk pintu.
"Ya, ada apa kak," jawab Olivia yang berada di dalam kamar.
"Tadi Chika menyapamu tapi kau tidak menjawab sapaannya, apakah kau marah pada Chika, dan juga Anggi bertanya apakah kau sudah makan malam, jika belum sebaiknya kau makan dulu."
"Ohh maafkan aku, aku tidak mendengar Chika menyapaku. Maafkan Bibi ya Chika sayang."
Chika yang mendengar perkataan Olivia yang seperti itu pun tersenyum. "Ohh dan juga aku tidak akan makan malam bersama Kakak dan yang lainnya hari ini, karena aku sudah makan diluar."
"Jadi apakah kau sudah mendengar nya Chika sayang, Bibi mu tidak marah tapi Bibi mu sedikit lelah makanya dia tidak mendengar suara mu," ucap Ivan melihat anaknya lalu mengelus kepalanya dengan pelan.
"Lalu kenapa Bibi belum keluar dari kamarnya?"
"Emm' Bibi sangat lelah, jadi Bibi ingin tidur." Timpal Olivia menjawab pertanyaan Chika.
"Ohh' jadi begitu, kalau begitu selamat malam Bibi. Semoga mimpi indah." Chika tersenyum dengan gembira dan mengucapkan selamat malam untuk Bibi nya yang sangat ia sayangi.
"Iya terimakasih."
Ivan dan Chika turun dari kamar Olivia dan mengatakan kepada Anggi kalau Olivia sudah makan malam diluar. Setelah mengatakan itu Anggi Ivan dan Chika makan malam bersama dengan, sedangkan Olivia yang berada di dalam kamarnya masih memikirkan perkataan Valdo dan membayangkan ketika dia pergi bersama Valdo ke Swiss.
"Haah' … sudahlah," ucap Olivia yang menutupi wajahnya dengan bantal.
"***Aku tidak membayangkan ketika aku pergi berdua bersamanya ke Swiss, membayangkan nya saja sudah membuat jantung ku berdebar begitu cepat. Apalagi jika itu secara langsung, aku tidak tau apa yang harus ku lakukan pada jantung ku ini; aku rasa dia akan lepas, tapi … akankah Valdo merasakan hal yang sama."
__ADS_1
"Aku menyukai nya … tapi apakah dia menyukaiku juga? atau rasa suka ini hanya aku saja yang merasakannya sendiri, ohh sudahlah … aku tidak akan terlalu memikirkan nya***."
****************
Beralih ke Valdo yang sedang duduk di sofa dan melihat ada tas belanja yang berada di atas meja. "Apakah Olivia meninggalkan ini, atau ini milikku?" ujar Valdo yang mengambil tas belanja itu dan melihat apa isi didalamnya.
Ketika Valdo melihat apa isi dari tas belanja itu, ia lalu tersenyum. "Heh bukankah aku sudah mengatakannya untuk tidak usah lagi mengembalikan mantel ini kepadaku, tetapi kau masih mengembalikan mantel ini kepadaku. Hanya karena ingin mengembalikan sebuah mantel kau melihat keadaan yang sangat buruk di dalam diriku."
"Hmm' tapi … aku senang kalau kaulah orangnya."
****************
Keesokan harinya, Olivia yang sudah bersiap siap untuk pergi ke Swiss turun dari kamarnya dan mengatakan kepada kakaknya kalau ia akan pergi ke Swiss bersama Valdo.
"Kakak aku akan pergi ke Swiss bersama Valdo selama dua minggu ke depan, dan aku juga sudah menghubungi pemilik Cafe tempat aku bekerja kalau aku mengambil cuti selama dua minggu ke depan." jelas Olivia yang sudah berpakaian yang rapi dengan gaya elegan nya.
"Apa! pergi ke Swiss, untuk apa?" sontak Ivan terkejut dengan omongan yang baru saja Olivia katakan.
"Olivia, Swiss itu tidak dekat Itu sangat jauh." Sambung Anggi.
"Valdo? aku tak pernah mendengar tentang keluarganya, aku hanya mengetahui kalau dia hanya tinggal seorang diri ketika dia Sekolah Menengah Akhir."
"Ya, dia mengatakan kalau dia tidak pernah memberitahu kan tentang keluarganya pada siapapun."
"Dia membawamu pergi ke Swiss dan ingin membawamu ke makam ibunya, dan memperkenalkan mu dengan ayah dan kakaknya. Berarti dia ingin memperkenalkan mu kepada keluarganya." tukas Anggi yang menelaah tentang perkataan Olivia tadi.
"Ya mungkin saja."
"Bukankah itu sama saja seperti dia ingin menikahimu," ujar Anggi yang sontak ketika mendengar hal itu Ivan dan Olivia terkejut.
"Haa!" teriak Olivia dan juga Ivan.
"Ada apa Bibi? bukankah itu bagus Bibi akan menikah dengan paman tampan itu," ucap Chika yang mengerti arah pembicaraan antara Olivia Anggi dan Ivan.
__ADS_1
"Tidak bukan seperti itu, itu tidak mungkin."
"Ehh' bagaimana bisa itu tidak mungkin. Mungkin saja Valdo juga menyukai mu tetapi kau tidak mengetahuinya."
"A' haihhhh …" Gugup Olivia.
"Hahh … sudahlah sebaiknya jangan di bahas, jika kau ingin pergi Kakak akan mengizinkan mu untuk pergi. Tapi pastikan kau mengirimi aku pesan setiap hari," ujar Ivan yang memberikan izin dan pesannya untuk Olivia pergi.
"Ya baiklah Kak."
Ivan Anggi dan Chika mengantarkan Olivia sampai di depan pintu rumah, ketika Olivia membuka pintu ada Valdo dan juga Jefri yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah.
"Ehh' ada apa ini? tumben sekali kalian semua berada di depan pintu," kata Jefri yang sedikit aneh melihat Olivia Anggi Ivan dan Chika berada di depan pintu.
Chika lalu berlari ke arah Valdo sambil menarik pelan celana Valdo. "Paman, Paman." Panggil Chika.
Valdo melihat Chika yang memanggilnya pun berjongkok lalu mengusap lembut kepala Chika. "Ada apa? apakah Chika ingin mengatakan sesuatu?" tanya Valdo sembari mengusap kepala Chika.
"Hmm' Ibu mengatakan kalau Paman akan menikah dengan Bibi," kata Chika dengan senyuman gembira nya yang khas.
Olivia dan Valdo yang mendengar omongan Chika seperti itu langsung tersipu malu. "Ha' he' tidak, itu tidak seperti itu Chika sayang." Gugup Olivia.
"Ehh … apakah itu benar, berarti apa yang aku katakan waktu itu adalah kebenaran," sambung Jefri dengan senyuman mengejek nya mengingat perkataan nya waktu lalu.
"Tidak itu salah, itu tidak mungkin."
Anggi lalu tersenyum melihat Olivia yang tersipu malu dengan wajah nya yang memerah karena perkataan Chika tadi. "Hhha, tapi bukankah itu sangat bagus, benarkan Ivan?" kata Anggi yang melihat ke arah Ivan.
"Hmm' selama itu bisa membuat adikku bahagia, maka aku akan membiarkan nya mengambil adikku."
"Nah kan, Ivan saja sudah setuju. Kenapa kalian tidak mengatakan Iya saja."
...****************...
__ADS_1
...Cinta berawal dari kejadian atau peristiwa yang membawa kita bertemu dengan takdir atau seseorang yang sudah di tentukan oleh kita. Dan bisa jadi itu benar jodoh kita tapi juga bisa tidak....