
Sharla Herrera
Seorang dokter di Rumah Sakit Antira Permai. Sharla tinggal sebatang kara karena orangtuanya meninggal saat Sharla berusia 23 tahun. Sharla merupakan dokter sukses dari Kota Amladhi.
Usia Sharla saat ini adalah 26 tahun. Ia tinggal disebuah apartemen sederhana di sekitar rumah sakit tempat ia bekerja.
Sharla adalah wanita yang memiliki banyak teman tapi, ia tidak memiliki satupun seorang sahabat.
Bagi Sharla, seseorang yang dapat dikatakan sebagai sahabat adalah ketika mereka saling membantu satu sama lain walaupun terbentang jarak diantara mereka.
Sharla memiliki rambut panjang yang lurus, rambutnya berwarna hitam, tubuhnya yang sedikit mungil mendapat kesan bahwa ia adalah gadis yang lucu dan menggemaskan. Lekuk wajahnya nampak friendly
Ilustrasi Sharla (menurut author) :
by : @baifernbah (instagram)
Adnan Hartigan Lapondi.
Seorang yang begitu sukses di Kota Amladhi. Seluruh perusahaan di kota tersebut diambil alih oleh Adnan. Adnan tinggal dengan beberapa pelayang di rumahnya. Pelayan di rumahnya pun memiliki gerak-gerik yang sangat aneh.
Nama asli Adnan adalah Adnan Ian Hartiga. Lalu, ia mengganti nama keluarganya Ian menjadi Lapondi.
Karena kesalahan yang dia lakukan, membuatnya di usir bahkan tidak dianggap sebagai keluarga besar dan keturunan ian.
Hal itu juga yang menyebabkan Adnan tidak tinggal dengan orangtuanya.
Pria yang berusia 27 tahun ini memiliki sifat yang sangat dingin dan arrogant. Ia sangat tampan dengan rambutnya yang seperti artis korea dan kulitnya yang putih bersih. Adnan jarang tersenyum bahkan tidak pernah menunjukan senyumannya.
Ilustrasi Adnan (menurut author) :
by : @ryu_vachirawich (instagram)
_________________________________________
[Rumah sakit Antira Permai.]
Sharla datang menuju tempat informasi untuk menanyakan janjinya dengan pasien.
"Apa ada janji sekarang?" tanya Sharla pada petugas informasi tersebut.
"Tidak. Dokter Sharla, sepertinya anda tidak perlu datang besok," ucap Riyu petugas yang menjaga dibagian informasi.
"Kenapa?" tanya Sharla.
"Tidak ada pasien yang akan bertemu dengan anda besok." Riyu tidak memandang Sharla saat bicara. Ia terpaku dengan komputernya saat ini.
"Baiklah," ucap Sharla.
Sharla lalu meninggalkan ruang informasi tersebut dan kembali ke ruangannya.
Sharla sampai diruangannya, ia duduk dan membuka laptopnya.
__ADS_1
Kenapa tidak ada pasien untuk besok, benak Sharla.
Sharla merasa heran, mengapa pasiennya tidak ada yang datang untuk hari esok.
Sharla menghidupkan laptop miliknya. Ia membuka internet untuk melihat berita hari ini.
Sharla menemukan artikel seorang pria yang sangat sukses dan kaya. Nampaknya Sharla tertarik untuk membaca artikel tersebut.
"Seorang pria kaya yang berasal dari kota Amladhi," guman Sharla yang membaca artikel itu.
Sharla mengernyitkan dahinya dan terus terfokus dengan artikel yang ia baca.
"Adnan Hartigan Lapondi," ucap Sharla dengan intonasi suara yang tinggi.
Tiba-tiba, seorang petugas informasi suruhan Riyu datang.
Tok ... tok ... tok...
(Suara pintu kaca ruangan Sharla)
"Masuklah," kata Sharla.
"Ada apa?" tanya Sharla.
"Besok tidak ada satupun pasien yang datang, Dok. Apa Dokter Sharla akan tetap datang kemari?" tanya petugas informasi tersebut.
"Tentu, ini adalah tugas saya sebagai seorang Dokter," ucap Sharla.
"Baiklah, Dok. Saya akan kembali ke ruangan saya, apa ada yang bisa saya bantu, Dok?" Petugas informasi tersebut menawari jasanya pada Sharla.
Petugas itu mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan Sharla.
Sharla pun keluar dari ruangannya dan menuju parkir mobil.
Sharla mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia pergi menuju apartemen miliknya.
Sharla sampai di parkir apartemennya. Ia akan menuju lantai 2 apartemen tersebut untuk membeli bahan makanan.
Sharla merasa cukup dengan bahan belanjaannya, ia lalu berjalan menuju lift dan naik ke lantai 5.
Sharla lalu membuka pintu kamar apartemennya. Ia menaruh belanjaannya di atas meja dapur, lalu ia berjalan menuju kamar tidurnya. Ia menaruh semua barang yang dia bawa dari rumah sakit dan mengganti pakaiannya.
Pakaian rumahannya pun sangat sederhana. Sharla selalu menggunakan celana pendek dan baju kaos yang longgar dan sedikit besar.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, ia lalu keluar dari kamar dan menuju dapurnya untuk menata barang belanjaannya.
"Adnan Hartigan Lapondi," gumam Sharla.
Sharla terkesiap mengingat kata-katanya.
Ia tiba-tiba bergumam dan menyebut nama pengusaha terkaya di kotanya itu.
"Mengapa aku menyebut namanya. Bodoh sekali aku. Dia adalah pria yang sombong dan sangat dingin. Misterius," ucap Sharla
Sharla lalu menaruh sayuran yang ia beli tadi ke dalam lemari pendingin. Sharla akhirnya selesai membereskan barang belanjaannya, ia lalu kembali menuju kamarnya.
__ADS_1
Sharla memainkan ponselnya hingga ia tertidur pulas siang itu.
***
[Gedung Pusat Dhijabu Group]
Adnan tengah menandatangani surat perjanjian dengan Perusahaan Florist dari negara sebelah.
"Hanya ini saja?" Adnan bertanya pada sekretarisnya bernama Ima.
"Iya tuan," ucap ima yang sedikit takut.
Adnan lalu menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani pada Ima. Ima lalu meninggalkan ruangan Adnan.
Adnan beranjak dari duduknya dan hendak pulang. Tiba-tiba, Adnan merasa sakit dibagian kepalanya.
Kenapa kepalaku sangat sakit, sial aku tidak membawa Frans kemari, benak Adnan.
Frans adalah sopir pribadi Adnan. Frans tinggal di rumah Adnan.
Adnan lalu meninggalkan barang-barangnya di dalam ruangannya. Ia berjalan setengah berlari menuju lift.
Adnan lalu menekan tombol satu saat sampai di lift.
Adnan bersandar di pojok lift tersebut sambil memegang kepalanya yang sakit.
Akhirnya, lift yang digunakan Adnan sampai di lantai dasar gedung tersebut. Adnan dengan sigap keluar dari gedung tersebut.
Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun dengan dirinya. Ia berjalan melewati karyawannya. Semua bawahannya memberi hormat dengan menunduk dan sedikit membukuk.
Adnan tidak tersenyum atau membalas yang dilakukan oleh bawahannya itu. Bagi Adnan, semua itu penting dan harus dilakukan oleh bawahannya.
Adnan tidak menyuruh satpam untuk mengambil mobilnya dan membawanya ke depan pintu masuk. Adnan langsung menuju tempat mobilnya di parkirkan.
Satpam yang menjaga saat itu sangat heran dengan tingkah Adnan yang seperti terburu-buru.
Adnan lalu melajukan mobilnya dan keluar dari gedung pusat saat itu.
Adnan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, memecah kekosongan jalan di kota Amladhi.
Adnan yang merasa dibebani dengan sakit di kepalanya itu membuatnya kehilangan konsentrasi saat mengendarai mobilnya.
Adnan terus menambah kecepatan mobilnya dan tanpa Adnan sadari, ia menabrak sebuah mobil yang ada dihadapannya.
Suara hantaman dari mobil Adnan begitu keras terdengar. Mobil yang adnan tabrak terdorong hingga 500 meter dan menabrak tembok. Sedangkan mobil Adnan terbalik hingga mengeluarkan asap yang jumlahnya cukup banyak.
Mobil yang di tabrak Adnan membawa keluarga yang terdiri dari seorang balita berusia 3 tahun, batita berusia 13 bulan, seorang wanita dan pria sebagai pembawa mobil atau sopirnya.
Adnan mengalami luka parah. Kepalanya terbentur dengan begitu kerasnya. Darah Adnan mengalir dari mobil miliknya yang saat itu posisinya terbalik.
Selain luka parah, Adnan juga mengalami patah tulang kaki yang serius.
Sedangkan kondisi keluarga yang ditabrak Adnan pun cukup memperihatinkan. Batita tersebut tidak dapat selamat karena berada dipangkuan ibunya yang menyebabkannya terjepit antara badan ibunya dan dashboard mobil.
Ibunya mengalami benturan dibagian keningnya dan mata ibunya tersayat kaca mobil yang pecah. Pria yang mengendarai mobil itu syok hingga pingsan. Pria itu hanya mengalami luka ringan. Balita yang bersama mereka mengalami patah tulang kaki akibat terjepit antara bangkunya dan bangku Ayahnya
__ADS_1