Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Pertemuan


__ADS_3

Dia sangat menghormati orang yang bisa menghargai orang lain


____________________________________________


"Tuan Lapondi, maafkan saya." Sharla membungkuk memberi hormat pada Adnan.


"Kemarilah ... duduk di sini," ucap Adnan sambil menepuk tempat tidurnya. Adnan sedikit bergeser.


Sharla lalu berjalan mendekati Adnan. Keringatnya mulai bercucuran, jantungnya berdegup kencang. Sharla hanya berdiri di samping tempat tidur Adnan.


"Kenapa kau berdiri? Aku bilang duduk!" Adnan mempertegas suaranya.


"I-iya ... Tuan," jawab Sharla terbata-bata.


Sharla lalu duduk di pinggir tempat tidur milik Adnan.


Punggung telapak tangan Adnan mulai menyentuh leher Sharla dengan lembut.


Sharla hanya bergeming. Suasana saat itu sangat canggung.


Adnan lalu memulai pembicaraan untuk menghilangkan rasa canggung.


"Siapa kau?" Adnan bertanya sambil mengelus rambut Sharla dengan lembut.


"Sa-saya seorang Dokter di rumah sakit ini, Tuan." Sharla menjawabnya dengan nada yang terbata-bata.


Mendengar jawaban Sharla, sontak membuat Adnan ingin tertawa. Lantas, Adnan menatap lekat Sharla.


"Kau yakin?" Adnan meremehkan Sharla.


"Dokter mana yang menggunakan celana pendek dan baju yang longgar seperti ini masuk ke dalam rumah sakit?" Adnan memegang baju yang digunakan Sharla saat ini.


"Saya kemari dengan menggunakan pakaian ini karna anda, Tuan. Anda sudah menganggu tidur siang saya," ucap Sharla sambil beranjak dari duduknya.


Adnan lalu menarik lengan Sharla, hingga Sharla terjatuh di atas tubuh Adnan yang kekar itu.


"Bisakah kau sopan denganku?" Adnan berbisik di telinga Sharla.


Sharla mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Adnan. Tetapi yang ia lakukan hanya sia-sia, Adnan lebih kuat dari pada dirinya.


"Lepaskan aku, Tuan." Sharla nampak memelas saat itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk ke kamar ini?" Adnan kembali berbisik di telinga Sharla.


"Apa kau ingin menggodaku?" tambahnya.


Lantas, Adnan melepas genggamannya. Sharla pun berusaha berdiri. Ia merapikan rambutnya.


Tok ... tok ... tok


(Suara ketukan pintu ruang inap Adnan)


Seorang perawat datang membawa sarapan dan beberapa obat untuk Adnan.


"Permisi Tuan Lapondi ... saya kemari membawakan sarapan dan beberapa obat untuk anda," kata perawat itu.


Perawat itu menaruh bawaannya di meja dekat tempat tidur Adnan. Perawat itu melihat ke arah Sharla dan mendekatinya.


"Dokter Sharla, Tuan Amera ingin berjumpa dengan anda," kata perawat itu.


Adnan terkesiap mendengar perkataan perawat itu. Tapi, Adnan menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu dengan wajah datar.


"Aku akan segera menemuinya," ucap Sharla.


"Tapi, apa anda yakin? Dengan penampilan anda yang seperti ini?" perawat itu sedikit meragukan penampilan Sharla.

__ADS_1


"Iya ... tentu. Kau jaga dia, aku akan segera kembali." Sharla berjalan meninggalkan Adnan tanpa pamit dengannya.


Sharla sudah keluar dari ruang VIP itu. Sekarang yang tersisa hanyalah perawat dan Adnan saja.


Perawat itu memberikan sarapan untuk Adnan dan membantunya untuk meminum obat.


"Ini, Tuan." Perawat itu memberikan obat-obatan untuk Adnan.


"Untuk apa?" Adnan bertanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Obat ini berguna untuk meredakan rasa nyeri, Tuan," kata perawat itu sambil membereskan piring sarapan Adnan.


"Nyeri? Dimana?" Adnan bergumam.


"Tuan tidak merasakan nyeri di bagian sini?" perawat itu menunjuk ke arah kaki Adnan yang patah.


"Tidak, bahkan aku bisa menggerakannya." Adnan menggerakan kakinya ke kiri dan ke kanan.


"Jangan lakukan itu, Tuan!" perintah perawat itu.


"Itu akan membahayakan persendian anda," tambahnya.


"Aku sungguh tidak merasakan sakit apapun. Terserah apa katamu," ucap Adnan dengan nada geram.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Cepat sekali," gumam perawat itu.


"Orang patah tulang membutuhkan waktu berapa lama untuk sembuh?" tanya Adnan yang penasaran.


"Berbulan-bulan, Tuan."


Adnan menatap lekat perawat itu sambil memicingkan matanya. Tatapan Adnan penuh dengan kecurigaan.


Atau ini karena bantuan Alicia, benak Adnan.


Terimakasi, benak Adnan.


Gadis itu hanya membalas dengan senyuman ke arah Adnan


"Tuan ... apa tuan baik-baik saja?" perawat itu bertanya sekaligus mengguncang tubuh Adnan. Perawat itu heran dengan Adnan yang tersenyum sambil melihat pojok ruangan.


"Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" Adnan bertanya pada perawat itu.


"Tuan tersenyum sambil menatap pojok ruangan," kata perawat itu.


Itu sangat manis. Tuan sangat tampan bila tersenyum seperti itu. Teruslah tersenyum, Tuan, benak perawat itu.


Adnan merasa malu karena kepergok tersenyum bahagia oleh orang yang tidak ia kenal. Ia pun mencari cara untuk mengalihkan topik.


"Bisa kau ceritakan siapa gadis yang kau panggil Dokter itu tadi?" kata Adnan.


"Dia adalah Dokter ternama di kota ini, Tuan. Apa Tuan tidak mengetahuinya?" jawab perawat itu.


Adnan hanya menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan alisnya.


"Namanya adalah Sharla. Dia orang yang sangat sopan dan sangat santun. Dia sangat menghormati orang yang bisa menghargai orang lain," ucap perawat itu sebari membereskan meja di sebelah tempat tidur Adnan.


"Dimana dia tinggal?" Adnan mulai penasaran.


"Kami tidak tahu, Tuan. Dokter Sharla sangat menjaga privasi tentang dirinya," kata perawat itu.


"Dokter Sharla juga bertekad untuk menyembuhkan anda. Dia berada di ruangan ini juga bukan tanpa alasan, Tuan," tambahnya.


Adnan semakin ingin mengusik tentang Sharla lebih dalam. Ia semakin penasaran dengan gadis yang bernama Sharla itu.


"Apa dia sudah memiliki pasangan?" Adnan bertanya pada perawat itu.

__ADS_1


"Antara iya dan tidak, Tuan."


"Maksudmu?" Adnan heran dengan jawaban perawat itu.


"Kata para petugas di sini, dia dekat dengan Dokter Chan. Tetapi, Dokter Chan sudah memiliki kekasih," kata perawat itu.


Apa Tuan menyukai Dokter Sharla, benak perawat itu.


"Baiklah, kau boleh pergi." Adnan mengusir perawat itu secara halus.


Perawat itu lalu membungkuk tanda memberi hormat pada Adnan. Ia lalu meninggalkan ruang inap Adnan..


Sharla ... cih, nama yang aneh, benak Adnan.


***


2 minggu sudah berlalu. Adnan masih di rawat di ruang VIP rumah sakit tersebut. Para Dokter tidak mengizinkan Adnan pulang karena mereka tidak yakin dengan kaki Adnan yang seketika sembuh.


Selama 2 minggu pula, Sharla tidak pernah datang bahkan mengunjungi kamar Adnan. Adnan juga tidak mempermasalahkan atas ketidak datangan Sharla ke ruangannya.


Chan hari ini bertugas di ruang VIP tersebut. Ia berjalan dengan santai datang sambil membawa peralatannya.


Tok ... tok ... tok


(Suara ketukan pintu ruanga inap Adnan)


Adnan hanya menoleh ke arah pintu. Dokter Chan pun masuk. Ini kali pertama Dokter Chan bertemu dengan Adnan.


"Selamat pagi, Tuan Adnan. Saya Chan Hannata. Panggil saja saya Dokter Chan." Chan memperkenalkan dirinya.


"Saya bertugas menggantikan Dokter Sharla," tambahnya.


Adnan yang semula tidak peduli dengan perkataan Chan, tiba-tiba ia terfokus saat mendengar kata 'Dokter Sharla'.


"Dimana dia?" Adnan mulai penasaran.


"Dia tidak bekerja hari ini," jawab Chan sebari mengeluarkan alat pemeriksaannya.


Kenapa setiap giliran wanita itu, selalu saja di gantikan oleh orang lain, benak Adnan.


"Apa kau mengetahui dimana wanita itu tinggal?" Adnan bertanya pada Chan.


"Tidak." Chan tidak memandang Adnan saat bicara. Chan tetap melakukan tugasnya. Seperti mengukur tensi.


"Bukankah kau kekasihnya?" Adnan mulai memancing Chan.


Chan langsung berhenti melakukan tugasnya. Ia tertegun mendengar ucapan Adnan tadi.


"Jaga bicaramu, Tuan!" Chan sepertinya sudah terpancing.


"Baiklah. Jika kau tidak mengakuinya ... maka aku yang akan mengakuinya," ucap Adnan lekat.


Chan dapat mengendalikan emosinya saat ini. Ia tidak ingin reputasinya hancur karena berurusan dengan pria sombong di hadapannya sekarang.


"2 hari lagi, anda bisa pulang, Tuan." Chan tetap tidak menatap Adnan saat bicara.


"Aku ingin pulang sekarang!"


"Ini sesuai dengan perintah rumah sakit, mohon anda memakluminya," kata Chan.


"Aku akan membayarmu. Berapa yang kau inginkan?" Adnan mulai bermain uang dengan Chan.


"Sebanyak apapun anda memberikan harta anda kepada saya, saya tidak akan menerimanya. Saya permisi." Chan meninggalkan Adnan dengan amarah yang membara.


 

__ADS_1


__ADS_2