Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Janin bayi.


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 6 sore, saatnya Sharla untuk membersihkan tubuhnya.


Sharla berjalanan menuju kamar mandinya. Menghidupkan shower dan membiarkan air jatuh mengenai tubuhnya.


Tug ... tug ... tug ...


Tiba-tiba, Sharla mendengar langkah kaki di atas plafonnya. Sharla tidak terlalu memperdulikannya. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya.


Akhirnya, Sharla selesai dan langsung bergegas ke kamar tidurnya.


Saat memegang gagang pintu, Sharla sempat menoleh ke atas meja, tempat ia menaruh kiriman paket misterius itu.


Betapa terkejutnya Sharla, saat paket misterius ada di atas meja itu. Sharla langsung masuk ke dalam kamarnya, menggunakan pakaian sehari-harinya dan berjalan menuju tempat paket itu.


Sharla membuka paket itu dengan perlahan.


Krekkk...


(Suara plaster dari paket itu)


Sharla membuka boks itu dan menemukan janin bayi yang sudah tak bernyawa lagi. Janin itu masih sangat merah. Sharla mencium aroma tak sedap yang keluar dari janin itu.



Ilustrasi. pict by instagram.


Sharla juga menemukan amplop berisi darah. Ia membuka dan membacanya.


Halo Sharla Harrera, paket ini aku datangkan khusus untuk dirimu.


Aku tidak tahu, apa yang menyebabkan diriku mulai tertarik denganmu. Aku hanya ingin, janin ini ada di rahimmu! Jangan kau anggap sepele hal-hal yang berada di sekitarmu.


Salam manis dariku,


Orang yang akan menemani sisa hidupmu.


Sharla tersentak dan langsung cepat-cepat membungkus boks itu dan membawanya pergi. Ia membawa boks itu ke tempat pembuangan, di dekat parkir mobilnya.


Sharla lalu berjalan kembali menuju apartemennya.


Sharla sampai di pintu apartemen. Ia merasakan seseorang mengikutinya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada seorangpun yang lewat.


Sharla masuk dan langsung mencuci tangannya.


Prakkk...


Suara vas bunga di dekat jendela terjatuh. Sharla menoleh ke arah sumber suara. Ia pun mendekati vas itu. Membersihkan puing-puing vas. Tidak sengaja, tangan Sharla tersayat pecahan vas itu.


Darah bercucuran jatuh dari telapak tangan Sharla. Ia langsung berlari ke arah dapur. Mencoba membersihkan area lukanya.


Saat Sharka tengah membersihkan lukanya, sesosok bayangan hitam lewat di belakangnya. Sharla menoleh, tapi tidak ada seorangpun yang ia lihat.


Sharla berjalan menuju kotak P3K. Saat membuka kotak itu, satupun obat-obatan tidak ada disana. Lenyap begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa bisa habis? Perasaan, tadi masih banyak," ujarnya.


Sharla terpaksa turun ke lantai 2 apartemennya. Disana adalah pusat perbelanjaan untuk kebutuhan pemilik apartemen. Ia masuk ke sebuah mini market dan membeli obat luka.


Sharla menggunakan obat luka itu langsung di tokonya. Lalu ia kembali ke apartemennya.



***


[Rumah Sakit Antira Permai, 8:30 AM]


Sharla sudah sampai di rumah sakit, tempat ia bekerja. Ia langsung masuk ke dalam ruangannya.


Ia tersentak karena melihat Chan berada di ruangannya saat itu.


"Ini ruanganku atau ruanganmu?" tanya Chan saat melihat Sharla. Sharla hanya tersenyum.


"Teh hangat untukmu, ambilah!" ujar Chan.


"Terimakasih, Chan."


Sharla mengambil teh yang diberikan oleh Chan. Chan melihat telapak tangan Sharla yang menggunakan sedikit perban.


"Apa kau baik-baik saja?" Dokter Chan bertanya sambil memandang tangan Sharla lekat. Sharla hanya mengangguk.


Chan berdiri dan langsung memeluk Sharla. Ia memeluk tubuh Sharla sangat erat. Sharla tidak membalas pelukan Chan. Sharla hanya menyandarkan kepalanya di dada Chan.


"Ekhm..." suara dari arah pintu. Chan dan Sharla langsung menoleh ke arah suara. Betapa terkesiapnya mereka, saat melihat Adnan berada di depan pintu.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Adnan bertanya dengan tatapan sinis. Chan melepaskan pelukannya. Sharla membenahi rambutnya.


"Apa urusannya denganmu?" Chan membantah.


Sharla memegang pundak Chan. Chan menoleh. Mata Sharla mengarah ke pintu yang berarti menyuruh Chan untuk keluar. Chan pun menurut dan mengikuti keinginan Sharla.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Sharla bertanya sebari berjalan menuju tempat duduknya. Adnan hanya bergeming.


Canggung dan hening tercipta di ruangan Sharla.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Sharla sekali lagi. Adnan tetap bergeming, memandangi manik-manik mata Sharla.


"Aku ingin menjadikan kau sebagai dokter pribadiku," ujar Adnan.


"Baik ... saya menerimanya dengan senang hati," jawab Sharla.


Adnan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Sharla.


***


Jam makan siang pun tiba. Chan mengajak Sharla untuk makan bersama di luar saat itu. Sharla menyetujuinya dan langsung berangkat.


Mereka makan di pinggir jalan. Menyantap nasi yang berisi lauk ikan, tahu dan tempe. Ditambah sambal yang sangat pedas, hingga meledak di lidah.

__ADS_1


Mereka pun selesai makan dan sengaja mampir ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli cemilan.


Sesampainya mereka di pusat perbelanjaan tersebut. Sharla meminta untuk mendatangi sebuah toko kue. Kue adalah salah satu makanan kesukaan Sharla.


Chan menggandeng tangan Sharla saat masuk ke dalam toko kue itu. Sharla tidak menolak.


Mereka memesan 2 potong kue dan 2 gelas kopi. Sharla membungkus 3 kue blackforest untuk dia makan di rumah.


Mereka berjalan menuju pojok ruangan, sambil membawa pesanan mereka.


Sharla memakan kue itu dengan perasaan sangat bahagia. Hatinya sangat senang saat mulut dan kue itu saling bertemu.


Mata Sharla menyapu ruangan saat itu. Sharla tertegun saat melihat Adnan yang berada tidak jauh darinya.


Adnan ... kenapa selalu berada di sekitarku, benak Sharla.


Sharla melihat Adnan bersama seorang gadis yang umurnya sama dengan dirinya.


Manusia itu ternyata memiliki seorang kekasih, benak Sharla sambil menatap Adnan lekat.


Ia terus mengunyah kue sambi menatap Adnan. Chan yang berada di hadapannya langsung menggibaskan telapak tangannya di depan Sharla.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chan.


"Ti-tidak ada," ucap Sharla terbata-bata. Chan mengerutkan alisnya.


Ia menoleh ke arah tatapan Sharal. Chan melihat Adnan dan seorang gadis bersamanya. Chan merasa tidak terima karena Sharla sedari tadi menatap Adnan.


Chan lalu menarik Sharla dan membawanya keluar dari toko itu. Saat berjalan keluar, Chan menggenggam erat tangan Sharla. Ia melewati meja Adnan. Adnan hanya menatap Sharla lekat.


***


[Rumah Sakit Antira Permai.]


Sharla kembali ke ruangannya membawa 3 buah kue yang baru dia beli tadi. Sharla mendapatkan panggilan dari Adnan.


"Nomor siapa ini?" gumam Sharla sambil menatap layar ponselnya. Ia pun mengangkat panggilan itu.


"Selamat sore, dengan Dokter Sharla disi--" ucapan Sharla terpotong.


"Aku tahu! Simpan nomor ponselku sekarang!" Adnan berteriak


"Ini siapa?" tanya Sharla.


"Adnan Hartigan Lapondi." Adnan menggerutu. Sharla tertegun.


Adnan langsung memutus sambungannya. Sharla lalu menyimpan nomor ponsel Adnan dengan nama 'Human'.


"Aku tidak peduli. Yang terpenting, aku sudah menjalankan tugasku," ucap Sharla sebari menatap layar ponselnya.


"Darimana dia mendapat nomor ponselku?" Sharla bergumam.


__ADS_1


__ADS_2