
Alicia Debano, mantan kekasih Adnan Hartigan Lapondi yang tewas dan jasadnya masih misterius hingga saat ini. Adnan menjalin hubungan dengan Alicia selama 15 tahun.
Adnan segera menyelesaikan aktivitasnya. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian.
Adnan mengambil korek dan 3 buah dupa di dalam tasnya. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil nampan berisikan cemilan dan buah-buahan.
Ia kembali ke kamarnya dan menyalakan dupa itu. Ia duduk bersila menghadap barat daya. Mulut Adnan berkumat-kamit, membaca sebuah mantra. Matanya terpejam.
Buah yang semula berada di atas nampan, tiba-tiba jatuh tergelincir kebawah. Adnan mendengar buah yang jatuh itu, tetapi ia tetap melanjutkan mantra-mantra yang dia ucapkan.
Hingga Akhirnya, sebuah vas bunga besare terjatuh dan hampir mengenai Adnan. Disitu Adnan terkesiap dan langsung merasakan keberadaan Alicia.
"Aku tidak bermaksud membunuhmu!" gumam Adnan.
Tapi kau membunuhku!
Teriakan Alicia yang membuat Adnan sukar berkonsentrasi.
"Aku sudah memberikanmu 2 nyawa sekaligus, apa itu masih kurang?" Adnan masih bergumam.
Hahahaha .... hanya 2 saja yang kau berikan padaku? Hanya segitu saja rasa cintamu padaku?
"Tidak!" Adnan berteriak. Ia langsung membuka matanya dan melihat sekitar. Ia sama sekali tidak bisa melihat keberadaan Alicia.
"ALICIAAA ..." teriak Adnan.
***
[Perumahan Kandigar, 8:00 AM]
Relia sudah bersiap-siap. Sama halnya dengan Sharla, ia pun bersiap-siap untuk pergi ke Rapat Ikatan Dokter.
Tiba-tiba pikiran Sharla mengarah ke Adnan. Sharla menggelengkan kepalanya.
"Apa yang aku pikirkan? Mungkin dia kemari karena ada urusan bisnis. Lagi pula, Arga teman dekatnya sekaligus rekan bisnisnya." Sharla berusaha meyakinkan dirinya.
Ponsel Sharla berdering. Sharla segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan tanpa melihat tulisan si penelpon.
"Semangat, ya! Rapat memang sedikit membosankan. Jika kau suntuk nanti, ingat saja wajahku. Jangan lupa sarapan!" ucap orang itu dalam ponsel Sharla.
Orang itu langsung memutus sambungan. Sharla mengernyitkan dahi dan langsung menoleh ke arah ponsel. Sharla tersenyum saat mengetahui orang yang menghubunginya.
"Chan, bisa-bisanya kau menghubungiku di saat seperti ini."
Sharla lalu keluar dari kamarnya dan hendak menghampiri Relia di kamarnya.
"Relia? Dimana kau?" Sharla mencari Relia di kamarnya. Sharla keluar kamar Relia dan mencarinya di dapur.
"Disini kau rupanya," ujar Sharla.
"Aku akan memasak untukmu, duduklah."
"Tidak perlu repot-repot. Nanti kita akan makan di luar," ujar Sharla.
Relia hanya mengangguk. Mereka pun berangkat menggunakan mobil milik Reyca.
__ADS_1
***
[Niaga Hospital, 9:30 AM]
Mereka sampai di Rumah Sakit Niaga, tempat Relia bekerja.
"Kau tahu, rumah sakit ini milik siapa?" Relia bertanya pada Sharla. Sharla hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini milik Arga Caguza, dia calon menantuku." Relia menyombongkan dirinya.
"Itu hebat ... kau pantas mendapat menantu seperti dia. Kau adalah wanita yang cerdas dan sangat piawai dalam bekerja." Sharla wanita yang rendah hati, ia selalu memuji lawan bicaranya.
Mereka berjalan menuju ruang rapat di rumah sakit itu. Banyak sekali Dokter-Dokter yang terkenal disana. Terkenal karena keahliannya dalam bekerja, kerena jabatan dan masih bayak lagi.
Sharla dan Relia menghabiskan waktunya selama 2 jam untuk rapat saat itu. Mereka akhirnya selesai dan memilih untuk makan di restoran cepat saji dekat rumah sakit itu.
Mereka memasuki resto itu dan memesan beberapa makanan beserta minumannya.
Mereka pun duduk di meja dekat jendela.
Sharla dan Relia membahas kehidupan mereka masing-masing.
"Kau mengenal Tuan Adnan?" pertanyaan itu tiba-tiba di lemparkan pada Sharla. Sharla mengangguk samar.
"Bagaimana dia?"
"Dia adalah ..." ucapan Sharla menggantung di udara. Sharla mulai bungkam ketika menatap ke arah pojok ruangan.
Relia mengerutkan alisnya. Lalu ia mengikuti arah tatapan Sharla. Relia ikut terkesiap. Ternyata, Adnan berada di resto yang sama.
"Kalian sepertinya memang berjodoh," goda Relia. Sharla bergeming.
"Ayo, kita pulang." Sharla tergesa-gesa. Relia mengernyitkan alisnya.
Sharla menarik tangan Relia dan membawanya keluar dari restoran cepat saji itu.
Sharla dan Relia akhirnya memilih untuk pulang.
Bagaimana dia bisa ada di tempat yang sama denganku? Ada yang tidak beres, benak Sharla.
***
Sharla kembali pulang ke rumah Relia. Di dalam perjalanan pulang, Sharla memikirkan Adnan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Relia bertanya membuat pikiran Sharla menjadi buyar.
"Hah? Ti-tidak ak-aku hanya sedang mengingat hal-hal penting di rapat tadi," ujar Sharla terbata-bata.
"Mengingat materi rapat atau mengingat Adnan?" goda Relia yang masih fokus menyetir.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak memikirkannya," ujar Sharla malu-malu.
***
[Perumahan Kandigar.]
__ADS_1
Sharla langsung naik ke atas dan masuk kamarnya. Tiba-tiba, Reyca mengetuk pintu kamar Sharla.
"Kak Sharla ... ada paket untuk Kakak," teriak Reyca di balik pintu.
"Iya sebentar lagi aku akan turun," ujar Sharla.
Sharla pun keluar dari kamarnya dan turun menemui kurir yang mengantarkan paket.
"Selamat pagi, Nona Sharla ... kami mengirimkan ini untuk anda," ujar sang kurir dengan tatapan dingin.
"Anda salah orang, Pak. Saya tidak pernah meme—" ucapan Sharla terpotong.
"Ambil saja, Nona!"
Sharla langsung mengambil paket dan kurir itu langsung pergi meninggalkan rumah Reyca.
"Aneh sekali, Kak ... kau bahkan tidak memesan apapun," ujar Reyca di belakang Sharla. Sharla tersentak dan langsung membalikan posisinya.
"Mungkin ini paket dari penggemarmu, mari kita buka!" seru Reyca. Sharla hanya menganggukan kepalanya dan berjalan menuju ruang tamu.
Sharla membuka paket itu dan melihat ada foto dirinya bersama Adnan dan Adka di dalam mobil saat itu.
Kapan dia memotretku? Aku rasa tidak ada kamera di mobilnya, benak Sharla.
Sharla nampak mulai panik, raut wajahnya berubah seketika.
"Kak Sharla dan Kak Adnan sudah menikah? Kapan?" tanya Reyca sambil memegang bingkai foto Sharla.
"Itu-itu hanya se-sebuah foto, Rey." Sharla menjawab dengan terbata-bata.
"Ada apa ini?" ujar Relia mendekati ruang tamu.
"Lihat, Ma ... ini anaknya Kak Sharla dan Kak Adnan. Mereka bertiga sangat menggemaskan," ujar Reyca sambil memberikan fotonya pada Relia. Relia membelalakan matanya.
"Baru tadi aku mengatakan kau mungkin berjodoh dengannya, sekarang sudah terbukti ucapanku." ledek Relia.
"Kalian salah paham, Adka bukan anak kandungku. Tapi, dia anakku."
Aduh ... bagaimana aku menjelaskan ini pada mereka? Apa aku harus mengatakan aib Adnan di depan mereka?
"Maksud Kakak?" tanya Reyca pada Sharla.
"Masalahnya panjang ... Adka itu anak dari Adnan dan —"
PRAKKK ....
(Suara bingkai foto Reyca terjatuh)
Ada gangguan apa lagi ini? Jangan-jangan, arwah itu, benak Sharla yang mulai panik. Ia menggigit bibir bawahnya.
~bersambung~
***
Siapa sebenarnya Arga, Reyca dan Relia?
__ADS_1
Yuk kunjungi mereka di cerita "Love In Silence"
(Teen-Romantis)