Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Panggilan Darurat


__ADS_3

[Apartemen Shalra, 3.20 PM]


Sharla terbangun karena suara ponselnya yang berdering terus menerus.


Sharla mengerutkan alisnya karena terusik dengan suara dari ponselnya itu.


Ia terus meraba tempat tidur untuk mencari ponselnya.


"Dimana ponselku," ucap Sharla dengan mata masih terpejam.


Sharla menemukan ponselnya dan menerima panggilan yang mengganggu tidur siangnya itu


"Dokter Sharla ... bisakah datang ke rumah sakit sekarang?" Riyu tampak tergesa-gesa.


"Ada apa?" Sharla menjawab dengan santai.


"Cepat kemari ... kecelakaan terjadi di Jalan ASD, Dok." Riyu langsung memutus sambungan panggilannya dengan Sharla.


"Kecelakaan?" Sharla masih mematung di kamarnya saat ini.


Sebaiknya kamu tidak datang, Shar.


Pikiran Sharla tiba-tiba menyuruhnya untuk tidak datang kesana.


"Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh datang kesana? Tidak, aku adaah seorang Dokter dan aku harus pergi untuk menyelamatkan pasienku," ucap Sharla


Sharla lalu bergegas, mengambil jas putih panjang dan kunci mobilnya. Tidak lupa, ia juga membawa buah apel dan ponselnya.


Sharla memegang jas nya di lengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya yang bekerja menutup pintu, menekan tombol lift dan membuka pintu mobil.


Sharla sampai di parkir mobilnya, ia membuka pintu mobil dan langsung masuk. Sharla lalu melajukan mobilnya keluar dari apartemennya.


***


[Rumah Sakit Antira Permai]


Sharla akhirnya sampai di rumah sakit tempat ia bekerja, banyak wartawan yang menunggu di luar rumah sakit.


Banyak sekali wartawan datang, benak Sharla saat memarkirkan mobilnya.


Sharla lalu keluar dari mobil dan hendak mengambil jas putihnya di bangku belakang. Betapa terkesiapnya Sharla, saat melihat pakaian yang ia gunakan.


"Kenapa aku pakai celana pendek sih? Lihat ini, bahkan aku menggunakan baju yang longgar. Apa aku pulang saja dulu, ya?" ucap Sharla.


Sharla hendak kembali menuju apartemennya. Tiba-tiba, Riyu datang dan mencegat mobil Sharla untuk pergi dari rumah sakit itu.


"Ingin kemana, Dok?" Riyu bertanya dari luar mobil.


Riyu lalu mendekati pintu mobil dekat Sharla dan mengetuknya.


"Cepat turun! Situasi darurat sekarang, Dok." Riyu berusaha membuka pintu mobil milik Sharla.


"Banyak wartawan, Yu. Lihat, aku menggunakan pakaian seperti ini," ucap Sharla sambil menoleh ke pakaiannya.


"Sudahlah ... tidak apa-apa," ucap Riyu.


Riyu lalu memanggil satpam. Ia menyuruh satpam tersebut untuk memarkirkan mobil Sharla.

__ADS_1


Sharla keluar dari mobilnya sambil membawa barang-barang yang ia bawa dari apartemennya.


"Nanti kunci mobilnya, taruh di ruangan saya, Pak." Sharla berkata pada satpam itu.


"Baik, Dok." Satpam itu mengangguk.


Sharla dan Riyu berlari meninggalkan satpam itu. Sedangkan, satpam suruhan Riyu itu langsung memarkirkan mobil milik Sharla.


Sharla dan Riyu melewati wartawan. Mereka berjalan perlahan-lahan agar wartawan tersebut tidak menyadari kedatangan Dokter Sharla.


Mereka lolos dari wartawan itu. Riyu kembali ke ruangannya dan Sharla pergi menuju ruang operasi.


Sharla mengganti pakaiannya agar lebih steril saat melakukan tindakan operasi.


"Permisi," kata Sharla dengan intonasi yang sedikit rendah.


"Dokter Sharla ... cepat kemari, Dok!" ucap Dokter Chan di ruangan itu.


Sharla melangkah dengan sedikit takut, jantungnya berdebar dengan keras.


Ada apa ini, detak jantungku tidak seperti biasanya, benak Sharla.


Sharla semakin dekat dengan pasien yang terbaring lemah di ruang operasi saat itu.


Sharla terkesiap melihat siapa yang akan dia operasi sekarang.


Keringatnya bercucuran tanpa henti. Kakinya mulai lemas dan Sharla hampir terjatuh. Wajah Sharla pun pucat pasi.


Dengan sigap Dokter Chan menjadi penyangga Sharla agar tidak terjatuh.


"Ada apa denganmu, Shar?" Dokter Chan bertanya pada Sharla.


"Sepertinya aku kurang minum, Chan," ucap Sharla sebari berusaha bangun.


Kenapa harus dia yang akan aku tangani, benak Sharla.


Orang yang akan ditangani oleh Sharla adalah Adnan, pria kaya yang menghantui pikirannya tadi siang.


Chan lalu menyuruh perawat untuk membawa Sharla keluar agar mendapat air minum yang cukup sebelum operasi dimulai.


Sharla keluar bersama perawat itu dan meminum segelas air mineral.


"Apa sebaiknya Dokter tidak maju untuk kali ini?" tanya Perawat itu pada Sharla.


"Tidak, dia adalah tanggung jawab saya," ucap Sharla.


"Mari, kita kembali ke dalam," ajak Sharla pada perawat itu.


Mereka pun kembali ke dalam ruang operasi. Dokter Chan melihat kedatangan mereka.


"Apa kau yakin untuk melanjutkannya?" Chan merasa tidak enak dengan Sharla.


"Iya, mari kita mulai," ucap Sharla pada tenaga medis yang berada di dalam ruang operasi saat itu.


Operasi pun dimulai.


Selama operasi, Sharla merasa ada sesuatu yang menunggunya di belakang.

__ADS_1


Sesekali Sharla menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang menunggunya.


Dokter Chan merasa aneh dengan gerak gerik Sharla, ia pun mendekati Sharla.


"Apa kau baik-baik saja, Shar?" Chan berbisik di telinga Sharla.


"Tentu," jawab singkat Sharla.


Chan lalu diam dan menunggu arahan dari Sharla.


Maafkan aku Chan, aku banyak berbohong pada mu, benak Sharla.


Operasi masih berlangsung. Sharla tengah fokus dengan operasinya saat ini.


Ia sedang menangani orang terkaya No.1 di kotanya saat ini.


Sharla, selamatkan dia atau ...


Sharla mendengar ada yang membisikan sesuatu di telinganya. Sharla kembali menoleh ke belakang.


Siapa kamu, apa yang kamu mau, benak Sharla.


Sharla berbalik dan kembali dengan luka-luka yang berada di kaki Adnan. Sharla sempat melirik pojok ruangan.


Sharla melihat seorang gadis menggunakan pakaian dress berwarna putih yang tingginya selutut, tengah berdiri sambil membawa bunga.


"Pergi kamu!" teriak Sharla pada gadis itu.


"Ini bukan ruangan tempatmu. Pergi!" tambahnya.


Tenaga medis saat itu merasa heran dengan tingkah Sharla. Lalu, Chan mendekati Sharla dan berbisik di telinga Sharla.


"Apa kau melihatnya? Aku juga," ucap Chan.


Ucapan Chan sontak membuat Sharla terkesiap.


"Berdoalah," tambah Chan.


Sharla tidak menjawab perkataan Chan. Ia terfokus dengan tugasnya.


Pergi kamu, benak Sharla.


Seketika gadis itu lenyap dari pandangan Sharla. Sharla kembali terkesiap dengan kepergian sesosok gadis yang pojok ruangannya saat itu.


Operasi Adnan pun selesai dilakukan. Adnan segera dilarikan menuju Kamar Alinsa, kamar VIP.


Banyak wartawan langsung menyerbu saat melihat batang hidung Sharla dan Chan.


"Dokter Sharla, apakah nyawa Tuan Adnan dapat diselamatkan?" tanya salah satu wartawan saat itu.


"Bagaimana dengannya, Dok?" tanya wartawan dari stasiun televisi yang lain.


Sharla merasa risih dengan banyaknya lampu dan kamera yang menyorotnya. Ia lalu meminta Chan untuk menyudahinya dulu.


"Mohon maaf ... kami selaku tenaga medis yang menangani Tuan Adnan, belum bisa memberikan informasi untuk kasus kali ini. Untuk kondisi Tuan Adnan sendiri, beliau masih dalam tahap pemulihan," ucap Chan pada wartawan yang ada di hadapannya.


"Baik, kami akan kembali ke ruangan kami," tambah Chan.

__ADS_1


Mereka berjalan meninggalkan para wartawan di tempat itu. Wartawan itu tetap mengikuti langkah Chan dan Sharla ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih tersimpan di benak mereka masing-masing.


__ADS_2