
Sharla sudah selesai mandi. Ia berjalan ke arah kamar. Tiba-tiba Chan menghubunginya.
Chan dan Sharla berbicara di dalam ponselnya selama 25 menit untuk membahas rapat yang akan di selenggarakan di Kota Amslar.
Selepas menghubungi Chan. Sharla tiba-tiba mengingat wanita yang ia temui tadi di restoran itu.
Ya Tuhan ... kenapa aku selalu di ganggu oleh mahluk seperti itu, benak Sharla sambil memejamkan matanya.
GRODOG ... GRODOG ... GRODOG
Lemari baju Sharla tiba-tiba berbunyi. Sharla terkesiap, sekujur tubuhnya merinding. Sharla ketakutan. Tubuhnya secara spontan mengeluarkan keringat yang sangat dingin.
Sharla tidak bisa mengatur napasnya, jantungnya berdegub kencang. Sharla beranjak dari duduknya dan mendekati lemari bajunya.
"Siapa disana?" ujar Sharla ketakutan.
Sharla memegang gagang pintu lemarinya tangannya bergetar dan matanya terpejam.
Saat hendak menarik pintu lemari, tiba-tiba vas bunga yang berada di ruang tamu terjatuh.
Sharla semakin ketakutan, kakinya melemas dan ia hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Apalagi ini. Siapa yang melakukan ini padaku? Kenapa?
Air mata Sharla mulai membasahi pipi. Hatinya merasa pilu akibat gangguan mahluk tak kasat mata itu.
Sharla nemilih untuk naik ketempat tidur dang langsung tidur saja. Besok ia harus berangkat ke Kota Amslar lebih awal.
***
[Bandara Kota Amladhi, 2:90 PM]
Sharla hendak berjalan menuju gate penerbangannya. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
"Adnan?" gumam Sharla sambil mengernyitkan dahinya. Sharla pun menerima panggilan itu.
"Ibu ... apa Ibu bisa datang kemari? Perutku sangat sakit, Bu." Adka merintih kesakitan.
"Adka ... apa yang terjadi denganmu? Dimana Papamu, Nak?" ujar Sharla khawatir.
"Papa sudah berangkat kerja, Bu."
"Baik, Ibu akan panggilkan dokter untuk menanganimu, ya." Sharla hendak memutus sambungannya.
"Tidak! Aku mau Ibu yang datang kemari," ujar Adka.
"Ibu sedang sibuk, Nak ... Ibu akan tutup telponnya, ya." Tanpa menunggu jawaban Adka, Sharla langsung menutup panggilannya.
Ia menghubungi Chan agar segera pergi ke rumah Adnan. Sharla mengirimkan alamat rumah Adnan untuk Chan.
***
[Kuanji Airport, 1.30 PM]
Sharla sampai di bandara. Rasa khawatir Sharla tentang kesehatan Adka belum juga bisa menghilang dari benaknya.
Hingga akhirnya, Chan menghubungi Sharla dan mengatakan bahwa Adka baik baik saja. Akhirnya Sharla dapat bernapas lega. Sharla kembali mendorong kopernya keluar, menuju pintu kedatangan.
"Ku harap, kali ini tidak ada Adnan Hartigan Lapondi di sekitarku," gumam Sharla.
"Dokter Sharla," teriak Dokter Relia, teman Sharla sebari melambaikan tangannya. Sharla mendekat.
__ADS_1
"Apa kabar, Dokter Relia?" tanya Sharla sambil menjabat tangan Dokter Relia.
"Aku baik. Bukankah aku menyuruhmu untuk memanggilku Relia?" Relia memincingkan matanya.
"Kau yang memanggilku dengan sebutan Dokter Sharla lebih dulu," ucap Sharla.
"Sepertinya aku sudah lupa ... maklum Ibu anak satu," ucap Relia.
"Oh ... perkenalkan ini anakku, Reyca. Di sebelahnya Arga, calon menantuku," tambahnya.
Reyca mengulurkan tangannya. Uluran tangannya dibalas oleh Sharla.
"Halo, aku Sharla Harrera."
"Hai, Kak. Aku Reyca Aurumolycan."
Mereka saling memperkenalkan dirinya.
Lalu, Sharla mengulurkan tangannya pada Arga. Arga membalasnya.
"Hai, aku Arga Caguza," sapa Arga.
"Aku Sharla. Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan Arga." Sharla nampak tersenyum bahagia.
"Arga." Terdengar suara teriakan seorang pria. Bagi Sharla, suara itu seperti tidak asing di telinganya.
Arga mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
"Apa kabarmu?" tanya Arga lebih dulu.
"Baik." jawab pria itu dengan santai.
"Mama, Rey ... ini temanku." Arga memperkenalkan temannya itu.
Reyca mengulurkan tangannya. Pria itu membalas uluran tangan Reyca.
"Hai, Kak. Aku Reyca Aurumolycan." Reyca memperenalkan dirinya.
"Aku Adnan Hartigan Lapondi," ucap pria itu.
Sontak Sharla terkesiap dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
Bagaimana bisa kita bertemu disini, benak Sharla.
Adnan memperkenalkan dirinya pada Relia, begitu juga sebaliknya dengan Relia.
"Senang bisa bertemu dengan kalian." Adnan nampak tidak tersenyum.
Arga melihat Sharla yang sedikit panik.
"Adnan, dia adalah Sharla Harrera. Dia rekan kerja Mamaku," ucap Arga. Adnan mendekati Sharla.
"Dokter Sharla Harrera. Senang bisa bertemu dengan anda," ucap Adnan. Sharla hanya bergeming.
Sharla membuang wajahnya saat di dekat Adnan.
Mereka pun berpisah di bandara. Arga membawa Adnan pergi ke hotel milik Adnan yang beroprasi di Kota Amslar, sedangkan Relia membawa Sharla pergi ke rumahnya.
***
[Perumahan Kandigar.]
__ADS_1
Relia membawa Sharla pergi ke rumahnya. Ia sudah membereskan satu ruangan khusus untuk Sharla tinggal.
Sharla juga sudah berkenalan dengan teman-teman Reyca. Mereka berbincang cukup lama di ruang tamu.
***
[Lapondi Hotel]
Arga dan Adnan sampai di hotel tujuan mereka. Arga memarkirkan mobilnya di basement. Mereka turun dari mobil bersamaan. Adnan pergi ke resepsionis untuk meminta kartu kamarnya. Selama perjalanan menuju kamar Adnan, mereka banyak membicarakan masa-masa saat Adnan kecil.
Karena sifatnya yang dingin dan sombong, Adnan sedikit bercerita dan berbicara.
Mereka sampai pada kamar no 121 milik Adnan. Adnan masuk terlebih dahulu, lalu disusul oleh Arga.
"Kau mengenal Dokter Sharla?" Arga langsung melemparkan pertanyaan pada Adnan.
"Tentu, dia adalah Dokter pribadiku."
"Tapi, kenapa dia sangat tegang saat bertemu denganmu?" Arga bertanya heran.
"Apa urusannya denganmu?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran," ujar Arga.
Kamar no 121 adalah kamar favorite Adnan. Di kamar itu sudah di sediakan cemilan dan minuman. Mulai dari air mineral, susu hingga minuman beralkohol.
Adnan mengambil susu dan membawakan segelas wine untuk Arga.
Lalu, ia menghampiri Arga yang duduk di sofa saat itu.
"Bisa kau ceritakan pertemuanmu dengan Sharla?" goda Arga.
"Berhenti menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan wanita itu!" Adnan mulai kesal.
"Oh ... baik-baik. Kau tahu, aku akan menikah," ujar Arga.
"Pada siapa?"
"Apa kau tidak melihatku bersama wanita tadi?" Arga mulai jengkel
"Kau menikah dengan Dokter wanita itu?" ujar Adnan, "dia terlalu tua untuk seorang Arga Caguza."
"Bukan! Aku akan menikah dengan anaknya, Reyca." Arga nampak percaya diri.
"Bodoh!" Adnan memukul bahu Arga, "dia masih sangat belia, apa kau akan menikahinya juga?"
"Apa salahnya jika dia masih belia? Asal masih tersegel, teman."
Adnan hanya bergeming.
Setelah puas berbincang di hotel milik Adnan, Arga memutuskan untuk pamit pulang.
Kini Adnan membersihkan tubuhnya. Ia mengidupkan shower dan mejamkan matanya. Membiarkan air jatuh mengenai kepala dan tubuhnya.
Tiba-tiba, kenangan Adnan bersama Alicia terlintas di pikirannya. Sontak Adnan langsung membuka matanya. Jantungnya berdegub kencang. Adnan memegangi tembok untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Tidak! Alicia ... aku tidak bermaksud untuk membunuhmu. Ini semua demi cinta kita yang harus abadi!" gumam Adnan sebari menggerutu.
"Aku benar-benar mencintaimu!"
~bersambung~
__ADS_1