Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Kejadian Aneh


__ADS_3

Jangan buat dirimu tersiksa karena beban pikiran.


-Dokter Chan Hannata.


__________________🌛🌛_____________________


Sharla sampai di ruangannya. Ia melamun sambil memikirkan kejadian yang terjadi di ruang operasi tadi.


Bagaimana bisa dia menghilang dengan sangat cepat, benak Sharla.


Tiba-tiba, Chan datang ke ruang kerja Sharla dengan membawa 2 cup teh.


"Apa kau baik-baik saja, Shar?" tanya Chan membuat pikiran Sharla buyar.


"Apa kau lupa dengan kejadian di ruangan operasi tadi?" Sharla nampak jengkel dengan Chan, teman laki-lakinya itu.


"Aku tidak lupa, Shar." Chan berdiri lalu mendekati Sharla.


"Minum ini. Pikiranmu akan tenang setelah kau meminumnya," kata Chan pada Sharla.


"Semua baik-baik saja, Shar," tambahnya.


Chan lalu menarik kursi di depan meja kerja Sharla dan menaruhnya disamping Sharla.


"Jika kau butuh teman cerita, hubungi aku segera. Aku tahu, kau tidak akan mudah mempercayai seseorang. Jangan buat dirimu tersiksa karena beban pikiran," ucap Chan sambil memegang tangan Sharla dengan erat.


Sharla hanya bergeming. Ia terdiam sambil meminum teh yang dibawakan Chan untuknya.


Seorang perawat datang ke ruangan Sharla untuk menemuinya.


"Permisi," suara dari arah luar.


Sontak membuat Chan tertegun dan segera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sharla.


"Ada apa?" Sharla bertanya pada perawat itu.


"Maaf mengganggu sebelumnya, kedatangan saya kemari hanya ingin memberikan surat ini." Perawat tersebut menyerahkan seberkas surat untuk Sharla.


Sharla membuka surat tersebut dan membacanya perlahan. Sharla mengerutkan alisnya saat membaca surat-surat dihadapannya itu.


"Ini seharusnya diberikan kepada keluarga pasien, kenapa memberikannya pada saya?" Sharla sedikit heran dengan Perawat itu.


"Begini, Dok ... Tuan Lapondi hidup sebatang kara. Lalu, siapa yang akan menerima surat ini?" Perawat itu menjawab sekaligus bertanya pada Sharla.


Sharla melamun kembali. Ia memikirkan sesuatu agar semua berjalan dengan semestinya.


Apa aku harus merawatnya, ya. Aku merasa sangat bingung. Dia pria yang sombong, aku merasa malas merawatnya. Tidak, dia pasienku maka aku akan merawatnya, benak Sharla.


"Baiklah, aku akan merawatnya." Sharla melipat berkas-berkas yang ada di hadapannya itu dan menaruhnya kembali di dalam amplop coklat.


"Apa kau yakin, Shar?" tanya Chan dengan sedikit keraguan.


"Dia pasienku dan dia tanggung jawabku," ucap Sharla.


Chan diam dan bergeming. Ia menghargai keputusan Sharla saat itu. Di dalam hati Chan, ia merasa ada batu besar yang menjanggalnya.


Aku takut kau akan jatuh hati dengannya, Shar, benak Chan.

__ADS_1


Sebenarnya, aku takut untuk merawatnya, Chan, benak Sharla.


Suasana canggung pun tercipta. Akhirnya, Sharla yang berbicara dan memecah keheningan di ruangan Sharla.


"Di kamar mana dia di rawat?" tanya Sharla pada perawat itu.


"Kamar Alinsa," kata perawat itu dengan santai.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menaruhnya di Ruang Alinsa? Itu ruang VIP," kata Sharla yang terkesiap sambil mengerutkan alisnya.


"Tapi dia orang kaya, Dok. Kami tidak berani menaruhnya di ruangan biasa. Lagi pula, jika kita menaruhnya di ruang biasa, maka banyak orang yang akan mengerumuninya. Saat dia sembuh nanti, mungkin saja dia akan menuntut rumah sakit ini." Perawat itu menjelaskan secara perlahan pada Sharla.


Sharla hanya mengangguk dan langsung beranjak dari duduknya. Ia melewati Chan sambil memegang pundak Chan.


"Terimakasih atas tehnya," kata Sharla pada Chan.


Chan hanya mengangguk dan tidak membalas perkataan Sharla.


"Mari, kita menuju kamar itu." Sharla berjalan bersama perawat dan meninggalkan Chan sendiri di ruangannya.


Mereka menaiki lift agar cepat sampai di ruang Alinsa.


Mereka sampai di ruangan itu.


"Silakan, Dok. Saya permisi." Perawat itu lalu meninggalkan Sharla sendiri di ruangan Alinsa.


Jantung Sharla berdegub dengan sangat kencang. Darahnya mengalir sangat deras dan cepat.


Sharla hendak masuk. Saat ia masih memegang gagang pintu, ia merasa ada yang berjalan melewatinya di belakang.


Tidak apa-apa, Sharla ... Chan sudah katakan bahwa semua akan baik-baik saja, benak Sharla.


Sharla lalu membuka pintu kamar Adnan. Ia melihat Adnan dari kejauhan yang terbaring lemah tak berdaya.


Sharla berjalan mendekati tempat tidur Adnan yang masih tidak sadarkan diri.


"Permisi ... maaf sebelumnya aku sudah lancang karena masuk ke dalam ruang inapmu tanpa izin darimu, apa lagi sekarang sudah malam," ucap Sharla di samping Adnan yang belum siuman.


"Perkenalkan, aku Sharla Harrera. Aku bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini. Aku yang akan merawatmu hingga kau sembuh," tambahnya.


Iya, memang itu yang harus kau lakukan.


Sharla kembali mendengar suara bisikan yang ia dengar di ruang operasi tadi. Sharla menoleh ke arah pintu.


"Siapa disana?" Sharla berusaha memeriksa ke arah pintu.


Tidak ada jawaban atas pertanyaan Sharla. Sharla mulai ketakutan saat berada di dekat Adnan.


Itu mungkin karena aku yang terlalu letih. Sebaiknya aku duduk saja, benak Sharla.


Sharla lalu bebaring di tempat tidur khusus yang menjaga pasien.


Sharla lalu memejamkan matanya.


Tidur Sharla terganggu saat waktu menunjukan pukul 03.00 AM. Sharla merasakan suhu di kamar Adnan sangat panas.


Ia bernajak dari tidurnya dan mengambil remote AC di dekat Adnan.

__ADS_1


Ia mengucek matanya karena penglihatannya sedikit buram.


Suhunya 15° ... ini normal atau kurang ya, benak Sharla.


Sharla menurunkan suhu AC tersebut hingga 10°C. Ia menunggu selama 3 menit di atas tempat tidurnya tetapi hasilnya nihil.


Kenapa masih panas juga, benak Sharla.


Karena aku ada disini, suara bisikan.


Lagi-lagi, Sharla mendengar bisikan itu. Sharla menoleh ke belakang, ke samping dan ke arah pintu.


Siapa kamu, kenapa terus menggangguku, benak Sharla.


Karena itu kesukaanku.


Jantung Sharla berdegup kencang, pikirannya tidak berjalan sebagaimana mestinya.


Sharla melihat ke pojok ruangan dekat televisi. Ia melihat sesosok gadis dengan mata merah menyala.



Ilustrasi


Selamat datang, Sharla Herrera.


Bisikan itu sontak membuat Sharla tertegun.


Sharla langsung naik ke atas tempat tidurnya dan menutup seluruh badannya dengan selimut.


Sharla menejamkan matanya dan berharap yang ia lihat tadi hanyalah ilusi. Saat ia membuka matanya, tiba-tiba sosok dengan mata yang bercahaya merah menyala itu ada dihadapannya.


Sharla tidak bisa ngatur nafasnya, ia merasakan sesak di dadanya. Bayangan dihadapannya itu nampak tersenyum bahagia.


Siapapun, tolong aku. Aku tidak bisa berteriak atau berjalan. Dadaku terasa sesak sekali, benak Sharla.


Matanya sudah sayu dan wajahnya pucat pasi. Akhirnya, Sharla jatuh pingsan.


***


[Ruang inap VIP (Alinsa Room)]


Sharla pun sadar saat mendengar suara yang memanggilnya. Ia mulai membuka matanya perlahan-lahan.


Aku dimana ... kenapa aku tidur di lantai, benak Sharla.


"Nona ... apa anda baik-baik saja?" suara itu terus terngiang di telinga Sharla.


Sharla memegang kepalanya karena merasa sangat pusing. Sharla berusaha untuk bangun dan berdiri.


"Huh, sakit sekali," ucap Sharla saat sudah bangkit dan duduk di lantai saat itu.


Sharla masih memejamkan matanya, ia masih mengingat kejadian saat pukul 3 pagi tadi.


"Nona ... istirahatlah," suara pria yang tidak Sharla kenali.


Sharla mencoba untuk membuka matanya dan melihat ke arah suara. Sharla terkesiap melihat Adnan yang sudah tersadar.

__ADS_1


__ADS_2