Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Adnan bukan Manusia (?)


__ADS_3

"Pak..." Chan Sedikit takut untuk menanyakan masalah rumah ini. Langkah Pak Bhur terhenti. Ia menoleh ke arah Chan.


"Begini, Pak." Chan menggaruk leher belakangnya.


Bagaimana caraku menjelaskan semua ini?


"Anda tidak payah memikirkan hal yang tidak-tidak, Tuan." Pak Bhur menatap lekat manik-manik mata Chan.


"Baik, maaf."


Pak Bhur kembaki melanjutkan langkahnya. Ia berjalan menuju kamar Adka. Disusul dengan Chan.


"Silakan, Tuan." Pak Bhur menaikan tangannya setinggi pinggang, mempersilakan Chan untuk masuk.


Chan hanya mengangguk dan tersenyum memandangi Pak Bhur. Kepala pelayan itu hanya bergeming dengan wajah yang pucat pasi.


Ada apa dengan pelayan itu?


"Siapa kau?" Adka berteriak ke arah Chan, membuat pikiran Chan menjadi buyar.


"Hallo, Adka! Aku adalah Dokter Chan. Aku akan menyembuhkanmu sakit dinperutmu itu," ujar Chan sebari berjalan mendekati Adka.


"Apa Ibu yang menyuruhmu kemari?" gumam Adka sebari meremas kedua tangannya.


Ibu? Apa Adka anak dari Sharla dengan Adnan?


Chan membelalakan matanya dan menatap Adka lekat.


"Ibu Sharla bukan Ibuku, Paman. Ibuku adalah Mama—" ucapan Adka terpotong.


"Baiklah, mari kita periksa keadaanmu." Chan merasa tenang karna Ibu kandung Adka bukan Sharla. Ia juga tidak ingin mencampuri urusan keluarga Adnan.


Chan sudah sudah selesai memeriksa Adka. Ia lalu menuliskan resep untuk Adka. Adka khawatir, bagaimana caranya dia membayar Dokter Chan.


"Paman, aku tidak memiliki uang." Adka menundukan kepalanya.


"Tidak apa, Ibumu yang akan membayarku." Chan tersenyum memandang Adka.


Chan lalu beranjak dari duduknya. Ia mendekati Pak Bhur yang berdiri di pintu kamar Adka.


"Pak Bhur, tolong tebus obat yang sudah saya tulis di resep. Semoga Adka lekas sembuh." Chan menepuk pundak Pak Bhur.


Pak Bhur hanya menganggukan kepalanya. Chan berjalan menuju tangga dan hendak turun. Tiba-tiba, indra penciuman Chan aktif. Ia mencium bau kertas terbakar.


Chan mengentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Pak Bhur. Tatapan Chan terfokus pada abu di tangan Pak Bhur.

__ADS_1


Pak Bhur hanya tersenyum menatap kedua manik-manik mata Chan. Chan mengerutkan kedua alisnya. Menatap heran Pak Bhur. Chan memilih untuk melanjutkan langkahnya. Tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin.


Saat melewati ruang tengah, Chan mendengar suara mantan kekasihnya berteriak dan memanggil namanya.


"Sarah ..." gumam Chan. Ia menghentikan langkah kakinya. Lalu ia menggelengkan kepalanya, ia lalu melanjutkan langkahnya.


Flashback is over.


***


[Lapondi Hotel, 8:30 AM]


Sharla mengernyitkan matanya. Matanya menyesuaikan cahaya ruangan. Tangannya tidak sengaja menyentuh dada bidang Adnan.


Sharla tersengak dan langsung beranjak dari tidurnya. Ia mencium wangi dupa. Ia lalu segera bangun dan pergi ke kamar mandi.


Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia memegangi kepalanya menuju kamar mandi. Saat sampai di kamar mandi, Sharla merasa mual dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Aku terlalu banyak minum," gumamnya.


Saat hendak membersihkan watafelnya, ia melihat banyak sekali belatung dan ulat di dalamnya. Ditambah dengan gumpalan darah. Belatung dan ulat itu seakan berenang di gumpalan darah Sharla.


Segera Sharla membuka keran air dan membersihkannya. Napas Sharla tidak beraturan. Ia memegang kepalanya yang masih terasa berat.


"Aku harus mandi." Ia lalu berjalan menuju shower air dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Sharla menggunakan pakaiannya.


Sharla melihat dupa masih menyala dan manpan berisi buah jatuh berserakan. Sharla mengernyitkan alisnya.


Ia mendekati nampan itu dan mengambil salah satu buah yang separuhnya sudah hangus terbakar.


"Apa yang terjadi?" gumamnya. Ia menatap kedua buah hangus di tangannya


"Apa yang kau lakukan?" suara Adnan membuat Sharla tersentak. Segera Sharla melempar buah yang ia pegang.


"A-aku hanya ..." ucapan Sharla menggantung. Ia tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Buatkan aku secangkir kopi!" ucap Adnan. Sharla hanya menganggukan kepalanya.


Adnan berbalik dan berjalan meninggalkan Sharla. Sharla menatap langkah kaki Adnan. Mata Sharla terbelalak saat melihat arah Adnan pergi.


Loh, kenapa dia tidak belok ke arah kanan? Bukankah kamarnya ada di sebelah kanan?


Apa yang dia cari diruang itu?


Sharla tidak mau memikirkan banyak hal. Ia lalu berjalan menuju dapur. Membuatkan secangkir kopi. Ia lalu membawa cangkir itu ke ruangan yang Adnan masuki tadi.

__ADS_1


Saat melewati kamar tidurnya, Sharla sempat melirik ke arah tempat tidur. Betapa terkesiapnya Sharla saat melihat Adnan yang masih tertidur pulas.


Sharla menghentikan langkahnya. Ia mundur dan menatap punggung putih Adnan dari arah pintu.


Jika dia masih tertidur, lalu siapa yang memintaku membuatkan kopi? Dan siapa yang masuk ke dalam ruangan itu?


Kaki Sharla mulai bergemetar dan lemas. Ia merasa kehilangan penopang di kakinya.


PRAKKK....


Suara kaca terjatuh berasal dari ruangan misterius itu. Sharla segera menatap pintu ruangan itu. Tangannya sudah bergemetar dan kopi yang sedang ia genggam hampir saja jatuh.


Sharla lalu memejamkan kedua matanya. Ia merasa takut. Napasnya sudah tidak beraturan.


"Tuhan, tolong Hamba-Mu ini."


"Sharla ..." suara Adnan yang baru bangun. Sharla segera membuka kedua matanya dan menatap Adnan.


Mata Sharla sudah berlinang air mata. Bibirnya bergemetar. Ia lalu berjalan mendekati Adnan, menaruh secangkir kopi di meja dekat Adnan dan langsung memeluknya. Adnan terkesiap.


"Tuhan mengirimmu untuk melindungiku," ujarnya sebari memeluk tubuh kekar Adnan. Sharla menjatuhak air matanya, mengenai tubuh Adnan.


Tuhan? Apa dia masih percaya dengan Tuhan? Cih.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" Adnan memngelus rambut Sharla.


Sharla mendongkak. Ia lalu menceritakan semua yang ia alami tadi. Mulai dari muntah darah hingga suara aneh yang keluar dari ruang sebelah.


Alicia! Bisakah kau tidak mengganggu Sharla? Jika kau melakukan ini, Sharla tidak akan menjadi pemikutmu dan semua usahaku selama ini akan menjadi sia-sia, benak Adnan.


"Dengarkan aku, kau terlalu banyak minum kemarin malam." Adnan memegangi kedua pipi Sharla. "Mungkin kau sedang berhalusinasi. Apa kepalamu masih sakit?" Ia lalu memegangi kepala Sharla.


Sharla hanya menganggukan kepalanya. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi. Adnan beranjak dari tidurnya dan bersandar di atas tempat tidur. Ia kembali membawa Sharla menuju pelukannya yang hangat itu.


Sharla lalu melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju tempat ponselnya disimpan. Ia menerima banyak sekali pesan dari Chan.


Salah satunya adalah meminta Sharla untuk menjaga jarak dengan Adnan.


Sharla mengambil ponselnya dan berjalan menuju dapur hotel Adnan. Ia segera menghubungi Chan.


"Kenapa kau mengirim pesan begitu banyak?" ujar Sharla sebari berkacak pinggang.


"Aku hanya ingin kau tahu, jika Adnan bukanlah pria baik-baik." Nada bicara Chan sangat khawatir.


"Kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja," ujar Sharla. Ia lalu menutup panggilannya.

__ADS_1


***


Ya Tuhan, maafkan Author yang membuat karakter Adnan menjadi orang yang tidak percaya dengan keberadaanmu. *-*


__ADS_2