Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Adka Hartigan Lapondi


__ADS_3

Sharla pergi ke salah satu kedai kopi di dekat Apartemennya. Ia pergi dengan menggunakan taksi online. Chan datang 15 menit setelah Sharla.


"Ada apa, Chan?" ujar Sharla saat Chan menarik kursi di hadapannya.


"Begini ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Chan.


"Aku ... aku su—" ucapan Chan terpotong karena bunyi ponsel Sharla.


Sharla menoleh ke arah ponselnya dan melihat ternyata Adnan yang menghubunginya. Sharla meminta izin untuk pergi ke toilet.


Adnan dan Sharla berbicara selama 10 menit di dalam ponsel. Ia pun menutup panggilan dan kembali ke meja Chan.


"Maaf, Chan. Sepertinya ini sedikit mengganggu," ujar Sharla sebari tersenyum.


"Tidak apa-apa. Aku hanya mau bilang ... aku menyukaimu," ujar Chan santai.


Sharla membelalakan matanya menatap Chan. Ia tertegun dan bergeming. Sedangkan Chan, ia sangat santai.


Apa Chan sedang bergurau, benak Sharla.


"Jadilah kekasihku, Shar." Tanpa rasa ragu, Chan langsung mengutarakan isi hatinya.


"Aku-aku ... anu itu, apa ya? Ya itu ... anu." Sharla tidak bisa berbicara dengan benar.


"Nona!" seorang memanggil dari arah pintu.


Sharla dan Chan pun menoleh ke arah sumber suara, mendapati Frans yang berjalan mendekati mereka. Sharla menelan salivanya dengan susah payah.


"Nona, Tuan Lapondi sudah menunggu anda di mobil. Datanglah lebih dulu atau ..." ucapan Frans menggantung di udara.


"Atau apa? Cepat katakan?"


"Atau konsekuensinya anda tanggung sendiri," ujar Frans menyeringai. Sharla lalu berjalan menuju parkir mobil tempat Adnan berada.


Frans dan Chan masih berdiri di tempat. Frans dan Chan menatap satu sama lain. Tatapan mereka penuh kebencian.


Anak suruhan pria sialan itu, berani-beraninya mengancam wanita lemah seperti Sharla. Cih, gerutu Chan dalam hati.


"Nona Sharla bukanlah wanita yang lemah, Tuan. Tuan Lapondi juga bukan pria sialan. Jaga perkataan anda, sebelum Tuan Lapondi merenggut semuanya." Frans menatap lekat manik-manik mata Chan.


"Cih, aku tidak takut dengan ancamanmu!"


"Baiklah ... silakan anda pergi. Untuk apa anda berlama-lama di kedai kopi, jika Nona kami sudah bersama Tuan Lapondi?" ejek Frans. Wajahnya yang pucat dan dingin itu membuat Chan ingin sekali memukulnya.


Frans langsung berbalik dan pergi meninggalkan Chan sendiri di kedai kopi itu.


"Sialan!" umpat Chan.


"Siapa sebenarnya laki-laki itu? Bagaimana dia bisa tahu, apa yang aku pikirkan," gumam Chan.


Di dalam mobil, Sharla sudah duduk bersama Adnan. Sharla sengaja duduk di pojok dan tidak perduli dengan Adnan di sampingnya.

__ADS_1


"Kita ingin kemana?" ujar Sharla. Pandangannya keluar kaca.


Adnan merasa risih. Ia menarik lengan Sharla, hingga Sharla berada di dekapannya.


"Bicara yang sopan padaku!"


"Kita akan pergi kemana?" Sharla menggerutu.


"Akan menjemput anakku," ujar Adnan dengan nada dingin.


"A-apa? Anakmu? Apa kau sudah memiliki anak? Kau sudah menikah?" Sharla membelalakan matanya.


Adnan hanya bergeming, tidak menghiraukan ucapan Sharla.


Apa? Anak? Jadi dia sudah menikah? Atau jangan-jangan istrinya bernama Sarah itu, benak Sharla.


"Pikiran anda terlalu jauh, Nona." Frans tiba-tiba muncul. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


Frans mengendarai mobil itu dan pergi meninggalkan kedai kopi.


"Apa yang sedang dia pikirkan, Frans." ucap Adnan sambil menatap Frans melalui kaca di dalam mobil itu.


Jangan diberi tahu, ku mohon jangan, benak Sharla.


"Jangan diberi tahu, ku mohon jangan. Itu yang sedang Nona katakan, Tuan." Frans masih terfokus pada jalan di depannya. Adnan menyeringai menatap Sharla.


Mati saja kau, Frans. Merepotkan sekali, benak Sharla.


Adnan langsung memukul pundak Frans dan Sharla membelalakan matanya.


"Apa yang kau katakan tadi, bodoh!" umpat Adnan.


"Maafkan saya, Tuan."


Mereka pun sampai di sekolah anak Adnan. Seperti biasa, Frans membukajan pintu untuk Adnan. Adnan turun dan membenahi jasnya.


"Sharla..." teriak Adnan. Sharla berlari mengelilingi mobil dan mendekati Adnan.


Adnan menyuruh Sharla untuk menggandeng tangannya. Sharla hanya mengiyakan dan menggandeng tangan Adnan.


"Pintar," ujar Adnan. Nampak senyum tipis terlukis di wajahnya. Sharla mendengus kesal.


"Siapa nama anakmu?" ujar Sharla sambil berjalan disamping Adnan.


"Adka," ujar Adnan santai.


Cih, apa tidak ada nama lain, selain 'Ad' di depannya? Pelit sekali, benak Sharla.


"Selamat pagi, Tuan. Senang bisa membantu anda ... sudah lama anda tidak kemari," ujar salah satu staf di sekolah Adnanta. Staf iyu juga mengajak Adnan dan Sharla pergi menuju ruang tunggu.


Ruang tunggu disana sangat berkelas. Terdapat AC, kursi yang empuk dan cemilan. Fasilitasnya seperti ruang VIP. Ada pula kursi pijat di dalamnya dan fasilitas Spa.

__ADS_1


Sekolah untuk anak kaum konglomerat. Mungkin ini adalah satu-satunya sekolah termewah di Kota Amladhi.


"Panggilkan Adka sekarang!" perintah Adnan saat sampai di ruang tunggu.


Staf itu langsung pergi meninggalkan Adnan beserta Sharla.


"Media tidak pernah mengabarkan tentang anakmu, apa kau menyembunyikannya?" tanya Sharla. Adnan hanya bergeming.


"Kapan kau menikah? Dan dengan siapa?" tambahnya.


Dia ini bisu atau tuli, sih? menyebalkan, benak Sharla.


"Papa!" suara anak laki-laki berusia 5 tahun. Adnan dan Sharla langsung menoleh ke arah suara.


"Adka," gumam Adnan.


Adka langsung memeluk ayahnya dan menoleh ke arah Sharla.


"Dia siapa?" tanya Adka yang masih menatap Sharla.


"Hai tampan, Aku Sharla Harrera. Kau bisa memanggilku Bibi Shar—" ucapan Sharla terpotong.


"Panggil dia Mama Sharla," ucap Adnan dengan nada yang dingin.


"Mamaku dimana?" tanya anak kecil itu pada sang Ayah.


"Ayo, pulang!" ujar Adnan sambil melangkah meninggalkan ruang tunggu.


Sharla masih berdiri bersama Adka disana. Sharla mensejajarkan tubuhnya dengan Adka. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Sharla.


"Siapa Mamamu, Nak?" ujar Sharla penasaran.


"Dia adalah wanita yang sangat baik. Aku sangat sayang padanya. Dia adalah pahlawanku. Semenjak aku dibawa ketempat ini, aku tidak bisa melihat Mamaku lagi." Adka menundukan kepalanya. Sharla langsung memeluk Adka dengan erat.


Sharla lalu menggendong Adka dan membawanya keluar ruang tunggu. Tangan kiri Sharla menggendong Adka, sedangkan sisi lainnya memegang tasnya.


"Kapan Papamu membawamu ke sekolah ini?" ujar Sharla pada Adka.


"Saat aku berusia 2 tahun. Papa membawaku kemari. Saat usiaku 3 tahun, Papa dan Mama datang kemari. Aku sangat senang, saat mendengar Mamaku mengandung adik perempuanku." Adka yang lugu menjawab pertanyaan Sharla.


"Oh iya ... dimana Mamaku? Kenapa dia tidak menjemputku? Dan kenapa Nyonya yang menjemputku?" tanya Adka.


"Hmm ... sepertinya kau lapar. Mari kita malam bersama," ujar Sharla. Dia tidak tahu apa yang harus dia jawab atas pertanyaan Adka.


"Yey Ayo!" seru Adka saat mendengar makan malam.


Adnan dan Frans melihat Sharla keluar dari gedung sekolah sambil menggendong Adka.


"Lihat, apa dia pantas untuk disatukan?" tanya Adnan pada Frans.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2