
"Bunyi apa itu?" ujar Reyca yang terkesiap.
"Itu hanya bingkai fotomu yang jatuh, Rey." Sharla berpaling dan tidak menatap Reyca.
"Darimana Kakak tahu?" tanya Reyca menyidik.
"Di rumahku selalu terjadi hal seperti itu." Sharla berusaha tenang.
"Masalah rumah, bagaimana kediaman Keluarga Lapondi? Apa rumahnya besar? Banyak pembantu? Dan berapa hektar?" ujar Relia bersemangat.
"Ah itu ... aku tidak tahu pasti."
"Bagaimana tidak tahu? Kau kan tinggal bersama pengusaha kaya itu?"
Bagaimana cara aku menjelaskan padamu, Relia. Aku tinggal di apartemen, benak Sharla.
"Sudahlah, Ma. Mungkin Kak Sharla malu memberitahu kita." Reyca memegang bahu Sharla.
"Kak Sharla, bagaimana malam pertamamu dengan Kak Adnan?" Reyca bertanya sangat santai. Sharla menoleh ke arah Reyca.
"Ini anak masih kecil omongannya malam pertama. Apa kamu ingin merasakannya juga?" Relia memukul bahu Reyca.
"Sebentar lagi Rey akan menikah, maka ini adalah persiapannya." Reyca membela dirinya.
"Rasanya sakit," ketus Sharla. Ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Reyca dan Relia menoleh ke arah Sharla dengan tatapan menyidik.
"Sakit?" ujar Reyca.
"Apa kau melakukannya bersama Adnan? Apa yang aku pikirkan itu benar?" ucap Relia.
"Ah tidak, aku hanya mendengar cerita dari teman-temanku yang sudah menikah." Sharla berusaha tenang.
Jatuh harga diriku ... bila mereka tahu, aku pernah melakukannya dengan Adnan, benak Sharla.
"Berhubung kamu akan menikah, aku akan menceritakan sedikit tentang malam pertama." Relia mencubit hidung Reyca.
"Memang itu sakit karna itu adalah pertama kalinya, jadi ka—" ucapan Relia terputus.
"Aku akan beristirahat. Kalian bicaralah berdua. Aku sangat lelah. Maaf, aku tidak bisa ikut membahas ini," ujar Sharla.
Topik ini sangat memalukan.
Sharla langsung menaiki anak tangga sambil membawa barang-barangnya. Ia pun sampai di kamarnya dan menaruh pigura yang berukuran sedang itu di atas meja riasnya.
Sharla melihat amplop coklat di dalam kota yang belum ia buka. Ia mengambilnya dan merobek amplopnya.
Selamat bersenang-senang. Jangan pikir aku tidak memantau keberadaanmu disana.
Sharla langsung membuang amplop ke sembarang arah. Ia melempar kardusnya juga.
"Apa salahku pada kalian? Kenapa aku selalu di teror?" gumam Sharla. Matanya mulai dibasahi air mata.
***
[Perumahan Kandigar, 5:30 PM]
__ADS_1
Sharla baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya terlilit handuk putih. Ia menerima panggilan video dari Adnan. Sharla terkesiap.
Angkat? Tidak? Angkat saja daripada ia mengamuk.
"Ada apa?" tanya sinis Sharla sambil menatap layar ponselnya.
"Apa kau berusaha menggodaku, dengan menggunakan handuk saja?" ujar Adnan di balik ponsel.
"Aku baru saja selesai mandi. Cepat katakan, ada apa?"
"Aku akan mengajakmu makan malam, bersiaplah!" ucap Adnan sambil menyeringai.
"Baik-baik." Sharla hendak menutup panggilannya.
"Jangan dimatikan!" Adnan berteriak.
"Aku akan menggunakan pakaian dan bersiap-siap!" gerutu Sharla.
"Taruh saja ponselmu di meja. Gunakan otakmu untuk berpikir, jangan hanya sebagai pajangan di kepalamu saja!" bentak Adnan. Sharla mendengus kesal.
Ia menaruh ponselnya di atas meja rias dan ia menjauh sedikit dari kamera agar Adnan tidak bisa melihatnya saat menggunakan pakaian.
"Dimana kau?" tanya Adnan dingin.
"Aku sedang menggunakan pakaian." Sharla berteriak.
"Perlihatkan padaku!"
"Bodoh sekali manusia ini. Apa aku harus bertelanjang bulat saat melakukan panggilan video dengannya?" gerutu Sharla.
Pipi Sharla memerah karena malu. Ia cepat-cepat menggunakan pakaiannya.
"Sudah!" ujarnya
"Bajumu terlalu terbuka!" gerutu Adnan.
"Apa aku harus menggunakan celana panjang? Baju oversize dan lengan panjang? Aku harus gunakan syal untuk menutupi leherku? Menggunakan sepatu bot untuk menutupi kakiku? Dan mengunakan sarung tangan agar tidak terlihat kulit tubuhku?" Sharla jengkel dengan Adnan.
"Tidak," ucap Adnan singkat.
"Maka dari itu kau harus diam!" gerutu Sharla.
Sharla lalu duduk di meja riasnya. Ia menggunakan bedak dan makeup lainnya. Adnan sesekali menjepret layar ponselnya saat Sharla tidak mengetahuinya.
Tiba-tiba, pintu kamar Sharla terbuka. Sharla tersentak dan menoleh ke arah pintu. Ternyata Adnan berada tepat di depan pintu sambil membawa ponselnya yang masih tersambung dengan Sharla.
"Adnan..." gumam Sharla.
"Aku menunggumu dari 1 jam yang lalu," ucap Adnan dingin.
"Tapi kau baru saja menghubungiku." Sharla mengernyitkan dahinya.
Adnan hanya bergeming dan langsung duduk di atas tempat tidur Sharla. Sebenarnya Adnan menghubungi Sharla saat Sharla tengah mandi.
"Percepat sedikit!" ucap Adnan.
__ADS_1
"Ini baru pukul 6 kurang 15." Sharla menggerutu.
Sharla pun turun bersama Adnan menuju lantai bawah. Adnan melangkah lebih cepat dan mendekati Relia dan Reyca yang berada di ruang tamu.
"Kalian jangan menunggu Sharla pulang. Kemungkinan ia pulang larut malam," ujar Adnan menatap Relia dingin.
"Baiklah. Kau hati-hati, ya." Relia tersenyum pada Adnan. Adnan lalu berjalan menunggalkan Reyca dan Relia.
"Aku berangkat, ya. Kemungkinan aku akan pulang cepat." Sharla berpamitan.
"Cepat atau lambat, yang terpenting Kakak bersama Kak Adnan," goda Reyca. Sharla menggelengkan kepalanya.
Sharla menyusul Adnan yang sudah berada di dalam mobil. Adnan pergi berangkat bersama sopir pribadinya di Kota Amslar.
Di dalam perjalanan menuju restoran. Sesekali sopir Adnan memandangi Sharla. Sopir itu curi-curi pandang. Sharla yang sadar tengah di pandang, merasa tidak nyaman. Ia mendekati Adnan dan bersandar di dadanya.
"Ada apa denganmu?" ujar Adnan. Sharla hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka pun sampai di restoran itu. Sopir Adnan membukakan pintu untuk Adnan dan Sharla. Adnan berjalan lebih dulu, meninggalkan Sharla dan sopirnya.
Saat Sharla hendak berjalan, tiba-tiba sopir Adnan mencegat Sharla dengan memegangi pergelangan tangannya. Sharla merasa takut. Sharla langsung berbalik menatap sopir itu.
"Maafkan saya, Nona. Atas ketidak nyamanan Nona selama perjalanan," ujar Sopir itu sebari menundukan kepalanya. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Sharla.
"Kenapa Bapak memandang saya seperti itu?" tanya Sharla menyidik.
"Sebenarnya saya melihat kalau Nona ..." ucapan sopir itu menggantung di udara.
"Apa? Cepat katakan!"
"Ketempelan," ujar singkat sopir itu. Sharla tertegun.
"Who?"
"Anda sendiri, Nona." Sopir itu menundukan kepalanya.
"Tidak mungkin." Sharla langsung berlari meninggalkan sopir itu sendiri. Ia berlari mendekati Adnan.
Adnan sadar dengan gerak gerik Sharla yang mencurigakan. Raut wajah yang berubah dan suhu tubuhnya yang berubah menjadi dingin.
"Ada apa denganmu?" ujar Adnan tanpa memandang Sharla.
"Ti-tidak." Sharla menggelengkan kepalanya.
Mereka pun sampai di tempat makan. Mereka menyantap makanan dengan lahap. Hanya suara alat makan yang terdengar satu sama lain.
Mereka kembali ke mobil. Adnan tidak berkata apapun pada sopirnya. Sopirnya mengantarkan Adnan pergi ke sebuah club malam.
****, dia membawaku kemari, umpat Sharla dalam hati.
"Turun!" ujar Adnan santai. Sharla menurutinya dan langsung turun.
Sebelum melangkah mendekati Adnan, Sharla sempat di peringatkan oleh sopir Adnan.
"Berhati-hatilah dengan Tuan Lapondi, Nona." Sopir itu berbisik.
__ADS_1
Sopir itu meminta nomor ponsel Sharla. Sharla pun memberikan nomornya untuk sopir itu.